Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
SPECIAL CHAPTER 1.3



Special Chapter 1.3


Dengan gelisah Serena berjalan bolak balik di depan ruangan itu. Instingnya tak pernah salah. Ada bisikan yang mengatakan padanya Kalau Xaver mungkin akan meninggalkannya. Serena tak sanggup bila itu benar terjadi. Xaver adalah cinta pertamanya. Jika ia pergi... Serena juga akan merasakan patah hati untuk pertama kalinya.


Saat pintu terbuka ia segera memasuki ruangan itu. Selain Kakak laki-lakinya yang terlihat terkejut, ia tidak menemukan Xaver di sudut manapun. 'Tidak mungkin Kak Xaver meninggalkanku bukan?' batinnya resah.


Serena mencari di sudut ruangan. Karna ia tau Xaver bisa berubah wujud, ia mencari hingga setiap inci ruangan tersebut. Serena masih belum menyerah, ia menggunakan Sihir untuk mendeteksi keberadaan Xaver. Dunia gaib ini di bentuk dengan kekuatannya, hanya dengan menyentuh udara Serena dapat mengetahui siapa yang tinggal di dunia ini dan siapa yang meninggalkan dunia ini. Dan Xaver sama sekali tidak ada di dunia ini.


Arthur melihat kepanikan adiknya. Arthur mendekati Serena. "Eren..." Arthur menyentuh bahu Serena.


Arthur sedikit terkejut saat adik nakalnya itu menangis. "Tolong jangan katakan kepadaku kalau Kak Xaver telah pergi."


"Eren... Dia memang pergi... Tapi..."


Serena merasa sangat marah saat itu. "Tapi apa?! Kakak, aku tidak menemukan dirinya di manapun di seluruh dunia ini! Jangan bilang kalau Kakak telah membunuhnya! Sudahlah, aku tidak suka dengan Kakak! Aku membencimu Arthur Darkseala!"


Serena pergi dengan sihir teleportasi. Arthur menghela nafas panjang. Ia memang mencium aroma Serena di bahu Xaver. Tapi bukan aroma Serena yang sekarang. Arthur juga tau itu. Arthur yakin pria muda itu takkan berbohong kepadanya. Namun sanggupkah ia menjaga adiknya saat ini agar ia tidak merana berkepanjangan?


Serena mengurung dirinya di kamarnya. Ia tak ingin di temui siapapun untuk saat ini. Dan ia sangat membenci Kakaknya. Ia tidak tau apa yang Kakaknya lakukan kepada Xaver, tapi energi kehidupan Xaver tidak di temukan di manapun. Sebelum Xaver menghilang, yang ada di ruangan yang sama hanyalah Kakaknya. Bukankah itu artinya Kakaknyalah pelaku pembunuhan itu!


Serena tau Drakula adalah mahluk dingin yang apatis, mesin pembunuh yang mampu membunuh tanpa peduli apapun. Tapi sebagai sesama, tidak ada perasaan tidak peduli seperti itu. Lalu bagaimana cara Xaver pergi?


"Aku tidak tau aku hanya ingin tidur." Serena memasuki petinya lalu menutup mata. Sedih itu ada, bahkan jika dia adalah Serena Darkseala.


Arthur juga merasa sedih saat melihat Serena yang bersedih. Ia tak tau apa yang harus di lakukan untuk menghibur Serena. Meski ia sudah tau kalau Serena dan Xaver tetap akan bersama di masa depan ia tak tau harus bagaimana untuk memberi tahu Serena.


Duka itu berlangsung selama Serena tertidur. Ia tertidur selama lebih dari seribu tahun. Setiap seratus tahun sekali, Arthur akan memasuki kamarnya untuk melihat apakah Serena sudah sadar atau belum.


"Haih...." Lagi-lagi hanya helaan nafas sedih yang terdengar dari suaminya.


Viria Istri dari Arthur mengusap bahu Suaminya. "Aku yakin jika kau jujur kepadanya, Serena tidak akan sedih atau membencimu lagi..."


Arthur hanya diam saja. Viria meninggalkan suaminya sendirian di kamar Adiknya. Arthur hanya termenung sedih. Teringat olehnya saat dimana Serena mengenalkan Xaver kepadanya. Senyum cerah itu takkan ia lupakan dengan mudah.


Arthur menatap peti mati gelap milik adiknya. Setelah mengusap permukaannya, Arthur melangkah pergi. Namun saat ia belum menjauh, terdengar suara peti mati yang terbuka. Arthur segera mendekat ke sisi Peti milik Serena. Kali ini ia akan jujur mengenai segalanya.


Serena masih membenci Kakaknya. Melihat Wajah Arthur saat pertama kali membuka mata hanya membuatnya ingin menyihir Kakaknya itu. Namun mengingat bahwa mereka berdua adalah Drakula yang tersisa, Serena mengurungkan niat itu. Ia hendak berbaring lagi untuk kembali tidur.


"Tidak! Eren tunggu! Dengarkan Kakak! Kakak akan menceritakan semuanya!" Arthur berkata dengan berteriak, sehingga Serena menghentikan gerakannya.


"Katakanlah..." Serena berucap dengan Nada dingin.


Arthur menceritakan semua yang terjadi di ruangan itu saat itu. Termasuk Xaver yang mengaku telah di tandai oleh dirinya di masa depan. "Kalau saja Kakak menahannya di masa ini, dunia tidak akan berkembang seperti yang ia ceritakan. Sejarah akan terhapus dan apa takdir yang di lihat Xaver akan sama? Atau apapun itu. Satu-satunya cara adalah duduk dan menunggu apa yang terjadi atau mungkin kau harus mengejarnya ke dunianya seperti halnya dia menemuimu."


Saat itu raut wajah Serena menunjukkan tekad yang kuat. "Aku bukan tipe yang menunggu dan diam saja! Tentu saja aku harus mengejarnya! Bahkan jika aku mati nanti! Setidaknya aku sudah berusaha."


Arthur mengangguk. "Tekad yang bagus, tapi mari kita perbaiki kesehatanmu dulu, kau tidak terlihat sehat. Dan kau juga mungkin ingin melihat keponakanmu."


Serena hanya tersenyum sedih. Dia masih tak dapat melupakan Tuan Vampirnya itu. Beberapa hari Serena fokus memperbaiki kesehatannya. Sembari mencari sihir teleportasi antar dunia atau dimensi di perpustakaan yang di turunkan oleh Ibunya.


Sejauh yang ia lihat, sihir teleportasi antar dunia yang dia ketahui hanya bisa di pakai di dunia yang terhubung dengan dunia sekitarnya. Sementara kasus itu sangat jarang terjadi. Kecuali ada seseorang yang membangun dunia di sekitar dunia sebelumnya. Seperti yang di lakukan para leluhur Hantu atau monster. Mereka membangun dunia mereka di atas dunia Manusia.


Tapi Xaver sudah pasti tidak berada di dunia Manusia. Serena sangat yakin itu. Saat ia hampir menyerah, Arthur datang kepadanya saat memberikan makanan. Ia mengusap helaian rambut adiknya yang tidak memiliki semangat hidup.


"Kak... Apa lagi yang harus aku lakukan.. tidak ada sihir semacam itu. "


"Benar juga! Baiklah, Kakak keluar dulu, jangan ganggu aku hingga aku yang membuka pintu ruangan ini!" Serena berkata dengan semangat yang baru.


Ini bukan pertama kalinya ia membuat sihir baru, biasanya akan berhasil. Siapa tau kali ini juga berhasil, ia harus mencoba. Dengan usaha keras Serena, waktu berbulan bulan telah di habiskan. Arthur juga khawatir meski ia tau kalau adiknya akan berhasil.


Hingga akhirnya di bulan yang entah keberapa. Pintu ruangan terbuka dengan wajah sumringah Serena. Arthur tau pasti itu berita baik. Serena terlihat sangat senang saat itu. Ia memeluk Kakak laki-lakinya dengan semangat. "Aku berhasil Kak! Ayo cepat ikut aku!"


Serena membawa Arthur ke kamarnya. Lalu mulai memasangi barang barang tertentu, di sekitar petinya. "Kak, sihir ini hanya bisa membawa Roh ku ke dunia lain. Sehingga Kakak harus menjaga tubuhku ya!"


"Tapi Eren! Bagaimana jika kau tidak kembali?"


Serena berkata dengan senyum miris. "Itu artinya aku telah mati. Kakak perhatikan saja energi kehidupanku. Jika itu menipis atau bahkan hilang, itu artinya aku telah meninggal dunia. Sudah ya Kak!"


Serena memasuki petinya dan mulai berbaring. "Tapi, apa harus melakukan hal nekat seperti ini Eren?"


Serena hanya tersenyum. "Harus, Kak, Aku percaya bahwa Takdir akan mengurus segalanya. Cinta itu adalah kekuatan hebat! Jika nanti aku tiada karnanya, maka Itulah takdirku."


Saat Serena menutup matanya. Serena terlihat seperti seseorang yang sedang melakukan Tidur panjang. Arthur tetap memantau energi kehidupan Serena. Bahkan jika nanti Serena tiada, setidaknya mayatnya masih utuh bahkan jika ia tidak bangun. Vampir atau Drakula yang meninggal dunia akan berubah menjadi asap dan menghilang. Orang percaya bahwa mereka akan berubah menjadi Roh kegelapan dan menjaga anak keturunannya di dunia Roh.


Jiwa Serena kini telah berada di arus ruang dan waktu. Demi keamanannya, ia menyisakan separuh rohnya di arus ruang dan waktu. Lalu mulai menjelajahi dunia. Setiap kali ia selesai menjelajahi dunia, ia akan menyisakan sedikit ekstrak jiwa di dunia itu. Sebagai tanda bahwa ia telah mencari Xaver di dunia itu.


Namun selama apapun ia mencari ia tetap tidak dapat menemukan Keberadaan Xaver di manapun. Saat ia berpikir untuk menyerah, rohnya yang berada di arus ruang waktu mulai terkikis. Serena mulai melupakan segalanya. Saat ia memasuki tahap itu, ia telah kehilangan jati dirinya. Ia telah tiada dalam artian sebenarnya.


Namun salah satu Ekstrak jiwanya yang tersisa, bertemu Xaver. Itu adalah Liliana Winchester. Saat itu jiwa yang terkikis mulai memadat kembali dengan sendirinya. Beberapa ingatan dan tekad mulai terbangun saat bertemu Xaver sebagai Putri Charlotte.


Dengan menandai Xaver secara paksa, ia mulai mengingat secara keseluruhan siapa dirinya. Lalu ia memikirkan cara untuk kembali ke dunianya. Untungnya ia bertemu Ream saat bersama Xaver. Dengan ide cemerlang Ream, ia tau cara untuk pulang.


Hingga ia berhasil pulang ke kastil Darkseala. Saat ia sampai di dunia yang ia ciptakan bersama rekannya, ada rasa rindu dan haru dalam dirinya. Dengan segera ia memasuki tubuhnya kembali untuk bertemu Kakaknya.


"Eren kau melamun? Apa kau baik-baik saja?" Xaver bertanya khawatir.


Eren tersadar dari lamunannya. Lalu melompat untuk memeluk Xaver. Takdir memang mempermainkan dirinya, tapi tidak mengecewakannya. Xaver telah menjadi miliknya sejak awal, dan selamanya ia akan tetap bersama Xaver hingga maut memisahkan mereka.


"Aku hanya mengingat masa lalu."


"Berjalanlah ke depan, jangan melihat ke belakang. Jika begitu kau akan jatuh dan terluka. Sudahlah, Avir sudah berisik di depan, katanya ingin makan sup jamur buatanmu lagi." Ujar Xaver sambil membujuk.


Serena tersenyum, ia senang Ream dan Avir menyukai masakannya. Ia menggandeng tangan Xaver, Xaver tersenyum kepadanya. "Baik, ayo kita pergi menemuinya."


"Ya"


~|selesai|~


Kata penutup :


Kali ini beneran selesai ya. Terimakasih untuk kalian yang setia sampai bab ini. Saya sebagai Author sangat senang secara pribadi. Membaca komentar kalian adalah yang terbaik, bisa menjadi Mood Buster bagi saya. Kedepannya, saya akan berusaha untuk menyajikan cerita yang tak kalah seru. Semoga kalian juga tertarik untuk membacanya.


Dimulai Pada:. 03 Februari 2023


Berakhir Pada: 19 Mei 2023


Dengan berakhirnya tulisan ini berakhir pula cerita ini. Nantikan cerita baru saya, judulnya adalah 'Dewa Iblis yang di murnikan'