Walky Love

Walky Love
Part 33~



Di suatu pagi yang cerah☀️


Vero terbangun sangat awal, tidak seperti biasanya, ia pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya


Setelah selesai ia pun memilih pakaian nya


Pakaian Vero:



Ia juga memoleskan sedikit lipstik berwarna merah muda di bibirnya.


"Yap kurasa aku sudah cantik, namun sayang sekali aku tidak bisa berdandan, huft aku jadi ga percaya diri untuk bertemu Marven." ucap Vero seraya memandangi wajahnya di kaca, dan tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. 'Tok tok tok', "Masuk!"teriak Vero dari dalam, "siapa sih yang ngetok pintu pagi pagi." gumam Vero, Tak lama seseorang pun muncul dari pintu, ia adalah Marven, "selamat pagi sayang." ucap Marven dengan lembut,


"oh iya selamat pagi juga." jawab Vero seraya tersenyum, "kamu berdandan ya?" tanya Marven seraya membelai rambut Vero, "Hehe iya, tapi bisa dikatakan tidak, karena aku tidak pandai berdandan hehe, tetapi aku hanya menaruh lipstik di bibir ku,cantik tidak." tanya vero dengan tersenyum, "Aku suka melihat mu memakai make up, tapi aku lebih menyukai jika kamu tidak memakai nya." ucap Marven seraya memegang bibir Vero, "ih Marven bisa aja"ucap Vero, "oh ya pemilihan pakaian nya kapan?" sambung Vero, "ya ampun ini masih pagi tau, jangan terburu buru,mereka saja masih tertidur." jawab Marven, "pelayan mu masih tertidur?"


Marven hanya menjawab nya dengan menganggukkan kepalanya.


"Oh ya sayang mau dansa sama aku nga." tawar Marven.


Vero pun ngeblush karena ia baru pertama kali diajak berdansa,sewaktu kecil dirinya hanya bisa melihat acara dansa di tv, dan mengikuti gerakan nya, namun Vero selalu gagal karena di acara tersebut perempuan harus berdansa dengan pria, sedangkan tidak ada yang menemani Vero untuk menonton acara tersebut. "Hey kenapa melamun?" tanya Marven yang membuat vero tersadar dari lamunan nya, "E-eh tidak apa kok, aku hanya malu karena kamu memanggil saya...hm anu" ucap Vero dengan nada terbata bata, "ya ampun, baiklah untuk sementara aku akan memanggil mu Vero bagaimana?, mungkin karena kamu tidak biasa dengan panggilan itu." ucap Marven seraya menggenggam tangan Vero,


Posisi mereka sekarang berdiri, dan tak lama kemudian Marven pun berlutut dan mencium tangan Vero,


"Nona mau kah kamu berdansa dengan ku?"


Vero pun mengangguk pelan,dan Marven pun mulai melangkah kan kakinya, ini sedikit sulit bagi vero karena tidak ada irama musik, jadi dia bingung untuk menghentakkan kakinya, sisaat mereka sedang asyik berdansa pintu pun diketuk oleh Gabriel dan ellis, 'tok tok tok'


"Ekhem ekhem, kayaknya asyik banget nih." ucap Ellis.


Seketika Vero pun menjauh dari Marven karena dia malu jika diliat oleh seseorang, "kalian ngapain disini, dari kemarin ganggu terus " ucap Marven dengan nada kesal nya,


"kenapa ga suka ya, makannya pindah rumah kalo ga mau diganggu." ucap Ellis, "Ck, gw juga bakal pindah rumah kok kalo acara pernikahan selesai, dan ga bakal ketemu sama lu lagi." "Dih yaudah, syukur deh kalo lu berinsiatif pindah rumah, kalo nga ....hadeh mata gw ternodai Mulu." ucap Ellis seraya memutar bola matanya malas, "ck, bawel, Gabriel bawa Ade gw pergi." ucap marven dengan nada dingin nya, "Asiap, ayo Lilis kita pergi aja, daripada ngeliatin orang bucin Mulu." ucap Gabriel seraya memegang lengan Ellis, "apaansi lepasin nga, gw mau ke Dion aja bye,jangan ikutin gw nanti lu jadi nyamuk." ucap Ellis, Ellis pun pergi seraya diikuti oleh Gabriel. Marven pun menoleh ke arah Vero,


"kenapa malu ya?" goda Marven


"Hehe begitulah."


"Marven lain kali jangan menyentuh ku seenaknya, aku malu dilihat oleh mereka, hm kamu tau kan maksud ku." sambung Vero dengan nada gugup, "memang kenapa, bukankah kita sudah ingin menjadi sepasang suami istri, jadi bebas kan?"tegas Marven, "Iya ...,tapi kita belum resmi dan acara pernikahan juga masih digelar besok,sudahlah


Jangan mengulangi nya lagi, aku....aku risih." ucap Vero, Marven pun hanya terdiam, karena Vero tidak ingin suasana Canggung ia pun memutuskan untuk ke lantai bawah,


"Oh ya aku mau kebawah dulu ya,mau minum." ucap Vero, "yaudah ayo kita bersama, mama sepertinya sudah menunggu." ucap Marven seraya menggenggam tangan Vero


Vero Hanya mengangguk.


Batin Vero:ck tadi bilang nya belum pada bangun, sekarang malah ngajak kebawah.


Sesampainya di ruang tamu


"Gimana kamu siap menikah dengan anak saya?" tanya Margaret,


Vero hanya mengangguk, ia mencoba mengalihkan pandangannya karena pipi nya saat itu memerah, "Aduh gemes banget, jangan malu malu gitu, nanti pipinya dimakan sama Gabriel loh." ucap Margaret usil, "haha mama bisa aja, oh ya kapan kita pergi nya mama." ucap Vero, "ayo sekarang aja, semakin cepat semakin mantap,bentar ya mama panggil ayah dulu." ucap Margaret. Diruang tamu hanya sisa Vero dan Marven ,


"Marven ayo duduk." ajak Vero seraya menarik narik tangan Marven


Namun Marven hanya menganggukkan kepalanya,dan menuruti perkataan Vero, Tak lama kemudian Margaret pun datang membawa Mark, "ayo nak vero kita pergi." ucap Margaret, "Ayo ..., eh tapi Marven disini atau bagaimana?" tanya Vero, "oh dia juga ikut, ajak saja, ayah mau memanaskan mobil dulu, ayah tunggu diparkiran ya." ucap Mark. Vero hanya menjawab nya dengan anggukan dan Mark pun pergi meninggalkan ruang tamu dan diikuti oleh Margaret.


"Marven ayo, kamu kenapa,kok tampak murung?" tanya Vero seraya memegang dahi Marven untuk mengecek panas atau tidak,


"aku baik baik saja." singkat Marven,ia pun menepis tangan Vero,


"hm, ya-yasudah ayo nanti ditunggu mama." ucap Vero, ia pun seraya menarik tangan Marven


Di halaman rumah


"Vero!" teriak Dion


"Eh iya, kamu kenapa lari lari?" tanya Vero, "haha biasalah jogging, disini kan lumayan besar halaman nya." ucap Dion seraya menyeka keringat nya. "Ada ada saja, yaudah aku mau pergi dulu ya, sampai jumpaaa nanti." ucap Vero seraya melambaikan tangannya. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat parkir, disana sudah ada Gabriel dan ellis yang sedang mengobrol dengan Mark,


"Halo selamat pagi." ucap vero seraya tersenyum, "Eh selamat pagi juga,ekhem kak Vero, nanti kalau buat anak, harus laki laki ya, kali aja dia jodoh aku haha." ucap Ellis seraya mengusel usel ke tangan Vero,


"hehe bisa aja kamu, oh ya kamu juga ikut kita?" tanya Vero, "tentu saja, kata mama aku boleh memilih baju untuk kamu." "Ohhh begitu."


Saat mereka sedang asyik mengobrol, Gabriel yang tidak mau kalah akhirnya memutuskan untuk berbicara kepada Marven,


"wooi ven muka lu kusut amat." tanya Gabriel, "berisik." singkat Marven,


"ya ampun." "Woi riel muka Abang gw emang setiap hari kusut, makannya gw bosen ngeliatnya ga ada senyum senyum nya tuh muka." ledek Ellis, dan tiba tiba Ellis pun berbisik kepada Vero, "engga lis perasaan tadi pagi masih ceria sekarang kok berbeda, lu apain Ver." tanya ellis.


Saat Vero ingin menjawab pertanyaan Gabriel, dirinya langsung ditarik oleh marven untuk masuk kedalam mobil, "hey sakit tau." Rintih Vero, "lemah banget sih, udah lu dimobil ini aja sama mereka berdua,gw sama ayah." ucap Marven dengan nada dingin, ia pun langsung menutup pintu mobil itu dengan keras, "ih kenapa sih, kok manggilnya jadi lu gw an dasar ga jelas." gumam Vero, ia pun berangkat bersama Gabriel dan ellis, sedangkan marven bersama Margaret dan Mark.


BERSAMBUNG 🌺




kira kira kenapa sifat marven bisa berubah?ada yang bisa nebak?



Hope you enjoy and don't forget to vote


Sampai jumpaaa 👋