
Mereka pun turun dari bus
Vero merasa tubuh nya sudah membaik, ia pun menghirup udara segar disana, tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang,
yah dia adalah Marven. "bagaimana kondisi mu sudah membaik?" tanya Marven seraya mengusel usel hidung nya ke kuping Vero, "iya." jawab Vero,
"syukurlah, kalau kamu merasa tidak enak badan kamu balik saja ke bus dan beristirahat." ucap Marven, "pak cukup jangan khawatirkan saya lagi." ucap Vero dengan nada tegas
Ia pun membalikkan badannya,
"kenapa? memang nya saya salah mengkhawatirkan mu?" ucap Marven,
"tentu saja, aku ini bukan anak kecil pak, dan tolong jangan memanjakan saya lagi, bapak jangan memaksakan diri untuk mendekati saya." ucap Vero, "apa?, apa yang kamu katakan,kamu pasti mendengar hal hal aneh dari mereka kan, dan saya tidak memaksakan diri untuk mendekati mu, saya hanya ingin selalu berdua dengan mu, tidak lain ..." ucap Marven dengan nada kesal, Mereka pun beradu mulut, sampai akhirnya Gabriel pun datang dan melerai mereka, "hey hey cukup." ucap Gabriel
"Gabriel jangan ikut campur dengan masalah ku." ucap marven dengan nada dingin, "siapa yang mau ikut campur wlee, aku mau mengajak Vero berfoto, ayo nona Vero ikut dengan ku saja ya." ajak Gabriel
Vero hanya menganggukkan kepalanya dan pergi bersama Gabriel
Marven lagi dan lagi dibuat kesal oleh mereka. *Buat yang nanya dimana orang tua Marven ? orang tua nya lagi mantau marven wkwkw*.
Di bawah pohon
"Nona ayo foto bersama saya." ajak Ryan, "ayo hehe." ucap Vero.
Mereka pun foto secara bergantian,
"hahaha muka Gabriel lucu sekali." tawa Vero, "hahaha tentu, selain lucu saya ini ganteng dan tampan." ucap Gabriel percaya diri, "tampan dan ganteng apa bedanya?" tanya Dion dengan muka datar, "itu .... tampan itu berkharisma hahaha, yasudah Vero mau ikut saya memetik bunga tidak?" ajak Gabriel, "mau mau mau." ucap vero seraya tersenyum.
Gabriel pun menarik Vero lalu berlari menuju taman bunga, "hadeh anak itu menghindar." ucap Dion, Ryan dan Dion pun pergi ke tempat Mark.
Di ladang bunga
"Ayo nona duduk di sini." Gabriel pun mengulurkan tangannya, Dan mereka pun duduk di taman bunga.
"Wah banyak sekali ya bunga nya, aku kagum hehe." ucap vero dengan mata berbinar binar, "tentu saja, oh ya bagaimana jika kita membuat mahkota bunga." ucap Gabriel seraya mencubit pipi Vero, "wah boleh tuh ayo bikin, aku akan membuatkan nya untuk mu, dan kamu membuat untuk ku bagaimana." ucap Vero, "okey boleh, ayo kita mulai." ucap Gabriel
Mereka pun membuat mahkota bunganya. "sudah siap." teriak Vero.
Mahkota milik Vero:
Mahkota milik Gabriel:
Mereka pun bertukaran mahkota bunga, "punya bagus riel." puji Vero.
"hahaha, punya mu juga bagus." ucap Gabriel, "oh ya, Vero aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Gabriel seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "katakan saja." ucap Vero,
"kamu menyukai Marven ya?" tanya Gabriel dengan senyum tipis di wajahnya, "apa, aku tidak menyukai kok." ucap Vero terbata bata,
"jangan membohongi perasaan mu,wajah mu menjelaskan bahwa kamu menyukainya, apa kamu tau menyukai nya itu terlalu sulit, dari dulu dia tidak mudah mencintai seseorang, dia tidak berani mendekati perempuan, semenjak tunangan nya meninggal, dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian tunangan nya, jadi jangan terlalu berharap banyak kepada nya." ucap Gabriel, "Di-dia mempunyai tunangan?" tanya Vero, "yah begitulah." jawab Gabriel. Vero pun menghela nafas kasar, "terimakasih sudah memberitahu ku ya hehe, aku tidak berharap banyak padanya." ucap Vero dengan senyum tipis nya,
Setelah selesai makan
"Hey, bagaimana jika kita bermain raket, aku membawa nya tadi." ajak Ryan, "wah ayo ayo." ucap mereka ber empat, Ryan pun melirik ke arah Marven, "kau ingin main? kalau tidak ingin, tidak apa." tanya Ryan, mereka pun pergi ke tempat yang lebih luas
"Tcih, aku mau." ucap Marven dengan nada kesal, saat Marven menghampiri tas Ryan, ternyata kosong, dan ya Ryan hanya membawa 4 raket, Marven pun menatap Ryan, Ryan hanya bisa cekikikan melihat Marven, Dan Marven pun pergi meninggalkan tempat itu, dia lebih memilih untuk bermain sendiri di ladang bunga.
Ketika sedang bermain, kok pun terpental jauh, "biar aku saja yang ambil." ucap Vero, ia pun berlari mengikuti arah kok itu jatuh, "baiklah hati hati ya, nanti kaki mu sakit lagi." teriak Dion, Vero hanya mengacungkan jempol, saat sampai, ternyata kok itu terletak dekat semak semak pohon, saat Vero hendak mengambil kok ia melihat ada Kaka nya dan Kendra[tunangan nya], namun mereka tidak berjarak dekat,
Vero pun buru buru mengambil kok itu, naas nya suara rumput yang diinjak Vero berbunyi. 'Kresek kresek'
"Siapa itu." ucap Kendra, "Ve-vero?,hey tunggu sebentar." ucap Kendra,
Vero pun berlari sekencang mungkin,dan dibelakang nya diikuti oleh Kendra, "tu-tunggu!" teriak Kendra.
Vero berencana untuk menghampiri Dion Ryan dan Gabriel tapi niat nya batal, Vero merasa tidak aman jika bersembunyi di dekat mereka, jadi Vero memutuskan untuk membuat Kendra bingung. 'Sat set' Vero pun melewati Dion Ryan Gabriel,ia pun segera berlari menuju ladang bunga,
"hey kamu ingin kemana." ucap Ryan,
Namun perkataan nya diabaikan oleh Vero, "hos hos, cape sekali." ucap Kendra dengan nada tersengal-sengal, "hey kau siapa?" tanya Dion,
"uh begini apa kalian melihat perempuan berbaju biru yang lewat disini, di-dia istri ku." ucap Kendra dengan nafas ngos-ngosan, "oh ternyata dia istri mu, tadi dia ke taman bunga." ucap Gabriel dengan santai, "baiklah terimakasih." ucap Kendra, ia pun berlari lari menuju ladang bunga, "ternyata tadi bukan Vero ya, aku kira itu dia soalnya mirip sekali. "ucap Dion, "yasudah ayo kita minum dulu sambil nunggu Vero." ucap Ryan, mereka berdua pun setuju dan pergi untuk minum air.
Di ladang bunga
Vero berusaha mencari Marven, setelah ia berusaha mencari marven dengan mata nya akhirnya ia pun menemukan Marven yang sedang duduk di tepi taman bunga, ia pun dengan cepat menghampiri Marven.
"Marven." ucap Vero dengan ngos-ngosan, "ada apa?" ucap Marven terkejut, ia pun bangun dan menghampiri Vero, "kamu main lari larian ya, kan kaki mu masih sakit." ucap Marven, "sh tolong aku, Kendra Kendra .... tunangan Kaka ku mengejar ku." ucap Vero ketakutan,
"apa yasudah ayo bersembunyi ayo ikuti aku." ucap Marven, ia pun segera menarik tangan Vero dan mereka pun mencari tempat persembunyian, Dan mereka pun bersembunyi di semak semak, yang tak jauh jaraknya dari ladang bunga, "disini aman?" tanya Vero, "iya tenang saja." jawab Marven seraya mengelus rambut Vero,Beberapa menit kemudian Kendra pun datang ke taman bunga, "dimana dia,aku yakin dia Vero sial lari nya cepat sekali." ucap Kendra dengan nada kesal, "pasti dia ada disini, aku yakin, kakinya saja kan sedang terluka pft, kemari lah sayang, ibu dan ayah mu menunggu dirumah loh." ucap Kendra dengan senyum menyeringai, "Marven aku takut." Vero pun menarik lengan baju Marven. "Tidak apa selagi kamu berada disisi ku, kamu aman." Marven pun menarik Vero kedalam pelukannya, Beberapa menit kemudian .... Kendra sudah memutuskan untuk pergi dari taman bunga, namun saat itu Vero bersin dan suara nya terdengar oleh Kendra,
"oh kamu disana ya, pinter juga kamu nyari sembunyi nya." Kendra pun menghampiri tempat persembunyian Vero dengan pelan pelan, Vero pun panik namun marven tetap menenangkan Vero, ia pun segera mencari akal, saat sedang berpikir, dia pun melihat bibi Anni yang sedang berjalan menuju taman bunga, "bi, bi *** sini." ucap Marven,
untung saja saat itu bibi Anni menoleh.
~~
"KETANGKAP KAMU!" ucap Kendra dengan nada tinggi.
BERSAMBUNG 🌺
Bagaimana agak panjang ya? Hehe
Hope you enjoy and don't forget to vote 💕
Sampai jumpaaa di next eps💕