Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
RETURN



Chapter 33 return


"Eren aku tau kau masih di sana. Setelah kunjungan singkat kita, apakah kau telah mengingat ingatanmu?" Xaver bertanya saat ia berada dalam portal.


"Ingat, tentu aku ingat. Setelah kepergianmu saat itu, aku merasa sangat sedih. Saat itu aku tau kalau di matamu kau memiliki orang lain yang kau cintai. Tapi egoku tak tahan setiap kali memikirkannya. Aku bertekad kalau aku akan mendapatkanmu apapun caranya. Setelah Kakak akhirnya jujur tentang portal yang membawamu, aku mulai menciptakan sihir untuk keluar dari dunia ini dan mencarimu. Hanya untuk membawamu kembali dan menjadikannya milikku. Sehingga ingatanku memudar dan kau sendiri datang menjemputku. Siapa yang tau ternyata orang di hatimu sejak dulu adalah aku? Sebenarnya sedikit miris tapi aku sangat senang. "


Xaver merasakan udara hangat yang menggebu di jantungnya. Xaver hanya menghela nafas. Akan ada ujian berikutnya, Keluarga Van Zeander. Keluarganya pasti tidak akan tinggal diam saat mengetahui kepulangannya.


"Lalu apa yang terjadi mengapa kau hanya roh sekarang?" Xaver bertanya.


"Sihirku tak secanggih teknologi milikmu Tuan Vampirku. Aku hanya dapat mengirim jiwaku ke banyak dunia. Tapi aku melupakan jalan kembali. Hingga beginilah jadinya. Aku sangat senang ketika orang yang aku cari mendatangiku. Yang pasti sekarang aku tau, kalau kau takkan pergi meninggalkanku lagi." Eren berujar saat melihat portal terbuka.


Xaver muncul di tempat ia pergi. Tepat di salah satu atap bangunan keluarga Zingle. Xaver tidak tau sudah berapa lama ia pergi, tapi poster tentang hilangnya dirinya tersebar di mana mana. Bahkan di kediaman Zingle. Xaver segera meninggalkan kediaman itu sebelum ada seseorang yang mengenalinya.


Ia memang ingin kembali ke dunianya sejak insiden sengatan matahari saat itu. Tapi ia masih belum ingin pulang. Saat ini jiwa Eren sudah sepenuhnya meninggalkan Xaver. Tapi tanda itu masih ada di bahunya. Dan menurut yang Xaver tau tanda itu takkan menghilang hingga ia tiada.


Avir melihat Ayahnya yang segera pergi, ia pun segera mengikuti. Xaver pergi dengan cepat ke kota perbatasan. Di sana ia turun ke salah satu gang sepi. Xaver berubah ke bentuk Naga di dunianya. Itu tak jauh berbeda dari bentuk Avir.


"Mengapa Ayah menyamar?" Avir bertanya saat melihat penampilan Ayahnya.


"Aku tidak ingin di temui Ayah dan Ibu. Mereka pasti mencariku. " Ujar Xaver sambil membenahi pakaiannya.


"Bukankah Ayah sama dengan Ibu? Ayah kabur seperti Ibu yang kabur dari kastilnya." Naga kecil bermulut pedas lagi-lagi mencibir.


Xaver hanya melambaikan tangannya. "Ini berbeda. Aku menuntut kebebasan. Sedangkan Eren... Entahlah. Sekarang ayo kita cari energi dunia untuk kau makan. Seingatku kau belum sarapan bukan?"


Terbujuk oleh makanan, Naga kecil akhirnya hanya mampu mengangguk dan mengikuti kemana Xaver pergi. Jauh dari mereka, ruang makan yang suram di penuhi oleh para Vampir wanita yang menunduk lesu.


Azeris Ayah dari Xaver, datang ke ruang makan. Waktu makan siang telah tiba dan mood semua orang sedang buruk sekarang. Apa lagi Eve. Kepergian Xaver membuat dirinya sedih. Sebagai seorang Ibu rasa rindu bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi. Rindu itu ada, dan itu telah merasuk dalam hatinya hingga hari ini.


Azeris tak tahan melihat istrinya bersedih hati. Ia menepuk bahunya sembari menghibur. "Eve, berhenti bersedih. Aku dan Xirish sedang berusaha. Jika seandainya Xaver tau kau begini, aku yakin dia malah tidak ingin pulang. "


Eve menatap suaminya. Lantas memeluknya untuk meredakan kesedihan. Azeris dan Xaver memiliki banyak kesamaan di wajahnya. Memeluknya dapat meredakan rindu berat di hati Eve.


"Ayah! Ibu!" Xirish berteriak begitu keras hingga suaranya menggema. Di seluruh ruangan.


Azeris hanya melirik tajam kearah putrinya. Xirish mengabaikannya dan segera berlari menuju kedua orang tuanya. "Aura Xaver! Aku merasakannya di sekitar rumah sepupu zingle!"


Wajah sedih kedua orang tuanya terlihat di penuhi keterkejutan. "Jika itu benar mungkin saja ia sudah pulang! Ayo semuanya bantu cari saudara kalian!" Azeris berteriak kepada sepuluh putrinya.


Juga sangat jauh dari keramaian, berdiri sebuah kastil tua yang bergaya modern. Di sanalah tempat tinggal leluhur Vampir. Tak sembarangan mahluk boleh berkunjung. Hanya orang orang tertentu saja yang boleh memasuki kediaman Darkseala.


Serena Darkseala yang keberadaannya di sembunyikan dari umum, kini telah membuka matanya. Ada senyum cantik yang mengembang di wajahnya. Tidurnya yang sangat lama membuat tubuhnya masih tetap pada ukuran sama.


Eren membuka peti matinya dengan hati riang! Ia telah berhasil pulang! Ia juga telah berhasil menemukan kasih tercintanya. Kini adalah saat membangunkan Kakak laki-lakinya. Eren melompat keluar dari petinya. Dengan terbatuk-batuk ringan, ia mengawali langkahnya. Seorang pelayan tua terkejut melihat kehadirannya, hingga sapu yang di pegangnya terjatuh ke lantai.


"Ya-Yang Mulia putri!" Saking terkejutnya ia, tubuh vampir tua itu terjatuh ke lantai.


Eren segera melangkah ke kamar kakaknya. Ada sepasang peti kayu gelap terletak di kamar itu. Eren menendang keduanya sambil berteriak keras. "BANGUUUUUUUNNNN!!!"


Suaranya sangat keras hingga Drakula dan Vampir di peti terbangun. Saat membuka tutup petinya. Arthur terkejut sekaligus senang. Arthur yang rambutnya telah memutih di beberapa tempat, meneteskan air mata rindu. "Ereeen! Adikku tersayang telah kembali!"


Telah sangat lama sekali Serena tertidur begitu lama. Bahkan Anak cucu Darkseala telah banyak menemui ajal. Begitu banyak masalah dan perang telah terjadi, peti mati Serena tetap di pertahankan. Akhirnya setelah sekian lama, Drakula wanita itu kembali terbangun.


Arthur sempat mengira, Adiknya telah tiada akibat energi kehidupannya yang nyaris tidak ada. "Kakak! Aku berhasil bertemu Kak Xaver!"


"Benarkah?!" Arthur sangat senang. Rasanya baru kemarin Eren bersedih karna kepergiannya, kini Eren bergembira karna kehadirannya.


"Kak kau tau apa? Aku telah menandainya! Jadi dia hanya akan menjadi milikku! Hahahaha... Aku tak perlu khawatir di dahului orang lain lagi." Eren menyeka air mata yang menggantung di sudut matanya.


Arthur menepuk bahu Eren. "Itu bagus! Kali ini Kakak berjanji akan mengikatnya ke pernikahan dan menjadikannya pengantin priamu! Kakak takkan membiarkannya kabur lagi."


Eren menatap Kakak laki-lakinya yang sudah terlihat sangat tua jika di bandingkan dengan terakhir kali ia melihatnya. "Kakak teihat sangat tua, tidak terbayang olehku kalau aku akan menikah dengan keturunan Kakak."


"Hahaha... Tidak apa-apa. Sejak Xaver memperlihatkan wajahnya kepada Kakak, Kakak telah menganggapnya Adik ipar. " Arthur mengacungkan satu jempolnya ke adiknya.


Arthur melihat sekali lagi adik perempuannya dari atas ke bawah. "Eren! Kau sudah sangat besar rupanya! Kau akan menikah sebentar lagi! Kakak tidak tau ternyata melepaskan kepergian Adik perempuan itu sangat sedih."


"Kak semuanya belum selesai. Aku masih harus menemukannya lagi. Selama ini Xaver masih punya kebiasaan yang sama. Yaitu melarikan diri dariku. Selain itu aku juga harus mengenal dengan baik keluarga Van Zeander. Bahkan jika mereka tidak menerimaku, Xaver masih akan tetap menerimaku! Aku yakin itu. "


Arthur ingat kalau kehadiran Serena sebagai Adiknya hanya di ketahui beberapa orang. "Em... Eren, sepertinya Kakak masih harus mengenalkanmu kepada dunia. Barulah semua hal yang kau inginkan boleh di lakukan. "


Arthur berkata dengan berbisik. "Kakak menyembunyikan kehadiranku dari umum?"


"Be-begitulah..."