Walky Love

Walky Love
Part 34~ Persiapan



Di perjalanan


"Kak, tadi kak Vero buat Marven marah ya?" tanya Ellis, "Ha .... engga kok, aku juga engga tau kenapa dia marah marah." jawab Vero heran


"Begitu ya, kok dia bisa marah sih, tapi kayaknya dia ga pergi sama yang lain, dia kan hanya sama kamu, masa ga tau si." "Hm .... mungkin ada urusan kantor yang membuat pikiran nya kacau, jadi dia badmood?"


"tidak." timpal Gabriel, "akhir akhir ini urusan kantor fine aja kok, udah di handle semua, sepertinya ga mungkin gara gara urusan kantor." ucap Gabriel, "nah iya betul itu, kak coba pikir pikir lagi kali aja ada perkataan kaka yang membuat dia marah sama kamu." ucap Ellis.


Vero pun terdiam dan memikirkan kejadian sebelumnya, "hm apa mungkin gara gara aku berbicara risih." ucap Vero pelan, "hah risih?" tanya mereka berdua, "iya, tadi di kamar aku marah sama marven, dan aku bilang untuk jangan menyentuh seenaknya, habisnya dari semalam dia selalu mengusel usel." jelas Vero


"Hahaha!" tawa Ellis, "plis deh Abang aku kok baperan banget ya." ucap Ellis, "iya sifat nya kek lu." ledek Gabriel, Ellis pun mencubit lengan Gabriel , "jangan sama samain gw sama dia." "Hahaha udah udah jangan bertengkar, nanti mobilnya jadi oleng. "ucap Vero yang berusaha melerai mereka, "tauu tuh anak bukannya fokus mengendarai, malah bercanda terus." ucap Ellis seraya melirik Gabriel dengan tatapan sinis, "oh ya kak, hari ini aku mau nembak kak Dion loh, kira kira berhasil ga ya." tanya Ellis pada Vero 'Deg', Gabriel pun terkejut mendengar perkataan Ellis, "Lu apaansi, katanya ga mau punya pacar." ucap Gabriel dengan nada kesal, "kenapa ga suka ya?, ga usah iri deh, aku itu udah lama suka sama kak Dion, mungkin ini saat yang tepat fufufu." ucap Ellis, "aku yakin pasti diterima." ucap Vero


"Aaaa makasih kak, jadi makin ga sabar." ucap Ellis seraya memeluk diri sendiri.


Setengah jam kemudian, Mereka pun sampai di toko wedding dress


Vero pun masih larut dalam pikiran nya, dia berpikir mungkin saja marven marah karena ulah nya, jadi dia memutuskan untuk bersifat manja kepada marven, agar ia luluh, setelah marven keluar dari mobil, Vero pun menghampiri nya, "Marven." ucap Vero seraya memegang lengan Marven, "ga usah pegang pegang,kasian nanti dirimu risih." celetuk Marven, "dih apaansi, udah engga kok, temenin aku pilih gaun ya." ucap Vero dengan mata berbinar binar,"tidak bisa, aku kan juga harus memilih pakaian." ucap marven yang sedang berusaha menarik tangan nya agar tidak dipegang Vero, "ih udah itu mah mudah, aku nanti pilihin pakaian untuk kamu ya ya." bujuk Vero, "Ck,tidak mau." tolak Marven, "ayolah, aku bilang ayah nih." ancam Vero, "dih yasudah ayo, jangan lama"


"yuhu ayo masuk."


Di dalam toko tersebut


terdapat banyak gaun pengantin disana, "kamu pilihin ya, aku tunggu disini." ucap Vero seraya tersenyum.


Marven tidak menjawab perkataan Vero, dan langsung memilih gaun yang cocok untuk Vero, "bagaimana dengan yang ini?" ucap marven dengan senyum tipis nya, "Wah itu terlihat cantik, aku akan mencoba dulu ya." ucap Vero seraya berjalan menuju ruang ganti pakaian, Marven pun menunggu dan menunggu. akhirnya Vero pun keluar dari ruangan itu, "bagaimana cantik tidak?" tanya Vero seraya berputar pelan, Marven pun kagum dengan gaun yang dipakai oleh Vero, ia merasa Vero semakin cantik menggunakan gaun , "Hello?,hey kenapa diam." ucap vero seraya melambaikan tangan nya didepan wajah marven, "E-eh iya, cantik kok."


Tak lama Mark dan Margaret pun datang, "wah sudah dipilih ya,cantik banget anak mama." ucap Margaret dengan senyumannya, "hehe makasih mama. oh ya gaun ini dipilih oleh marven, selera nya bagus banget kan." ucap Vero, "oalah si marven, selera kamu bagus juga nak." ucap Mark seraya menepuk nepuk kepala Marven, "yasudah kamu mau yang ini?, biar mama bungkus kan ya." ucap Margaret, Vero hanya menjawab nya dengan anggukan, lalu pakaian itu pun dibungkus, dan sekarang giliran Vero yang mencari kemeja yang cocok untuk Marven, "bentar aku pilihin dulu ya." ucap Vero seraya melihat lihat kemeja yang berada disana, setelah beberapa menit akhirnya Vero pun menemukan kemeja yang cocok untuk Marven,


"lihat yang ini, aku rasa ini cocok untuk mu." ucap Vero, "ugh aku tidak menyukai nya, lihat ini terlalu banyak aksesoris." ucap Marven, "cj yaudah jangan dipakai aksesoris nya, pakai bajunya saja, cepat sana masuk."


Marven hanya bisa pasrah dan mengikuti perkataan Vero. Saat Marven sedang mengganti pakaian nya, Gabriel dan Ellis pun menghampiri Vero. "hey lihat ini semua pakaian yang kami beli." ucap Ellis, "hah kalian beli dimana?"tanya Vero, "di toko sebelah, dia menjual pakaian, benar benar sangat bagus,nanti kamu coba pakai saja." ucap Gabriel seraya tersenyum, Vero hanya menjawab nya dengan anggukan, tak lama Marven pun keluar dari ruang ganti itu, "wah tampan sekali suami ku." ucap Vero, Marven pun ngeblush.


"bagaimana kamu menyukai nya?" tanya Marven, "ya tentu saja, aku jadi tidak sabar menunggu hari Sabtu."


Marven hanya tersenyum tipis.


"Ulalala Abang aku ganteng banget nie, pasti anak nya nanti jadi ganteng juga." ucap Ellis seraya menyentuh pipi Marven, "tch jangan sentuh sentuh, aku alergi kulit manusia." ucap Marven seraya menepis tangan Ellis, "Dih apaansi mana ada alergi kulit manusia, baru denger, kalo dipegang calon istrinya aja mau, ga adil hmph"


Ia pun segera mendorong Ellis dan Gabriel agar menjauh dari tempat itu,


singkat cerita mereka sudah selesai membeli gaun dan kue, dan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah


"uh ngantuk sekali." ucap Vero yang baru keluar dari mobil, Vero pun melihat marven yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah


"Marven!" teriak Vero seraya berlari mengejar Marven 'Bugh', "aduh."Rintih Vero. ia pun terjatuh karena ia belum terbiasa memakai high heels, awalnya Gabriel yang ingin menolong tetapi Marven menolong Vero lebih dahulu, "Ciah mau nolongin tapi ga jadi ya." ledek Ellis, "ck diem lu." ucap Gabriel dengan nada kesal.


Di sisi lain


"Bangun." singkat Marven, "sakit tau,lutut aku ga bisa gerak."


"ck yaudah kamu disini sendirian."


ucap Marven, "aaa!, ga mau." rengek Vero, "Terus, mau apa." tanya Marven


"Gendong hehe, gendong ya plis." mohon Vero, Namun Marven hanya menatap vero, "Ck atau aku nangis nih." "Nangis aja.", Akhirnya Vero pun benar benar menangis 'Beberapa menit kemudian', "Tcih berisik." ucap Marven seraya menggendong Vero,


"Berhenti nangis nya, atau aku lempar ke pos satpam." ancam Marven.


BERSAMBUNG🌺




Maaf ya aku telat meng-up eps nya🙏


Hope you enjoy and don't forget to vote 💕


Sampai jumpaaa 👋