Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
AGAIN?



Chapter 16 Again?


Lycenia adalah nama untuk Gadis kuil yang bertindak sebagai pemimpin kuil. "Baik Yang Mulia Dewi."


Lycenia menyampaikan kepada para penduduk bahwa ritual telah selesai. Sebagai Gadis kuil yang merangkap sebagai Ratu, Lycenia mengantar Alythrea menuju ruangan keramat. Sebagai penerus kerajaan, Lycenia di beritahu leluhurnya kalau ruangan keramat digunakan untuk menyegel seorang Vampir yang di duga sebagai Dewa Vampir. Dewi Bulan menganggap Vampir misterius itu sebagai persembahan. Setiap kali Ritual persembahan di lakukan, Dewi Bulan akan turun hanya untuk melihat Vampir itu.


Semua Manusia Serigala tau kalau Dewi Bulan seharusnya menyukai Vampir yang di segel itu. Ruangan keramat selalu di bersihkan secara rutin, sehingga kebersihannya selalu terjaga. Rambut Alythrea yang berkilau menerangi ruang keramat yang pada awalnya sudah gelap. Saat beberapa langkah menuju peti di tengah ruangan, langkah Alythrea terhenti.


Alythrea berbalik dan menatap tajam kepada Lycenia yang membuntutinya. "Tinggalkan aku sendiri. Tunggu perintahku yang berikutnya. "


Lycenia mengangguk dengan hormat, lalu beranjak meninggalkan Dewi Bulan dengan petinya. Ada ketidaksabaran di wajah Alythrea saat melihat wajah Xaver melalui tutup peti. Dengan usapan ringan petinya terbuka, petinya juga kembali berubah menjadi bangku putih. Alythrea mencium titik diantara kedua alis hitam Xaver. Penghalang yang mengurung kesadaran Xaver menghilang.


Xaver mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Alythrea menutupi mata merahnya dengan poni rambutnya. Lalu membuat ekspresi seperti seorang Serigala omega pemalu. Saat sepasang lensa merah itu terbuka, hal pertama yang dilihat Xaver adalah rambut berpendar milik Alythrea.


"Wah rambutmu cantik sekali. Seperti kilau bulan purnama." Xaver secara tidak sadar menyukai keunikan penampilan Alythrea.


Saat Xaver hendak bangun dari duduknya, pakaian yang dia kenakan terkoyak di bagian punggung dan pantat. Dengan cepat Xaver menutupi bagian pantatnya. "Eh itu... Nona bisakah kau membantuku mengambilkan pakaian baru? Aku ingat kalau aku hanya tertidur sebentar. Entah apa sebabnya pakaianku berubah seperti pakaian yang sudah lapuk"


Dalam hati Alythrea tertawa, vampir di depannya tidak pernah berubah. Selalu konyol dan polos. Terlalu mudah untuk di tipu. Meski begitu, Alythrea masih memerankan gadis pemalu dengan baik. "Ba-baik Tuan. A-a-aku pergi dulu...."


Melihat gadis yang rambutnya berpendar itu pergi Xaver merasa lega. Ia ingin memanggil Ream. Saat Xaver memeriksa waktu yang di perlihatkan oleh Sistem Utama EAC-Drime, ia tidak bisa tidak terkejut. Waktu menunjukkan kepadanya kalau ia sudah delapan puluh tujuh tahun berada di dunia ini. Xaver menggaruk kepalanya. "Apakah aku ketiduran? Seharusnya tidak, mengapa aku bisa tidak sadarkan diri selama itu? Lagi pula aku tidak kelelahan."


Saat Vampir yang di anggap sebagai Dewa Vampir itu berada dalam kebingungan. Sebuah notifikasi suara menggema di kepalanya. "Ream telah menganalisis dunia pertama dan dunia kedua. Ream juga telah mengumpulkan banyak data yang mungkin Master inginkan. Harap Master memberikan izin kepada Kesadaran Ream untuk kembali ke Sistem Utama EAC-Drime."


"Di izinkan." Bisik Xaver.


Dengan verifikasi izin yang telah di berikan, Ream secara otomatis kembali kepada Sistem Utama EAC-Drime. Xaver merasakan kehangatan kembali ke bandul kalungnya. Xaver ingin membicarakan banyak hal dengan Ream. Namun wanita muda dengan rambut berpendar muncul dari pintu.


Wanita itu menunduk sehingga Xaver tidak dapat melihat matanya. Wanita muda itu memberikan pakaian baru kepada Xaver. Xaver melihat pakaian di tangan Wanita muda. Meski itu bukan pakaiannya, pakaian itu adalah pakaian khas yang di miliki seorang Vampir. Xaver mengambilnya, melihat bahwa wanita dengan rambut berpendar itu tidak berniat pergi. Xaver berkata dengan nada canggung.


"Em... Nona, bisakah kau pergi. Aku ingin mengganti pakaian."


Alythrea menolak untuk pergi. Ia hanya membalikkan badannya membelakangi Xaver. Xaver merasa kecanggungan menyelimuti tubuhnya. Xaver terlalu malu untuk mengusir wanita muda itu keluar. Namun ia juga malu jika harus berganti pakaian di depan wanita itu. Dengan jantung yang berdebar-debar, Xaver memutuskan untuk memakai pakaian setelah membelakangi wanita muda. Hanya dengan begitu rasa malunya dapat di netralisir. Vampir tampan itu tidak sadar kalau celana di bagian pantatnya yang sudah robek di perlihatkan kepada Alythrea.


Alythrea tidak bisa tertawa untuk saat ini. Dia diam-diam tertawa keras di hatinya. Lalu tetap memasang wajah gadis pemalu. Xaver merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang lain saat ia berganti pakaian. Xaver merasa ada sepasang mata yang terus menatap gerak-geriknya. Saat ia melirik Alythrea, Alythrea terus menunduk dan membelakanginya.


Ream yang melihat semuanya, tidak tau harus berkata apa kepada Masternya. Meski penampilan wanita dengan rambut berpendar terlihat seperti gadis yang polos, Ream melihat sesekali wanita itu menatap Xaver dengan tatapan panas. Hanya saja berhasil mengelak sebelum Xaver menyadarinya. Ream yang sudah melewati berbagai dunia untuk mengumpulkan data, sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku mahluk hidup.


Terlebih lagi saat Ream membaca data yang di kumpulkan ulang mengenai dunia ini. Ia tentu tau siapa wanita yang bermain peran di depan Masternya. Ream lagi-lagi harus menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan semuanya kepada Masternya.


Xaver tidak bisa tidak mengingat pemandangan yang ia temukan saat pertama kali memasuki kerajaan Manusia Serigala. Yaitu banyaknya wanita dengan telinga dan ekor Serigala di tubuh mereka. "Apa... Apa nona sedang dalam masa panas?"


Xaver bertanya dengan nada Ragu-ragu. Ia tidak melihat tanda-tanda dalam masa panas dari wanita di depannya. Apa lagi tidak ada 'undangan perkawinan' dari wanita di depannya. Dan yang terpenting, sejak awal Xaver tidak bisa merasakan rasa sakit apapun di bahunya, saat wanita muda itu berada di dekatnya.


"Ti-tidak Tuan, A-a-aku memang sudah begini sejak lahir. I-Ibuku bilang kalau aku bukan Manusia Serigala murni." Suara wanita di depannya terdengar halus dan nyaman.


Secara tidak sadar ia ingin mengenalnya lebih dekat. Apa lagi Xaver tertarik dengan rambut berpendar milik Alythrea. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat rambut yang berpendar dalam gelap. "Siapa namamu?"


Alythrea tetap setia memainkan perannya. Ia mengepalkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas dadanya yang berisi. "Na-namaku Rea, Tu-tuan."


Xaver mendekati Alythrea. Ia memegang ujung rambut bercahaya milik Alythrea. "Wah rambutmu unik sekali. Apakah ini juga sudah seperti ini sejak lahir? Cantik sekali..."


Alythrea memperhatikan wajah bodoh Xaver, yang terlihat seperti anak kecil yang melihat mainan baru. Secara perlahan Xaver mencium aroma lembut yang berasal dari Alythrea. Xaver merasakan bahunya yang di gigit oleh putri Charlotte berdenyut dengan rasa nyaman.


'Ada apa dengan bahuku?' batin Xaver.


Xaver melihat leher jenjang Alythrea. Insting Vampirnya berjalan. Bagaimanapun ia sudah Delapan puluh tujuh tahun tertidur. Tanpa menelan pil darah. Xaver menelan ludah. Xaver melepaskan tangannya dari rambut indah Alythrea. 'Tidak bisa begini, aku hanya perlu kembali ke kamarku, dan menelan kapsul darah.'


Pikiran Xaver berkecamuk dalam keadaan bingung. Selain nafsu akan darah, ada nafsu lain yang bercampur dalam insting Xaver. Alythrea tau betul apa yang di pikirkan Vampir di depannya. Saat melihat Xaver hendak pergi, ia mengangkat rambut di sekitar lehernya. Lalu memindahkannya ke punggungnya. Sehingga sekarang leher kanannya benar-benar terlihat oleh Xaver.


Xaver mendekati Alythrea. Sepasang mata merah itu sudah di penuhi oleh kabut nafsu. Tangannya memegang bahu Alythrea. Alythrea menyeringai pelan, lalu memainkan perannya kembali. "Tu-tuan... Apa yang akan kau lakukan"


Tak lama kemudian, pintu ruangan keramat terbuka. Dan Ratu Lycenia datang dengan beberapa petinggi klan Serigala. "Tuan Xaver. Apa yang akan kau lakukan kepada nona Rea."


Xaver terkejut, sepasang mata merahnya kembali fokus. Xaver melihat ke arah pintu. Di mana ada seorang wanita muda yang mirip dengan Ratu Serigala. Lalu ada juga pria yang wajahnya mirip dengan Vampir kecil. Lalu Xaver melihat ke tangannya yang menggenggam erat bahu Alythrea. Dan wajah Alythrea yang di penuhi Isak tangis.


"Tuan Vampir kami datang untuk menyambut Anda dari bangunnya Anda. Tapi yang kami lihat ini... Ckckck... Sebagai Ratu yang adil, aku memutuskan untuk menikahkan mu dengan nona Rea."


Lycenia sebenarnya takut kalau Vampir kuat di depannya akan mengamuk dengan perintah asal-asalannya. Namun ia lebih takut dengan kemarahan Dewi Alythrea-nya. Ia hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan Dewi Alythrea.


"Semuanya, bantu aku untuk menangkap Tuan Xaver. Jangan sampai dia melarikan diri dari pernikahan." Ujar Ratu Lycenia.


"Ke-kenapa aku merasa Dejavu ya?" Bisik Xaver, dengan mata kiri yang terus berkedut.


Tentu saja Xaver tidak bisa berdiam diri. Ia harus kabur dari tempat ini. Tepat saat ia hendak merubah dirinya ke bentuk Kelelawar, sebuah suara yang hampir mirip dengan suara angkuh putri Charlotte menggema di pikirannya. 'Kau tidak akan ku biarkan kabur lagi, Tuan Vampir'


Seketika bahunya terasa Sakit. Membuat Xaver tidak bisa berpindah dari tempat itu. Sehingga para petinggi-petinggi klan Serigala di belakang sang Ratu, dapat menangkapnya dengan mudah.