
Marven pun terdiam.
"Kamu menolak ku?" tanya marven dengan nada dingin, "bukan begitu pak, aku hanya belum siap, aku aku takut tidak bisa menjaga anak nanti,aku belum siap menjadi seorang ibu..." ucap Vero, Marven pun mencium pipi Vero, "Vero kita bisa mengurus bersama nanti, jangan mempermasalahkan itu, dikaruniai anak itu butuh waktu yang lama, jadi seraya menunggu, kita bisa belajar menjaga anak." ucap Marven seraya menggenggam tangan Vero, Muka Vero pun ngeblush, "Marven aku...."
"Kamu ingin menerima nya?" tanga Marven dengan gugup, Vero pun mengangguk pelan, seketika wajah Marven pun tersenyum bahagia dan menggendong Vero "Vero aku mencintaimu." ucap Marven seraya tersenyum, 'Cup' Marven pun mencium Vero, namun Vero tidak membalas nya karena dia tidak tahu bagaimana cara berciuman. Beberapa menit kemudian marven pun melepaskan ciuman nya, dan ia juga menurunkan Vero, "pak ..."ucap Vero dengan pelan, "Shtt jangan panggil aku 'pak', panggil saja Marven, aku tidak suka dipanggil 'pak'." ucap marven seraya mengusel usel ke hidung vero, "Hehe iya"
"Aku mencintaimu Marven." sambung Vero seraya mengecup pipi Marven,
"nakal kamu ya, nanti aku cium sampe nafas kamu habis mau?" ucap Marven usil, "ih engga mau lah, kamu mau aku meninggal ya hmph." ucap Vero seraya melipatkan tangan nya di dada, "Hehe aku bercanda kok, maaf ya sayang." ucap marven seraya mencium sekilas bibir Vero, "say-sayang ....,ih marven jangan pa-panggil kayak gitu." ucap vero dengan gugup, "Kenapa? malu ya, terus mau dipanggil apa?" ucap marven, "hm seterah kamu aja hehe." "Yaudah aku panggil sayang aja ya,aku ga mau panggil kamu babe." "Kenapa emangnya?" tanya Vero, "soalnya itu adalah kata kata milik Gabriel, dia sering memanggil wanita dengan kata kata babe." ucap Marven seraya memeluk Vero, "oh begitu." ucap Vero seraya mengangguk anggukan kepala nya, "oh ya besok kamu sama mama pilih pilih baju buat hari pernikahan ya." ucap Marven, "Be-besok?!" ucap vero dengan nada yang sedikit tinggi, "iya besok emang kenapa?, kan lebih cepat lebih bagus,aku akan menjadi suami mu nanti." ucap Marven seraya mengusel usel ke kuping Vero, Vero pun mendorong marven agar sedikit menjauh, "Marven aku benar benar belum siap,aku belum pernah membaca cara merawat bayi, aku takut menjadi ibu yang buruk." ucap Vero dengan nada gemetar, "sudahlah, bukankah aku udah bilang kita akan bersama sama menjaga nya, dan masalah itu,aku juga sudah mengerti merawat bayi, dan juga kamu bisa diajarkan oleh mama ku kan." ucap Marven,
"Iya ... tapi beneran gapapa?" tanya Vero, "gapapa sayang udah yuk balik ke kamar, kasian nanti kamu kedinginan, dan aku ga mau acara pernikahan kita diundur." ucap Marven, Marven pun menggendong Vero ala koala.
Sesampainya di kamar
Marven pun merebahkan dirinya di samping Vero, dan mengusel usel kan hidung nya ke kuping Vero, "ih geli tau, sana kamu tidur."
ucap Vero seraya mendorong kepala Marven, tapi tidak bisa karena Marven menahannya. "ga mau, aku mau tidur disini sama kamu." ucap Marven dengan lembut, "Yaudah, tapi jangan ka-kayak gini, nanti kalo Ellis ngeliat gimana, tidur kayak biasa aja." ucap Vero.
FYI:Sebenarnya Vero risih karena sedari tadi Marven selalu mengusel usel kan kepalanya di leher Vero ataupun di telinga Vero.
"Loh gapapa justru bagus kalo dia ngeliat, dia jadi iri dan menikah dengan lelaki." ucap Marven,
"Ya tapi aku kan malu." rengek Vero
"huh." desah Marven.
Marven pun naik ke atas badan Vero dan mengambil selimut untuk menutupi mereka berdua.
"Gimana jadi ga malu lagi kan." ucap Marven menyengir, lagi dan lagi Marven mengusel usel ke kuping Vero, "Marven! bukan kayak gini, aku tetap malu tau." rengek nya lagi
"Kamu berisik banget ya." ucap Marven, lalu Marven pun menggigit kuping Vero, dan itu membuat Vero merasa kegelian, "ah marven sana tidur, aku ngantuk" "Yaudah kamu tidur, aku disini aja jagain kamu ya." ucap Marven seraya mengusel usel lagi, "tcih dasar manja."gumam Vero.
Vero pun membalikkan badannya dan membelakangi Marven,
Marven pun memeluk Vero dengan erat, "2 hari lagi .... aku tidak sabar." ucap Marven seraya tersenyum,
"Kamu benar benar ingin menikah dengan ku?" tanya Vero, "tentu saja,aku sudah mencintai mu sejak kita berbelanja di mall." "Begitu ya ..."
Vero pun membalikkan badannya nya lagi kali ini mereka bertatapan tatapan. "aku ini kalo tidur suka ngorok tau." ucap Vero seraya menyengir, "tcih kamu pikir aku akan terganggu dengan itu." ucap Marven dengan nada dingin, "ih iya iya gitu doang, tadi aja senyum sekarang malah datar, huh cinta palsu." ucap Vero, ia berniat untuk bangun dari ranjang dan keluar menemui Dyana namun dirinya ditarik Marven.
"Mau kemana jangan marah ya hehe aku minta maaf"
"Ih udah sana, aku mau ketemu Dyana"
"Ga boleh, Dyana lagi tidur jangan diganggu, kamu disini aja"
"Yaudah aku mau keluar nonton tv,disini suhu nya dingin banget." sindir Vero, "Maksud kamu aku?, tcih yaudah sana keluar, ini kan dulu emang kamar ku hmph." ucap Marven lalu dia pun melepaskan tangan Vero yang sedari tadi ia genggam, "dasar bawa perasaan." ucap Vero, Vero pun beranjak dari ranjang dan keluar.
Di lorong
Saat ia sedang berjalan tiba tiba marven memeluknya dari belakang.
FYI:mereka ada di luar kamar kek dilorong gitu.
"Ih lepasin nga, nanti di liat orang Marven." omel Vero, "ih kamu berisik ya." ucap Marven ia pun langsung membalikkan badan Vero dan mencium nya, Vero mencoba melepas nya namun marven menahan kepalanya. Beberapa menit kemudian Ryan Gabriel Dion dan Ellis lewat, dan mereka pun terkejut.
"Ya ampun mata gw." teriak Gabriel seraya menutup matanya. Vero yang mendengar suara Gabriel pun berinisiatif untuk menggigit lidah Marven, "aww kok kamu gigit sih." Rintih Marven, namun Vero malah mencubit lengan Marven dan menatap mereka berempat "Ma-maaf ya, Marven daritadi nempel Mulu hehe, karena aku marah marah jadi ya begitulah hehe." ucap vero dengan gugup, "Tcih jangan lakuin di luar ruangan dong kan jadi iri." ucap Gabriel, Vero hanya mengangguk anggukan kepalanya,
"Biasa ver dia kalo jatuh cinta kek gitu, dulu mah kerja nya marah marah Mulu." ucap Ellis, "ya begitulah sampe satu kantor mau di pecat semua." ucap Dion, Vero merasa situasi sangat canggung dan Marven hanya mendengarkan perkataan mereka,
"Oh ya ver, gimana lu Nerima dia?" tanya Ryan secara tiba tiba
"Iya hehe"
"Hahah malu malu gitu jadi pengen nikah." ucap Gabriel
Marven pun memeluk Vero dari belakang lagi.
"Iri ya? makannya cari wanita." ucap Marven dengan senyum menyeringai nya, Ryan hanya bisa mengepalkan tangannya, karena dia masih ada rasa suka kepada Vero.
"Gausah sombong lu bang, gara gara lu, mata ade jadi ternodai." ucap Ellis dengan nada kesal, "wah lis jangan jangan lu udah pernah liat mereka kayak begini sebelumnya?" tanya Dion, "Ya begitulah, dah yuk pergi kita nongkrong di luar main gitar." ucap Ellis, "Marven ga diajak?"tanya Ryan
"Alah ngapain diajak, tuh liat, Dia aja lagi bucin, udah ayo kita berempat aja." ucap Ellis seraya menarik tangan Ryan, Mereka pun pergi.
"Udah yuk balik, disini dingin." ucap Marven
"Iya, tapi kamu tidur di sofa ya." ucap Vero
"Iya bawel ayo tidur besok hari tersibuk kita"
"Persiapan nikah ya." tanya vero
"Iya"
Mereka pun berjalan memasuki kamar, dan tidur.
BERSAMBUNG🌺
Bentar lagi mau tamat jadi aku banyakin scene romantis nya ya :) biar kalian puas wkwkwk
Hope you enjoy and don't forget to vote 💕
Sampai jumpaaa 👋