Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
THE LITTLE GIRL BURGLAR GEM



Chapter 22 The little girl burglar gem


Xaver telah melakukan tur keliling rumah Vien. Dan hari ini perut Vampirnya di buat kenyang. Malam hari yang dingin tiba. Xaver tidur di pelukan Vien. Saat mentari terbit di hari berikutnya, Vien sepertinya sedang sakit. Xaver terbangun karna suhu tubuh Vien yang menurun drastis. Vampir yang dingin sepertinya pun tak sanggup menahan dingin dari kulit Vien.


Setelah berubah menjadi kelelawar kecil, Xaver berhasil keluar dari lilitan ekor Vien. Hati kecil Xaver teriris saat ia melihat Vien yang tampak ke sakitan. "Ream analisis apa yang terjadi pada Vien."


Xaver mendengar suara mekanik khas milik Ream. "Memulai Analisis --BIIP-- Analisis berhasil. Memuat laporan analisis --BIIP--"


"Umumnya Humanimal ular tidak pernah mengalami hal ini. Namun Vien bukanlah Humanimal ular biasa, Ia adalah Humanimal ular yang di kutuk alam. Setiap pagi ia akan mengalami hal yang sama. Jika ia tak bertahan ia akan mati. Harus membiarkan dia berendam di lava untuk mencegahnya kedinginan. Di gunung setan terdapat lava di bagian terbawah, Master dapat membawanya kesana."


Xaver mengangkat tubuh Vien. Lalu mulai bergerak lebih cepat menuju kolam Lava tempat Vien biasanya berendam. Namun ekor Vien yang menjuntai mulai lecet karna terus bergesekan dengan dinding gua yang kasar. "Ream keluarlah dan bantu aku membawakan ekor Vien."


Ream segera keluar setelah mengubah bentuk hologramnya ke bentuk tubuh nyata. Melihat luka di ekor ular yang menjuntai, Ream segera membantu Masternya membawakan ekornya agar lukanya tidak bertambah.


Xaver adalah Vampir, suhu tubuh mereka secara alami sangat dingin. Dengan kondisi Vien sekarang, ia membutuhkan kehangatan. Xaver merubah dirinya menjadi beruang hitam berbulu, Vien merasa sedikit lebih baik. Segera beruang besar dan remaja laki-laki menemui kolam Lava. Xaver menceburkan tubuh Vien perlahan. "Jangan ceburkan bagian ekor yang terluka."


Vien mulai semakin membaik, hawa panas kolam Lava membuat rasa dinginnya menghilang. Xaver melihat luka di ekor ular. Ia tidak punya obat luka gores, maka ia hanya bisa menggunakan dirinya sendiri. Dengan bantuan Ream yang membantu memegang ekor, Xaver mulai menjilat setiap bagian yang terluka. Dengan liur Vampir di atas luka, luka itu perlahan membaik. Saat luka membaik Xaver memasukkan ujung ekor itu ke kolam Lava yang panas.


Xaver melihat Vien yang terbaring nyaman. Rasanya seperti melihat Vien berendam saat mandi. "Itu... Vien apakah aku harus pergi?"


"Tidak perlu, tetaplah di situ. " Ujar Vien.


Xaver melihat wajah tenang Vien. Tiba-tiba sepasang mata ungu terbuka. "Xaver cepat kemari!"


Xaver segera mendekati kolam Lava yang panas, ke sisi kepala Vien. "Aku merasakan sesuatu yang aromanya dan auranya hampir menyerupaimu. Seharusnya orang yang mengejarmu telah datang."


"Apa?!"


"Kemarilah Xaver, mendekatlah." Xaver menuruti keinginan Vien.


"Vampir kecil pergi serap energi yang tersisa, aku akan mengirimkan ekstrak jiwaku ke Master mu"


Setelah memerintahkan Ream. Vien segera memeluk tubuh bagian atas Xaver. Dengan bantuan Xaver ia membuka pakaian atas Xaver. Lalu menggigit tepat di bagian yang ia gigit dahulu. Xaver merasakan sesuatu yang sangat panas memasuki tubuhnya dari taring Vien. Ia sebenarnya tak pernah menyangka akan bersedia membiarkan Vien menggigit bahunya lagi. Tapi sepertinya penolakan Xaver terhadap jiwa itu mulai menghilang.


"Xirish cepat! Energi besar di puncak gunung sedang di serap habis-habisan. Itu pasti Xaver!" Suara pria terdengar di kalung Xirish.


Xirish Van Zeander segera melesat untuk memasuki gua di puncak gunung. Energi itu terkumpul di lantai terbawah. Xirish mengangkat tinjunya dan mulai memukul lantai dengan kecepatan tinggi, agar ia sampai ke lantai terbawah dengan cepat.


Namun terlambat saat ia sampai di kolam Lava, baik Xaver maupun Ream telah menghilang. Xirish melihat tubuh bagian atas wanita yang separuhnya berada di kolam Lava. Xirish mendekati wanita itu. Saat ia menggoyangkan kepala wanita itu dengan ujung sepatunya, wanita itu menghilang di udara seolah ia tidak pernah ada. Gunung tempatnya berdiri bergetar, Xirish segera melayang keluar dari gunung.


Vampir wanita itu melihat gunung tertinggi di barisan gunung itu, perlahan runtuh dari keagungannya. "Ayah sepertinya Xaver selangkah lebih awal di depan kita. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Xirish kembalilah, jika kau tidak kembali kau akan terjebak di dunia itu. Energi portal sudah hampir habis, hanya cukup untuk membawamu pulang. Pulanglah nak, kita masih bisa mengejar Xaver lagi nanti ketika energi portal penuh kembali. " Azeris Van Zeander, pemimpin keluarga Zeander saat ini, berkata dengan nada panik.


Xirish mengepalkan tangannya. Ia sedikit kesal dengan ketidakberhasilan ini. Dua kali ia mengejar adik laki-lakinya, dua kali juga ia gagal. Yang paling membuatnya kesal adalah, di dua kali itu selalu ada aroma wanita di sekitar aroma Xaver. Paling tidak kenalkan gadis itu padanya, mungkin ia akan membiarkan Xaver pergi sedikit lebih lama.


Xaver yang masih berada dalam portal memegangi bahunya. "Ream, bantu aku analisis tubuhku terlebih dahulu. Rasanya sedikit berbeda dengan gigitan terakhir kali."


"Memulai Analisis --BIIP-- masalah di temukan"


Panel hologram menampakkan ilustrasi tubuh Xaver. Dari titik tanda, hingga ke seluruh tubuh menyebar urat-urat kecil seperti akar pohon. Dan jumlahnya begitu banyak dan lebat. "Apa itu?"


"Menjawab Master, ini adalah ekstrak jiwa dari si jiwa itu. "


"Dari hasil analisis data, ekstrak jiwa kali ini mengandung kemurnian hampir seratus persen. Di dukung dengan jumlah ekstrak jiwa yang lebih dari setengah, menimbulkan perasaan panas yang tidak nyaman. "


"Kapan ini berakhir?" Tanya Xaver.


"Setelah kembali bertemu dengan Si Jiwa itu" jawab Ream.


"Lalu, sudah berapa banyak ekstrak jiwa yang bersemayam di tubuhku?"


"Sekitar 68% Master."


Xaver masih mengusap-usap bahunya, yang terasa panas dingin tak karuan. Xaver merasa ia hampir meledak dengan rasa panas yang tidak nyaman ini. "Kirim aku ke dunia terdekat dan biarkan aku segera bertemu dengan Jiwa itu "


Ream segera mengaktifkan portal. Xaver keluar dari portal segera. Ia di sambut dengan langit senja. Hutan dan area gelap membentang di depannya. Xaver berjalan menuju cahaya di kejauhan.


Seluruh dunia ini tampak tidak normal. Energi kegelapan tampak terus tumbuh dan menelan area biasa. Xaver sebagai mahluk Iblis tidak pernah terpengaruh dengan itu, ia hanya merasakan perasaan nyaman di bahunya saat ia berjalan menuju cahaya.


Xaver bertemu dengan sebuah kota. Melihat bukti peradaban di depannya tampak usang, Xaver tau kalau dunia ini seharusnya hampir mirip dengan Humanimal. Dengan bergerak secepat angin, Vampir itu berhasil menipu penjaga gerbang.


Xaver terus berjalan menuju pusat rasa nyaman. Hingga ia bertemu dengan seorang anak perempuan remaja, yang dalam masa pertumbuhan. Sebenarnya anak itu menabrak Xaver. Tatapan mata mereka bertemu.


"Tuan Vampir! " Hanya dengan kalimat itu, Xaver tau siapa gadis kecil itu.


Beberapa orang berlarian di belakang gadis itu membawa tombak dan pedang. Mereka mengejar gadis kecil seperti seorang pencuri. Ada rasa tidak suka yang kentara terpancar di wajah Xaver. Sepasang mata merahnya membara dengan niat membunuh yang kuat, aura gelap di sekitar tampak sangat mendukungnya.


Para pengejar itu berhenti ketika melihat gadis kecil bersembunyi di belakang pria misterius. Sepasang matanya yang merah menimbulkan ketakutan dalam hati para pengejar. Namun pemimpinnya berkata dengan sedikit takut. "Tu-tuan... Gadis kecil itu mencuri permata kami..."


"Apakah aku peduli?" Suara yang dingin dan menusuk itu melemaskan otot para pria kekar itu. Mereka berlarian tunggang langgang, saat Melihat Xaver melangkah satu langkah ke depan.


"Apa yang kau curi?" Tanya Xaver saat melihat si Jiwa.


"Aku mengumpulkan benda-benda yang berisi energi dunia untuk mu. Cukup sulit karna dunia ini berada dalam kekacauan. Aku tidak tau apakah energi gelap juga mengandung energi dunia, jadi aku mengumpulkan energi cahaya saja. Biasanya kan energi di dalamnya lebih banyak dan baik."


"Kau memikirkan aku?" Xaver merasa terharu sedikit. Lalu menggendong gadis kecil seperti menggendong anak-anak.


"Ya! Aku Qweny dan turunkan aku. Meski tubuhku anak-anak, aku masihlah aku Xaver" Qweny menggenggam kerah pakaian Xaver dengan kuat.


"Ya! Ya aku tau.... Tapi bentuk mu ini menggemaskan. Tidak ada unsur cabul yang biasanya ada padamu." Gumam Xaver sambil memeluk Qweny dan mengusapkan pipinya ke pipi Qweny.


"Meski tidak, tapi sekarang kau yang terlihat seperti orang cabul Xaver. " Bisik Qweny.


Xaver melihat sekeliling, beberapa orang di sekitarnya tampak menatapnya dengan tatapan aneh. Merasa tidak enak, Xaver melompat ringan dan melayang ke langit yang mulai malam.


"Katakan kepadaku, dimana rumahmu Qweny" Qweny menunjuk pegunungan tak jauh dari kota. Xaver melayang membawa Qweny menuju tempat yang di tunjukkannya.


"Kau melayang dengan seorang gadis kecil, di hari saat orang-orang berlalu lalang. Apa kau tidak takut orang menganggapmu Iblis?"


Xaver mengangkat bahunya. "Vampir itu memang Iblis, Qweny"


"Benar juga..."