Walky Love

Walky Love
Part 31~ Perasaan bersalah + Melamar



Singkat cerita keluarga dan priaΒ² tersebut pun meninggal Karena dibakar hidup hidup, dan Marven pun memutuskan untuk membawa Vero pulang.


Diperjalanan


"hey kamu kenapa." tanya Marven,


"ah aku tidak apa apa, hanya memikirkan kejadian yang tadi." ucap Vero seraya menggaruk leher nya,"jangan terlalu dipikirkan itu hukuman yang sudah tepat untuk mereka." ucap Marven, Vero pun tidak merespon perkataan Marven. Di sepanjang perjalanan pun hening karena tidak ada yang berani membuka pembicaraan.


Sesampainya di rumah


Marven pun menahan Vero yang ingin pergi, "hemm Vero aku ingin bertemu dengan mu diatas atap malam ini, kamu mau tidak." ucap Marven dengan gugup, "ada apa tumben sekali." tanya Vero, "ya hanya ingin saja hehe"ucap Vero, "baiklah jam berapa?" tanya Vero, "Jam 9?"


"baiklah sampai jumpa nanti ya." ucap Vero seraya tersenyum, Marven pun tersenyum dan meninggalkan mobilnya.


Malam pun tiba


Baju yang di kenakan Vero:



fyi :karena mereka akan ke atap jadi Vero memakai jaket biar ga dingin.


Vero sudah berada di atap sejak jam 20.30, entah dia sedang apa, tetapi dia pergi lebih awal.


Jam 9 pun tiba


Tak lama Marven pun datang ke atap.


"Ha-hai, maaf aku terlambat" ucap Marven dengan gugup, "bicara apa kamu haha, kamu datang tepat waktu kok." Vero pun Tersenyum, "oh ya apa yang ingin kamu bicarakan." tanya Vero, "hem itu ya anu."


Batin marven: ga mungkin kan harus langsung ngelamar kan jadi gaenak,gimana nih.


"Pak kenapa diem, ngomong aja gapapa." ucap Vero, "itu gimana kabar kamu." tanya marven dengan gugup, "baik pak hehe." ucap Vero seraya tersenyum. "Syukurlah, oh ya umur kamu sekarang berapa." tanya Marven, "22 tahun pak." jawab Vero,


"loh bukannya 21?" tanya Marven heran, "oalah haha saya lupa ngasih tau, waktu Piknik, saya ulang tahun pak." ucap Vero seraya tertawa.


"O-oh maaf ya saya nga tau,selamat ulang tahun ya maaf telat mengucapkan hehe."


"iya gapapa pak, makasih ya." ucap vero seraya tersenyum, Mereka hanya tersenyum satu sama lain dan menatap langit yang indah di malam hari. "Pak saya merasa bersalah." ucap vero dengan sendu, "sedih kenapa."tanya Marven, "ya karena aku merasa bersalah, mereka bilang aku anak durhaka." ucap Vero seraya menggaruk leher nya pelan, "haha apa sih, mereka itu hanya asal bicara jangan terlalu dipikirkan." ucap Marven seraya mengusap punggung Vero, "benarkan hehe aku tidak merasa begitu ...."ucap vero dengan pelan, "ya begitulah, oh ya bolehkah aku bertanya?" tanya marven


"Hem boleh tanya saja." jawab vero dengan senyuman nya


"I-itu bagaimana kalau tiba tiba ada seseorang yang melamar mu." tanya Marven dengan tiba tiba,


"hm, menurut ku itu tergantung karena aku akan menerima nya jika aku menyukainya dan mengenal nya,dan aku akan menolak jika aku tidak menyukai nya hehe." ucap Vero.


Saat marven ingin menjawab pertanyaan Vero, tiba tiba hp nya pun berbunyi. "Angkat dulu telepon nya,kali aja itu penting." ucap Vero, "iya bentar ya." ucap Marven.


Marven pun menjauh dari Vero agar percakapan nya tidak didengar,


"Ada apa mami." ucap marven dengan nada kesal, "ih ayo dong lamar dia, mama nyalain nih kembang api nya." ucap Margaret lewat telepon.


FYI: Marven udah ngasih tau ke orang tua nya bahwa dia akan melamar marven hari ini, dan berita itu nyebar ke semua pelayan di rumah marven dan juga teman teman nya marven termasuk Luna dan Yora, apa maksud dari kembang api?, jadi tuh nanti kembang api nya bertulis 'marry me'.


"Mah tapi dia kayaknya ga suka sama aku, aku kayaknya batalin lamaran nya aja, dia bilang dia bakal terima orang yang ngelamar kalo dia suka sama orang tersebut." ucap marven dengan nada sendu, "ngomong apa kamu, cepat lamar dia, dia itu suka sama kamu tau, Gabriel juga bilang sama mama waktu di piknik, Vero nyatakan perasaan nya lewat Gabriel sudah ya pokoknya mama ga mau tau kamu harus lamar dia, kasian Vero dia mengira kalau kamu ga suka sama dia." omel Margaret, "iya iya, mama jangan cerewet sih, pasti Gabriel bohong kan." ucap marven dengan nada kesal, "tidak bro gw ga bohong!" teriak Gabriel, "yasudah cepat ya, nanti mama akan nyalakan kembang apinya." Lalu Margaret pun mematikan telepon nya, Marven pun bingung + gugup, dia hanya bisa terdiam ditempat dia berdiri, Vero yang heran pun menghampiri Marven."ada apa pak?" tanya Vero, "eh tidak apa apa, aku mau nanya" jawab Marven dengan gugup. Marven pun memegang tangan Vero dengan lembut, "Tanya saja pak,aku akan mendengarkan nya kok." kata Vero


Marven pun terdiam dan menunduk.


πŸŽ†*kembang api pertama nyala buat kode.


"I-iya ..."


Batin marven: aduh kembang api nya nyala lagi, gimana kalo dia nolak? tcih tapi ga mungkin dia nolak, harus Percaya diri, harus.


πŸŽ†* kembang api kedua pun muncul.


"Vero lihat kesana." ucap Marven seraya mengangkat dagu Vero agar melihat ke langit. 'marry me'


Di taman, dekat rumah Marven


"yahu diterima nga yaa." sorak Gabriel. "Pasti diterima lah bro." kata Ryan, "Yan Lo ga sakit hati apa, ya Lo kan masih suka sama Vero." timpal Dion, "Ya engga lah bro, kalo Vero ga bisa digapai, mending sama adek nya Marven aja, iya ga Lilis." goda Ryan,


"dih apaansi sih lu, sorry gw ga bakal nikah sampe kapan pun." ucap ellis seraya menginjak sepatu Ryan lalu pergi meninggalkan ketiga orang itu.


Di sisi ayah dan ibunya Marven


"Yah, cara kamu berhasil ga nih,mama rasa ini agak lebay deh." ucap Margaret sendu, "tenang aja ma, ayah yakin pasti cara ini berhasil kok." ucap Mark seraya mengelus rambut istrinya. Namun Margaret hanya terdiam,


batin Margaret: nak kuharap kamu diterima oleh Vero, mama baru pertama kali melihat mu tersenyum ke wanita, mama harap Vero mencintai mu dengan sungguh sungguh.


Tanpa disadari air mata Margaret pun keluar, Mark yang melihat hal itu pun langsung menyeka air mata istrinya,


"Sayang kamu kenapa?" tanya Mark dengan nada khawatir, "gapapa hanya kena debu." jawab Margaret, "Tcih jangan begitu lah, sudah jangan sedih ayah yakin dia akan diterima." ucap Mark seraya memeluk Margaret,


Margaret hanya mengangguk pelan.


Di atap


"Apa ini." ucap Vero dengan pelan,


"Marven maksudnya apa." sambung Vero dengan nada kesal, "Vero menikah lah dengan ku." ucap Marven seraya memberikan cincin.


Bagaimana reaksi Vero? Yap dia terkejut, dengan mata yang dipenuhi air mata."A-ada apa kenapa kamu menangis kamu tidak menyukainya?" tanya Marven dengan nada khawatir,


"hiks, bukan begitu, bagaimana jika aku menolak mu." ucap Vero.


BERSAMBUNG 🌺




diterima ga ya😭


Tebak



Ikutin aja ceritanya



Hope you enjoy and don't forget to vote πŸ’•


Sampai jumpaaa πŸ‘‹