
Chapter 36 Looking for prospective wives
Malam itu waktu yang di tentukan untuk ajang pencarian istri telah tiba. Dengan dalih pesta topeng, acara di mulai saat purnama telah naik. Eveline mengundang seluruh wanita klan Vampir. Di atas ruang dansa ada Xaver dan Ibunya yang duduk memperhatikan lantai pertama.
Xaver duduk dengan perasaan bosan. Ibunya terus mengoceh banyak hal tentang identitas para wanita muda yang menghadiri pesta. Di akhir kalimat Ibunya bertanya. "Bagaimana? Adakah yang menurutmu cocok denganmu?"
"Yah... Dia hanya belum datang..." Ujar Xaver pelan.
Ibunya kembali mengoceh banyak hal. Xaver hanya mengangguk atau menggeleng saat di tanya. Eveline sangat mengenal Putranya. Tak lama Deron datang dengan Avir. Mereka Langsung menaiki lantai dua.
"Ayah!"
Naga kecil sangat senang dapat bertemu Ayahnya lagi. Ia terbang melesat ke pelukan Ayahnya. "Xaver? Naga ini?"
Eveline takut kalau Putranya memiliki hubungan gelap dengan klan lain saat melihat Naga kecil. "Ibu jangan berpikir berlebihan. Namanya Avir, di salah satu dunia yang ku kunjungi, aku menemukannya tanpa orang tua. Maka aku membawanya. "
Xaver memberikan beberapa energi dunia yang ia miliki kepada Avir. Eveline menghela nafas lega. Lalu ia mulai menyeleksi beberapa gadis secara pribadi. Lalu muncul lagi seorang wanita dengan gaun biru gelap yang indah. Diantara semua gadis, dialah yang paling mempesona. Bahkan jika ada topeng hitam yang menutupi wajahnya, kecantikannya tidak tertutupi.
Auranya yang istimewa menarik perhatian orang lain pada pandangan pertama. Termasuk Eveline. Xaver melihat wanita yang mampu membuat jantungnya memanas telah datang. Xaver melompat turun setelah mengenakan topeng miliknya. Dengan langkah tegap ia berjalan menuju Eren.
"Maukah kau berdansa bersamaku?"
Eren tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu menyambut uluran tangan Xaver. Sepasang mahluk berbeda jenis itu menarik perhatian banyak orang. Dansa dan tarian mereka terkesan indah dan lancar. Di tambah ada asap gelap kecil yang mengiringi setiap langkah wanita misterius itu, telah membuat semua orang terpana untuk melihat dansa mereka.
Eveline saat ini sangat senang sekali. Ia sangat senang hingga ingin ikut menari. Ia berjingkrak-jingkrak senang, saat melihat Xaver akhirnya tertarik dengan wanita yang ada di ruang dansa. "Itu adalah Ibu! Itu Ibu Eren."
Eveline mendengar celotehan Avir. Ia mendekati Avir. Ingin mendengar lebih jauh tentang Eren yang di sebutkannya itu. "Naga kecil, aku adalah Ibu dari Ayahmu, ayo katakan lebih banyak tentang Wanita itu."
"Tentang Ibu Eren?" Avir bertanya.
Eve mengangguk-angguk seperti ayam mematuk nasi. "Ya,Ya, dan Ya!"
Avir mengangguk-angguk lalu menarik tangan Eveline dengan cakarnya. Avir menuntun Evelin ke tempat yang lebih tenang. Itu adalah balkon yang ada di lantai dua. Karna tidak ada kursi di sana, Avir mengembuskan apinya ke udara kosong. Lalu saat apinya padam sebuah kursi hitam muncul.
"Duduklah, aku akan mulai bercerita." Avir berkata dengan senyuman.
Eveline yang masih takjub dengan sihir Naga muda, segera mendudukkan dirinya di kursi itu. Itu adalah kursi kayu, namun tidak keras dan itu sangat nyaman. Membuat Eveline betah duduk di kursi itu.
"Tapi Nenek, aku bercerita yang aku tau saja."
Eveline mengangguk-angguk tanpa peduli kalau ia di panggil Nenek oleh Naga kecil itu.
"Aku menetas saat Ayah sedang berlari. Lalu Ayah membawaku ke sesuatu yang aku kenal sebagai arus ruang dan waktu. Lalu kami memasuki dunia naga, di sana kami bertemu Ibu Eren. Aku tidak tau bagaimana Ayah dan Ibu bertemu di saat pertama, tapi aku dapat melihat dalamnya cinta di mata merah mereka. Ibu sangat pandai memasak, aku menyukai masakannya. Ibu sangat keren dan cantik. Tapi ibu sedikit ganas, saat itu aku pernah melihat Ibu menggigit bahu Ayah. Lalu menghilang. Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi saat di dunia berikutnya, Ayah membawaku ke dunia ini. Tapi di masa lampau, yang sangaaaat lampau. Saat itu kami bertemu Ibu yang saat itu masih Muda. Ibu masih naif dan keras kepala, Ibu bersikeras ingin menikahi Ayah. Lalu membawa Ayah ke sebuah kastil yang megah. Kastil itu sangat indah. Untunglah Ayah bertemu Kakak laki-lakinya Ibu, jika aku tidak salah namanya Arthur Darkseala. Dengan bantuan Tuan Arthur, Ayah berhasil pulang ke dunia ini. Lalu kami pergi ke rumah Paman Deron beberapa hari. Setelah itu Ayah pergi meninggalkan aku. Lalu aku belajar banyak hal dengan Paman Deron. Hanya itu yang ku tau Nenek"
Wajah Eveline sering berubah-ubah seiring berubahnya kata yang di lontarkan Avir. Sementara itu dua sejoli yang di bicarakan sedang berjalan bersama di salah satu lorong kastil yang gelap.
"Maafkan aku. Baik aku atau Ayahku, tidak bisa menghentikan senyuman Ibuku. Jadi pesta ini harus tetap terjadi. " Xaver berkata dengan sedikit membujuk.
Eren hanya mendengus kecil. "Jika seandainya aku tidak datang kau pasti telah menjadi milik orang lain!"
Xaver menghentikan langkah Eren. Lantas menggenggam tangan mungilnya. "Eren, tidak, Nona Serena Darkseala."
Ini pertama kalinya pria itu menyebut namanya, ada perasaan berdebar yang muncul di jantungnya yang dingin. Eren yakin kalau pria ini akan mengatakan hal penting.
Eren memukul dada kanan Xaver pelan. "Yang serius dong. Ayo cepat ngomong!"
"Ehehe... Maaf aku gugup. Ini pertama kalinya aku berkata seperti ini..." Lalu Xaver menghela nafas panjang. Saat melamar kekasih dan Istri benar-benar dua hal yang berbeda.
"Tapi, tidak peduli apapun yang terjadi, sejak awal aku telah menjadi milikmu. Jika seandainya kau tidak datang, maka aku yang akan datang ke kastilmu. Bahkan jika Leluhur tak merestui kita, aku akan melawannya untukmu. Singkat kata, aku juga menyukaimu, menyayangimu, serta mencintaimu seperti halnya dirimu kepadaku. Aku tidak bermaksud pamer, tapi aku populer di kalangan wanita. Di antara banyaknya wanita, hanya kamu yang mampu membuat jantungku terasa hidup. Maka aku Xaver Van Zeander, menyatakan Cintaku untukmu. Memberikan hatiku untukmu, menyerahkan diriku untukmu. Selamanya aku Xaver Van Zeander akan menjadi milikmu." Xaver menyatukan dahinya ke dahi Eren.
Eren menatap Pria yang menjadi cinta pertamanya. Pria yang menarik jiwanya dari jurang kematian. Pria yang membawanya pulang bertemu Kakak laki-laki tercintanya. Pria yang memberinya harapan dan rasa sakit. Eren tak mampu berkata-kata. Ia memeluk Xaver.
Jauh ribuan juta tahun lalu... ketika Xaver menyelamatkan hidupnya dari sekelompok manusia serigala, Eren telah jatuh hati kepadanya. Sejak awal Eren telah mencintai Xaver, namun Xaver saat itu tidak mencintainya. Banyak cara ia gunakan atau lalui untuk bertemu dengan Xaver. Yang Kakaknya sebut sebagai pelintas waktu.
Cinta pertama itu adalah cinta yang paling sulit di lupakan. Itu lah yang terjadi kepadanya. Ketika mendengar pengakuan cinta dari cinta pertamanya. Tidak ada hal lain yang ia rasakan selain bahagia.
"Eren... Tolong katakan perasaanmu kepadaku. Jangan biarkan aku berharap terlalu tinggi. Ataukah kau hanya mempermainkan aku?" Xaver bertanya dengan nada Sendu. Ia paling tau bagaimana sifat Eren, yang serampangan dan berbuat sesuka hatinya. Jika dirinya memang di permainkan bukankah itu adalah hal yang menyedihkan?
Eren melepas pelukannya, lalu menatap Xaver dengan sepasang mata magentanya. Tangannya menangkup di wajah Xaver. Ada keseriusan di sepasang mata Eren. "Xaver, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Sejak kau menyelamatkan aku dari sekumpulan manusia serigala waktu itu. Alasan aku tersesat ke berbagai dunia adalah karna aku mencarimu, ingin bersamamu, dan menjadi satu-satunya wanita di hatimu. Aku tidak mempermainkan mu Xaver. Justru aku merasa takdirlah yang mempermainkan kita."
Eren mengusap rahang tegas Xaver. Dia tersenyum tulus saat itu. Hanya dengan rembulan yang menyinari mereka, Xaver dapat melihat sekali lagi kecantikan seorang Drakula. "Aku akan buktikan, cintaku."
Lagi-lagi senyumnya berubah menjadi senyum nakal. Dengan berjinjit ia mengalungkan tangannya ke leher pria yang lebih tinggi darinya. Lalu mendekatkan wajahnya untuk mencumbu Xaver. Dua mahluk berbeda jenis itu bersilat lidah dan bertukar Saliva. Hingga wajah pucat keduanya tampak memerah. Bahkan jika tanpa nafas mereka masih hidup, tapi dengan jantung yang berdebar keduanya sedikit kesulitan untuk bernafas.
"Kau bisa menandaiku juga, jika kau masih tidak yakin." Eren berkata sambil menyerahkan lehernya.
Xaver menatap leher putih yang ramping itu. Sejujurnya jika bisa ia ingin melakukan itu di lain hari, mungkin di malam pernikahan. Tapi ada aroma manis yang unik memasuki hidungnya. Ada keraguan di hatinya, antara ingin menandai Eren atau tidak. Melihat keraguan itu, Eren memprovokasi Xaver. "Xaver, jika kau tidak menandaiku sekarang. Mungkin saja aku akan di tandai orang lain suatu hari nanti. Apakah kau ingin itu terjadi?"
Tidak! Tentu saja Tidak!
Xaver memegang bahu Eren. Saat itu, Xaver telah menunduk untuk mendekati leher Eren.
Eren dapat merasakan nafas Xaver berhembus melalui kulit lehernya. "Em... Bagaimana kalau di lakukan bersama?"
Eren mengangguk. Lalu Eren berpindah ke tanda yang pernah ia tinggalkan. Itu ada di bahu kiri Xaver. Xaver juga menundukkan kepalanya, menghadap ke sisi leher sebelah kiri Eren. Saat itu keduanya menghirup aroma masing-masing secara perlahan.
Xaver mulai dengan menjilat kulit leher Eren. Lalu menggesekkan taringnya di atasnya. Saat Xaver mulai menusukkan taringnya perlahan, Eren tersentak. "Kenapa? Apakah sakit?"
Xaver hendak melepaskan gigitannya, namun Eren menahan kepala Xaver. "Jangan di hentikan, lanjutkan saja!"
Xaver kembali menusukkan taring-taringnya lebih dalam. Eren juga melakukan hal yang sama. Lalu keduanya mengeluarkan feromon mereka melalui taring, untuk menyuntikkan feromon mereka memasuki tubuh pasangannya. Proses itu di lakukan hingga lima menit. Sampai feromon itu membentuk ikatan janji kesetiaan. Saat ikatan itu terbentuk, Xaver dan Eren melepas taring mereka.
Jantung keduanya terasa hangat di sertai debaran jantung yang berdebar begitu cepat.
"Eren..."
"Xaver..."
Mereka berbicara bersamaan. Eren menghela nafas lalu berkata. "Kau duluan."
"Apa kau lapar? Mari kita makan. Kau ingat darah manusia serigala di pertemuan pertama kita? Aku masih menyimpannya, apa kau ingin coba?"
Eren melihat Xaver. Lalu tersenyum. "Baiklah, mari kita makan."