
Chapter 35 Actually she is Dracula
Xaver membuka matanya saat nyeri di bahunya mereda. Rasanya langit-langit ruangan terasa familiar di matanya. "Ah! Benar juga, ini adalah kamarku. Tunggu, Kamarku!?"
Itu artinya Zia sudah mengantarnya pulang?! Ya, sepertinya begitu. Pintu terbuka dan seorang pelayan Vampir memasuki ruangan. Ia sedikit terkejut saat melihat Tuan Mudanya telah bangun. "Tuan Muda, minumlah untuk meredakan tenggorokan Anda. Saya akan panggil yang lainnya. "
Xaver hanya mengangguk. Tangannya mengusap kasur empuknya. Sejujurnya Xaver tidak suka peti mati. Bahkan jika bagian dalam peti itu dilapisi benda lembut pada setiap sisi. Xaver lebih suka tempat tidur yang empuk dan lembut. Ia mulai menyukai tempat tidur saat sekolah dulu. Ia sekamar dengan seorang manusia serigala. Yah, dengan Naga dan seorang peri laut juga. Teman sekamar yang berbeda jenis membuat Xaver tertular beberapa kebiasaan mereka.
Xaver sedikit tersentak saat sebuah tangan kasar menyentuh bahunya. Itu adalah Ayahnya, Azeris Van Zeander. Ayahnya datang sendiri, Ayahnya juga mengunci pintu kamar Xaver setelah datang. Xaver tau sepertinya Ayahnya ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Xaver, Katakan pada Ayah..."
"Ya?"
"Dari mana tanda ini? Katakan kepada Ayah siapa yang menandaimu?!" Nada bicara Azeris sedikit berat, sarat akan emosi yang mulai meningkat.
Di dunia mereka hanya beberapa orang yang mengetahui perihal penandaan. Penandaan mulai di larang sekitar Abad ketiga saat dunia gaib di ciptakan. Sejak fenomena pemerkosaan dan Harem terjadi. Saat itu seorang lelaki menandai banyak wanita, tapi dia sendiri tidak di tandai oleh wanita manapun. Mahluk di dunia ini menjunjung tinggi kesetiaan. Dengan segera para bajingan itu di eksekusi oleh leluhur. Tak ada yang tau bagaimana menghilangkan tanda itu.
Meski Masyarakat di bungkam, masing-masing kepala keluarga di keluarga besar seperti keluarga Van Zeander tau kebenarannya secara jelas. Di wariskan dari leluhur mereka. Secara diam-diam mereka masih menerapkan penandaan kepada pasangan mereka, tapi tidak berpikir untuk membangun Harem seperti orang di masa lalu. Bahkan jika insiden itu terjadi lagi, Leluhur dari setiap Klan akan langsung membasmi mereka langsung di tempat.
Saat memeriksa kondisi Putranya, Azeris menemukan tanda itu. Ia menyembunyikannya dari Eveline istrinya. Azeris melihat wajah gugup Putranya. Itu wajah yang sama seperti saat Xaver malu menunjukkan nilainya yang buruk di masa remaja.
"Jangan bilang kalau itu wanita yang bukan Vampir?! Tadi Deron menelponmu dan seekor Naga hitam kecil memanggilmu Ayah, jangan bilang gadis itu adalah Naga?!" Azeris tidak menerima cinta dari mahluk berbeda klan. Sekalipun Putranya populer di kalangan wanita, ia menuntut Putranya untuk memiliki pasangan Vampir.
Keringat dingin seukuran bulir padi mulai bermunculan di wajah Xaver. Bahkan punggungnya mulai basah oleh keringat dingin. "Yah... Dia memang seganas Naga... Tapi dia bukan Naga." Xaver berbisik.
"Katakan pada Ayah! Siapa gadis itu?! Jangan-jangan dia bukan dari dunia kita? Aaa! Aku tidak ingin Putraku melajang seumur hidup hanya karna tanda laknat itu!" Azeris mulai memikirkan hal-hal secara berlebihan.
"Sebenarnya dia sejenis dengan kita... Hanya saja... Dia... " Xaver tidak terlalu yakin apakah Ayahnya akan menerima jika pasangan jiwanya seorang Drakula. Yang Ribuan tahun lebih tua pula.
Azeris berpikir mungkin itu adalah Vampir miskin yang tinggal di kota perbatasan. Eve istrinya, tidak suka jika Xaver memiliki kekasih dengan status yang lebih rendah dari Xaver. Paling tidak harus sejajar atau lebih tinggi. Azeris mengerti kesusahan Xaver jika memang begitu faktanya.
Azeris menghela nafas pasrah. Lalu bertanya perlahan. "Apakah dia Vampir miskin?"
"Se-sebenarnya dia... Seorang... Drakula.." suara Xaver semakin ke ujung semakin mengecil.
Dalam kepala Azeris terputar siaran langsung yang ia lihat dari telponnya beberapa saat yang lalu. Terputar bagian Eren yang menyatakan bahwa ia akan menikahi Putranya. Bagai kaset rusak, bagian itu terus terulang tanpa ada berhenti. "Jadi... Yang di maksud benar-benar Putraku?"
"Ayah!"
Xaver segera keluar kamarnya untuk mencari kakaknya Dreiva. Kakaknya yang satu itu adalah seorang dokter kesehatan seperti Ayahnya. Dalam keadaan ini, Satu keluarga akan berkumpul di ruang makan. Jadi Xaver memasuki Ruang makan dan menarik Kak Dreivanya untuk memeriksa keadaan Ayahnya. Bahkan jika penampilan Azeris terlihat tak jauh berbeda dengan Xaver, usia tua bukanlah sesuatu yang dapat di hindari.
Eve dan yang lainnya mengikuti Xaver dan Dreiva yang terus berlari menuju kamar Xaver. Melihat sang Ayah tak sadarkan diri dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya, Dreiva dengan sigap memeriksa Ayahnya.
"Xaver, apa yang terjadi? Mengapa Ayahmu tak sadarkan diri?"
Melihat Ayahnya yang sangat terguncang. Xaver tidak berani mengatakan hal yang sama kepada Ibunya. Ia hanya memberikan senyuman andalannya dan berkata kepada Ibunya. "Aku tidak tau, tidakkah Ibu rindu padaku? Kemarilah dan peluk Putramu Bu"
Eveline tentu saja menyayangi suaminya, tapi rindunya kepada Putranya lebih besar dari apapun. Melihat Putranya membentangkan tangannya. Eve segera melompat ke pelukan itu. Putranya lebih tinggi darinya, juga lebih besar darinya, seluruh pelukan itu menenggelamkan tubuhnya di antara sepasang tangan Xaver. Eveline tak kuasa menahan tangis rindu. Xaver mengusap rambut Ibu tercintanya.
Para Saudari yang juga seorang wanita memiliki sisi keibuan yang sama. Mereka juga rindu kepada Adik atau Kakak laki-laki mereka. Dengan segera para Saudari Van Zeander memeluk Xaver dan Ibunya di segala sisi. Kamar itu di penuhi tangis rindu para wanita di keluarga Van Zeander.
Azeris sama takutnya dengan Xaver. Ia tak tau bagaimana harus mengatakan kabar yang entah baik atau buruk ini, kepada Istrinya. Akankah istrinya menerimanya? Atau sama sepertinya, sangat terkejut hingga tak sadarkan diri? Azeris dalam kebingungan besar. Terlebih lagi saat melihat Istrinya itu sedang merencanakan pesta besar yang sebenarnya merupakan ajang pencarian istri untuk putranya.
Baik Xaver atau Azeris, mereka sama-sama tau bagaimana sifat sejati Drakula. Mereka lebih agresif dan beringas di bandingkan Vampir. Apalagi jika Eren mengetahui apa yang di pikirkan Eveline. Azeris sangat yakin satu-satunya Drakula wanita itu akan mengamuk di kastilnya.
Kini, Baik Xaver atau Azeris, mereka sama-sama tak tega untuk menghentikan binar senyum cerah dari Eveline. "Xaver, mungkin sebaiknya kita undang saja Yang Mulia Putri Drakula." Bisik Ayahnya.
Xaver memikirkan amarah Eren. Ia hanya bisa meneguk ludah kasar. Azeris bahkan dapat mendengar suara 'Gluk' dari tenggorokan Xaver. Ia tau putranya sangat gugup. "Kurasa mungkin itu harus di lakukan. Bagaimanapun Eren adalah wanita posesif. Aku sangat yakin ia akan datang."
Xaver menuliskan nama dan alamat Eren di kertas undangan. Azeris dapat melihat bagaimana tangan Putranya terlihat gemetaran saat menuliskan nama Serena Darkseala. Azeris juga gugup sebenarnya. Bahkan mendengar nama Darkseala saja, sepasang kakinya akan gemetar karna takut. Drakula adalah Ras yang setingkat lebih tinggi dari Vampir. Mereka juga lebih mulia dari Vampir. Ada kegelapan murni yang menyertai mereka. Vampir hanyalah pelayan dari Drakula.
Setiap kali memikirkan Putra kesayangannya akan menikahi Putri Drakula, Azeris tak bisa menahan gemetar.
Saat undangan itu sampai ke kastil Darkseala, sebelum pelayan membuangnya. Eren segera datang secepat kilat. Ia mencium aroma Xaver di udara, ia mengira kalau Xaver datang mengunjunginya. Siapa sangka itu hanya sebuah kertas undangan.
Melihat namanya di tulis dalam tulisan yang seharusnya indah, namun malah terlihat seperti cacing. Eren sangat yakin Xaver gugup saat menuliskannya. Saat Eren membaca isi undangannya, ia gemetar karna marah. Tentu saja Xaver gugup, isinya adalah undangan untuk ajang pencarian istri!
"Arrggghhh!!! Kakak! aku harus datang ke acara ini! Jika tidak Xaverku akan di ambil orang lain!" Eren berteriak begitu keras hingga langit-langit kastil bergemuruh. Dengan segera Arthur merasakan kekesalan Adik tercintanya.