
Chapter 32 goodbye brother-in-law
Xaver bangun lebih pagi dari Serena atau Avir. Kini ia mencoba memikirkan bagaimana melepaskan diri dari Serena. Ia menatap Serena yang masih terlelap. Satu-satunya cara untuk pulang hanyalah dengan bertemu Arthur Darkseala, Kakek leluhurnya sendiri.
Melihat tingkah Serena yang semakin sulit di tangani, Xaver merasa ia harus mengantar gadis muda ini pulang. Lalu ia juga pulang setelah bercakap-cakap sebentar dengan Arthur. Yah Xaver pikir itu ide yang bagus.
"Ayah aku ingin makan!" Avir bangun sambil berteriak, itu juga membuat Serena segera terbangun.
Serena menatap Xaver yang telah berubah ke bentuk Vampir. Serena melompat ke pelukan pemuda Vampir. Lantas mengucap selamat pagi dengan senyuman indah. "Se-selamat pagi juga. Sekarang lepaskan pelukanmu, jangan meremukkan tulangku!"
"A.. maafkan aku Kak Xaver. Aku terlalu bersemangat! Biarkan aku yang mencarikan permata untuk Avir!" Serena berbicara sambil membelakangi Xaver.
Jika di pikir lagi, Adiknya saja sudah seram, apa lagi Kakaknya? Mengerikan! Pasti begitu! Dengan pola pikir itu, Xaver kini telah mengendap-endap untuk kabur tanpa suara bersama Avir. Merasakan kesenyapan dan udara dingin perlahan meninggalkannya, Serena berbalik. Ia melihat dua pria berbeda jenis itu sedang menjauh perlahan darinya.
"Ingin kabur? Ini Serena Darkseala! Jangan pikir bisa kabur dariku. " Serena merenggangkan telapak tangannya, lantas sebuah tali berwarna emas terang melesat.
"Wah!" Xaver terkejut saat melihat tali emas itu.
Dengan cepat pria vampir itu menggendong Avir dan kabur dengan kecepatan angin. Serena menyeringai. "Heh... Coba lihat siapa yang lebih cepat."
Xaver yang sudah merasa aman, tertangkap di bagian kaki. Wajah pucat pria vampir itu semakin kehilangan warnanya. Avir melihat Ayahnya yang di seret oleh Serena, tentu ia hanya turut mengikuti. Xaver merasakan tubuhnya menjadi kaku, hanya kepalanya yang mampu bergerak itupun hanya sedikit.
Serena mengusap Wajah Xaver di bagian pipi. "Kak Xaver ku tercinta, engkau takkan mungkin dapat kabur dariku. Drakula wanita memiliki kemampuan khusus juga, yakni sihir, kutukan, mantra, ramuan, dan segala yang berhubungan dengan magis. Kamu harus tau aku juga berperan besar dalam pembentukan dunia ini. Engkau yang hanya separuh Drakula tak mungkin bisa lepas dari cengkraman sihirku. "
Oke. Sekarang Xaver hanya bisa memutar otak. Eren seharusnya tau tentang ini. Tapi sejak ia datang ke dunia ini Eren tak dapat di hubungi walah hanya sebentar. Mungkin Xaver harus mengandalkan bantuan dari Arthur, Kakek leluhurnya.
Serena merapal sesuatu dengan suara berbisik. Xaver melirik Avir yang hanya terbang mengikuti. Yah, Xaver pun tak bisa mengandalkan bayi naga itu. Ream? Xaver sudah mencobanya juga. Xaver memerintahkan Ream untuk mematahkan sihir yang mengikat tubuhnya. Namun sihir Drakula wanita bukanlah sihir biasa.
Xaver hanya bisa menyerah saat Serena menyeretnya melalui sebuah portal berwarna Magenta. Xaver tidak tau dimana ia berada sekarang. Tempat ini cukup senyap sebenarnya. "KAKAAAAAAK!"
Suara nyaring Serena memekakkan telinga Xaver. Mengikuti kata yang di ucapkan Serena. Xaver yakin sekarang kalau tempat kakinya menapak saat ini adalah kastil Darkseala. Jantungnya berdegup saat kakinya menapak di kastil yang akan di jadikan museum terlarang di masa depan. Museum yang hanya boleh di masuki orang-orang tertentu. Sebenarnya Xaver pernah memasukinya saat kecil, bersama sang Ayah.
Di masa depan keluarga Darkseala masih hidup hanya saja di kastil yang lebih mewah dan besar. Mereka juga melakukan tidur panjang. Arthur Darkseala hanya bangun setiap seratus tahun dalam seribu tahun. Sedangkan keberadaan Serena Darkseala di sembunyikan kepada publik. Ini juga pertama kalinya Xaver mengetahui kehadiran Eren.
Langkah kaki terburu-buru mulai memasuki pendengaran Xaver. Senyum bersemangat di wajah Serena tampak berkilau pagi itu. Kesuraman Xaver juga mewarnai hari itu. Arthur berlari terburu-buru saat mendengar teriakan khas adik bungsunya.
"Kakak! Aku sudah mendapatkan pengantinku!" Serena berbicara sambil menepuk kepala Xaver.
Arthur melihat Vampir pria yang terikat dengan sihir. "Vampir?"
"Dia bukan Vampir biasa! Sepertinya dia separuh Drakula!" Serena berkata dengan semangat.
Arthur melihat adik kecilnya. Yang terlihat bersemangat. Ia tau betul bagaimana sikap dan sifat adiknya. Putri Drakula belum pernah sesemangat itu dalam hidupnya. Jadi apa yang membuat Serena sangat menyukai Vampir ini. Begitulah isi pikiran Arthur.
Tapi ia akan senang bila adiknya senang. Lagi pula gadis bebal ini telah memasuki usia menikah. Namun ia tidak kunjung menikah. Kini ia sendiri datang dengan pria untuk menjadi pengantinnya. Tentu saja Arthur sangat senang.
Melihat Arthur akan segera pergi, Xaver segera menghentikannya. "Tunggu!"
"Ini harus di bicarakan dengan baik. Eren lepaskan aku, aku ingin berbicara empat mata dengan Kakakmu." Ujar Xaver.
Arthur mengangkat satu alisnya. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. Serena melepaskan Xaver dengan perasaan tidak rela. Rasanya Xaver akan segera pergi, jika kali ini ia tidak memegangnya erat di sisinya.
Xaver mengikuti Arthur yang mengajaknya ke sebuah ruangan. Mereka sampai di sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Karna Xaver meminta berbicara empat mata, maka Ruangan di selimuti oleh sihir penghalang. Sehingga apa yang di bicarakan takkan terdengar oleh orang luar.
"Siapa namamu Adik ipar?" Arthur tersenyum saat melihat wajah tak tenang lawan bicaranya.
"Aku Xaver Van Zeander. Sebelumnya aku akan menegaskan satu kalimat untukmu. Aku tidak akan menikahi Serena sekarang!"
Mendengar kalimat Xaver, Alis Arthur berkerut. Sangat sulit untuk membuat Adik bebalnya itu untuk menikah. Tentu Arthur tidak akan membiarkan Xaver pergi begitu saja. Xaver juga tau saat ia merasakan Aura tidak mengenakkan muncul dari sekitar Arthur.
Xaver meneguk ludah sesaat sebelum berbicara. Xaver membuka pakaian atasnya hanya untuk memperlihatkan tanda yang tercetak di bahunya. "Kamu tidak mungkin menikahkan adik tercintamu dengan orang yang sudah menjadi milik orang lain bukan?"
Arthur terkejut tapi masih tidak senang. "Dengarkan aku dulu. Aku Xaver Van Zeander bukan sembarangan Vampir. Aku adalah keturunanmu sendiri Tuan Arthur Darkseala." Xaver berkata dengan serius sembari memakai kembali pakaiannya.
Arthur tak terima dengan kalimat Xaver. Anaknya bahkan belum lahir, dan Xaver berkata bahwa ia adalah keturunannya?! Arthur menggebrak meja. "Omong kosong apa itu! Sekalipun kau ingin beralasan, kau tidak bisa berkata sembarangan!"
"Lihat kedua mataku! Apa aku berbohong?!" Xaver juga tak kalah kesal.
Arthur menatap sorot mata serius di kedua netra merah itu. Arthur memijat dahinya, namun masih mengatakan. "Lanjutkan, aku tau engkau ingin mengatakan sesuatu."
"Aku dari masa depan." Xaver berkata lagi.
Sama seperti sebelumnya, Arthur hanya menganggap itu sebagai omong kosong. Xaver meminta Ream muncul dalam bentuk hologram. Arthur merasa tidak yakin dengan apa yang di lihatnya. "Bahkan di dunia manusia tempatmu tinggal sebelumnya, belum mencapai zaman ini bukan? Sekarang kau percaya?"
Arthur menghela nafas panjang. Ada terlalu banyak fakta yang membuatnya terkejut pagi ini. "Lalu apa yang membuatmu yakin kalau dirimu adalah keturunanku?"
Pertanyaan Arthur bukanlah hal yang sulit untuk di buktikan. Xaver merubah dirinya ke banyak bentuk yang ia ketahui. Tentu ini lebih membuat Arthur Darkseala terkejut. Kemampuan berubah bentuk adalah kemampuan khusus milik Drakula laki-laki di keluarga Darkseala.
"Di masa depan hampir seluruh Vampir di dunia gaib memiliki kemampuan yang sama. Sebenarnya engkaupun tidak perlu terlalu khawatir Leluhur." Xaver mengubah panggilannya agar lebih sopan.
"Sebenarnya tanda ini di buat oleh Eren. Tapi bukan Eren yang sekarang. Jadi bukannya aku tidak suka padanya..." Wajah Xaver memerah saat ini.
Arthur mengangguk mengerti. "Kalau begitu kau ingin pulang bukan? Aku yakin keluargamu telah menunggumu di sana."
Xaver menatap langit melalui celah jendela. "Yah... Sudah saatnya untukku pulang. Tidak baik jika aku pergi terlalu lama. "
"Tidakkah kau ingin mengucapkan selamat tinggal kepada adikku?" Arthur mulai menerima semua fakta yang ada. Tapi ia tidak menganggap Xaver sebagai keturunannya. Melainkan Adik iparnya.
Xaver menatap ke pintu yang tertutup. Setelah menghela nafas panjang ia menggeleng. Ream di perintah membuka portal. Arthur menatap kepergian Xaver. Lalu Xaver berbalik sesaat dan berkata. "Selamat tinggal Kakak Ipar"