
Chapter 26 Xaver and his little son.
Xaver sedang menghadapi sesuatu yang di sebut kebingungan. Mengapa Naga kecil memakan kulit telurnya sendiri?
Kelelawar hologram bertengger di bahu Xaver. Ream berkata sembarangan. "Mengapa tidak di beri nama saja Master?"
Benar juga. Xaver belum memberinya nama. Xaver mulai memikirkan sebuah nama yang sempurna untuk Naga kecil. Ia menatap Naga kecil yang bersisik hitam dengan mata yang berwarna merah menyala. Sosok Naga kecil begitu serupa dengan sosok Xaver versi Naga.
"Aku akan memberinya nama Avir."
Naga kecil meraung senang, ia menyemburkan Api hitam kemerahannya ke wajah Xaver, lagi. Xaver tidak suka bagian ini. "Hm... Mungkin ia masih harus belajar. Ream Carikan dunia yang santai. Kalau bisa yang tidak ada Eren di dalamnya. Jadi aku bisa membesarkan Avir kecil dengan baik."
Ream hanya mengangguk misterius, lalu mengepakkan salah satu sayapnya ke ruang di depannya. Dan sebuah portal terbuka. Xaver merasakan rasa jatuh bebas yang familiar. Karna ia memang jatuh bebas! Untungnya Xaver bereaksi cukup cepat kali ini. Ia merubah dirinya menjadi Naga besar. Tapi karna masih belum terbiasa untuk terbang dengan tubuh Naga, lagi-lagi Vampir konyol itu hanya dapat membuat kekacauan.
Xaver terbang seperti Naga yang sayapnya patah. Dan ia menimpa Naga hitam keunguan yang terbang di bawahnya. Dua Naga besar terjatuh dengan suara 'Bam' yang keras. Untungnya Avir kecil yang pintar, telah belajar mengepakkan sayapnya. Ia terbang di atas kedua Naga besar. Lalu mendarat di kuku Xaver.
"Ayah adalah penerbang yang payah!" Ujarnya.
Xaver segera bangun dari jatuhnya. Mengabaikan Naga kecil yang terus berkicau kalimat ejekan yang di tunjukkan kepadanya. Xaver membantu Naga yang ia timpa untuk berdiri. Diliputi Rasa bersalah, ia hendak meminta maaf kepada Naga itu. Tapi apa yang di katakan Naga itu membuat dirinya terkejut.
"Karna sebelumnya aku tak punya waktu untuk mengajarimu terbang, maka di dunia ini aku akan mengajarimu." Ujar Naga hitam keunguan itu.
"E-eren?!"
Naga hitam keunguan mengangkat bahunya. "Ya, siapa lagi yang kau harapkan? Ini aku my Darling."
"Ya Ayah! Karna ada Ibu di sini kita harus bermain lebih lama!" Avir terbang dengan gembira. Api hitam kemerahan juga menyembur lagi, kali ini ke udara.
"I-ibu?"
"Ya! Aroma Nyonya Naga serupa dengan Ayah! Kak Ream juga memanggil Nyonya Naga dengan sebutan Madam, jadi Nyonya Naga seharusnya adalah Ibu!"
Xaver masih dalam masa keterkejutan. Sedikit hatinya tidak rela saat melihat dua 'Putra'-nya telah berpindah hati begitu mudah kepada Eren. 'Kalian berdua meninggalkanku?!' Xaver bertelepati kepada dua 'Putra'-nya.
'Keputusan Madam adalah yang pertama. Maafkan Ream Master. Madam tidak memaafkan penolakan. Tapi Master jangan khawatir, dunia ini masih dunia santai seperti yang Anda inginkan.' Ream menjawab Xaver.
"Ibu sangat hebat! Dia pasti bisa mengurus aku dan Ayah bersamaan! "
Eren memeluk bahu Xaver. "Mereka berdua telah berbicara. Sekarang ayo ikut denganku. Kau pasti ingin beristirahat bukan?"
"Ya, aku sedikit lelah." Xaver merasa tidak sehat. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Naga berwarna hitam keunguan itu.
Dan saat itu Matahari muncul di sela-sela Awan. Matahari di dunia ini tidak membakar Xaver, tapi membuat tubuhnya melemah. "Eren... Aku merasa lemah... Ini bukan ulahmu kan?"
"Tidak, kali ini bukan."
Xaver berubah ke bentuk Vampir. Dan jatuh lagi ke tanah. Sinar Matahari tidak memasaknya menjadi Vampir panggang. Tapi memakan energi Xaver, dan menjadikan Xaver sangat lemah hingga tak mampu berdiri.
"Avir masuklah ke cangkang telurmu, aku akan membawamu dan Ayahmu." Ujar Eren.
Naga kecil mengangguk patuh. Naga besar berwarna hitam keunguan itu membawa Avir di cakar kanannya dan Xaver di cakar kirinya.
Eren memasuki rumahnya. Setelah meletakkan Xaver dan naga kecil di tempat tidur, Naga besar berwarna hitam keunguan itu duduk dengan perasaan lelah. Ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar menyukai Xaver? Atau ia hanya memanfaatkan Pria itu untuk tujuannya? Dengan ingatan yang tak sempurna, terlalu sulit untuk mengetahui jawabannya.
Naga besar itu berubah ke bentuk Humanoid dan melangkah ke sisi Xaver. Eren membuka pakaian Atas Xaver dan mengirim seluruh ekstrak jiwa miliknya. Setelah ia selesai, ia mencium bibir Pria yang tak sadarkan diri sebagai ciuman perpisahan. Lantas Wanita itu menghilang seolah tak pernah ada.
Tak butuh waktu lama bagi Xaver untuk bangun. Ia bangun dengan tubuh yang di penuhi energi. Tapi mengapa pakaiannya terbuka? Ia menghela nafas panjang saat melihat sedikit liur di tanda yang ada di bahunya. "Ream, berapa banyak ekstrak jiwa Eren di tubuhku?"
Xaver bertanya sambil memijat kepalanya yang berdenyut-denyut. "
"Kadar ekstrak jiwa Madam telah mencapai 100% Master."
"Bertambah? Lalu apakah Eren di dunia ini masih ada?" Xaver bertanya dengan nada sedikit sendu.
Ream segera menjawab. "Tidak Master, Madam telah memberikan seluruh ekstrak jiwa yang tersisa dan menghilang. "
Xaver sedikit kesal. Ia membaringkan tubuhnya lagi di tempat tidur besar itu. "Lalu dengan siapa aku belajar terbang? Eren selalu datang dan pergi seenaknya."
Saat itu terdengar suara tawa seorang Wanita di pikiran Xaver. "Hihihi... Siapa yang datang dan pergi pengantinku? Aku atau kau? "
Anehnya Mood Xaver segera naik setelah mendengar suara itu. "Eren?!"
"Ya, ini aku. Apa Tuan Vampirku merindukanku?"
Saat itu wajah pucat Xaver di warnai dengan warna merah muda. Ia terlalu malu untuk mengakuinya. Xaver merasa dirinya seakan telah meminum ramuan cinta. Kini ia memenuhi seluruh permintaan Eren sepenuh hati.
'Jiwa Madam telah secara sempurna bersemayam di tubuh Anda, Master. Sama seperti Ream yang bersemayam dalam EAC-Drime. Kini Madam dapat mendengar dan merasakan apa yang Anda dengar atau rasakan.' Ream menjawab kebingungan Xaver.
Xaver melirik Naga kecilnya yang masih asik memakan kulit telur. Karna rasa ingin taunya, Xaver mematahkan potongan kecil kulit telur, dan memakannya. Sebenarnya rasa kulit telur itu manis seperti susu. Namun Xaver adalah Vampir penyuka darah. Memakan benda selain darah hanya akan membuat selera makannya turun.
"Lalu dengan siapa aku belajar terbang?"Xaver bertanya untuk yang kedua kalinya.
'Tak jauh dari rumah itu ada seekor Naga tua yang bijak. Kau bisa belajar darinya. Sama seperti dirimu, ia tak bisa keluar di siang hari.' suara Eren menggema di kepala Xaver.
"Sebenarnya dunia apa ini? Mengapa ada begitu banyak Naga?"
'Seperti yang kau tebak sayang, ini adalah dunia Naga. Dunia ini adalah dunia paling kecil yang pernah kau jelajahi. Seperti namanya, tempat ini hanya berisi Naga. Serta, berhenti menggunakan bentuk Vampir saat berada dalam bentuk Humanoid. Ream tunjukan kepada Mastermu.'
Lalu sebuah panel hologram memancar dari EAC-Drime. Dan model Humanoid Naga di perlihatkan. Ada sepasang tanduk di kepala. Ekor Naga yang menjuntai. Serta sayap dan cakar Naga yang dapat muncul sewaktu-waktu. Dengan segera Xaver berubah mengikuti bentuk Humanoid Naga.
Avir tertarik dengan bentuk Humanoid Xaver. "Ayah terlihat lebih keren!"
"Itu kalimat baik pertama yang ku dengar darimu, Avir." Xaver mendekat dan mengusap kepala Naga kecil.
Avir selalu senang saat bersama Xaver atau Eren. Sangat senang hingga api-api hitam kemerahan menyembur mengikuti nafasnya. Dan sekali lagi itu terkena wajah Xaver.
"Oke! Hal pertama yang kau perlu pelajari adalah berhenti melampiaskan rasa senangmu melalui api. Ini Xaver Van Zeander, adalah Vampir. Tak akan terluka hanya dengan api Naga. Tapi jika yang kau sembur orang lain belum tentu ia akan baik-baik saja. Jadi berhenti melakukan kebiasaan buruk itu ya?"
Ini adalah teguran pertama yang di katakan Xaver kepada Naga kecil. Naga kecil adalah Naga yang pintar, ia dengan cepat mengerti apa yang di katakan 'Ayahnya'.