Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
BACK TO THE PAST



Chapter 30 Back to the past


Saat itu Xaver menggendong Avir dalam pelukannya. Ia bersiap memasuki portal. Avir melihat kebelakang untuk yang terakhir kalinya. Dunia Naga yang seharusnya hancur dalam beberapa tahun lagi akan hancur dalam beberapa hari. Hal ini di karenakan Avir kecil menyerap terlalu banyak energi dunia di dunia Naga. Ternyata, ia pun sama dengan Ayah Vampirnya. Mereka berdua sama-sama maniak makanan. Bedanya yang satu pecinta darah, sementara yang lain pecinta energi dunia.


Saat memasuki Portal, tanpa pertanyaan atau sapaan ringan, Ream segera mengirim dua pria itu ke dunia asing yang terasa akrab bagi Xaver. Kepala Xaver terasa berdenyut saat memikirkan tingkah laku Ream yang tak lagi sama seperti sebelumnya. Ia sangat yakin 100% kalau ini adalah ulah Eren.


"Ayah, ada yang berteriak!" Avir berkata saat mendengar suara Wanita yang terdengar ketakutan. Suara itu juga terdengar hampir mirip dengan suara Eren yang sering menggema di pikirannya. Mengingat apa yang di katakan Ibunya sebelum ke tempat ini. Avir yakin wanita yang berteriak seharusnya adalah Ibunya di masa lalu.


Xaver juga mendengar jeritan minta tolong itu. "Ayo kita lihat. "


Vampir itu melesat menuju asal suara. "Tolong! Kakak! Tolong!"


Saat Xaver mendekat. Ia melihat seorang wanita muda dengan sepasang mata Magenta, tampak di kejar-kejar oleh segerombolan Manusia Serigala. Wanita itu melihat Xaver yang melayang tak jauh darinya. Ia merasa ada harapan kecil yang hidup di hatinya.


"Tolong Tuan Vampir! Tolong aku!"


Karna wanita itu telah meminta bantuannya. Xaver harus segera bertindak, sudah lama ia tak berolah raga. Xaver turun tepat di atas kepala Serigala yang memimpin. Dengan sebuah tendangan Serigala Alpha itu tersungkur menabrak tubuh para serigala di belakangnya.


Avir tak tinggal diam. Ia mendekati Wanita itu. Ada Aroma yang serupa dengan Aroma Eren dari Wanita itu. Avir sangat senang ia dapat bertemu Ibunya secara fisik. Iapun segera berkata. "Kakak tenang saja, Ayah angkatku sangat kuat! Ia pasti mampu melindungi Kakak!"


Wanita itu melihat bayi Naga yang berbicara. Ia sedikit terkejut. Pasalnya Bayi Naga seharusnya mampu berbicara ketika usianya tiga tahun. Seolah mampu membaca pikiran wanita itu, Avir segera berkata. "Karna Avir adalah Naga yang sangat pintar!"


Wanita itu merasa gemas saat melihat bayi Naga yang pintar dan lucu. Xaver masih bertarung dengan para Serigala. Manusia Serigala yang ia hadapi sangat kuat jika di bandingkan dengan Manusia serigala yang pernah ia hadapi sebelumnya. Xaver juga merasa sekarang kekuatannya meningkat. Sehingga posisinya tidak terlalu memalukan, dalam sebuah battle solo versus squad.


Insting bertarung Vampirnya naik setiap kali ia merasa terpojok. Wanita itu melihat Xaver yang sedang bertarung ia jatuh hati pada pandangan pertama. Pria itu sangat keren ketika bertarung, itulah yang ia pikirkan.


Serigala Alpha yang memimpin kawanan itu merasa mereka sedang menghadapi tembok baja yang kokoh. Nyali mereka mulai jatuh, saat melihat bahwa cakar mereka bahkan tak mampu membuat garis lecet di kulit Pria Vampir itu. Xaver tidak tau kenapa, rasanya melihat Wanita itu di kejar-kejar ada rasa marah yang timbul di hatinya.


"Kebetulan aku belum sarapan! Mari kita lihat apakah darahmu mampu memuaskan nafsu makanku!" Ujar Xaver dengan nada dingin.


Kuku-kuku hitam yang tajam tampak bermunculan di jari-jari tangan Xaver. Bahkan Eren juga menyukai sisi Xaver yang saat ini. Jantungnya bahkan jiwanya bergetar di penuhi rasa kagum saat melihat Prianya dalam mode bertarung.


Kaki panjang Xaver melakukan beberapa tendangan. Kukunya juga turut mencakar para Manusia Serigala. Rasa lapar benar-benar membuat Xaver sedikit tersiksa. Ia terus memfokuskan untuk menikam cakarnya ke perut Manusia Serigala. Agar ia bisa merasakan cita rasa darah Manusia Serigala kuat di depannya. Saat ia ingin menargetkan si Alpha, tiba-tiba saja si Alpha menundukkan badannya membentuk gerakan bersujud meminta ampun. Namun ayunan kuku Xaver terlalu cepat hingga tak dapat di hentikan.


Dan Kuku-kuku hitamnya menembus daging punggung Si Alpha. "Maafkan aku, aku terlalu lapar hingga tak memiliki energi untuk menghentikan ayunan tanganku."


Si Alpha yang mengaduh kesakitan, menatap Xaver yang terlihat kejam dengan tangan berlumuran darah dan wajah apatis yang dingin. Apa yang di sebut rasa takut muncul di hati Serigala Alpha. Lima dari tujuh rekannya telah tiada. Dan ia yang merupakan putra dari kepala suku Manusia Serigala terluka parah oleh seorang Vampir biasa. Itu yang membuatnya takut. Sebab di dunia ini, hanya Drakula yang mampu membuat Manusia Serigala Alpha terpojok. Vampir biasa bahkan tak mampu menyentuh sehelai bulu Serigala Alpha.


"Cepat! Cepat kita pergi!" Para Manusia Serigala itu berlarian dengan batin yang terguncang.


Xaver yang melihat semua itu hanya mengangkat bahunya. Sungguh, ia benar-benar lapar sebenarnya. Melihat beberapa mayat Manusia Serigala yang darahnya belum mengering, Xaver mengeluarkan beberapa sulur hijau yang kosong.


"Terima kasih Tuan Vampir! Aku tidak tau mengapa Tuan yang hanya seorang Vampir biasa mampu bertarung melawan Alpha. Bahkan aku yang Putri Drakula saja tak mampu melakukannya." Ujar Wanita itu.


Xaver tersipu dengan pujian Wanita itu. Ia menjawab asal-asalan. "Em... Mungkin karna Lapar?"


Wanita itu hanya terkekeh kecil melihat Vampir konyol di depannya. Ia mengulurkan tangannya. "Aku Serena Darkseala, Putri bungsu Raja Drakula. Salam kenal Tuan Vampir. Panggil aku Eren!"


"Eren?!" Xaver sendiri terkejut saat mendengar nama panggilannya. Tidak mungkin ini adalah tubuh Eren bukan? Gadis di depannya terlalu manis untuk sosok mesum seperti Eren.


"Kenapa Tuan? Katakan Nama Tuan siapa?"


"Tidak apa-apa, namamu mirip dengan seseorang yang ku kenal. Aku Xaver, Xaver Van Zeander." Xaver menyambut tangan mungil gadis bermata magenta itu.


Xaver melihat kilatan licik yang akrab di mata Eren. Entah mengapa tiba-tiba ia merasakan firasat buruk. Untuk menghalau perasaannya yang tidak nyaman. Xaver menawarkan sarapan. "Apa kau sudah makan? Aku ingin makan sekarang, apa yang ingin kau makan?" Xaver bertanya dengan gugup.


"Hihihi..." Serena hanya tersenyum misterius.


Xaver merasakan bulu romanya berdiri. Xaver membatin. 'Benar-benar serupa! Senyumnya, Tawanya, bahkan auranya serupa! Jangan bilang di depanku ini memang Eren?!'


Xaver mengabaikan seringai misterius gadis muda di depannya. Ia segera mengambil sulur-sulur hijau yang telah selesai menghisap darah Manusia Serigala. "Kau bilang kau seorang putri Drakula bukan? Dimana pengawalmu? Apakah kau melarikan diri dari kastilmu?"


Serena menganggukkan kepalanya. Mulutnya mencibir kesal saat mengingat Kakak laki-lakinya. Tapi untuk mengambil hati pria di depannya ia harus menyusun siasat. Ia pun berkata dengan nada sedih. "Sejak aku kecil, Ayah telah tiada. Yang tersisa di keluarga kami hanya aku dan Kakak laki-lakiku. Ah, aku sangat sedih. Kakak laki-lakiku menikah dan aku di tinggal sendiri, yang lebih parahnya lagi aku di larang keluar kastil. Bukankah itu kejam?"


"Katakan saja kau hanya ingin bermain keluar, dasar anak nakal. Kakakmu pasti khawatir. " Xaver tertawa kecil saat berbicara.


"Tidak apa-apa! Lagi pula ada Tuan Xaver yang kuat! Aku tidak lagi takut akan bahaya!" Serena tersenyum, senyumnya sangat tulus. Tapi Xaver merasa sedang berbicara dengan rubah licik sekarang. Senyuman Serena sangat mirip dengan senyuman Eren. Itu membuatnya merinding.


Tiba-tiba Xaver terpikir sesuatu saat ia menatap langit. Matahari akrab yang terasa nyaman dan tidak melukainya. Di tambah aroma dari dunia ini benar-benar serupa dengan Dunianya. Mengingat perkataan Serena tentang Drakula, terpikir oleh Xaver satu hal.


"Ream, jangan bilang ini adalah duniaku? Namun di masa yang berbeda?"


'Menjawab Master, ini memang dunia tempat Anda dan Madam berasal, Master. Dan ini adalah Dunia Master di masa lalu. Seperti dugaan Master, Serena Darkseala adalah Madam di masa lalu. Madam berpesan kepada Ream, untuk tidak memulangkan Master sampai Master mengenal leluhur anda sendiri, Arthur Darkseala Kakak laki-laki Madam.'


"ARRGGGHHH!!! ERRREEEEN!!!" Xaver berteriak kesal dengan tingkah Eren yang bertindak sesuka hatinya.


Serena merasa terpanggil. "Tuan memanggilku?"


Xaver melihat Eren versi lebih muda. Pantas saja bahunya tidak terasa sakit! Itu karna orang yang menandainya ada di depannya! Hanya berbeda usia saja dengan Eren mesum yang Xaver kenal. "Tidak-tidak, aku hanya kesal kepada temanku Eren yang lain. Ia meninggalkanku sendirian, jadi aku sedikit kesal." Xaver berkata dengan nada canggung.