Walky Love

Walky Love
Part 13~kecelakaan



adalah Kendra


"apa yang kau lakukan disini?!" ucap vero dengan nada kesal,


Kendra pun memeluk pinggang Vero, tapi Vero berusaha mendorong dan berhasil, ia langsung menutupi tubuhnya dengan handuk lalu berlari ke kamar nya ia cepat cepat untuk memakai baju, baju yang Vero pakai simpel karena dia seperti memakai daster. Beberapa detik kemudian,kendra berhasil memasuki kamar Vero, ia pun mendorong Vero ke kasur dan mengelus wajah nya


"Pergi atau aku akan berteriak." ucap Vero dengan nada bentak,


"teriak saja, aku akan beralasan jika kamu yang menggoda ku duluan." ucap Kendra dengan senyum licik nya, Vero saat itu menahan nangis dan amarah nya, kaki nya pun dielus oleh Kendra, Kendra berniat untuk mencium Vero tapi Vero


memberontak, hingga akhirnya kaka nya melihat kejadian itu. "Sayang apa yang kamu lakukan disini." ucap Kaka nya dengan nada kesal, kendra pun langsung bangun, dan Vero menghindar, ia hanya bisa terduduk di sudut kamar, "aku bisa jelaskan sayang, dia tadi menggoda ku duluan." ucap Kendra ketakutan, "dasar pelacur." ucap Kaka nya, ia pun menghampiri vero dan menampar nya, "kak ini salah paham, kamu liat sendiri kan dia memaksa ku untuk mencium nya." ucap vero menahan air mata nya, "berisik, itu karena dia telah di goda oleh mu jadi dia terbawa nafsu."ucap kakak nya dengan nada kesal, ia pun menjambak rambut vero, dan saat kejadian itu terjadi orang tua mereka datang ke kamar vero, sang ayah pun mencoba melerai mereka. "Nia apa yang kamu lakukan!" ucap sang ayah membentak nya, Vero sekarang sudah didalam pelukan ayahnya.


"Yah cukup dia telah menggoda tunangan ku, aku sudah ga bisa menahan amarah ku, dan disaat saat seperti ini ayah masih membela nya." ucap Nia dengan nada kecewa, ayah pun menoleh kearah Vero, "apa yang dikatakan Kaka mu itu benar?" tanya sang ayah, Vero hanya menggelengkan kepalanya, "liat dia sudah mengatakan tidak, kamu jangan terbawa emosi." ucap sang ayah marah, "Ya ampun yah yah,sudahlah jangan membela anak perempuan mu itu, kalo dia mati kamu juga masih mempunyai satu." ucap si ibu tiri dengan nada meledek.


Nia yang sudah ter bawa emosi pun menjambak rambut Vero lagi, ayah mencoba melepaskan nya tapi Nia sangat terbawa amarah saat itu dan mengabaikan ayah nya. Vero dianiaya oleh keluarga nya dan Kendra ikut menganiaya Vero, sang ayah saat itu pingsan akibat pukulan dari Kendra,


"Cukup sampai kapan aku dianiaya terus!" bentak Vero, "sampai kau mati." ucap si Kaka, Vero pun menangis, ia tak tahan dengan rasa sakitnya, Vero sudah mencoba melawannya tapi kekuatan dia kalah, karena 1 lawan 3 orang itu mustahil, entah apa yang merasuki mereka bertiga, mereka terus terusan menganiaya nya, tiba tiba saja ayah nya pun bangun dan memukul kepala mereka bertiga dengan pot bunga, tentu saja itu membuat pandangan mereka beralih ke si ayah, "Vero lari." ucap Sang ayah dengan nada bentak, dengan sisa tenaga, Vero pun segera berlari kearah keluar rumah, ia merasa sangat bersalah kepada ayah nya karena sudah meninggalkan ayah nya disana sendirian namun Vero tidak kuat lagi menahan siksaan dari mereka bertiga, Ia pun menuruni jalan, FYI: rumah Vero di dalam hutan tapi nga dalam banget, jadi kalo misalnya mau pergi harus nurunin tanah yang kayak perosotan gitu ngerti lah ya:) .


Ia merasa kaki nya sangat sangat linu dan sakit, ia sudah tidak bisa berlari karena kaki nya sakit namun ia berjalan perlahan, dibelakang nya sudah ada Kendra yang mengejar Vero, "hey tunggu mau kemana kamu!" teriak Kendra. Vero sudah berusaha berlari tetapi karena kakinya sakit dia jadi lambat dan berhasil ditangkap oleh Kendra,"berani kamu ha." ucap Kendra dengan nada kesal, "lepasin nga,dasar bajing**"ucap Vero dengan nada tinggi, "nga akan, cepat balik kerumah" , Kendra pun menarik tangan Vero, tetapi Vero menahannya dan malah menggigit tangan Kendra,


"argghhh sialan sakit." rintih Kendra,


Vero pun berusaha berlari dengan cepat, walaupun kakinya sakit dia tetap berusaha karena dia tidak ingin balik kerumah kejam itu, saat sampai di dekat halte Vero ingin menyeberangi jalan itu namun naas nya saat Vero menyebrang ada mobil yang menabrak nya 'brak', Vero pun terjatuh dan tergeletak di jalanan,dengan pandangan yang sudah pudar Vero melihat seseorang laki laki yang menggendong nya,ia pun pingsan, "Vero Vero hey bangun." ucap marven dengan nada khawatir, ya lelaki itu adalah Marven dan Gabriel, Gabriel pun melihat ke arah Kendra, "tu-tuan muda?!" ucap Kendra dengan nada terkejut, tanpa berpikir panjang Gabriel pun langsung menghampiri Kendra dan memukul wajah Kendra dengan keras, "berani berani nya kau melukai wanita ku!" ucap Gabriel seraya memegang kerah baju Kendra, "wa-wanita cih jangan bercanda dia adalah tunangan ku." ucap Kendra dengan nada sombong, amarah Gabriel pun semakin meningkat tetapi Marven menghentikan nya, "Gabriel abaikan dia, kau mau nyawa Vero tidak selamat?" ucap Marven, "lalu bagaimana dengan dia?" tanya Gabriel dengan nada kesal, "itu akan menjadi urusan para penjaga dirumah ku, cepat masuk." ucap


Marven, Gabriel pun menurut dan masuk kedalam mobil, sebelum marven masuk dia berkata kepada Kendra, "tunangan ya?, tch jangan bercanda, Vero tidak mungkin mau dengan orang seperti mu."ucap Marven dengan nada dingin, lalu ia pun masuk kedalam mobil dan meninggalkan Kendra sendirian, "sialan, kenapa dia bisa dekat dengan pria terkaya di kota ini, aku harus memberi tahu Nia." ucap Kendra, ia pun berlari menuju ke rumah.


"bagaimana kondisi nya? dia masih bernafas?" tanya Gabriel dengan nada khawatir, "syukur nya dia masih bernafas, tapi kondisi tubuh nya ...."


jawab Marven, "tidak apa yang terpenting dia masih bernafas." ucap Gabriel, "ya, kalau begitu, lajukan mobil nya dengan cepat." ucap Marven, "baiklah." Gabriel pun melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi.


Sesampainya rumah sakit


Marven pun segera memanggil dokter untuk menangani Vero, "tolong periksa dia dengan benar." ucap Gabriel dengan nada khawatir, para dokter pun mengangguk. setelah menunggu beberapa menit akhirnya salah satu dokter pun keluar, "bagaimana." tanya mereka berdua,


"begini, keadaan lumayan parah, karena banyak benturan yang terkena di kepala nona itu, hal itu bisa menyebabkan seseorang kehilangan ingatan, untuk selanjutnya silahkan menunggu suster Ellis, saya permisi dulu." jelas dokter lalu ia pun berjalan meninggalkan mereka berdua, seketika tubuh Marven pun menjadi lemas, "tenang bro, aku yakin dia pasti bakal bertahan hidup." ucap Gabriel, namun Marven tidak menanggapi perkataan Gabriel dan malah tertunduk, "yaudah aku mau telepon Ellis dulu ya biar dia cepat datang." ucap Gabriel, lalu ia pun meninggalkan Marven sendirian. di lubuk hati Marven, entah kenapa ia merasa sangat sedih dan mempunyai perasaan bersalah, Marven mencoba menahan air mata nya namun ia tidak bisa karena sudah banyak air mata yang menumpuk di mata nya, tak lama kemudian ayah dan ibu nya marven pun datang, "nak kamu baik baik saja?" tanya Margaret (mama nya), Marven dengan cepat menyeka air matanya, "sudah nak jangan sedih, ayah yakin dia selamat." ucap Mark (ayah nya), "tapi dia diberi oksigen yah, apa dia akan selamat." tanya Marven, "ck tentu saja dia akan selamat, jangan berpikir negative dong." ucap Mark seraya menepuk pundak marven, Tak lama kemudian Ellis pun datang, dan langsung masuk ke ruangan tanpa menyapa mereka bertiga. beberapa menit kemudian Ellis pun keluar dari ruangan, dan Marven pun menghampiri Ellis "stt diam." ucap Ellis, ia tahu jika Marven akan menanyakan kondisi Vero, "kondisi dia lumayan parah, tapi dia hanya butuh beristirahat." jelas Ellis, "syukurlah ...." ucap Marven, "jadi kamu ingin dia dirawat dimana, rumah sakit atau rumah?" tanya Ellis, "dirumah saja, supaya aku bisa menemani nya sepanjang hari." ucap Marven, "Baiklah." ucap Ellis.


BERSAMBUNG 🌺



Siapa ya kira kira yang menggendong Vero 🍮😆


Tunggu eps selanjutnya!🎆


HOPE YOU LIKE IT


And don't forget to vote and comment