Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
THE SECRET BEHIND THE DRAGON WORLD



Chapter 27 The secret behind the dragon world.


"Ini bagus, Hari mulai senja, kita bisa mulai belajar terbang dengan Kakek Naga." Xaver berkata sambil menatap sinar jingga dari senja.


Avir masih mengunyah kulit telur. Ia melihat Ayahnya yang makan benda hijau menggeliat yang terlihat menjijikan. "Apa? Jangan menatapku seperti itu, kau pikir memakan kulit telurmu sendiri juga terlihat normal?"


Dua mahluk itu sama-sama merasa diri sendiri adalah normal. Di lihat dari sisi manapun mereka berdua tidak terlihat normal. Yang satu menghisap sari dari sulur hijau. Yang satunya lagi mengunyah kulit telurnya sendiri. Kesamaan mereka berdua hanya satu, yaitu tukang makan yang tak pernah gendut.


Melihat Senja yang sepertinya masih lama, Xaver memutuskan untuk tidur sebentar. Cita rasa darah Pegasus memang yang terbaik. Jika bisa ia juga ingin mencoba darah Naga. Tapi melihat Naga kecil sangat menyayanginya, ia kembali mengurungkan niat itu.


Melihat Ayahnya yang tidur, Avir juga ingin tidur. Ia keluar dari cangkang telurnya dan tidur di lengan Xaver. Meski Ayahnya sangat konyol dan terlihat bodoh, ia masih menyayangi Ayahnya. Dan Wanita yang ia panggil Ibu, meski ia terlihat apatis dan kejam, Avir tau ada cinta dan kasih sayang jauh dalam tatapannya. Avir sangat menyayangi kedua orang tua angkatnya.


Saat Cahaya bulan telah menerpa wajah dua mahluk berbeda ras itu. Mereka menggeliatkan tubuhnya untuk bangun. "Baiklah kita akan pergi belajar terbang. Apakah Avir ingin makan dulu?"


Naga kecil menatap Ayahnya. Sepertinya Ayahnya sangat menantikan Anggukan darinya. "Umm... Baiklah, aku sedikit lapar."


'Karna Ayah ingin makan, maka aku akan mengangguk.' Batin Avir.


"Itu bagus mari kita makan!"


Waktu berlalu sekitar tiga puluh menit. Dan dua pria berbeda ras itu kini siap untuk belajar terbang. Sebenarnya Avir bisa terbang, setidaknya ia lebih baik dari Ayahnya. Saat Xaver membuka pintu rumah Eren. Refleks ia melangkah ke depan.


"Ah rasa yang membuatku Dejavu... " Xaver kini berputar-putar di udara, singkatnya ia terjatuh bebas, lagi. Ternyata Rumah Eren di bangun di puncak sebuah pohon besar setinggi ratusan ribu meter di atas tanah.


"Ayah kepakkan sayapmu!" Avir berteriak saat ia terbang ke bawah.


Xaver mulai memunculkan sayapnya. Dan mencoba untuk terbang. Terbang berbeda dengan melayang. Jika kau melayang, kau hanya harus berfokus kepada kaki dan keseimbangan. Jika terbang dengan sayap, kau harus memperhatikan kecepatan kepakan kedua sayapmu. Dan harus di kepakkan bersamaan. Bagi Xaver yang pertama kali berubah rupa ke ke mahluk bersayap besar seperti Naga, itu termasuk sulit.


Sekali lagi ia harus menabrak Naga lain yang tidak bersalah. "Maaf! Sungguh maafkan aku!"


Avir telah ikut mendarat, ia turut meminta maaf kepada korban Ayahnya. "Maafkan Ayahku Tuan, ia penerbang yang buruk. Tanpa Ibu yang mengajarinya, Ia tak dapat berbuat apapun."


Mendengar dua Naga di depannya meminta maaf dengan tulus. Naga tua hanya tersenyum. Kakek Naga dalam bentuk Humanoid, di tanah terlihat keranjang tumpah yang isinya beberapa jamur. Avir kecil dengan sigap membantu Kakek tua mengumpulkan jamur yang berserakan.


Naga tua itu memiliki alis putih dan janggut yang panjang. Saat melihat cakar hitam kecil menyerahkan keranjangnya, ia sangat terkejut. Takut semua hanya ilusi, Kakek Naga mengangkat alis tebal yang menutupi mata tua nya. Berkali-kali ia menatap bolak-balik antara Naga kecil dan Naga dewasa di depannya.


"N-n-naga Hitam! Benar-benar Naga Hitam Murni! Bahkan ada Dua!" Kakek Naga berteriak dengan nada girang.


"Kakek, perhatikan tubuh tuamu, tawa bahagia mu terdengar hingga ke atas sini!" Seekor Naga remaja terbang turun dari salah satu rumah pohon.


Sama terkejutnya seperti Kakek Naga, cakar ya menunjuk Xaver dan Avir dengan tubuh gemetaran. "N-Naga hitam murni?!"


"Maaf, bolehkah saya tau apa yang membuat Anda berdua terkejut?" Xaver bertanya saat melihat kedua Naga di depannya tak lagi terkejut.


Namun yang di lakukan kedua Naga di saat berikutnya membuat Xaver dan Avir sedikit takut. Dua Naga berbeda usia itu sama-sama meraung dengan kepala menatap langit. Lantas menyemburkan Api mereka. Seolah Api itu adalah Sinyal tertentu. Tak lama setelah Raungan dan Api di tembakkan kan ke langit, banyak Naga dalam bentuk Humanoid dan Naga besar mengelilingi Xaver dan Avir.


Reaksi yang di tunjukkan juga sama, terkejut dan bahagia secara bersamaan. Avir mendekat ke sisi Xaver karna takut. Xaver menggenggam cakar kecil Avir. Naga tua Meraung dan berkata dengan perintah mendominasi. "Diam semuanya! Kalian bisa membuat dua tamu terhormat kita ketakutan."


Karna suatu Alasan yang Xaver dan Avir tidak ketahui, Warga desa Naga sangat senang hingga merayakannya dengan sebuah acara makan besar. Naga kecil tentu sangat senang, ada banyak hal baru di hadapannya. Namun karna ia adalah anak pintar, ia terlihat tenang meski sebenarnya ingin menyentuh semuanya.


Saat semua orang berpesta, Naga tua yang tadi mengajak Xaver dan Avir ke sebuah tempat. Tempat itu cukup sempit untuk ukuran sebuah ruangan. Dengan meraba dinding kayu, Kakek Naga telah mengaktifkan pintu ruang rahasia. Dengan api merah terang di tangannya, Kakek Naga memasuki ruangan terlebih dahulu. "Ayo, kalian berdua menunggu apa?"


Dua pria berbeda bentuk itu memasuki pintu ruangan rahasia, untuk mengikuti Kakek Naga. Kakek Naga berjalan ke tengah ruangan. Lalu melempar bola api di tangannya ke sembarang Arah. Setiap bola api itu menempel pada obor yang di pasang di dinding.


"Tuan, Kami telah tersesat di Ruang ini terlalu lama. " Nada bicara Kakek Naga terdengar serius. Xaver tak bisa tidak menegang.


"Ayahku berkata cara kami kembali hanya satu. Temukan Naga hitam murni. Dengan seluruh bagian tubuh hitam dan mata merah yang menyala. Dengan Api spesial mereka, akan tercipta sebuah gerbang kembali ke dunia kami. Tapi itu terlalu mustahil. Tak ada Naga hitam yang mampu hidup di Ruang ini."


"Jadi?" Xaver bertanya lagi.


"Kami ingin Anda dan putra Anda membantu kami membuka gerbang itu untuk kami. Kami akan lakukan apapun sebagai gantinya!" Kakek Tua terlalu bersemangat hingga ia terbatuk batuk. Xaver membantu menepuk punggung Naga tua.


"Ya... Itu terserah Putraku, jika ia setuju, maka aku akan setuju." Xaver menepuk punggung Avir.


Avir menatap tajam kepada Ayahnya. Xaver hanya memberikan cengiran tanpa ada rasa bersalah. "Kalau begitu aku ingin Ayahku yang payah ini di ajari terbang dengan baik! "


"Itu... Kalau bisa aku ingin beberapa tong darah Naga." Bisik Xaver.


Namun Naga tua masih dapat mendengarnya. Merasa permintaan Xaver terlalu aneh, Naga tua bertanya dengan rasa penasaran di hatinya. "Jika boleh tau untuk apa Tuan?"


"Untuk Ma-" sebelum kalimat Xaver selesai, Avir telah memukul perut Xaver dengan ekornya.


"Untuk bahan persembahan Kakek Naga, seperti pengorbanan. Apa Kakek Naga tau, mengapa hanya Naga hitam yang dapat membawa Kakek Naga dan yang lain keluar dari Ruang ini? " Avir si Naga kecil yang pintar berhasil menarik perhatian Kakek Naga.


"Aku tidak terlalu tau. Tapi Ayahku bilang Naga hitam murni itu istimewa. " Gumam Kakek Naga dengan mata yang di penuhi kerinduan.


Avir sedikit menghela Nafas. Melihat kekecewaan di mata Naga kecilnya, Xaver menepuk bahu Avir. "Jangan terlalu sedih, ada Ayahmu di sini, semua akan baik-baik saja."


Xaver berkata dengan senyum lebar yang di penuhi rasa percaya diri. Entah mengapa, Avir merasa Ayahnya yang biasanya terlihat konyol kini terlihat keren di matanya.