Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
SPECIAL CHAPTER 1.2



Special chapter 1.2


Serena terus mengikuti Xaver kemanapun Xaver pergi. Saat itu bulan telah naik, Avir kecil membakar potongan kayu untuk menghangatkan suhu malam hari. Serena melirik Xaver yang asik mengusap kepala naga kecil. Saat itu perut Serena mengeluarkan suara geraman yang membuat Avir dan Xaver kaget.


"Em... Tuan Vampir... Aku... Lapar." Serena bergerak-gerak gelisah. Ia telah mengikuti Xaver dan Avir seharian, dan belum pernah ia melihat Xaver membawa sesuatu yang dapat di makan oleh Vampir atau Drakula.


Tanpa menunggu Xaver, Serena menerjang Xaver. Xaver di buat terjatuh dan Serena mengunci pergerakan Xaver dengan lantunan kalimat sihir. "E-eren?! Apa yang akan kau lakukan?"


"Tuan Vampir tenang saja, aku melihat Kakak Ipar ku melakukan ini dengan Kakak. Ku pikir seharusnya aku bisa meminum darah Tuan Vampir barang sedikit saja, agar aku tidak haus." Serena mengusap bahu Xaver.


Serena melihat Xaver yang wajahnya memerah dan sedikit panik. Serena mulai membuka pakaian atas Xaver. Xaver masih mencoba untuk bebas dari sihir pengikat ini. Serena merasakan sebuah benda memasuki mulutnya entah dari mana. Benda kecil itu meletus saat menyentuh lidahnya. Rasa yang melalui lidahnya adalah rasa darah yang ia rindukan.


"Hm... Ini darah? Berikan aku lagi! Aku sangat Lapar!" Serena melihat wajah Xaver yang memerah.


"Lepaskan tubuhku dan akan ku berikan semua yang Eren inginkan." Ujar Xaver.


"Oke!" Serena beranjak turun dari tubuh Xaver. Ia juga melepaskan mantra pengikat yang ia lantunkan.


Xaver mengenakan pakaiannya kembali. Lalu membuka genggaman tangannya, dan lima kapsul darah muncul di sana. "Apa ini?"


Serena bertanya dengan rasa ingin tau di wajahnya. "Ini Kapsul darah, yang baru saja kau makan. "


Serena mengambil satu, sayang sekali rasanya melihat benda selangka kapsul darah itu di makan habis. Namun kini ia sangat Lapar, lalu Serena mulai menghabiskan seluruh kapsul darah yang ada di tangan Xaver. Xaver memegang bahu Serena, sepasang mata Merah Xaver juga memancarkan binar serius.


"Eren..."


Seolah memikirkan sesuatu wajah Xaver memerah. Melihat kegugupan Xaver, Serena mengira mungkin Xaver akan menyatakan cinta kepadanya. Ia sedikit berharap juga sih.


"Ku mohon, lain kali jangan mengintip ke kamar Kakakmu." Wajah Xaver memerah malu saat mengatakan itu.


"Hm? Memangnya kenapa? Kakak saja yang lupa mengunci pintu. Jadi aku melihat semuanya." Ujar Serena polos.


Melihat wajah merah Xaver, Serena pun bertanya dengan rasa ingin tau. "Memangnya apa yang di lakukan Kakak dan Kakak Ipar?"


Xaver tampak ragu ingin menjawab apa. "Begini saja. Itu di sebut Penandaan, ini ritual di mana setiap pasangan akan bertukar feromon untuk membentuk sebuah ikatan suci. Dengan adanya ikatan suci, baik kau atau pasanganmu akan saling mencintai dan takkan terpisah untuk selamanya."


"Wah! Kalau begitu aku ingin melakukannya juga! Bagaimana caranya?!" Serena terdengar bersemangat saat ini. Jika saja ia tau bukankah ia bisa menandai Xaver agar Xaver bersamanya.


"Untuk apa? Memangnya Eren punya seseorang yang di sukai?"


Serena mengangguk, lalu ia memamerkan senyumnya. "Aku menyukai Tuan Xaver! Aku ingin kita bersama selamanya seperti Kakak Laki-lakiku dan Kakak ipar!"


"Hah! Ti-tidak bisa begitu!" Xaver berseru dengan sedikit terkejut, namun Serena tidak melihat penolakan di matanya. Serena hanya melihat kebingungan yang tampak sangat jelas.


"Memangnya kenapa?" Serena berkata lagi.


"Harus pasangan yang telah menikah, tidak bisa sembarangan begini..." Xaver berkata dengan nada bingung.


Xaver berpindah ke sisi Avir yang sedikit jauh dar Serena, itu membuat Serena kesal. "Tapi aku menyukai Tuan Vampir!" Serena merentangkan jemari lentiknya dan sebuah sihir pengikat muncul mengikat tubuh Xaver. Xaver tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Avir hanya asyik mengunyah dan melihat dua mahluk di depannya sebagai tontonan. "Aku akan membawa Tuan, ah tidak, Kak Xaver bertemu Kakak laki-lakiku! Kita akan menikah di kastil besar keluarga Darkseala! "


Serena menarik kerah pakaian Xaver yang terikat, agar kembali duduk di sisinya. Namun hujan menginterupsi kegiatan mereka. Xaver melihat hujan yang semakin melebat. Serena mulai kedinginan dengan tubuh yang menggigil. "Eren, buka tali ini dan aku akan membawamu berteduh." Xaver berkata pelan.


"Tidak! Nanti Kak Xaver kabur!" Eren menolak.


"Aku tidak akan kabur." Ujar Xaver.


"Janji ya?" Eren memastikan.


"Janji! Cepat buka! Kasihan Avir! Ia masih terlalu kecil, nanti ia sakit!" Xaver melirik Naga kecil yang mulai menggigil. Karna Serena juga mulai merasa dingin, ia pun membuka sihir pengikat itu.


Gua itu terlalu kecil. Mereka bertiga akan cukup muat untuk bersama di dalamnya. Tapi langit-langit guanya rendah sehingga air hujan akan merembes mengenai mereka. Serena memeluk dirinya karna dingin.


Melihat Xaver berubah menjadi naga besar, Eren menjadi sangat takjub sekaligus terkejut kepada Pria Vampir itu. "Wah! Perubahan wujud?! Itukan kemampuan khusus milik Drakula laki-laki! Bagaimana bisa Kak Xaver melakukannya?! Apakah Kak Xaver adalah Drakula?! Tapi itu mustahil! Satu-satunya Drakula laki-laki yang tersisa di dunia ini hanya Kakakku"


"Bagaimana jika aku katakan aku adalah seseorang dari masa depan?" Ujar Naga besar.


"Aku tidak percaya! Kakak jangan beromong kosong! Aku tidak percaya dengan hal yang seperti itu!" Serena menolak untuk percaya.


"Hahaha... Terserahmu saja Eren. Tapi aku serius loh.." Serena memang melihat keseriusan di mata Xaver.


Serena semakin menatap naga besar dengan tatapan pemujaan yang begitu jelas, hingga terasa sulit untuk di abaikan. "Pokoknya kita harus menikah! Kakak Sangat keren, aku tidak ingin di dahului orang lain!"


Xaver melirik Drakula muda di depannya. Xaver hanya mengulurkan cakar besarnya untuk mengusap kepala Serena. "Sudah, tidurlah. Istirahatkan tubuhmu, jangan meracau tidak jelas lagi. Lanjutkan ceritamu besok saja saat seluruh energimu telah terisi penuh."


Xaver berkata saat melihat Avir yang telah tidur, dan melihat Serena yang terus saja menguap lebar. Xaver pun ikut tidur setelah melihat dua mahluk yang lebih muda darinya tidur.


Hari berikutnya telah Tiba. "Ayah aku ingin makan!" Avir bangun sambil berteriak, itu juga membuat Serena segera terbangun.


Serena menatap Xaver yang telah berubah ke bentuk Vampir. Serena melompat ke pelukan pemuda Vampir. Lantas mengucap selamat pagi dengan senyuman indah. "Se-selamat pagi juga. Sekarang lepaskan pelukanmu, jangan meremukkan tulangku!"


"A.. maafkan aku Kak Xaver. Aku terlalu bersemangat! Biarkan aku yang mencarikan permata untuk Avir!" Serena berbicara sambil membelakangi Xaver.


Serena bersemangat saat ini. Ia berencana untuk membawa Xaver ke Kastilnya. Merasakan kesenyapan dan udara dingin perlahan meninggalkannya, Serena berbalik. Ia melihat dua pria berbeda jenis itu sedang menjauh perlahan darinya.


"Ingin kabur? Ini Serena Darkseala! Jangan pikir bisa kabur dariku." Serena merenggangkan telapak tangannya, lantas sebuah tali berwarna emas terang melesat.


"Wah!" Xaver terkejut saat melihat tali emas itu.


Dengan cepat pria vampir itu menggendong Avir dan kabur dengan kecepatan angin. Serena menyeringai. "Heh... Coba lihat siapa yang lebih cepat."


Xaver yang sudah merasa aman, tertangkap di bagian kaki. Wajah pucat pria vampir itu semakin kehilangan warnanya. Avir melihat Ayahnya yang di seret oleh Serena, tentu ia hanya turut mengikuti. Xaver merasakan tubuhnya menjadi kaku, hanya kepalanya yang mampu bergerak itupun hanya sedikit.


Serena mengusap Wajah Xaver di bagian pipi. "Kak Xaver ku tercinta, engkau takkan mungkin dapat kabur dariku. Drakula wanita memiliki kemampuan khusus juga, yakni sihir, kutukan, mantra, ramuan, dan segala yang berhubungan dengan magis. Kamu harus tau aku juga berperan besar dalam pembentukan dunia ini. Engkau yang hanya separuh Drakula tak mungkin bisa lepas dari cengkraman sihirku. "


Serena merapal sesuatu dengan suara berbisik. Xaver melirik Avir yang hanya terbang mengikuti. Ia menyerah, tak mungkin ia dapat kabur saat ini.


Xaver hanya bisa menyerah saat Serena menyeretnya melalui sebuah portal berwarna Magenta. Xaver tidak tau dimana ia berada sekarang. Tempat ini cukup senyap sebenarnya. "KAKAAAAAAK!"


Suara teriakan Serena menggema di setiap lorong kastil. Langkah kaki terburu-buru mulai memasuki pendengaran Xaver. Senyum bersemangat di wajah Serena tampak berkilau pagi itu. Kesuraman Xaver juga mewarnai hari itu. Arthur berlari terburu-buru saat mendengar teriakan khas adik bungsunya.


"Kakak! Aku sudah mendapatkan pengantinku!" Serena berbicara sambil menepuk kepala Xaver.


Arthur melihat Vampir pria yang terikat dengan sihir. "Vampir?"


"Dia bukan Vampir biasa! Sepertinya dia separuh Drakula!" Serena berkata dengan semangat.


Arthur melihat adik kecilnya. Yang terlihat bersemangat. Ia tau betul bagaimana sikap dan sifat adiknya. Putri Drakula belum pernah sesemangat itu dalam hidupnya. Jadi apa yang membuat Serena sangat menyukai Vampir ini. Begitulah isi pikiran Arthur.


Tapi ia akan senang bila adiknya senang. Lagi pula gadis bebal ini telah memasuki usia menikah. Namun ia tidak kunjung menikah. Kini ia sendiri datang dengan pria untuk menjadi pengantinnya. Tentu saja Arthur sangat senang.


"Oke! Kakak akan segera mengatur acara pernikahannya!" Arthur berseru.


Melihat Arthur akan segera pergi, Xaver segera menghentikannya. "Tunggu!"


"Ini harus di bicarakan dengan baik. Eren lepaskan aku, aku ingin berbicara empat mata dengan Kakakmu." Ujar Xaver.


Arthur mengangkat satu alisnya. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. Serena melepaskan Xaver dengan perasaan tidak rela. Rasanya Xaver akan segera pergi, jika kali ini ia tidak memegangnya erat di sisinya.