
🌧️
Hujan pun turun, suara petir berhasil membuat Vero tersadar ia pun mulai membuka matanya perlahan lahan,dia merasakan pusing di kepala nya , Vero pun memutar bola matanya dan memperhatikan ruangan sekitar, Vero tidak mengenali ruangan tersebut, ruangan itu sangat luas dan indah,kamar yang bertema hitam putih dan banyak foto yang terpajang di dinding, dan banyak rak buku di sisi kamar itu, dan juga ada meja kerja yang terletak disamping rak buku,
Setelah merasa kagum, Vero pun mulai mencoba membangunkan tubuh nya, saat ia ingin turun dari ranjang, kaki Vero mencoba menopang tubuh nya namun tidak bisa, ia pun terjatuh karena ia merasa kaki nya sangat sangat sakit, dengan terpaksa vero pun berjalan dengan cara duduk, ia pun sampai di pintu kamar saat ia ingin menggapai gagang pintu ada seseorang pria yang membuka nya, Vero mengenali pria tersebut, Si pria pun menoleh ke arah Vero, ia adalah marven, "nona kenapa kamu bisa sampai disini." ucap marven, dan marven pun
jongkok, "apa?" ucap vero gugup
Marven pun menghela nafas kasar dan menggendong tubuh Vero dan ia meletakkan nya di atas ranjang, "Cbba ingat ingat apa yang terjadi dengan mu." ucap marven dengan nada serius, Vero pun mencoba mengingat kejadian yang ia lalui, "aku tertabrak mobil?" ucapnya tidak sadar, "aaa iya aku tertabrak mobil, aku baik baik saja kan." sambung Vero terkejut, ia pun melihat kondisi tubuh nya, Marven hanya menggelengkan kepala nya heran karena sikap Vero sangat imut.
"Maafkan aku karena sudah menabrak mu, saat itu jalanan sangat gelap hanya ada cahaya lampu dari mobil ku." ucap marven ia pun mengelus rambut Vero, Vero menatap mata marven, Vero merasa tatapan marven sedih dan tidak seperti biasanya, "tidak apa apa, aku yang salah pak karena tidak memperhatikan jalanan."ucap vero tersenyum, "Dan juga saya bersyukur karena bapak ingin menolong saya." sambung nya lagi, Marven pun duduk di samping Vero dan mengangkat wajah Vero, [Karena saat itu wajah Vero menunduk], jantung Vero berdetak dengan kencang dan pipi nya pun merona, bagaimana tidak merona saat itu dia berada di posisi yang sangat dekat dengan wajah orang yang ia sukai. "Aku tidak bisa menjaga mu dengan baik."ucap marven sendu, "Hae .... kenapa." tanya Vero bingung, "Vero kamu terluka dan tulang kaki mu hampir retak." ucap marven dengan nada serius dan bercampur dengan nada khawatir, "retak ..."ucap vero. "Ya, itu karena keluarga mu yang terus terusan menganiaya mu, kenapa kamu tidak melawan." ucap Marven kesal, "aku tidak bisa, 1 orang melawan 3 orang itu mustahil pak." ucap vero pelan, Marven pun mendecih dan mengalihkan pandangannya ia pun mengacak acak rambutnya, Vero merasa pak marven saat itu sangat marah kepadanya, "maaf pak." ucap vero pelan, Vero mencoba untuk menggenggam tangan marven, ia berhasil melakukan nya dan saat itu marven pun menoleh kearah Vero,
"kamu berani ya memegang tangan saya." ucap marven dengan senyum menyeringai nya, "hehe maaf." Vero pun melepaskan genggaman nya
Dan marven lagi lagi mendekati Vero,Vero pun mundur dan mundur hingga posisi mereka saat ini cukup dekat
Marven berada di atas Vero dan Vero berada di bawah marven, lagi dan lagi jantung Vero berdetak dengan kencang. "Wajah mu kenapa memerah." ucap marven usil, "ah itu bukan apa apa." ucap vero terbata bata. ia pun mengalihkan wajah nya
Marven pun mendekatkan wajahnya dan berbisik kepada Vero, "Muka mu seperti tomat." ucap marven dengan jahil, Vero pun mendorong marven namun tidak bisa, "hahaha!" marven tertawa dengan keras, Vero merasa malu karena ia tidak bisa mengontrol perasaan nya, "Vero, gantungan kunci yang aku beri padamu tertinggal, jadi aku menyusul kerumah mu." ucap Marven. "Oh jadi begitu, memangnya bapak tau alamat rumah saya?" tanya Vero, "tentu saja saya tau, saya kan mencari identitas kamu lebih lengkap." ucap marven, saat itu marven mengusel usel ke kuping Vero, Vero merasa geli namun ia menahan nya "Oh." ucap vero singkat
"Pak posisi kita tidak baik, nanti ada orang yang lihat, saya malu." sambung Vero dengan nada pelan.
"tidak apa apa, ini kan kamar saya,jadi tidak ada yang berani masuk sebelum mengetuk pintu atau sebelum mendapat izin dari saya." ucap marven, "tapi tetap saja pak, kita hanya sebatas karyawan dan bos aku merasa tidak nyaman dengan posisi ini." ucap Vero gugup, Marven pun berhenti mengusel usel di kuping Vero, "lalu kamu ingin menjadi pacar saya?" Goda marven, Phossss muka Vero pun memanas, ia pun menutup muka dengan tangan nya,
"Hahaha." tawa marven dengan keras
"Kamu ini mudah digoda ya." ucap marven sambil tersenyum, Marven merasa sangat puas karena telah menggoda Vero, dan marven pun mencoba membuka tangan Vero yang saat itu masih menutupi muka nya, Marven berhasil membuka tangannya ia sangat senang melihat tingkah Vero, dan tiba tiba marven mencium sekilas pipinya, "pak berhenti menggoda saya." ucap vero,
"tidurlah besok kamu akan diperiksa." ucap marven, seraya mengelus kepala Vero, "aku tidak mengantuk." ucap vero pelan, "hm apa karena kamu puas tertidur selama 10 hari hari? jadi sekarang tidak mengantuk." tanya marven. "Entah." jawab Vero yang tidak sadar dengan perkataan Marven, "apa 10 hari?!" teriaknya,
"kenapa terkejut." tanya Marven dengan bingung, "aku sudah berada disini selama 2 hari?" tanya Vero balik, "iya." jawab marven dengan singkat, Marven merasa heran karena melihat vero yang masih terkejut.
"Sudah tidur sini." ucap marven dan membawa Vero ke pelukan, "pak." ucap vero pelan, "Kenapa, tidak nyaman lagi, sudah tidur saja atau saya akan mencium mu." ucap marven dengan jahil "tidak aku nyaman kok hehe." ucap vero yang kemudian dia mengusel ke dada bidang marven, dan marven mengelus rambut vero dengan lembut, Dan Mereka pun tertidur,
Kenapa Vero terkejut?, karena ia tidak menyangka bahwa dia akan pingsan selama 10 hari.
BERSAMBUNG 🌺
aku mau ngasih tau nih,Vero kan suka sama marven nah kira kira dia salting ga si kalo berada diposisi gitu?
jawabannya ofc salting wkwkwk.
gimana cerita lumayan nga, hehe maklum kalo masih agak jelek soalnya penulis baru:)
Soo ya Berharap kalian menikmati cerita ini dan jangan lupa untuk vote💕👋
Sampai jumpaa