
Marven pun segera memperbaiki posisi nya, "dek lu ngapain masuk." ucap Marven dengan nada kesal, "ih apa si gw kan mau liat keadaaan Kakak ipar gw, lu tuh yang ngapain." ucap ellis, seketika vero pun ngeblush, "ck ngeganggu aja." ucap Marven seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Marven dan Vero pun duduk di pinggir ranjang, "gimana kak sehat." ucap Ellis seraya mengelus pipi Vero, "iya udah kok." ucap vero dengan gugup, "oh iya lupa,dia adik aku, panggil aja Lilis" ucap Marven, "oh, salam kenal Lilis." ucap Vero seraya tersenyum, "ih Abang, ga bener banget sih loh ngajarin nya."
Ellis pun memukul pundak Marven,
"eh panggil aku Ellis aja hehe." ucap Ellis seraya menatap marven dengan tajam, "Oh kak Ellis ya.", "Tch, Ellis ingatan dia sudah kembali." kata Marven seraya memalingkan wajahnya, "hah benarkah?" ucap Ellis tak percaya. Saat Vero di tanya dengan beribu pertanyaan, Dyana pun datang, "tuan dan nona maaf menggangu, nyonya datang mencari tuan muda." ucap Dyana, "Ayah ibu?"
"Baiklah aku akan segera kebawah." ucap Marven. Dyana pun membungkukkan badannya lalu pergi. "Ellis jaga Vero dulu ya, inget ingatan nya baru kembali jangan ditanya Mulu." ucap Marven dengan nada kesal, "Iya iya bawel." Lalu Marven pun keluar dari kamar itu,dikamar Ellis berencana untuk menyuruh Vero mandi dan berdandan
Diruang tamu
"Ayah ibu ada apa." tanya Marven.
"Begini nak kami datang kesini untuk memberi kabar tentang pernikahan kamu dan Vero." ucap Margaret dengan senyumannya, seketika Marven pun terkejut, "bu yang benar saja, aku belum siap." ucap Marven malu malu, "ahaha urusan itu mah belakangan aja, kamu terima loh ya,ayah udah capek-capek ngurus." ucap Mark, "tapi bagaimana jika Vero tidak mau." ucap marven dengan nada sendu, "tenang aja dia pasti mau kok,dia juga bilang waktu itu sama ibu, dia bilang kalo kamu itu ganteng." ucap Margaret, "Be-benarkah." ucap Marven tidak percaya, "ya begitulah,jadi kamu ingin acara ini diselenggarakan kapan"ucap Margaret, "hm, mungkin beberapa hari lagi, nanti aku akan menelpon ayah dan ibu ya." ucap marven dengan senyum tipis nya "Ba-baiklah"
ucap Margaret.
Dalam batin Margaret:
Ya Tuhan baru kali ini melihat anak ku yang sudah dewasa ini tersenyum,pengen nangis.
"Ya-yasudah ayo yah kita pulang dulu." ucap Margaret seraya menarik tangan suaminya, "iya hati hati ya kalian." ucap Marven, mereka berdua pun pergi, dan tak lama Vero pun turun dengan berlari.
"Marven!" teriak vero. "Eh kamu kenapa, tidak baik berlarian di tangga." ucap Marven, "Ellis menyuruh ku memakai baju terbuka dan ketat." adu Vero, dan dari lantai atas Ellis pun berteriak, "Vero ayo pakai baju ini saja!" teriak Ellis.
Baju yang dimaksud Ellis:
"Kak bawa dia keatas!" teriak Ellis,
"tch, jangan berharap, kamu lagian ngapain sih nyuruh Vero memakai baju seperti itu." teriak Marven,
"agar Vero terlihat hot di depan Abang." ucap Ellis seraya menyengir,
"su-sudahlah dia tidak ingin, jadi jangan dipaksa." ucap marven,
"ih yasudah lah ga seru." ucap Ellis
Ellis pun pergi.
"Yasudah kamu ke dapur dulu sana,sarapan dulu." ucap marven dengan lembut, "hm baiklah, tapi kamu ingin kemana."
"Balas dendam ke orang breng**k." ucap Marven, Vero pun terdiam, ia mengingat bahwa dibalik kejadian itu ada ibu tiri nya lah yang telah mengatur semua kejadian itu, "aku ingin ikut." ucap Vero, "tidak usah memaksakan diri, kamu disini saja,aku takut trauma kamu kambuh lagi."
Vero hanya menganggukkan kepalanya dan pergi mengikuti Marven.
Di perjalanan
"Vero." kata Marven, "ada apa pak." tanya Vero seraya menoleh ke arah Marven, "kendra ikut terlibat juga." ucap Marven, "apa? apa kamu serius pak?" tanya vero dengan serius. "Ya tentu saja, saat diperiksa tempat kejadian ternyata Kendra termasuk pria yang ingin melec**kan kamu." Vero pun terdiam, dia pun mengepalkan tangannya, dia merasa sangat kesal terhadap Kendra dan juga keluarga nya, "lalu kaka ku?" tanya Vero dengan nada dingin, "kaka mu tidak ikut terlibat, aku dan yang lain sudah menginterogasi dan mencari kamera pengawas, dan dia tidak terlihat di mana pun." ucap Marven. "kenapa dia tidak ikut terlibat ya." tanya Vero, "kamu ingin menemui kaka mu?" tanya balik Marven, Vero pun mengangguk pelan. "oh ya kenapa tuhan menciptakan aku untuk menjadi lemah ya." ucap Vero dengan nada sendu, "jangan menyalahkan diri sendiri, kamu sudah cukup kuat kok." ucap Marven seraya memegang tangan Vero, Vero pun menoleh ke arah Marven, "Hukuman apa yang harus aku berikan kepada mereka." kata Vero, Marven pun tersenyum menyeringai, "hukuman nya harus setimpal"
"Maksudnya?"
"Ya, selama ini kan kamu sudah siksa oleh ibu mu, jadi kamu harus memberi hukuman dengan cara yang sadis." ucap marven dengan senyum menyeringai nya, "Sadis ya ..., tapi" Perkataan Vero pun terpotong, "tidak ada tapi tapi, ayo cepat turun kita sudah sampai." ucap marven
Mereka pun sampai di sebuah rumah yang lumayan besar dan cukup tertutup
Marven pun mengajak Vero ke ruang bawah tanah, saat Marven membuka pintu ruang bawah tanah tersebut terdengar suara teriakan dari dalam ruangan itu. Mereka pun berjalan menelusuri tempat tersebut dan tibalah di sebuah pintu yang terletak di pojok, Vero melihat dengan mata nya sendiri, ibu tirinya sedang disiksa habis habisan oleh penjaga disana.
Marven pun berbisik kepada vero
"Mau masuk?" Vero pun mengangguk pelan, dan mereka pun masuk.'Ceklek', "Hentikan." titah Marven,
seisi ruangan melihat ke arah Vero, termasuk ibu tirinya dan Kendra.
"Vero tolong ibu nak, tolong!" teriak Liana [ibu tiri Vero].
FYI: jadi marven sama Vero itu posisi nya diatas tangga, jadi sebelum penjaga nyiksa ibu nya harus nurunin tangga dulu, ngerti kan, berharap ngerti wkwk.
Vero hanya terdiam dan melihat ibu nya dengan tatapan benci, "Vero kalau kamu tidak kuat melihat mereka, sembunyi saja dibelakang aku." ucap Marven seraya memeluk Vero dari belakang, "tidak aku tidak takut, aku harus menentukan hukuman nya sekarang Marven." ucap Vero seraya berbalik dan menatap Marven, "baiklah, kamu ingin mereka dihukum dengan cara apa, aku beri tiga pilihan dikuliti,disiksa sampai mati, atau dibakar hidup hidup." ucap Marven dengan senyum menyeringai nya, Vero pun mengepalkan tangannya, ia tidak tahu harus memilih apa, "Breng**k dasar Vero breng**k, mending lu mati aja, ga guna!" teriak Kendra. Dan salah satu penjaga pun menampar mulut Kendra "Marven." ucap Vero dengan nada bergetar, Vero saat itu menggenggam baju Marven.
"Ada apa, sudah memilih?" tanya Marven, "iya, aku ingin mereka mereka dibakar hidup hidup." ucap Vero dengan nada ketakutan, "baiklah sesuai permintaan mu." Marven pun senyum menyeringai, "Penjaga, ikat mereka satu persatu lalu bakar." titah Marven, "Vero breng**k kenapa kamu tidak menyelamatkan nyawa keluarga mu dasar kejam, aku doakan kamu hidup tidak tenang." teriak Liana.
"Berisik, lebih baik anda mati, anda tidak pantas hidup." ucap salah satu penjaga, para penjaga pun lagi bersiap siap untuk membakar mereka. "Vero, kamu masih ingin disini?, aku ingin mendengar teriakan mereka." ucap Marven dengan nada dingin "Aku ..." Vero pun berpikir, disisi lain ia sudah muak mencium bau darah di tempat itu. "aku ingin disini bersama mu." ucap Vero dengan sendu, "baiklah sini aku peluk, kamu jangan terlalu mendengar teriakkan mereka nanti kamu mimpi buruk." ucap Marven seraya mengusap usap rambut Vero, kali ini Vero memeluk Marven dan tidak berani untuk melihat keluarga nya di bakar.
BERSAMBUNG 🌺
oh ya setiap hari Sabtu aku libur ya, soalnya kepala pusing cuy ngeliat hp Mulu.
Soo ya hope you enjoy and don't forget to vote 💕
Sampai jumpaaa 👋