Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
VAMPIRE AND THE GREAT ATLANTIS



Chapter 7 Vampire and the Great Atlantis Rev.


Matahari pagi yang hangat adalah hal pertama yang di lihat Lili. Lili memijat dahinya yang berdenyut. Lili mendudukkan dirinya dan meminum air yang ada di sampingnya.


Anggota suku yang lain ada beberapa yang masih tidur tiduran di tanah pemukiman suku Kaurex. Mereka semua berpesta hingga ketiduran. Beruntung sekali tidak ada hewan buas yang menerkam mereka ketika mereka tertidur.


Tidak lama setelah Lili terbangun beberapa penduduk desa lainnya juga terbangun. Lili melihat di tempat duduk Xaver semalam ada kertas putih di bawah cangkir bambu.


Ia mengambil kertas putih itu. Ada tulisan aksara eropa kuno. Tulisan itu sangat cantik seperti kaligrafi. Lily memang orang dari benua eropa, jadi dia mengerti bahasa yang di tulis oleh Xaver. Tulisan itu berbunyi.


Sepucuk surat ku berikan untuk Kepala suku Liliana Winchester.


Seperti yang kukatakan kemarin padamu, aku tidak bisa berlama lama di zaman ini. Awalnya aku berencana untuk langsung pergi setelah bangun. Namun karna kamu memaksa untuk berpesta, jadilah aku pergi setelah berpesta.


Ngomong-ngomong aku sangat berterima kasih padamu. Aku senang bisa mengenalmu di kehidupanku yang panjang dan membosankan.


Terima kasih untuk semuanya, Lili.


Ucapan selamat tinggal dariku kuberikan untukmu.


Xaver Van Zeander.


Lili membawa kertas putih itu ke pelukannya. Ia berjanji akan selalu mengingat idolanya itu.


Di tempat lain. Xaver sudah berhasil berteleportasi. Yang membuat Xaver terkejut adalah dia berteleportasi di tengah laut! Tepat di dalam airnya, untungnya air tempatnya berada tidak terlalu dalam. Sehingga ia bisa berenang ke permukaan.


Namun sebelum ia sempat menggapai permukaan air, kakinya di tarik kebawah oleh sesuatu. Saat cengkraman di kakinya melonggar Xaver merasakan rasa dingin yang menyenangkan untuknya. Saat dia menoleh tatapannya bertemu duyung wanita yang memegang tombak.


Mereka bertatapan cukup lama sampai akhirnya berteriak konyol bersama. "Aaaaaa"


"Hentikan kalian berdua! Valen ayo kembali, dan kau, kau harus ikut kami untuk di interogasi." Duyung lainnya yang galak menengahi teriakan Xaver dan Valen.


Xaver berenang dengan mengikuti duyung-duyung itu ke suatu tempat. Xaver melihat ekor duyung di depannya terlihat indah. Tidak seperti peri laut yang ada di dunianya. Jika duyung itu indah dan penuh warna seperti merak. Maka peri laut itu menyeramkan dan suram seperti gagak.


Xaver mencoba mengubah kakinya menjadi seperti para duyung. "Yah tidak buruk... meski warnanya suram." gumam Xaver.


2 duyung tadi mengantar Xaver ke ruangan kecil yang di bangun di terumbu karang. Ruangan memiliki arsitektur yang menyerupai pos jaga. "Lapor! Kami menemukan tingkah laku mahluk aneh! Rupanya menyerupai manusia"


Duyung Pria yang bersama duyung Wanita bertombak tadi melapor pada orang yang duduk di dalam pos jaga. "Jangan mengada-ngada, di belakang kalian itu duyung, kalian bilang manusia."


Valen dan Pria satunya berbalik, Xaver menatap mereka dengan tatapan bingung. "Bagaimana bisa berubah? Bukannya tadi kamu memiliki dua kaki?"


"Mungkin saja itu kemampuan istimewanya Gabriel" ujar Valen.


Valen mendekati Xaver, ia memperhatikan ekor Xaver. Meski warnanya suram, ukiran di ekornya sangat indah, indah yang mengarah ke elegan. Valen tidak bisa tidak berkata. "Ekormu memiliki warna yang aneh, namun anggun dan indah seperti milik bangsawan."


Xaver memperhatikan dengan seksama bahwa duyung ini agak berbeda dengan Peri laut. Jika peri laut, itu akan menganggapmu teman karna sesama monster. Jika duyung, mereka tampak lebih waspada. Jika bukan dari jenis mereka, si penyusup itu bisa memiliki akhir yang buruk.


Maka Xaver memutuskan akan bermain peran sebagai seorang turis. "Yah, aku baru saja pindah dan aku tersesat sebelum memasuki kota. Bisakah kalian membantuku?"


"Ooo... kamu adalah seorang pindahan? Kalau begitu SELAMAT DATANG DI ATLANTIS "


Ketiga duyung itu berkata dengan nada ramah. Kemudian duyung yang berjaga di pos meminta Valen mengantar Xaver ke pusat kota Atlantis. Semakin ke dalam, semakin semarak warna-warni di terumbu karang.


Xaver merasa matanya tercuci bersih dengan warna warni di lautan luas ini. Di sisi lain Xaver merasa ini bukan tempatnya. Xaver adalah keturunan dari ras Drakula, sang pangeran kegelapan. Dan tempat yang penuh warna bukanlah tempat yang tepat untuknya.


"Tuan, siapakah namamu?" Valen bertanya saat mengantar Xaver ke pusat kota.


"Aku Xaver Van Zeander, panggil aku Xaver." Vampir berkedok duyung itu berkata sambil melihat ikan-ikan yang berjalan melewatinya.


"Aku Valen, seorang penjaga laut. Kemampuanku bisa mengendalikan tumbuhan" ujar Valen sambil memunculkan rumput laut di tangannya.


Xaver ingat sesuatu yang melilit kakinya saat pertama kali datang. 'Pasti itu ulah gadis ini' batinnya.


Valen mengantar Xaver ke penginapan kota. Sebagai bantuan, Valen memberikan beberapa uang Atlantis kepada Xaver. Ia berkata dengan senyum hangat bahwa Xaver dapat menggantinya kapanpun.


Warna hitam pada ekornya sangat mencolok di antara banyak duyung dengan ekor berwarna. Sehingga tanpa di sadari, Xaver menjadi topik hangat di antara para duyung, terutama para gadis. Ekornya yang memiliki garis ukiran mewah sangat menarik perhatian.


Sampai sampai keluarga kerajaan mengeluarkan perintah untuk mengawasinya diam-diam. Xaver menghabiskan banyak waktunya dengan mencari informasi tentang energi. Ia mencari energi untuk mengisi ulang perangkat EAC- Drime. Terutama ketika melihat ukuran portal semu yang terbilang kecil di bandul kalungnya.


''Sepertinya butuh waktu lama untuk menunggu kemunculan portal berikutnya." gumam Xaver.


Xaver tengah berjalan-jalan di pinggiran kota Atlantis. Namun tiba-tiba ada sebuah tong kaleng yang sepertinya di jatuhkan ke arahnya. Untungnya Xaver bisa menghindarinya dengan cepat. Beberapa tong lainnya ikut berjatuhan ke dasar laut.


Yang lebih parahnya lagi di setiap tong ada lambang zat radioaktif. Xaver yang seorang Professor tentu dapat memahami dengan baik apa akibat zat ini ke para duyung. Apa lagi tong-tong kaleng ini terbuka. Zat radioaktif ini bisa merusak biota laut dan para penduduk Atlantis!


"Cepat! Para manusia itu mulai bertindak lagi! Mari kita kobarkan bendera perang!" Tentara duyung bergegas membentuk barisan rapi untuk berenang ke permukaan.


Xaver ingin membantu, namun zat radioaktif ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Dengan sedikit hipnotis Xaver membawa sample zat radioaktif ke Lab para duyung. Para duyung tua itu dengan senang hati membantu Xaver meneliti zat radioaktif.


Penelitian berlangsung cukup lama. Xaver mengurungkan diri di dalam Lab bersama beberapa duyung tua berjanggut. Beriringan dengan itu, wabah mulai merajalela di Atlantis. Sihir penyembuh tidak lagi berguna, untuk saat ini hanya ilmu pastilah yang menjadi harapan mereka.


Apakah Xaver dan yang lainnya berhasil atau tidak itu tergantung pada kemampuan mereka. Namun Raja Atlantis berharap besar pada pendatang baru ini. Dalam hatinya apakah Xaver berhasil atau tidak, ia memutuskan untuk menikahkan putri bungsunya kepada Xaver. Agar putrinya dan Xaver bisa melanjutkan garis keturunan klan duyung. Kira kira begitu isi kepala Raja Atlantis.