
Chapter 20 Devils mountain
Sepanjang Malam Xaver habiskan dengan berlarian menuju barisan gunung. Saat Fajar menyingsing, ia sudah tiba di depan barisan gunung. Xaver melihat gunung tertinggi yang tak jauh darinya, rasanya gunung itu mengandung hawa gelap yang jahat.
"Ream tampilkan radar pemindaian energi."
Layar Hologram muncul di depan Xaver. Ada energi yang lumayan besar di sekitar Xaver. "Simpan kembali Radar, lalu laporkan status energi Sistem EAC-Drime."
"Menyimpan Radar --BIIP-- Memuat Status energi --BIIP-- "
Dengan kedipan singkat, layar Hologram berganti gambar. Xaver melihat kecepatan meningkatnya bar energi memang lebih besar dari yang kemarin. Seharusnya energi yang tidak jauh dari Xaver cukup untuk mengisi penuh seluruh energi Sistem Utama EAC-Drime.
Xaver pergi ke arah energi yang di tunjukkan radar. Matahari mulai naik, Xaver mempercepat kecepatannya. Dalam hitungan detik ia tiba di sisi titik energi yang di tampilkan di radar. Sialnya energi itu ada di puncak gunung tertinggi. Di gunung Setan.
"Aku merasakan firasat buruk di sini. Hei Ream, adakah titik energi lain yang muncul di radar. " Tanya Xaver.
"Sejauh ini tidak ada Master, energi dunia di dunia ini begitu tipis. Kemungkinan besar hanya titik energi inilah yang terbesar. Jika tidak segera di serap sekarang kemungkinan terjebak di dunia ini lebih besar lagi." Ream mengingatkan Xaver.
Xaver meneguk ludah. Melihat langit yang cerah Xaver tidak terburu-buru. Ia berjalan perlahan di kaki gunung. Dengan bantuan Ream, Xaver mengetahui titik-titik formasi ilusi yang dikatakan Tokari. Agar tidak tersesat Xaver juga mematahkan formasi ilusi itu.
Meski sinar matahari masih ada, namun langit tidak secerah kemarin. Sehingga perjalanan menuju puncak gunung Setan tidaklah sulit. Namun banyak hal yang memperlambat Xaver selain formasi ilusi.
"TOLONG... TOLONG... TOLONG AKU!... AAAHH!... " Xaver mendengar jeritan wanita.
"Terdengar seperti orang yang hampir mati" gumam Xaver.
Xaver mendekati suara jeritan itu, lalu bersembunyi dari cahaya matahari serta mengamati kondisi. Seorang Humanimal Kelinci wanita tampak lemah tak berdaya di tanah. Tidak ada lagi jeritan yang sebelumnya Xaver dengar. Xaver mendekati Wanita itu, melihat ada orang lain di sisinya, Wanita itu berkata. "Tolong... Tolong putriku..."
Karna Humanimal itu sedang dalam kondisi lemah, ia hanya mampu membisikkan suaranya. Namun Xaver masih dapat mendengarnya. Melihat jejak seretan di tanah, Xaver segera mengikuti jejak itu. Xaver merasa ia akan mendapat hal baik jika mengikuti jejak itu.
Segera Xaver menemukan seorang Humanimal Kelinci, yang ia duga adalah putri dari Humanimal yang terbaring tadi. Humanimal muda itu bersembunyi di semak, namun telinga panjangnya masih mencuat di atas semak. Tak jauh dari Xaver dan Humanimal kecil, ada tumbuhan aneh.
Tumbuhan itu seolah memiliki kesadaran. Ia bergerak seperti ular. Xaver dapat yakin kalau sulur itu tumbuhan saat melihat daun-daun yang dimilikinya. Sulur itu melesat hendak menangkap Xaver. Namun dengan sekali hempasan cakarnya, sulur itu terbelah belah beberapa bagian. Getah yang di keluarkan juga aneh, tidak ada warna bening yang seharusnya ada pada tanaman. Getah yang mengalir dari bagian yang terpotong berwarna hijau lengket. Mirip ingus yang keluar dari hidungmu saat kau demam. Namun jika di lihat lebih dekat, ada cairan merah yang sepertinya belum larut ke dalam getah.
Dengan Mengirup aromanya, Xaver mengetahui kalau itu adalah Darah. "Aduh"
Xaver berjalan menuju asal suara, di belakang semak. Gadis muda bertelinga kelinci tampak terluka, dan darah mengalir di pergelangan tangannya. Tiba-tiba nafsu makan Xaver naik. Pemikiran buruk muncul di kepalanya.
'Bagaimanakah rasa darah Humanimal ini?' Batin si Vampir tukang makan.
"Adik kecil, biarkan Kakak membantumu" Ujar Xaver.
Humanimal kelinci itu baru pertama kali melihat Humanimal Serigala. Gadis kelinci mengira kalau Xaver adalah Humanimal kucing atau sejenisnya. Dalam ingatannya Humanimal Kucing adalah Humanimal baik hati. Gadis kelinci itu menganggukkan kepalanya.
Xaver duduk di sisi Humanimal kelinci. Lalu memegang pergelangan tangan yang berdarah. Gadis kelinci mengira Kakak Kucing akan melantunkan sihir penyembuh, namun apa yang di lakukan Xaver membuatnya terkejut.
"Akh... Aduh..." Gadis kelinci mulai merasa pusing dan lemas, karna Xaver menghisap terlalu banyak.
Saat melirik Humanimal kecil yang semakin pucat, Xaver tau ia sudah menghisap terlalu banyak darah. Ia segera menghentikan hisapannya. Terakhir, Xaver menjilat luka di tangan Gadis kelinci. Liur Vampir mengandung zat yang mempercepat regenerasi bagian yang terluka. Sehingga dalam hitungan detik luka gadis kelinci segera tertutup.
Karna merasa bersalah terlah menghisap terlalu banyak, Xaver menawarkan bantuan lain. "Mari, Kakak akan membantumu bertemu Ibumu."
Gadis kelinci menganggukkan kepalanya. Lalu Xaver menggendong gadis kelinci. Dengan mencium aroma di udara, Xaver tau kalau Ibu gadis kelinci sudah di selamatkan. Ada Humanimal lain di sekeliling Ibu Kelinci. Dengan langit yang mendung, Xaver dapat mengantar Gadis kelinci ke sisi Ibunya tanpa tersengat Matahari.
"Cise putriku..." Sang Ibu kelinci segera bangkit untuk memeluk putrinya.
"Terima kasih Tuan Serigala. Mungkin jika Anda tidak ada, putri saya juga tak lagi ada." Ada air mata haru di sudut mata sang Ibu.
"Tu-tuan Serigala!?" Seolah terkejut dengan fakta yang ada, gadis kelinci jatuh pingsan. Di kepalanya terus berputar kata 'Serigala Serigala Serigala'
"Maafkan Putriku Tuan. Ini kali pertama ia bertemu Humanimal Serigala."
Xaver hanya tersenyum maklum. Bagaimanapun dalam alam liar, Serigala adalah musuh alami kelinci. "Tidak apa-apa, aku juga harus pergi melanjutkan perjalananku. Aku pamit ya"
Xaver dalam kondisi hati yang baik hari ini. Ia berhasil merasakan rasa darah Humanimal. Rasanya seperti madu, manis dan membuatmu ketagihan untuk terus mencoba. Sepanjang perjalanan ekornya tidak berhenti bergoyang. Sesekali ia menatap puncak gunung Setan. Memikirkan energi yang terkandung dalam gunung, rasanya sayang jika Xaver pergi dari dunia ini tanpa membawa darah Humanimal.
Jauh dalam kegelapan gua, di puncak gunung Setan. Sosok mahluk bermata ungu tampak marah. Ia menampar air di depannya dengan penuh kekesalan. "Xaver Van Zeander, beraninya kau mendekati wanita lain di belakangku!"
Di sisi lain, Xaver yang sedang menaiki puncak gunung tiba-tiba merasa dingin di punuk lehernya. Saat Xaver merasa tempat yang ia naiki sudah tinggi, Xaver berkata. "Ream tampilkan radar pemindaian energi."
Xaver melihat ia sudah berada tepat di samping titik energi. Namun Xaver tidak melihat apapun yang mengandung energi dunia. "Ream, dimana tepatnya titik energi itu berada?"
"Ream menduga kalau titik energi berada di puncak gunung Master. Di Gua yang berada di atas sana." Hologram kelelawar menunjuk ke gua di puncak gunung.
Xaver dalam kondisi bersemangat sekarang. Dengan cepat ia memutuskan untuk melesat menuju puncak gunung. Semakin ia naik ke puncak gunung, semakin Xaver mencium Aroma amis yang khas. Langkahnya terhenti. Xaver mencoba mengingat dimana ia pernah mencium aroma itu.
"Ah, benar! Aroma tubuh suku Medusa! " Gumam Xaver.
"Apa itu suku Medusa Master?"
"Itu salah satu Suku Hantu di dunia asalku. Suku itu di dominasi oleh pria atau wanita yang berambut ular. Dan aroma amis ini mirip dengan aroma amis ular di kepala anggota suku Medusa. " Ujar Xaver.
Hologram kelelawar kembali memasuki kalung Xaver. Saat matanya melihat lebih jauh ke dalam gua, Ream melihat sosok yang menghuni gua. Ream tidak bisa tidak takut saat melihatnya, itu adalah Jiwa yang berkeliaran di berbagai dunia. Jiwa yang menandai Masternya. Sebagai sesama kesadaran, Ream tau betul sekuat apa Jiwa itu. Bahkan setelah ratusan juta kali di lebur oleh waktu, Jiwa itu tetap saja kuat. Bahkan jiwa itu lebih kuat dari Masternya.
Dan seperti yang kalian tebak, Jiwa itu lahir sebagai Humanimal Ular di dunia ini. Menanti pengantin prianya menemuinya. Hanya untuk kembali memasukkan ekstrak jiwanya ke tubuh si jantung hati.
"Datang kepadaku Tuan Vampir, akan kubuat kau sekali lagi jatuh cinta kepadaku." Wanita setengah ular itu menyeringai, sesekali lidah ularnya keluar diantara seringainya.