Walky Love

Walky Love
Part 19~Piknik?



1 Minggu kemudian


Vero saat itu sudah sembuh, namun belum sepenuhnya nya, "Ver sini makan dulu, aku akan menyuapi mu." ucap Marven ia pun duduk di samping Vero, "saya tidak nafsu makan." ucap Vero dengan nada lemas, "kenapa?" tanya Marven singkat, "tidak apa apa kok pak, eh pak sejak kapan bapak memanggil ku dengan nama." tanya Vero, "engga tau." jawab marven, mendengar jawaban Marven, Vero hanya mendecih, "oh ya Vero kamu ingin berjalan jalan kemana, aku kan sudah berjanji." sambung Marven, "hm kemana ya." Vero pun berpikir,


"Nanti akan ku beritahu jika aku sudah memikirkan nya." sambung Vero, "baiklah sekarang makan dulu ya." ucap Marven, ia pun menghelus puncak kepala Vero, "Heem tapi suap aja ya." ucap Vero, "7 aja gimana." ucap Marven, "Hemm yasudah deh." Vero pun tersenyum.


Tiga hari kemudian


🔔Ting Tong


Dyana [pembantu] pun membuka kan pintu, "oh kalian, silahkan masuk." ucap Dyana menyapa ketiga pemuda itu, "tunggu sebentar ya, saya akan memanggil tuan muda." ucap nya lagi. Dyana pun naik ke lantai atas dan pergi ke ruang kerja Marven.


Sesampainya di ruang kerja


"Masuk." ucap Marven, "permisi tuan muda, ada teman kantor yang ingin bertemu dengan anda." ucap Dyana seraya membungkukkan badan nya,


"baiklah, saya akan segera kesana." ucap Marven, Dyana pun pergi dari ruangan itu.


Tak lama kemudian


Marven pun memutuskan untuk turun ke bawah, "ngapain kalian kesini." ucap marven dengan nada kesal, "hihi santai aja bro ada yang ingin kami bicarakan, sini duduk duduk dulu lah bos." ucap Gabriel menyengir, "Tch"decih Marven,


Ia pun duduk di sebelah Gabriel,


"ada apa, cepat bicara aku tidak punya banyak waktu." ucap Marven dengan nada dingin, "halah bro, kamu punya banyak waktu dengan Vero tapi dengan kita kamu sibuk sekali." ucap Ryan seraya merangkul Marven.


"Cih lebih baik kau diam, cepat katakan apa yang membuat kalian berkunjung kesini." tanya Marven,


"Begini, kami dengar dari ayah mu, ia mengatakan bahwa vero sedang sakit, kakinya itu?" jawab Dion,


"Ya, lalu apa urusannya dengan kalian." tanya nya lagi, "tentu saja kami datang kesini untuk menjenguk nya." jawab Ryan, "tidak boleh dia sedang istirahat, tidak ada yang boleh mengganggu nya." ucap Marven dengan nada dingin nya, saat ingin melanjutkan pembicaraan, ayah nya Marven pun datang, "eh kalian sudah datang, ayo kita naik ke atas." ucap Mark. Dion, Ryan, Gabriel pun mengikuti Mark, "Tu-tunggu hey apa yang kalian lakukan, kalian tidak boleh memasuki kamar nya tanpa izin dari ku." ucap Marven yang sedang menghadang mereka berempat, "loh kenapa, pasti Vero akan senang jika dijenguk oleh kami,lagipula itu kamar pribadi Vero kan." ucap Gabriel dengan senyuman smirk nya, "Gabriel jaga ucapan mu,sebut dia dengan panggilan nona,dasar tidak sopan, juga kamar yang ditempati vero adalah kamar ku." ucap marven dengan nada kesal,


"Tcih sudahlah nak kamu menghadang kami, minggir sana." ucap Mark, Mereka pun berhasil menaik ke lantai atas


Di depan kamar Vero


'Tok tok'


"Permisi apa kami boleh masuk." ucap Mark dari luar kamar. "ah tunggu sebentar tuan, saya sedang membantu nona Vero untuk mengganti pakaian." ucap bi Lina


"O-oh, baiklah." ucap Mark, Marven yang berada disana pun merasa marah, dan wajah nya pun memerah,


Gabriel yang melihat perubahan wajah marven tertawa dengan pelan.


"silahkan masuk ..., eh tuan tuan juga datang ya mari masuk."sambut bi Lina, Mereka pun menyapa dengan senyuman, saat Marven melewati Lina, ia pun berhenti dan berbicara dengan pelan, "Jaga ucapan mu,dasar tidak sopan, berani nya kau berbicara seperti itu didepan ayah dan teman teman ku, lain kali jangan berbicara asal." ucap marven dengan nada dingin, lalu ia melangkahkan kaki menghampiri teman temannya.


Seketika badan Lina pun gemetar, ia pun meninggalkan ruangan itu. "Hey nona bagaimana keadaan mu apa kondisi kaki sudah membaik?" tanya Dion dengan lembut, "iya sudah lumayan hehe." jawab Vero, "walaupun kamu sedang sakit kamu masih tampak cantik nona, di tambah dengan riasan diwajah mu ahh membuat ku menyukai mu." Goda Ryan, "Shht hey jangan berbicara seperti itu." Vero pun tersipu,


"Hahaha seperti nya nona tersipu,sangat imut." ucap Gabriel seraya mencubit pipi Vero, "Gabriel jaga tangan mu, jangan menyentuh nya dengan sembarang." ucap Marven dengan nada kesal, "kenapa kau tidak suka, tcih, jika dia istri mu atau pacar mu aku akan menghormati nya dan tidak menyentuh nya, namun dia bukan milikmu jadi kau tidak berhak untuk melarang kami." ucap Gabriel dengan nada serius, "Itu benar."timpal Ryan dan Dion, "hey kalian ..."ucap Vero dengan pelan, "kenapa? bukankah itu benar?" ucap Gabriel seraya mengelus pipi Vero, Vero hanya bisa menghela nafas kasar.


Marven yang mendengar perkataan Gabriel Hanya bisa menggertakkan giginya, "Dasar.." gumam Marven.


Mereka pun berbincang bincang, dan Marven hanya bisa berdiri dan mendengarkan percakapan mereka,


Dan tiba tiba Vero mengajak ngobrol Marven, "Pak." ucap Vero terpotong,


"Jangan panggil saya pak." jawab Marven dengan nada dingin, "ee ... iya, begini Marven bagaimana jika kita pergi piknik, bersama dengan pelayan orang tua mu dan teman teman mu." ajak Vero, "Apa?! tidak bisa, aku hanya ingin pergi berdua denganmu." ceplos nya, ruangan pun hening, "nak...kamu bilang kamu tidak mencintai Vero, kenapa kamu ingin berduaan dengan nya." ucap Mark dengan nada meledek, "apa? tidak mencintai maksudnya?" tanya Vero heran, "Itu-" saat marven ingin jelaskan, Dion memotong nya. "Iya nona, kami dengar dari ayah nya bahwa marven tidak mencintai mu,dia hanya memanjakan mu." ucap Dion, ia pun mengelus bibir Vero, Vero pun terdiam dan melamun


"Tidak ... cih aku sudah yakin jika dia tidak akan mencintai ku, sudah jelas bukan? dia Itu anak orang kaya dan aku adalah orang miskin dan rendahan ..., mana mungkin orang seperti dia bisa menyukai ku, itu tidak akan mungkin aku tidak boleh berharap, tidak boleh ..." ucap vero dalam hatinya, "Vero Vero." ucap Gabriel menggoyangkan bahu Vero


"Hah ... ada apa." tanya Vero ia pun sadar dari lamunan, "kamu yang kenapa, kamu tiba tiba melamun dan tidak menjawab perkataan kami." ucap Gabriel dengan nada sedikit kesal, "Oh maaf tadi aku melamun memikirkan piknik bersama kalian hehe." ucap vero dengan tersenyum,


"wah jangan sampai begitu haha, jika Marven tidak ingin piknik, bagaimana kalau kita saja yang pergi aku akan menjaga mu kok." ucap Ryan dengan nada lembut, "Hm yasudah aku mau hehe." jawab vero dengan tersenyum,


"Tcih kamu tidak boleh pergi dengan mereka, kalau begitu aku akan ikut denganmu aku kan sudah janji." ucap Marven dengan gugup, "Nah begitu dong bro." teriak Gabriel, namun Vero tidak merespon perkataan Marven,


"Kapan kita akan berangkat nya." tanya Vero, "sabtu?" jawab marven


"Terserah." ucap Vero dengan singkat,


"Tidak ... harus menunggu kamu pulih dulu,baru kita berangkat." ucap Marven, "Marven cukup, aku sudah sembuh aku hanya perlu perbanyak jalan agar aku terbiasa, jika kaki ku tidak banyak jalan kaki ku akan sakit karena keram, kita berangkat Sabtu saja." ucap Vero dengan nada kesal


Semua pun mengatakan sip kecuali marven. Ia hanya memikirkan perkataan Vero, dia merasa kalau Vero tidak seperti biasanya.


BERSAMBUNG 🌺



Vero sepertinya kecewa dengan marven


Nantikan eps selanjutnya ya :\>


Hope you enjoy and don't forget to vote


Sampai jumpa👋