Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
NICE GIFT



Chapter 21 nice gift


Xaver tiba di puncak gunung. Saat ia memasuki gua, matahari tiba-tiba kembali cerah. Xaver melihat portal semu di bandul kalungnya. Rasanya portal itu tidak berubah.


"Master ada yang tidak beres! Pengisian energi berhenti di 87% ! Tidak ada tanda-tanda kenaikan, namun Radar pemindaian energi menunjukkan bahwa titik energi masih ada!"


"Kalau begitu bukankah aku harus memeriksanya?" Ujar Xaver.


"Benar. Tetap berhati-hatilah Master."


Xaver memasuki gua lebih dalam. Gua ini terkesan dingin dan suram. Menghabiskan beberapa menit dan Xaver memasuki bagian tengah gua. Meski gelap ia bisa melihat dengan baik, Ruangan tengah gua tidak memiliki sentuhan gua jelas yang sebelumnya Xaver lewati.


Interior bagian tengah gua lebih mirip kamar tidur yang nyaman, dari pada gua. Xaver merasa kalau ia telah memasuki ruangan yang salah. Saat ia berbalik untuk meninggalkan gua, sesuatu menarik kakinya. Xaver terbanting ke tempat tidur empuk yang nyaman.


Xaver menatap sekeliling dengan waspada, ia tidak menemukan siapapun di sekelilingnya. Ia sangat yakin kalau ia tadi di tarik oleh sesuatu. Saat Xaver memutuskan untuk pergi, sepasang tangan putih yang dingin memeluknya. Seketika bulu Roma Xaver berdiri. Saat Xaver hendak mengangkat cakarnya untuk menyerang Humanimal di belakangnya, sebuah suara menghentikannya.


"Tenang Xaver, ini aku. Aku lahir sebagai Humanimal Ular dengan nama Vien." Tanpa melepas tangannya, Vien menjilat pipi kiri Xaver dengan lidah ularnya.


Xaver melirik wajah cantik Vien. Vien seperti manusia, namun matanya dan kakinya seperti ular. Oh jangan lupakan lidah dan taringnya. Seluruh tubuhnya berwarna putih, hampir tidak ada perbedaan warna antara kulit dan sisik ekornya.


"Mengapa aku tidak dapat menyerap energi?"


"Tentu tidak kubiarkan kau pergi begitu saja. Itu adalah mahar perkawinan kita sayang."


Saat sepasang tangan putih itu hendak melepas tubuh Xaver, Xaver berlari keluar. Namun ekor Vien menahan tubuh Xaver. Hanya setengah tubuh bagian atas yang tidak terikat. "Ugh... Apa maumu!?"


"Apa lagi? Tentu saja memilikimu!"


Xaver memikirkan perkawinan yang Vien katakan. Ia berpikir mungkinkah seperti perkawinan para manusia serigala yang ia lihat saat itu? Yaitu dengan melakukan hubungan intim? Atau sama seperti sebelumnya? Vampir lajang itu memiliki warna merah di pipinya.


"Apa yang kau pikirkan? Sekalipun aku sangat ingin berhubungan *** denganmu, aku akan menggunakan tubuh asliku. Sekarangkan bukan tubuhku, aku hanya sebuah jiwa tersesat sekarang. Jadi aku akan membuka segel energi itu setelah aku puas memeluk dan menciummu!!"


Xaver mendapatkan ciuman dari mulut Vien. Sensasinya sedikit berbeda dengan ciuman Alythrea. Lidah ular yang kecil dan panjang melilit lidahnya. Dan taring mereka beradu menimbulkan suara 'ting' yang memenuhi ruangan sunyi. Jantung Xaver kembali berdebar-debar di sertai sensasi panas.


Vien merasakan cuaca di luar kembali mendung. Ia takut Xaver kabur, sedangkan ia belum memberikan ekstrak jiwanya. "Xaver, tidakkah kau ingin mencoba snack yang kusiapkan untukmu?" Tawar Vien.


"Snack?!" Mata Humanimal Serigala itu berbinar dan ekornya bergoyang.


'Hehe... Terlalu mudah di bujuk' batin Vien.


Vien melepaskan lilitan ekornya. Lalu menuruni tempat tidurnya, dengan sekali kedipan, ekor besarnya berubah menjadi kaki ramping yang indah. Serigala itu melompat ke sisinya. Vien tersenyum kecil melihat tatapan berbinar Xaver yang seperti anak kecil.


Vien menarik tangan Xaver ke ruangan lain. Xaver sampai ke sebuah ruang kecil namun di penuhi oleh banyak benda-benda aneh. Xaver melihatnya satu persatu. Ruangan ini seperti tempat penyimpanan makanan. "Xaver Kesini"


Ketika mendengar namanya di panggil, Xaver datang. Apa yang ada di depannya membuat Xaver terpesona. Mata Vampir itu berkilau kilau di penuhi ketidaksabaran. Vien tersenyum penuh percaya diri, ia kini memakai pakaian terindah di dunia kecil ini. Gaun gelap khas yang menyerupai Vampir.


Xaver mendekati Vien, jarinya menunjuk gelas anggur yang memiliki cairan merah. "Vien! Vien! Apa ini darah?!"


Wajah Vien berkerut masam. Ia mengira setidaknya akan berhasil menggoda Vampir konyol itu. Siapa yang mengira bahwa yang membuatnya tergoda malah segelas darah?


'vampir konyol ini tidak lebih dari tukang makan sejati! Huh! ' batin Vien.


Vien melihat ekor Humanimal serigala itu berkibas kibas seperti kipas angin. "Vien! Cepat katakan apa ini darah?"


Vien menganggukkan kepalanya. "Bolehkah aku meminumnya?"


"Boleh, Boleh, sekarang hentikan kibasan Ekormu, atau barang-barang di belakangmu akan terbang." Ujar Vien.


Xaver melirik ekornya. "Ups, maafkan aku"


Mata kiri Vien berkedut-kedut saat melihat ekor Xaver yang tidak berhenti bergerak. "Ubah dirimu menjadi Vampir atau aku akan membuatmu menjadi vampir panggang."


"O-oke.."


Dengan kedipan mata Xaver segera berubah menjadi Xaver versi Vampir. Vien menatap penampilan Vampir Xaver. Elegan tanpa adanya ekor yang bergoyang. Penampilan inilah yang paling di sukai Vien.


"Vien bagaimana dengan ingatanmu?" Tanya Xaver dengan nada serius.


Vien menatap mata merah Xaver. "Aku masih tidak mengingat apapun, yang aku tau hanyalah, aku adalah jiwa yang tersesat. Aku seorang Vampir wanita. Dan aku berasal dari dunia yang sama denganmu. "


"Lalu bagaimana dengan nama atau ingatan tentang apa yang kau lakukan sampai kau tersesat di dunia-dunia lain ini?" Tanya Xaver lagi.


"Tidak, aku belum ingat bagian itu. Begitu ekstrak jiwa yang ku kumpulkan di tubuhmu sempurna, aku akan bisa mengingat semuanya. " Ujar Vien.


Lalu Xaver melanjutkan minumnya. Vien memberikan sesuatu di sebuah piring. Ada potongan kotak kecil-kecil di atas piring seperti coklat. "Um... Apa ini?"


Vien tersenyum. "Coba saja, aku tau tukang makan sepertimu pasti akan suka."


Xaver menggigit satu potong benda kotak itu. Si vampir tukang makan mulai membersihkan isi piring lagi. "Bagaimana kau membuatnya Vien? Rasanya mirip darah, tapi beku dan keras."


"Itu memang darah. Darah yang di bekukan."


Xaver tertarik dengan topik ini. Ia bertanya lagi. "Bagaimana kau membekukannya?"


"Dengan Bisa dariku" ujarnya santai.


"Ffttt!!" Xaver menyemburkan darah yang ia minum di gelasnya. Membuat wajah Vien di penuhi darah.


"Bisa itu racunmu kan?"


Vien menyeka darah di wajahnya dengan lap. "Benar, kenapa?"


"Tapi Vien, apa aku akan baik-baik saja? Maksudku bisa itu apa tidak membuatku menjadi batu atau semacamnya?" Xaver tampak khawatir. Karna ia sudah makan begitu banyak potongan darah beku.


"Aku bukan Medusa, apa yang kau khawatirkan? " Ujar Vien kesal.


Xaver menghela nafas lega. Vien mendekatinya, lalu menarik tangan Xaver. "Ruangan ini berisi makanan yang aku olah untuk diriku. Jika kau suka, kau boleh membawa beberapa. Sekarang aku akan membawamu pergi lagi."


Vien menarik tangan Xaver ke tempat lain. "Ini benar-benar ku siapkan untukmu sayangku, ini hadiah pernikahan dariku untukmu" Vien memeluk lengan Xaver.


Yang di lihat Xaver adalah sulur merambat aneh, yang di temuinya sebelum mencapai puncak gunung. Hanya saja dalam jumlah besar. Xaver sendiri merasa jijik melihatnya. Mereka saling membelitkan diri satu sama lain.


Melihat ekspresi kecut Xaver yang terlalu kentara, Vien tidak senang, ia menyikut perut pemuda itu. "Ugh..."


"Apa-apaan ekspresi mu itu!" Vien merubah kakinya menjadi ekor ular, lalu melilit tubuh Xaver.


Tangannya mengambil salah satu sulur hijau. "Buka mulutmu!"


Xaver menutup mulutnya rapat-rapat, lalu menggelengkan kepalanya. Terlalu menjijikan saat melihat sulur itu bergerak-gerak seperti ular. Xaver merasakan rasa nyeri di bahunya, yang membuat tubuhnya terasa lemah. Xaver tau ulah siapa itu, saat melihat seringai di wajah cantik Vien.


"Aku tidak mau! Vieeen! Jauhkan benda itu dariku!" Xaver mencoba sekuat tenaga untuk menjauhkan kepalanya dari tangan Vien.


Vien segera memasukkan sulur itu ke mulut Xaver saat mulutnya sedang terbuka. Sulur itu tertusuk taring Xaver. Cairannya meluber ke mulutnya, membawa aroma unik dari darah Humanimal yang khas. Xaver berhenti meronta, Vien juga melepaskannya.


"Bawalah semuanya, setiap sulur punya rasa darah yang berbeda. Aku telah mengelompokkannya dan mengikat masing-masing. Aku juga menyimpan sulur kosong tapi hidup di dalam cincin ini. Kau bisa menggunakannya untuk menyimpan darah. Ini mirip dengan kapsul darah milikmu, bedanya konsentrasi darahnya sangat murni."


"Hadiah Yang bagus!"