
Chapter 23 Become a pet
Qweny adalah naga yang bisa merubah dirinya ke bentuk remaja manusia. Ia lahir di masa kegelapan di mana energi gelap dari Dark abys telah menyebar, melahirkan banyak mahluk kegelapan. Xaver hanya bingung. Qweny adalah naga yang berpihak kemana? Ke Kuil yang memerangi kegelapan atau Dark abys yang ingin menelan segalanya?
"Xaver, ini adalah malam hari! Hari terbaik untuk berbuat kekacauan, berubah lah menjadi naga dan ikut denganku untuk bermain!"
Oke, Seharusnya pertanyaan itu sudah terjawab. Melihat Qweny telah berubah menjadi Naga, Xaver pun ikut mencoba. Dua Naga itu terbang bersama di langit malam yang gelap. Namun di tengah perjalanan, Qweny terbang lebih cepat. Ia meraung dengan api dalam nafasnya. Xaver tertinggal di belakang. Ini pertama kalinya ia berubah menjadi Naga, ia masih belum terbiasa dengan kepakan sayapnya yang besar.
Arah Qweny terbang adalah arah ke kota tempat Qweny mencuri. Saat Xaver berhasil sampai di atas kota, ia tak menemukan Qweny di manapun. Naga besar di langit tampak kebingungan.
Xaver tak menyadari bahaya besar yang mendekat kepadanya. Tak jauh dari Xaver ada sebuah kuil yang mirip dengan gereja. Namun lambang yang ada di bangunan itu adalah lambang Naga yang mengepakkan sayapnya. Pintu tua itu berderit terbuka dan seorang wanita dewasa muncul dengan tudung di kepalanya. Rambutnya berwarna biru laut yang indah. Dan sepasang mata yang berwarna emas. Wajahnya tampak apatis saat ia melangkah ke luar.
Raungan Xaver yang mencari Qweny terdengar menggelegar di langit malam. Wanita itu mendongak menatap sang Naga. Ada seringai saat ia menatap Xaver yang dalam bentuk Naga.
Dengan siulan khasnya, wanita itu memanggil tunggangannya. Ia menaiki seekor Pegasus putih. Ada permata emas yang melayang di tangan kanannya. Seringai jahat wanita itu tak pernah hilang dari wajahnya.
Xaver merasakan sebuah kehadiran yang auranya serupa dengan Qweny, namun aromanya berbeda. Firasat buruk segera membayanginya. Naga besar itu mulai mengepakkan sayapnya menjauh dari kota. "Aku takkan membiarkanmu kabur dengan mudah!" Gumam wanita aneh itu.
Ia menggenggam permata di tangannya dan sebuah cambuk bercahaya muncul di tangannya. Wanita itu mencambukkannya ke Xaver. Cambuk bercahaya itu melingkari leher Xaver. Dan untuk melepaskan dirinya Xaver berubah ke bentuk yang lebih kecil, bentuk Vampirnya. Siapa yang tau, cambuk itu tidak lepas namun masih tetap lengket di tubuhnya. Lebih tepatnya di lehernya.
Xaver mencoba melepaskan cambuk yang melingkari lehernya. Sebelum ia punya kesempatan itu, Wanita aneh itu menarik cambuk di tangannya. Xaverpun ikut tertarik ke belakang. "Ukh... Siapa.. kau!?"
Wanita aneh itu juga membuat Xaver tak sadarkan diri. Xaver di bawa ke sebuah ruang bawah tanah, yang mirip dengan ruang interogasi. Xaver sadar kembali saat merasakan panas di bahunya. Yang membuatnya terkejut adalah Wanita aneh itulah yang mengirim ekstrak jiwa. Bukankah Qweny adalah si Jiwa?
Xaver ingin menjauh namun tubuhnya berada dalam kondisi terikat. Tubuhnya di ikat ke sebuah kursi dengan tali yang di beri mantra. Bagaimanapun Xaver mencoba untuk melepaskan diri, segala cara takkan berhasil.
Wanita berambut biru itu menyadari Xaver yang bergerak-gerak. Ia menyeka sudut bibirnya, lalu mengecup pipi Xaver. "Kamu sudah bangun? Tuan Vampir?"
Di dunia ini yang mengenal dirinya sebagai Vampir hanya Jiwa wanita itu. "Bagaimana..."
"Bagaimana aku bisa ada dua?" Wanita itu menyela Xaver.
Xaver mengangguk pelan. "Aku hanya ada satu. Tapi di dunia ini, aku adalah Iblis bayangan. Bergerak dalam gelap dan tak memiliki Raga sejati. Namaku Rei. Tubuh Qweny baru saja tiada oleh wanita ini. Maka aku mengambil alih tubuh wanita ini. Bukankah yang ini cantik?"
Wanita berambut biru itu memutar tubuhnya di depan Xaver. Memang sih, tubuh di depannya adalah tubuh terindah yang pernah di huni si Jiwa. "Lalu mengapa aku di ikat?"
Wanita itu mengusap rambut Xaver. "Kau menampakkan diri sebagai Naga besar. Kemunculannya juga datang setelah Naga Qweny tiada. Orang-orang mengira kamu adalah Ayahnya. Jadi pemilik tubuh ini Carlina, salah satu penyihir hebat di kota harus menangkapmu."
Rei mengelilingi kursi Xaver. Tangannya yang lentik bergerak mengusap bahu Xaver. Seluruh bulu roma Xaver berdiri. Rasanya si Jiwa Wanita di dunia ini lebih mengerikan dari yang sebelum-sebelumnya.
Xaver melihat Rei menyeringai. Rei menangkup tangan kirinya di wajah Xaver. Ia tersenyum dengan tangan kanan yang mengusap tanda di bahu Xaver. "Hm... Mungkin di jadikan peliharaan, hehe.... Sekarang kan aku merasuki tubuh pihak Kuil. Iblis sepertimu hanya akan di musuhi, biarkan Nona ini menjagamu sebagai peliharaan, Xaver...."
Xaver meneguk ludah. Rei mendudukkan diri di pangkuan Xaver. Tangannya memeluk leher Xaver. Lalu di kecupnya rahang Xaver. "Hehehe... Jangan berpikir untuk kabur sayang, lagi pula aku belum mengirim sepenuhnya ekstrak jiwaku. Dan aku juga menonaktifkan Sistem Portalmu. Kau tidak bisa kabur dariku sayang~"
Saat kalimatnya berakhir, Xaver merasakan sebuah cumbuan yang penuh nafsu menutup bibirnya. Selain itu Xaver juga merasakan di sela cumbuan yang semakin dalam, tangan Rei mengikat sesuatu di lehernya. "Hm... Jwika... Au... Twerus... Begwitu... Aku bwisa... Mathi.. kehabisan naphas...." Translate : ("Hm... Jika... Kau... Terus... Begitu... Aku bisa... Mati.. kehabisan nafas...")
Xaver mencoba berbicara, namun Rei terus saja menahan kata-kata Xaver dengan cumbuan panasnya. Di detik-detik terakhir saat nafas Xaver hampir habis, Rei akhirnya melepas Cumbuannya. Xaver benar-benar bingung, mengapa saat berada di tubuh Carlina, Rei menjadi lebih agresif? Sementara saat Rei di tubuh Qweny dia bersikap baik-baik saja.
'Hilang sudah harapanku untuk bermain bersama sisi imut Si Jiwa.' batin Xaver.
"Oh iya! Bagaimana mungkin kau bisa menonaktifkan Ream?" Xaver bertanya saat ikatan yang mengikatnya di lepas oleh Rei.
"68% ekstrak jiwaku bersemayam di tubuhmu. Itu adalah hal mudah untukku, Tampan." Rei berkata sambil mencolek dagu Xaver. Tentunya Pria vampir itu berhasil menghindar dengan mulus.
"Ayo ikut denganku. Aku masih harus memenangkan beberapa hati orang banyak." Gumam Rei.
Rei mengangkat tangannya, lalu sebuah rantai besi muncul dari kalung Xaver. Xaver meraba-raba lehernya. Sebuah kalung besi yang mirip dengan kalung budak menghiasi lehernya. Sebelum ia sempat bereaksi, Rei telah menarik rantai di lehernya.
"Anda baik baik saja Nona Penyihir?" Seorang Pria tua dengan janggut panjang bertanya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. oh iya, Naga waktu itu, telah ku segel dan ku jadikan peliharaan. Kalian tidak perlu khawatir dia akan mengamuk. Dia ada di bawah kendaliku sekarang." Rei berkata sambil menarik rantainya.
'Berkerja samalah. Buat pandanganmu seolah kosong. Atau mereka takkan percaya.' Rei bertelepati kepada Xaver.
Xaver tidak tau berapa banyak kadar ekstrak jiwa dari si Jiwa itu di tubuhnya sekarang. Yang aneh adalah Xaver mematuhi permintaan atau perintah wanita itu tanpa syarat sekarang. Xaver tidak tau apakah ini baik atau buruk.
"Wah, ini bentuk humanoid Naga? Dia cukup tampan." Seorang wanita dengan pakaian putih, mengusap rahang Xaver.
Xaver masih mempertahankan tatapan matanya yang terlihat kosong. Dan gerak tubuhnya yang terkesan kaku. "Jauhkan tanganmu darinya Erlaine, Naga itu milikku!"
Rei menepis tangan wanita berpakaian putih. Jauh di dalam hatinya ia merasa gugup. Akankah ia bisa bertahan lebih lama? Karna dua wanita di depannya mulai bertengkar dan berdebat tentang banyak hal.