Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
BLACK DRAGON EGGS



Chapter 25 Black dragon eggs


Melihat waktu yang masih terlalu panjang untuk mencapai malam hari, Carlina mengira Xaver seharusnya lapar sekarang. Carlina mendekati Xaver. Xaver sangat Marah, takut, benci dan ingin Wanita di depannya mati. Xaver menjauh ke area gua bagian dalam. Ia berubah ke bentuk Naga besar agar rasa percaya dirinya kembali.


"Jauhi aku!" Wajah marah Naga besar itu membuat Carlina terpaksa menghentikan langkahnya.


"Aku tau kau lapar. Katakan padaku apa yang kau ingin makan." Carlina mencoba bersikap lembut.


"Aku tak sudi menerima makanan darimu! Lebih baik aku mati kelaparan di banding harus menerima makananmu!" Teriakan marah Naga besar itu hampir meruntuhkan gua.


Demi keselamatan dirinya dan sang Naga, Carlina berhenti berbicara atau mendekat. 'Master, tenangkan dirimu. Ream di sini'


Mendengar suara Ream yang kembali menggema di kepalanya, mood Xaver membaik. 'Master, Madam telah menyampaikan kepada Ream untuk melepas kalung di leher Master. Perintah itu akan sulit jika Master berada dalam kondisi mood yang buruk. '


Xaver tak mendengar bagian belakang kalimat. Tapi karna Ream telah aktif kembali, moodnya segera meringan. Dalam kepalanya terus berputar kata Madam yang di ucapkan Ream. 'Katakan kepadaku, siapa Madam yang kau maksud? Apakah itu Eren?'


'Benar Master. Kadar ekstrak jiwa Madam Eren telah melampaui angka 82%. Jika di bandingkan dengan Jiwa Master sendiri, kekuatan jiwa Madam Eren jauh lebih besar. Di tambah ia yang terikat secara jiwa dengan Anda, Madam Eren kini mampu memerintah saya di atas perintah Anda. Singkatnya, Sistem Utama EAC-Drime akan mengikuti perintah Madam Eren terlebih dulu, sebelum mengikuti perintah Master.'


Meski sedikit kesal dengan penuturan Ream, Xaver masih senang dengan kabar kembalinya Ream. Carlina melihat Naga besar yang menyendiri. Lalu ia menatap langit yang berubah senja. Ia menghitung mundur sambil melihat Matahari yang mulai terbenam. Ia ingin segera memamerkan Binatang kontrak barunya kepada Ibunya.


Saat Matahari telah tenggelam sempurna, ia berbalik untuk memerintah Naga besar. Namun ia terkejut saat melihat Pria pucat itu menatapnya dengan tatapan dingin dan apatis. Seperti halnya ia menatap orang lain. Saat mulutnya terbuka untuk memerintah Xaver.


Suara 'Klack' terdengar dan kalung budak terlepas. Hal yang tak pernah terjadi, terjadi di depannya. Carlina sangat terkejut dengan kejadian ini. Xaver hanya mengucap dua kata. "Selamat tinggal" Dan Xaver menghilang seolah ia tak pernah hadir di gua itu. Menyisakan sebuah kalung besi di tanah.


Di udara, Xaver telah melesat dengan kecepatan tingginya. Ia mengusap dadanya yang berdebar kencang karna ketakutan. "Fuhh untunglah aku sangat pintar! Tadi itu menakutkan sekali, sekarang kemana kita harus pergi Ream?"


Xaver berkata dengan nada bersemangat. Ream sudah terbiasa dengan tingkah konyol Masternya yang tak sesuai dengan Vampir kebanyakan. Ia segera menjawab pertanyaan Masternya.


'Menjawab Master, cobalah untuk kembali ke rumah Qweny. Madam meninggalkan energi dunia di sana. Sebaiknya cepat, karna Ream merasakan sosok yang mendekat ke arah kita.'


Xaver segera mempercepat terbangnya. Dengan gerakannya yang secepat angin, kini bahkan sosoknya tak terlihat di langit malam. Dengan kecepatan terbangnya, Xaver sampai di rumah Qweny dalam hitungan detik. Setelah Xaver mamasuki Gua rumahnya Qweny, Gua itu otomatis tertutup. Obor-obor sebagai ganti lampu, menyala menerangi gua.


Dengan bimbingan Ream. Xaver menemukan banyak permata emas bercahaya di sebuah ruangan. Setelah di analisis oleh Ream, seluruh permata itu mengandung energi dunia. "Serap energinya lalu segera pergi dari sini. "


Ream mulai menyerap Energi. "Ream keluarlah dan serap energi di sini. Aku ingin melihat-lihat isi gua."


"Baik Master." Setelah melihat Ream keluar dari bandul kalungnya. Xaver segera mengikuti aroma yang menggoda selera makannya. Sebenarnya saat Carlina menawarkannya makanan, ia sangat ingin mengangguk. Namun karna Wanita itu telah menimbulkan trauma di hatinya, Xaver menahan diri dan menyatakan penolakan.


"Waaahhh!" Tanpa sadar Vampir tukang makan itu berteriak untuk melepas keterkejutannya.


Senang? Tentu saja ia sangat senang. Alat untuk membuat kapsul darah tertinggal di Atlantis. Namun Xaver ingat kalau Vien di dunia Humanimal, telah memberikan kepadanya banyak sulur berisi darah Humanimal. Dan sulur kosong yang masih hidup di sebuah cincin penyimpanan.


Xaver masih mengenakan cincin itu di jarinya. "Tapi bagaimana mengeluarkannya?"


Xaver memikirkan satu sulur keluar dari cincin. Dan sebuah sulur yang bergerak menyerupai ular muncul di tangan Xaver. "Serap darah Pegasus itu."


Sulur itu segera menurut dan menyerap darah di mangkuk besar. Melihat darah di mangkuk perlahan habis, Xaver semakin merasa lapar. Ia mengeluarkan sebuah sulur yang sudah berisi darah dan menggigitnya. Darah yang meluber keluar dari sulur mengenyangkannya. Kali ini ia memakan darah Humanimal tupai. Rasanya manis namun menyegarkan. Hampir serupa dengan rasa buah.


Meski darah di mangkuk telah habis, masih ada darah Pegasus yang menetes dari perut yang terluka. Xaver menyimpan Sulur yang berisi darah Pegasus, lalu mengeluarkan dua sulur untuk menyerap darah dari luka Pegasus. Ream juga telah menyelesaikan tugasnya. Ia menghampiri Masternya yang sedang mengigit sulur hijau yang bergerak-gerak. Sudut matanya berkedut saat melihat Masternya.


Tak jauh dari gua, seorang Wanita menaiki seekor Serigala besar. Rambut birunya berkibar dalam gelapnya malam. "Aku dapat merasakan kekuatan besar tadi menghilang saat kalungnya terlepas. Aku belum pernah punya kekuatan sebesar itu! Aku harus mendapatkan Pria itu kembali! Dia belum pergi jauh! Teruskan larimu Serigalaku!"


Sementara itu Xaver masih melakukan tur mengelilingi gua. Ia menemukan sebuah telur besar. Seukuran anak kecil berusia tiga atau empat tahun. "Ream, apakah telur ini masih hidup?"


Dengan memindai telur dari atas sampai bawah, Ream kemudian menggeleng. "Ini telur yang sehat dan dalam hitungan detik ia akan menetas."


"Hei, jika aku membawanya, akankah ia hidup? Mampukah telur ini bertahan dalam arus ruang dan waktu?" Xaver bertanya dengan mata yang di penuhi binar semangat.


"Karna ia di kelilingi oleh energi dunia, dari permata yang baru saja Ream serap. Seharusnya ia baik-baik saja. Energi dunia membuatnya tumbuh menjadi Naga yang kuat. " Jawab Ream.


Dua pemuda berbeda usia itu terkejut saat pintu gua di pukul dari luar. Tapi Xaver tak bisa pergi sekarang. Karna telur Naga telah menetas! Xaver ingin menunggu sampai Naga kecil menetas dan membawanya pergi. Yah... Masih belum bisa di bilang menetas. Telur itu masih retak dari dalam.


'Bamm!'


Pintu gua batu telah runtuh. Dan nafas menderu yang terdengar bersemangat di sertai langkah terburu-buru, memasuki Indra pendengaran Xaver. Insting Xaver memperingatkannya akan bahaya besar. Xaver melihat telur yang menampakkan cakar hitam mungil. Lalu beralih ke suara langkah yang semakin dekat. Xaver memutuskan menggendong telur besar itu sambil berlari lebih dalam memasuki gua.


Ream berubah ke bentuk hologram dan memasuki bandul kalung EAC-Drime. Xaver terus berlari. Dalam pelariannya, telur di pangkuannya menetas sempurna. Seekor Naga kecil dengan mata polos menatapnya. Naga hitam itu membuka mulutnya dan api hitam ke merahan menyembur ke arah wajah Xaver.


"Ayah!"


"Ya, ya, ya. Aku Ayahmu, sekarang berpeganganlah yang erat, kita akan melompat. Ream buka portal!"


Xaver melompat dengan telur yang separuhnya menetas, memasuki portal. Carlina sampai ke tempat Xaver. Namun tak ada yang bersisa selain beberapa pecahan kecil kulit telur. "Dia pergi?"