
Waktu pun berlalu
Vero pun berpamitan kepada Marven,awalnya Marven mengajak nya untuk pulang bersama tapi Vero menolak, karena tidak ingin merepotkan Marven, jadi ia memutuskan untuk menaiki angkutan umum. "tunggu dulu." ucap Marven, Vero pun menghentikan langkahnya, "ada apa." ucap Vero bingung, Marven pun mengeluarkan tiga kotak yang entah isinya apa, "Ini untuk mu." ucap Marven, "ini apa." ucap Vero terkejut,
"kamu ingin tahu? silakan buka saja." ucap Marven dengan nada santai,
karena vero penasaran ia pun membuka kado kado tersebut di dekat sofa, ia pun membuka kado yang berbungkus gambar bunga
Ketika ia membuka nya, isi dari kotak itu adalah sepasang dua kelinci yang memegang hati, itu adalah gantungan kunci/tas, "wah bagus sekali." ucap Vero dengan mata berbinar binar, "kamu menyukai nya?" tanya Marven dengan nada ragu.
"tentu saja aku sangat menyukainya,di sekitar kelinci ini seperti ada berlian, mereka sangat bersinar
hehe." ucap Vero, "ekhem, Baguslah jika kamu menyukai nya, sekarang buka lagi kado nya." ucap Marven.
Dan Vero pun membuka kado yang berbungkus langit malam, saat ia membuka nya ia terkejut karena isi dari kotak itu adalah sebuah kalung berbentuk bulan dan bintang. "Wah bagus sekali, apa ini untuk ku." tanya Vero dengan nada tidak percaya,
"iya itu untuk mu." jawab marven, "sini aku pakaikan." sambung marven.
Ia pun mendekati Vero, dan ia pun menyingkirkan rambut rambut vero dan memakaikan kalung itu di leher Vero, Marven pun langsung
membawa Vero ke kaca besar yang menunjukkan pemandangan kota di sore hari, "cantik kan." tanya marven dengan nada pelan "iya pak." jawab Vero, "kenapa kamu memberi ku ini." tanya Vero penasaran, "aku akan menjelaskan besok." jawab marven seraya tersenyum tipis. Marven pun membalikkan badan Vero dan sekarang mereka bertatap tatapan,saat marven mendekatkan wajah nya Vero mendorong nya, "maaf aku sedang ada urusan, kado yang ini aku buka di rumah saja hehe dah sampai jumpa besok." ucap vero lari terburu buru. "Dasar wanita itu, apa yang dia pikirkan." ucap Marven, "Tcih menarik." ucap Marven dengan senyum menyeringai, saat itu marven berencana untuk melanjutkan
pekerjaannya walaupun saat itu semua karyawan sudah pulang.
18.00
Gabriel pun datang menemui Marven, "ada apa, tumben kamu datang kesini." tanya Marven, "aku tadi menelpon mama mu, dan dia bilang kamu belum pulang, ya jadi aku kesini." jawab Gabriel, "oh." singkat Marven, Gabriel pun menghampiri Marven yang sedang menatap laptop dengan serius, ia pun melingkar kan tangan nya di leher Marven, "Gabriel lepas" ucap Marven, "kenapa takut diliat orang ya." bisik Gabriel, Marven pun mendorong wajah Gabriel, "hey aku ini bos mu, aku tidak ingin menjadi pasangan mu"ucap Gabriel seraya mengerutkan keningnya, "ck, lalu bagaimana aku masih menyukai mu." "Gabriel cukup jaga ke normalan mu." ucap Marven dengan nada kesal, Gabriel yang merasa tertolak pun memutuskan untuk duduk di sofa, "hey, ini punya siapa"tanya Gabriel seraya memegang sebuah gantungan kunci.
Marven pun menoleh dan melihat ke arah gantungan itu,
"tertinggal ya ..." ucap marven pelan,
"hey jawab dong, dasar kamu ini, di tanya malah diam." oceh Gabriel,
"ck, iya maaf, itu punya Vero tadi mungkin tertinggal." ucap Marven, "oh begitu ya, selera dia bagus juga ya." ucap Gabriel seraya memutar kan gantungan kunci tersebut. "kenapa? kamu menyukai nya?" tanya Marven,
"ya begitulah, ini pertama kali aku merasakan jatuh cinta." ucap Gabriel dengan senyuman nya, Marven merasa kesal dengan ucapan Gabriel, entah kenapa ia merasa seperti cemburu. "oh ya tapi Ryan menjadi saingan ku, dia tidak mengetahui nya, aku hanya mencintai nya dalam diam." jelas Gabriel, "dia, ya." gumam Marven, "bagaimana dengan Dion?" tanya Marven, "oh itu, kurasa Dion belum pernah bertemu dengan Vero." jawab Gabriel seraya menatap langit langit, Marven hanya menjawab nya dengan anggukan, "bagaimana dengan mu? kamu menyukai nya?" tanya nya balik. "aku, kurasa aku masih belum mencintai perempuan." jawab Marven dengan gugup, "baiklah itu kesempatan untuk ku, supaya bisa lebih dekat dengan nya." ucap Gabriel dengan nada bersemangat, batin Marven : ck tidak semudah itu, aku akan membuat tugas mu tambah banyak dan tidak akan bisa berdekatan dengan Vero.
"Hey senyum mu seram sekali, sudah lah jangan paksa kan senyum mu." ucap Gabriel dengan nada meledek, "ck, yasudah aku ingin mengantar kan sesuatu ke rumah Vero." ucap Marven seraya merenggangkan otot nya, "wah kebetulan, aku ingin ikut ya." tawar Gabriel, "baiklah, tapi jangan mengganggu ku ya." ucap Marven, Gabriel pun mengangguk bersemangat, dan mereka pun berangkat.
"ven." ucap Gabriel, "apa." singkat Marven, "kurasa dia menyukai mu." ucap Gabriel seraya tersenyum tipis, seketika pipi Marven pun merona, "haha ya ampun baru pertama kali aku melihat wajah mu merona." ledek Gabriel, "sudah lah diam, ngomong ngomong kenapa kamu bisa yakin seperti itu." tanya Marven, "begini tadi Ryan menjelek kan mu di depan Vero,dan ekspresi dia seperti tidak terima gitu." jelas Gabriel, "oh begitu ya." jawab Marven, dan percakapan pun mulai hening, tetapi Gabriel berusaha untuk mencair kan suasana. "Ven, kamu tau alamat rumahnya?" tanya Gabriel, "tentu saja aku tau, aku kan sudah mencari informasi tentang keluarganya." sombong Marven.
Seperti yang aku bilang di eps sebelumnya, Marven sudah tau semua tentang keluarga Vero, ia juga tau alamat rumah Vero.
Di rumah Vero
Vero sudah memasak untuk acara kecil kecilan di rumah nya, dan baru pertama kalinya Vero diajak makan bersama oleh ibu tirinya, "ayo nak makan dulu, kasian kamu lelah pasti." ucap ibu tirinya, Vero yang melihat perlakuan ibu nya pun hanya bisa tersenyum tipis, "nih dek, kamu suka udang kan." ucap Nia. Mereka pun makan seraya berbincang bincang, disaat Vero sedang makan, tiba tiba ada sebuah tangan yang mengelus paha Vero, Vero pun refleks menoleh ke arah bawah meja, dan tangan tersebut adalah tangan milik Kendra, ia pun segera mencubit tangan Kendra dengan keras menggunakan kuku nya. Dan Kendra pun senyum genit ke arah Vero, Vero yang tidak nyaman pun langsung mengalihkan pandangan nya dan terburu buru makan. "hey nak, makan yang pelan." ucap ibu tirinya, "ti-tidak Bu, aku harus cepat makan, soalnya aku mau cepat cepat tidur." ucap Vero, "oh ketemu dengan lelaki ya." tanya Nia seraya tersenyum tipis, "lelaki?" tanya Kendra, "iya sayang dia sepertinya sudah mempunyai pacar, setiap hari pergi pagi pagi loh, ngapain aja sih kalian ceritakan dong." ucap Nia dengan senyum menyeringai nya, "Nia cukup, kita sedang makan, jangan membahas hal seperti itu, bukankah itu bagus jika adik mu sudah mempunyai pasangan?" ucap ayah nya, "iya iya maaf ya." ucap Nia,
Vero hanya menjawab nya dengan anggukan.
Setelah selesai makan
Kaka nya pergi bermesraan dengan tunangan nya di luar rumah
dan kedua orang tua nya mengobrol di ruang tv. Dan Vero memutuskan untuk pergi mandi, saat vero sedang mandi, ia merasa ada seseorang yang membuka pintu nya 'Ceklek',
Vero pun terkejut lalu ia menoleh ke arah sumber suara dan ternyata yang membuka pintu nya adalah ....
BERSAMBUNG 🌺
siapa kira kira?
Ada yang bisa nebak ?
dan maaf kalo kata katanya sedikit atau pendek soalnya bingung alurnya
See you
hope you enjoy and don't forget to vote
sampai jumpaaa