Walky Love

Walky Love
Part 25~Trauma&Amnesia



Tengah malam pun tiba, Marven baru saja pulang dari pekerjaan nya dan dia pun langsung menuju lantai atas dan memasuki kamar, "kalian boleh keluar sekarang." ucap Marven , ketiga pembantu Marven pun membungkukkan diri lalu


melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Marven pun mengunci pintu kamar dan dia pergi membersihkan badan nya, setelah selesai marven pun membaringkan tubuh nya di ranjang dia tidak memeluk Vero atau menciumnya, karena Vero pernah mengatakan untuk menjaga batasan dengan nya, akhirnya marven pun tertidur dengan lelap.


Di dalam mimpi Vero


Di mimpinya dia hanya bisa teriak menerima pukulan dari banyak orang,dan juga ada banyak pria yang sedang melec***** ia, dan mimpi buruk nya pun membuat vero terbangun. Tubuh yang bergetar, perasaan yang panik, dan keringat disekitar tubuh nya, "Di-dimana aku." ucap Vero dengan nada gemetar.


FYI :setiap malam lampu nya selalu dimatiin sama Marven.


Vero pun meraba raba area sekitar,


"a-apa ini." ucap nya ketakutan,


Marven yang merasa disentuh pun terbangun dan memegang tangan Vero, "Sudah bangun ya." ucap Marven dengan suara berat nya,


Seketika vero pun teriak dan menangis, "hey ada apa?" tanya Marven kebingungan, ia pun beranjak dari ranjang dan menyalakan lampu.


Saat marven mau mendekati Vero lagi, Vero menghindar, "Pergi! siapa kamu aku tidak mengenal mu!" bentak nya seraya sesegukan, "hey...aku Marven, kamu melupakan aku?" ucap marven dengan sendu, "aku tidak mengenalmu!" teriak nya,


Marven berniat untuk memeluk Vero tapi Vero malah semakin menghindar."Tolong jangan melecehkan aku." ucap Vero dengan nada bergetar.


Marven yang mendengar perkataan itu pun langsung mengingat para pria tadi, Marven penasaran apakah pria pria itu sudah melecehkan Vero atau belum, Dia pun mendekati Vero lagi dan berhasil, Marven pun memeluk Vero dengan erat, "Vero ini aku Marven, aku tidak akan pernah melukai mu." ucap Marven dengan sendu, namun Vero hanya terus memberontak dan menangis, tetapi Marven pun tidak mau kalah ia terus memeluk nya dan mengelus elus rambut Vero, Beberapa menit kemudian Vero masih menangis namun tidak memberontak.


"Vero, aku tidak akan melukai mu aku janji, aku sudah menyiksa pria yang melecehkan mu." ucap Marven,"Pembohong." ucap Vero dengan sesegukan, "hey percaya lah padaku,jika kamu tidak percaya aku akan membawa mu ke tempat mereka berada." ucap Marven, "cukup! aku membenci mu, aku tidak mengenalmu." teriak Vero, lalu ia pun menggigit lengan marven dengan keras, Marven sempat merasa kesakitan namun dia menahannya,tetapi gigitan yang diberi Vero lama kelamaan semakin keras, tak lama kemudian, Vero pun melepaskan gigitannya dan mendorong marven, ia pun melarikan diri dari kamar tersebut.


Di ruang dapur


Vero pun turun kebawah dan dia tertabrak Dyana, "aduh sakit." Rintih Vero, "No-nona maafkan saya, ayo bangun bangun." ucap Dyana. Saat itu Vero berniat berlari keluar rumah, tetapi Marven sudah meneriakkan nama Vero yang akhirnya membuat Vero bersembunyi dibelakang Dyana.


"Eh eh kenapa ini?" tanya Dyana dengan bingung, Marven pun turun.


"Tcih dasar wanita itu, Dyana bawa dia kembali ke kamar dan jangan biarkan dia lari dari rumah lagi, saya ingin menelpon dokter Ellis." ucap Marven dengan nada dingin, Dyana pun hanya mengangguk dan membawa Vero ke dalam kamar.


Sesampainya di kamar


"Nona Vero kamu kenapa, tidak biasa nya kamu seperti ini?" tanya Dyana,


"siapa nona Vero." tanya Vero dengan polos, Dyana yang mendengar hal itu pun kebingungan, "itu nama kamu nona." ucap Dyana, "aku? benarkah,


aku tidak mengingat namaku." ucap Vero sendu, "haha tidak apa, nah sekarang coba tebak siapa nama aku." ucap Dyana menunjuk dirinya


"Dyana?" ucap Vero, "Syukurlah kamu ingat saya." kata Dyana terharu. "hehe, aku tau karena tadi pria itu menyebut nama mu." tawa Vero dengan pelan, Dyana hanya bisa tersenyum canggung sambil menunggu dokter Ellis, beberapa menit kemudian Ellis pun datang,


"kamu tunggu disini saja." ucap Ellis dengan nada dingin, "baiklah." Marven pun menuruti perkataan Ellis,


Ellis pun masuk kedalam kamar dan mengunci pintu tersebut. "kamu siapa?" tanya Vero dengan nada ketakutan seraya bersembunyi dibelakang Dyana, "haha aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Ellis dokter pribadi dirumah Marven." ucap Ellis dengan nada lembut nya "Ma-marven? siapa dia." tanya Vero, "di-dia kakak saya." jawab Ellis dengan gugup, "nah sekarang ayo mulai, saya akan periksa kondisi tubuh mu." sambung nya, Vero pun menuruti dan duduk berhadapan dengan Ellis, Beberapa menit kemudian Ellis pun selesai memeriksa tubuh Vero, dan ia juga menanyakan beberapa soal kepada Vero, namun ketika Vero ditanya ia akan menjawab 'tidak mengenal nya', dan Ellis sudah memutuskan bahwa penyakit yang diderita oleh Vero adalah amnesia dan trauma., Ia pun berpamitan kepada Dyana dan Vero dan ia pun segera melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Bagaimana ,apa penyakit nya?" tanya Marven dengan khawatir, "Amnesia." ucap Ellis dengan singkat, "Tch jangan bercanda." ucap Marven dengan nada meledek, "apa kau bilang?!, aku sudah memeriksa nya dan kamu malah tidak percaya, huh dasar abang yang ga tau diri." ucap Ellis seraya melipatkan tangan nya di dada, "iya iya .... ,apa yang diderita nya." tanya Marven sekali lagi


"Amnesia dan trauma." ucap Ellis, Marven pun terdiam. "kenapa tidak percaya lagi?" tanya Ellis, "bukan seperti itu hanya saja, dia trauma pada siapa." tanya Marven, "pada pria,jika kau merasa adalah seorang pria maka kau jangan mendekatinya, dia akan menangis nanti." ucap Ellis.


"Sialan ..."gumam Marven, "aku belum memastikan itu benar atau tidak,soalnya tadi aku tunjukkan wajah Gabriel dia ketakutan, jam 09.00 bawa di ke rumah sakit di dekat sini aku akan memeriksa nya lebih lanjut." ucap Ellis seraya melambaikan tangannya, "Ya baiklah, terimakasih ya dek." ucap Marven.


Di ruang tamu


Marven saat itu bingung, dia ingin mendekati Vero, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya, ia pun mondar mandir di depan tangga, saat itu bibi anni melihat tingkah Marven pun jadi heran jadi dia mendekati Marven.


"Tuan muda, anda tampak kebingungan, kalau anda ingin bercerita kepada saya, saya siap mendengarkan." ucap bi Anni, "begini bi, Ellis bilang kalau Vero terkena penyakit amnesia dan juga trauma terhadap pria, dan aku ingin mengobrol dengan nya tapi tidak tahu bagaimana cara mendekati nya, tolong Carikan solusi bi." ucap Marven, bi Anni pun berpikir, berpikir dan berpikir, akhirnya ia menemukan jawaban nya. "Tuan muda begini saja, bagaimana jika tuan marven menyamar menjadi perempuan." ucap bi Anni, "maksudnya?" tanya Marven, Bi Anni pun menjelaskan.


"Anda harus memakai wig rambut panjang tapi pakaian anda hanya perlu menggunakan baju panjang dan celana panjang." "wah ide bagus,tolong bi carikan wig yang cocok untuk ku." ucap Marven memohon kepada bi Anni, Bi Anni merasa itu baru pertama kali marven memohon kepadanya, dan bi Anni pun menyetujui nya.


Di ruang rias


"Wah aku tidak menyangka, ternyata perempuan memakai banyak make up." ucap Marven tertegun, "haha tidak semua tuan, hanya beberapa saja yang dipakai." ucap bi Anni,


"tunggu sebentar ya, saya Carikan dulu wig nya." ucap bi anni, "baiklah aku akan menunggu disini." ucap Marven, Setelah beberapa menit akhirnya bi Anni pun menemukan wig yang cocok untuk Marven


Wig nya:



"Kemari tuan saya pakaikan." ucap bi Anni, Marven Hanya menuruti perkataan bi anni. Selesai dipakaikan,bi Anni membalikkan badan Marven agar menghadap kaca, "apa apaan ini." ucap Marven dengan nada kesal,"Ma-maaf tuan, jika anda tidak menyukai nya, saya bisa menukar nya lagi." ucap bi Anni dengan nada ketakutan, "tidak usah, kurasa ini tidak buruk, baiklah terimakasih bi Anni." ucap marven seraya menepuk pundak bi Anni, Marven pun keluar dengan penampilan rambut yang seperti wanita, Lysa dan Lina pun heran mereka berdua hanya bisa tertawa pelan, "Pft" tawa robert tak sengaja, Marven pun langsung melirik ke arah Robert dengan tatapan tajam, Helen pun memberi kode dengan menyenggol bahu Robert agar menahan tawanya,


"bagaimana rambut ku, cantikan." ucap Marven seraya menyisir rambut dengan tangannya, "I-iya pfft bagus tuan." ucap Helen menahan tawa nya.


"Terimakasih pujian nya, saya mau keatas dulu." ucap Marven dengan nada dingin, sesampainya di kamar marven pun mengumpulkan keberanian nya untuk bertemu dengan Vero, dan marven pun membuka pintunya, "halo nona nona." ucap Marven dengan nada lembut


Seperti pada cewe umumnya.


BERSAMBUNG 🌺



<:



Hope you enjoy and don't forget to vote 💕


Sampai jumpaaa 👋