
Chapter 31 Want to get married
Author Note: Karna mereka adalah orang yang sama namun di masa yang berbeda, maka Author akan menggunakan panggilan yang berbeda pula. Untuk si Jiwa kita tetap gunakan 'Eren'. Sedangkan untuk Eren yang di masa lalu, kita tetap gunakan 'Serena'. Supaya tidak susah membedakannya.
Xaver tidak berniat untuk pergi menemui Arthur Darkseala lebih cepat. Ia menatap Serena, Xaver tidak tau apa yang salah dengannya. Tapi Gadis itu tak berhenti mengikuti Xaver. Kemana Xaver pergi atau apapun yang Xaver lakukan, pasti Serena akan mengikutinya bagai bayangan.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah lereng gunung. Avir merasa lapar sehingga mereka harus pergi mencari makanan untuk Avir. Karna Serena tak seahli Eren, Avir tak bisa merasakan sup jamur itu lagi. Naga kecil itu hanya bisa memakan permata yang mengandung energi.
Saat itu, malam hari telah tiba. Tiga mahluk berbeda jenis itu duduk mengelilingi Api unggun, yang berasal dari Api milik Avir. Avir masih mengunyah, seolah itu adalah kewajiban. Xaver hanya mengusap kepala Putranya yang serasa semakin besar. Saat itu perut Serena mengeluarkan suara geraman yang membuat Avir dan Xaver kaget.
"Em... Tuan Vampir... Aku... Lapar." Serena bergerak-gerak gelisah. Ia telah mengikuti Xaver dan Avir seharian, dan belum pernah ia melihat Xaver membawa sesuatu yang dapat di makan oleh Vampir atau Drakula.
Tepat saat Xaver hendak mengeluarkan kapsul darah. Drakula Wanita itu menerjang Xaver. Xaver di buat terjatuh dan Serena mengunci pergerakan Xaver dengan lantunan kalimat sihir. "E-eren?! Apa yang akan kau lakukan?"
"Tuan Vampir tenang saja, aku melihat Kakak Ipar ku melakukan ini dengan Kakak. Ku pikir seharusnya aku bisa meminum darah Tuan Vampir barang sedikit saja, agar aku tidak haus." Serena mengusap bahu Xaver.
Mendengar apa yang dikatakan Serena, Xaver yakin yang di lihat Serena adalah proses penandaan antara kedua pasangan! Memikirkan itu wajah Xaver memerah. Saat ia merasakan tangan Serena mulai membuka pakaian atas Xaver. Xaver memerintahkan kepada Ream.
'Ream! Berikan dua kapsul darah ke mulut Eren!'
'Perintah di laksanakan'
Xaver masih mencoba untuk bebas dari sihir pengikat ini. Serena merasakan sebuah benda memasuki mulutnya. Benda kecil itu meletus saat menyentuh lidahnya. Rasa yang melalui lidahnya adalah rasa darah yang ia rindukan.
"Hm... Ini darah? Berikan aku lagi! Aku sangat Lapar!" Serena melihat wajah Xaver yang memerah.
"Lepaskan tubuhku dan akan ku berikan semua yang Eren inginkan." Ujar Xaver.
"Oke!" Serena beranjak turun dari tubuh Xaver. Ia juga melepaskan mantra pengikat yang ia lantunkan.
Xaver mengenakan pakaiannya kembali. Lalu membuka genggaman tangannya, dan lima kapsul darah muncul di sana. "Apa ini?"
Serena bertanya dengan rasa ingin tau di wajahnya. "Ini Kapsul darah, yang baru saja kau makan. "
Serena mengambil satu. Lalu mulai menghabiskan seluruh kapsul darah yang ada di tangan Xaver. Xaver memegang bahu Serena, sepasang mata Merah Xaver juga memancarkan binar serius.
"Eren..."
Xaver yang memikirkan perbuatan mesum gadis muda di depannya, wajahnya kembali memerah. Melihat kegugupan Xaver, Serena mengira mungkin Xaver akan menyatakan cinta kepadanya. Ia sedikit berharap juga sih.
"Ku mohon, lain kali jangan mengintip ke kamar Kakakmu." Wajah Xaver memerah malu saat mengatakan itu.
"Hm? Memangnya kenapa? Kakak saja yang lupa mengunci pintu. Jadi aku melihat semuanya." Ujar Serena dengan sepasang mata yang terlihat masih polos. Sekarang Xaver tahu dari mana sisi agresif dan mesumnya Eren datang.
Melihat wajah merah Xaver, Serena pun bertanya dengan rasa ingin tau. "Memangnya apa yang di lakukan Kakak dan Kakak Ipar?"
Xaver ragu ingin menjawab apa. "Begini saja. Itu di sebut Penandaan, ini ritual di mana setiap pasangan akan bertukar feromon untuk membentuk sebuah ikatan suci. Dengan adanya ikatan suci, baik kau atau pasanganmu akan saling mencintai dan takkan terpisah untuk selamanya."
Author note: untuk membantu imajinasi kalian, Serena punya penampilan Vampir yang mirip dengan Gadis 17 tahun. Kalau Xaver memiliki penampilan Vampir yang mirip dengan Pria berusia 27 tahun. Bayangannya jangan pake kumis atau jenggot ya, Xaver nggak suka itu soalnya.
"Untuk apa? Memangnya Eren punya seseorang yang di sukai?"
Serena mengangguk, lalu ia memamerkan senyumnya. "Aku menyukai Tuan Xaver! Aku ingin kita bersama selamanya seperti Kakak Laki-lakiku dan Kakak ipar!"
"Hah! Ti-tidak bisa begitu!" Xaver berseru dengan sedikit terkejut.
"Memangnya kenapa?" Serena berkata lagi.
"Harus pasangan yang telah menikah, tidak bisa sembarangan begini..." Xaver berkata dengan nada bingung.
Xaver berpindah menjadi duduk di sisi Avir. Bahkan jika ia ingin menikah, ia ingin keluarganya melihatnya. Bagaimana mungkin bisa ia menikah di tempat ini dan mengacaukan sejarah!
"Tapi aku menyukai Tuan Vampir!" Serena merentangkan jemari lentiknya dan sebuah sihir pengikat muncul mengikat tubuh Xaver. Xaver tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Avir masih mengunyah permatanya dan melihat kedua orang tua angkatnya sebagai tontonan. "Aku akan membawa Tuan, ah tidak, Kak Xaver bertemu Kakak laki-lakiku! Kita akan menikah di kastil besar keluarga Darkseala! "
Serena menarik kerah pakaian Xaver yang terikat, agar kembali duduk di sisinya. Namun hujan menginterupsi kegiatan mereka. Xaver melihat hujan yang semakin melebat. Serena mulai kedinginan dengan tubuh yang menggigil. "Eren, buka tali ini dan aku akan membawamu berteduh." Xaver berkata pelan.
"Tidak! Nanti Kak Xaver kabur!" Ujar Gadis angkuh itu.
"Aku tidak akan kabur." Ujar Xaver.
"Janji ya?" Eren memastikan.
"Janji! Cepat buka! Kasihan Avir! Ia masih terlalu kecil, nanti ia sakit!" Xaver melirik Naga kecil yang mulai menggigil. Karna Serena juga mulai merasa dingin, ia pun membuka sihir pengikat itu.
Xaver telah di beri tau oleh Ream, kalau tak jauh dari tempat mereka sekarang ada sebuah gua kecil. Untuk mempercepat waktu, Xaver memeluk Avir dan Serena bersamaan. Lalu melesat menuju gua terdekat.
Gua itu terlalu kecil. Mereka bertiga akan cukup muat untuk bersama di dalamnya. Tapi langit-langit guanya rendah sehingga air hujan akan merembes mengenai mereka. Xaver memikirkan sebuah cara saat melihat sayap Avir. Xaver merubah dirinya menjadi Naga besar dan duduk di depan gua. Dengan tubuh besarnya, air rembesan hujan tak bisa memasuki gua.
Melihat Xaver berubah menjadi naga besar, Eren menjadi sangat takjub kepada Pria Vampir itu. "Wah! Perubahan wujud?! Itukan kemampuan khusus milik Drakula laki-laki! Bagaimana bisa Kak Xaver melakukannya?! Apakah Kak Xaver adalah Drakula?! Tapi itu mustahil! Satu-satunya Drakula laki-laki yang tersisa di dunia ini hanya Kakakku"
"Bagaimana jika aku katakan aku adalah seseorang dari masa depan?" Ujar Naga besar.
"Aku tidak percaya! Kakak jangan beromong kosong! Aku tidak percaya dengan hal yang seperti itu!"
"Hahaha... Terserahmu saja Eren. Tapi aku serius loh.."
Serena semakin menatap naga besar dengan tatapan pemujaan yang begitu jelas, hingga terasa sulit untuk di abaikan. "Pokoknya kita harus menikah! Kakak Sangat keren, aku tidak ingin di dahului orang lain!"
Xaver melirik Drakula muda di depannya. Xaver hanya mengulurkan cakar besarnya untuk mengusap kepala Serena. "Sudah, tidurlah. Istirahatkan tubuhmu, jangan meracau tidak jelas lagi. Lanjutkan ceritamu besok saja saat seluruh energimu telah terisi penuh."
Xaver berkata saat melihat Avir yang telah tidur, dan melihat Serena yang terus saja menguap lebar. Xaver pun ikut tidur setelah melihat dua mahluk yang lebih muda darinya tidur.