Walky Love

Walky Love
Part 16~rumah sakit & first kiss



Diperjalanan


"Ini makan dulu." ucap Marven seraya menyodorkan sebuah kotak makanan


"Buat aku?" tanya Vero. "Iya cepat makan dulu, kamu soalnya be-belum makan tadi pagi kan." jawab marven dengan gugup, "haha iya ya, makasih ya pak." Ucap vero seraya tersenyum,


lalu Vero pun membuka kotak makanan itu, "wahh kare ya pak,sudah lama saya tidak


memakannya." ucap Vero seraya melahap makanan itu, "bagaimana enak tidak." ucap marven ragu, "wah enak sekali, pelayan dirumah mu sangat pintar memasak." puji Vero.


Marven pun menghela nafas panjang,


Batin marven: syukurlah.


"Tunggu tapi ini asin"


"Be-benarkah, kurasa pelayan itu harus ku pecat", saat Vero ingin menjawab perkataan Marven, namun William menyelang nya, "haha nona,masakan itu dibuat oleh tuan marven,bukan pelayan dirumah, tadi pagi dia sibuk memasak untuk nona." ceplos William seraya tersenyum, "wah benarkah?" tanya Vero, William hanya menganggukkan kepalanya, namun disisi lain marven menatap tajam William dan mengepalkan tangannya,


"William, kamu mau saya pecat?, kan saya sudah bilang jangan memberitahu nya." ucap Marven dengan nada dingin, "bukan begitu tuan, saya hanya ingin memberi tahu kalau itu masakan anda" ucap William dengan nada ketakutan,


"maaf tuan .... " sambung nya, "hey kenapa marah, bukannya itu bagus kalau kamu yang memasaknya." ucap Vero, "A-apa?" kata Marven bingung,


"Yah, kamu tidak perlu mengeluarkan William, karena William sudah jujur,dan kamu kenapa membohongi ku hmph dasar." ucap Vero dengan kesal, "Bukan begitu, hanya saja ini pertama kali aku memasakkan makanan untuk seorang wanita."ucap Marven, "oh begitu ya?, tapi tidak apa kamu jangan malu haha, kudengar kalau seseorang membuat makanan dan rasanya asin, kurasa dia akan menikah sebentar lagi." ucap Vero seraya tersenyum, "hey apaan aku tidak mau menikah dengan siapa pun." ceplos Marven, "hm begitu ya, mungkin saja orang tua mu yang akan menjodohkan, kamu tunggu saja haha." ucap vero seraya tersenyum, "diam aku tidak ingin membahas soal pernikahan"


"Haha iya iya imut banget sih"ucap Vero seraya mencubit pipi marven.


Sesampainya di rumah sakit


Marven pun menggendong Vero lagi dan memasuki rumah sakit tersebut.


Para dokter pun menyapa marven dan Vero, "dimana ruangan nya." to the points, "silahkan ikuti saya tuan." ucap dokter gou, Marven pun mengikuti langkah gou diikuti oleh dokter/suster lainnya, Mereka pun sampai di ruangan yang dimaksud gou tadi, "silahkan baringkan nona disini." ucap dokter gou seraya menepuk kasur Pasien yang kosong,


"apa ruang kamar operasi?" tanya Marven dengan nada terbata bata,


"iya tuan muda, karena kemarin sudah dipastikan tulang nona retak dan kami para dokter memutuskan untuk mengoperasi tulang kakinya." ucap gou menjelaskan, Marven pun menatap Vero, "tidak apa apa ya, itu untuk kesembuhan kamu." ucap Marven dengan nada lembut, Marven pun melangkahkan kakinya dan meletakkan Vero di kasur khusus operasi itu, "baiklah jika begitu, tuan silahkan tunggu diluar." ucap salah satu suster, Marven mengabaikan perkataan itu dan menoleh kearah Vero, "aku keluar dulu ya." ucap Marven seraya mencium pipi Vero,


Saat Marven ingin pergi, Vero menarik baju Marven, "pak saya takut." ucap Vero sendu, "tidak apa apa, operasi nya akan berjalan dengan baik dan lancar." jawab Marven seraya tersenyum, "tapi tetap saja pak saya tidak percaya diri, bagaimana jika operasi nya gagal." tanya Vero lagi, Marven pun mendekatkan wajah nya, "jika operasi nya gagal saya tidak akan segan segan untuk membunuh mereka" jawab marven dengan senyum menyeringai nya. Seketika para dokter pun merinding dengan perkataan itu, "ingat ini ya, kalau operasi nya berhasil, saya akan membawa kamu untuk berjalan jalan." ucap marven seraya mengelus rambut Vero, "tapi, janji ya pak." tanya Vero seraya tersenyum tipis,


"iya." jawab Marven, Mereka pun saling tersenyum,dan marven pun keluar dari ruang itu, Ia menunggu diluar dengan perasaan yang khawatir, tak lama kemudian kedua orang tua marven dan nenek nya pun datang "Nak bagaimana keadaan Vero." tanya si Nenek Ghina, "dia sedang dioperasi." jawab nya, "ayah berharap operasi tulang nya berhasil." ucap Mark (ayahnya marven),


Ibu nya pun hanya bisa mengelus punggung anak nya, Mereka pun menunggu dan menunggu, akhirnya operasi telah selesai, dokter gou pun keluar dari ruang tersebut.


"Bagaimana apa operasi nya berhasil?" tanya marven dengan cepat, "Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa, operasi nya telah berhasil." jawab gou seraya tersenyum, Mereka semua pun menghela nafas dengan lega, setelah itu Vero dikeluarkan dari ruang operasi, "Tuan dan nyonya, nona ingin dirawat dirumah sakit atau -" tanya suster kepada kedua orang tua Marven, namun ia belum sempat menyelesaikan bicara nya marven tiba tiba memotong pembicaraan itu.


"Dirawat dirumah saja." ucap marven dengan nada dingin, "tapi nak bukan kah lebih baik dirawat dirumah sakit,Vero akan selalu diperiksa setiap paginya." ucap Nenek, "aku bisa mengundang dokter gou kerumah untuk memeriksa nya setiap hari." jawab marven dengan nada tidak senang, Mereka pun hening, karena Nenek nya tahu sifat cucunya yang sangat keras kepala, Marven pun menggendong Vero dengan hati hati dan berjalan meninggalkan mereka,


ibunya hanya bisa menghela nafas melihat perlakuan anaknya lalu ia menghampiri dokter gou untuk menanyakan tentang kondisi Vero dan pengembangan kesembuhan nya.


Di dalam mobil


Marven sedang menunggu William yang pergi ke toilet, ia pun menatap Vero dan menghela nafas nya dengan kasar, "Vero tidurnya jangan lama lama ya, kamu bilang kan ingin liburan." ucap marven dengan pelan.


FYI: Vero dipangku sama marven,tapi posisi nya dipangku menghadap samping dan kaki Vero lurus.


Marven pun mengelus pipi Vero


"Kamu sangat cantik." ucap Marven,


Marven pun mendekati wajah Vero dan cup, Satu ciuman mendarat di bibir Vero, Marven merasa tubuh Vero sangat hangat, ia pun memperdalam ciumannya. Namun aksi nya terhenti karena marven melihat william yang sedang berjalan ke arah mobil,Marven pun melepaskan ciuman nya dan bersikap santai 'Brak' "Maaf tuan muda, saya sangat lama." ucap William seraya menatap Marven


Namun pandangan William beralih kepada bibir marven, saat itu William melihat ada warna merah yang terletak di bibir marven, "tidak apa,cepat jalankan mobilnya."jawab Marven, "B-baiklah tuan." ucap William terbata bata, selama diperjalanan feeling William mengatakan bahwa marven sudah mencium Vero, Namun ia tidak bisa menanyakan itu kepada marven, ia hanya bisa mencuri curi pandang lewat kaca mobil.


BERSAMBUNG 🌺




First kiss UwU



Hope you enjoy and don't forget to vote


Sampai jumpaaa 👋