
Vero pun mengunci pintu lalu mengambil kotak hadiah yang diberi marven, ia pun duduk di ranjang,
"hemm aku penasaran apa ya isinya." ucap vero, dia pun membuka kotak yang hanya diikat oleh pita, dan isinya adalah sebuah buku yang lumayan tebal, "hemm apa ini? buku kenangan?" gumam Vero. Tanpa berpikir panjang Vero pun membuka buku tersebut dan banyak wajah dia dan marven yang tertempel di buku itu, semakin lama ia membuka nya banyak sekali foto kenangan bersama keluarga marven, nenek marven, Luna Yora,para pelayan, dari mulai piknik, di kantor, kemah, berbelanja, di sungai,di taman, di rumah nenek ghina,semua ada disana dan ada juga foto marven dan Vero yang begitu sangat dekat, tak sadar Vero pun meneteskan air matanya, dia mencoba mengingat siapa orang orang yang berada di foto itu, namun ia tidak bisa mengingat nya, "kenapa ini, aku tidak bisa mengingat nya!" teriak Vero seraya menangis, semakin Vero mencoba mengingat nya, kepala nya semakin pusing, dan pada halaman terakhir iya melihat foto ayah nya dan dirinya dan 'bruk'
Vero pun pingsan.
Pagi hari pun tiba
Vero pun membuka matanya perlahan lahan. yang pertama dia lihat adalah sebuah tangan, siapa pemilik tangan itu? tentu saja itu marven yang sedang menonton film di samping Vero seraya menggunakan headset, dan Vero pun mengusel usel ke tangan marven karena ia merasa badan nya menggigil, Marven yang sedikit terkejut pun mengelus rambut vero,lalu ia melepaskan headset nya, "Vero kamu kenapa." tanya marven dengan nada khawatir, lalu ia pun menutup laptop nya. "Di-dingin"ucap vero terbata bata, tanpa berpikir panjang marven pun menyelimuti tubuh Vero dan memeluk nya, Vero awalnya berniat ingin mendorong marven tetapi karena tubuh nya sangat menggigil ia pun membatalkan niat nya, "kamu kenapa, demam?, aku panggil Ellis ya untuk memeriksa kamu." ucap marven, marven baru melepaskan pelukannya namun ditahan oleh Vero, "Tidak pak, jangan pergi." ucap vero, Marven pun terkejut karena sejak Vero lupa ingatan, Vero tidak pernah memanggil marven dengan sebutan 'pak', "Vero kamu.." gumam marven, tetapi marven memilih untuk tidak membahas hal itu, dan fokus untuk menghangatkan tubuh vero, sudah beberapa menit tetapi tubuh nya masih menggigil
dan marven memutuskan untuk mencium Vero, "aku tau ini agak gila,tapi aku ingin suhu mu turun." ucap marven, ia pun mendekati wajah Vero dan 'cup', saat itu yang dirasakan marven benar benar dingin, bagaimana dengan Vero, ya dia tersadar namun dia tidak bisa berbuat apa apa, karena saat itu kepala nya sangat sangat pusing.
Beberapa menit kemudian suhu Vero pun turun dan berkeringat, pusing nya tidak separah tadi dan ia mencoba melepaskan ciuman dari marven tetapi marven tidak melepasnya, dan sampai dititik nafas Vero engap baru marven melepaskan nya. "Ma-maafkan aku, tolong jangan benci aku" ucap marven seraya menyembunyikan wajah nya di leher vero, "Pak .... " Vero pun menghelus rambut marven, Marven yang terkejut pun seketika langsung mengangkat wajah nya, "Ingatan mu .... sudah kembali?" tanya marven dengan nada tidak percaya, Vero pun kebingungan dan hanya mengangguk, seketika marven pun memeluk Vero dengan erat, "syukurlah." ucap marven.
Tanpa ia sadari air matanya mengalir dan terjatuh di leher Vero, Vero pun terkejut karena sebelumnya ia tidak pernah melihat marven menangis,
"pak apa yang terjadi, apa yang membuat mu nangis." tanya vero dengan nada khawatir, "kamu amnesia sebelumnya." ucap marven dengan nada sesegukan, Vero pun terdiam karena dia masih belum mencerna perkataan marven, lalu marven pun mengangkat wajah nya dan menyeka air mata nya, "pak kamu sangat lucu saat sedang menangis." ucap vero seraya tersenyum, marven pun mencium sekilas bibir Vero, "ih bapak mah goda saya Mulu."ucap vero dengan nada kesal, "soalnya kamu sangat lucu ketika di goda haha." ucap marven dengan tawa nya,
"ck, oh ya pak terimakasih ya sudah membuat ku berkeringat, kurasa tadi bibir ku biru hehe." ucap vero, "eh ingatan kamu sudah kembali saat kamu bangun." tanya marven dengan gugup, "Iya pak." jawab vero,
seketika marven pun ngeblush,
"kok jadi bapak yang marah, dasar ga seru, hmph." ucap vero seraya melipatkan tangan nya di dada, "hehe iya deh aku minta maaf ya, tapi bener kok aku hanya melakukan ini ke kamu" ucap marven, "begitu ya .... ,lalu tujuan bapak mencium saya kenapa? pasti ada maksud lain kan selain menghangatkan haha" ucap vero dengan jahil, "tidak, aku tidak bermaksud lain, karena kamu kedinginan jadi aku, mencium kamu biar hangat." ucap marven dengan nada dingin, "tidak apa pak justru saya berterimakasih kepada bapak karena sudah menghangatkan saya." ucap vero seraya memegang leher marven, "Iya sama sama." ucap marven seraya mengusel ngusel ke kuping vero, dan niat jahil marven pun muncul dan dia berencana untuk menggigit kuping vero dan,
"aduh pak geli tau." ucap vero seraya mendorong marven tapi tidak bisa karena tubuh nya marven sangat kuat, "hmm geli ya haha."goda marven, disaat marven sedang menggoda Vero, 'Ceklek', Pintu pun terbuka, "Ya ampun bang lu ngapain!" teriak Ellis, marven seketika langsung membenarkan posisi nya dan menatap tajam ke arah Ellis, "ck lu ngapain masuk masuk sih " ucap marven dengan kesal, "ya seterah gw lah, lu sendiri ngapain, katanya mau masak, gw tungguin sampe karatan eh ga dateng dateng." kata ellis dengan nada kesal nya juga, "emang harus gw yang masak?, kan elu bisa sendiri jangan manja kek" Vero yang mendengar mereka bertengkar pun segera melerai mereka, "sudah sudah, bagaimana kalau aku saja yang masak?" tawar Vero, "wah kaka mau?, boleh aja sih kak, tapi makanan nya, jangan dibagi sama si playboy itu" kata Ellis dengan nada meledek, marven hanya menjawab nya dengan tatapan tajam di mata nya, "sudah sudah ayo kita masak"ajak vero seraya mendorong mereka supaya berjalan.
BERSAMBUNG 🌺
kapan kapan lagi ya adegan romantis nya wkwkwk, kadang suka jijik kalo ngetik pas scene romantis tuh kek ya gitulah.
Hope you enjoy and don't forget to vote
Sampai jumpaaa 👋