Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
HER NAME IS EREN



Chapter 24 Her name is Eren


"Aku akan membawamu pulang. Karna semua orang percaya kau adalah Naga, maka berubahlah dan biarkan aku menunggangimu." Rei mengusap Rambut Xaver.


Xaver menggelengkan kepalanya. Ia menolak keras jika harus berubah lagi, ia masih belum terbiasa dengan bentuk Naga. Ia tak ingin membahayakan Rei. "Aku tidak mahir terbang, nanti hanya akan membuatmu terjatuh."


"Tidak apa-apa, lagi pula Pegasusku sedang tidak memungkinkan untuk di kendarai. Dan jarak rumah Carlina dengan tempat ini sangat jauh. "


Xaver mencoba yang terbaik untuk tidak berubah menjadi Naga. "Lagi pula aku bisa membawamu terbang seperti aku membawa Qweny kemarin kan?"


"Tidak bisa, jika sekarang kau menunjukkan kalau kau bisa terbang tanpa sayapmu, orang hanya akan mencurigai mu. Lagi pula fajar sebentar lagi akan tiba. Jika kita tidak pergi sekarang, maka Matahari bisa muncul kapan saja. Jika menginap di tempat ini, aku tidak yakin kau dapat berpura-pura selama itu."


Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Xaver mengangguk. "Baiklah..."


Setelah berjalan ke sebuah lapangan luas. Xaver merubah dirinya menjadi Naga hitam yang besar. Dengan sebuah sihir ringan, Rei menaiki punggung Xaver. "Tunjukkan aku arahnya"


Dengan begitu berita penyihir Carlina dari dunia manusia, yang berhasil menaklukan Naga, tersebar dengan cepat. Xaver memang belum mahir terbang dengan tubuh Naga yang begitu besar. Tapi sepanjang perjalanan, mereka baik-baik saja. Tanpa ada yang terjatuh atau menabrak. Xaver sekarang hanya merasa lapar dan bosan.


"Memangnya Pegasusmu kenapa? Mengapa harus menaiki punggungku?" Tanya Xaver saat di perjalanan.


"Sebenarnya ini salah satu sifat buruk Carlina. Aku yang merasukinya akan tertular sedikit. Itu yang membuat orang-orang takkan curiga denganku. Carlina memiliki Ambisi untuk menaklukan Naga. Tak hanya Naga. Ia menangkap banyak binatang magis di rumahnya. Kau akan melihat nanti." Balas Rei.


"Oohhh... Lalu apakah kau sudah mengingat ingatan aslimu? Siapa namamu? " Xaver bertanya lagi.


Rei mengerutkan dahinya, ia menghela nafas panjang. "Tadinya ku pikir aku akan mengingatnya. Namun sejauh ini ingatanku tak bisa di lihat. Tapi samar-samar aku ingat nama panggilanku."


"Ohh benarkah? Siapa nama panggilanmu?" Xaver sangat tertarik dengan nama panggilan ini.


"Eren. Tapi hanya itu yang ku ingat, aku tak mengingat nama depan atau nama belakangku." Rei berkata dengan suara yang terkesan datar dan apatis.


"Kau baik-baik saja?" Xaver merasa ada yang disembunyikan oleh Rei.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Suara Rei semakin mengecil.


Kemudian dari ketinggian terbang Xaver, Rei terjatuh dengan mata tertutup. Xaver berubah ke bentuk Vampir dan bergegas untuk menangkap Rei yang tak sadarkan diri. Detik-detik terakhir sebelum mereka menyentuh tanah, Xaver berhasil menangkap tubuh Rei dalam pelukannya.


Rei dalam keadaan pingsan, Xaver tidak tau apa yang terjadi. Ia tidak tau mengapa Rei tiba-tiba tak sadarkan diri. Xaver memang seorang profesor, tapi ia ada di bidang ilmu sains bukan bidang kedokteran. Tanpa EAC-Drime, ia tak dapat mengidentifikasi apa yang terjadi kepada Wanita di pelukannya.


Melihat Matahari yang mulai terbit, Xaver harus segera mencari tempat berlindung. Untungnya mereka terjatuh di depan sebuah gua di dasar gunung. Xaver memasuki gua dengan Rei di pelukannya.


Xaver merasa khawatir saat melihat kondisi Rei yang bisa di bilang memburuk. Cukup lama mereka di dalam gua, dan Matahari juga telah naik. Xaver terus memperhatikan gerak-gerik Rei. Ia sangat gugup saat melihat sepasang kelopak mata Rei bergetar. Dengan alis yang bertaut.


"Rei? Ke-"


Sebelum Xaver sempat menyelesaikan kalimatnya. Rei telah memukul Pria vampir yang memeluknya. Dan itu bukan pukulan biasa, pukulannya begitu kuat sehingga Xaver terlempar ke mulut gua. Untunglah tubuhnya belum sampai ke sisi cahaya Matahari.


Rei memegang kerah baju Xaver dengan remasan kuat. "Aku bukan Rei-mu. Aku Carlina! Kau pasti teman Iblis itu bukan?!"


Xaver masih belum mengerti apa yang terjadi. Di tambah cengkraman yang kuat membuatnya kesulitan berbicara. "Jawab aku!"


Nada bicara yang dingin dan menusuk dari Wanita di depannya bukanlah nada bicara Rei. Xaver akhirnya mengerti mengapa warna netra itu berubah. Carlina menatap Cahaya Matahari. Instingnya mengatakan Pria ber netra merah itu akan kesakitan saat terkena cahaya Matahari.


Carlina berdiri dan menendang tubuh Xaver ke bawah Cahaya Matahari. Seperti daging panggang, Pria itu terbaring dengan asap menguar dari tubuhnya. Carlina bersiul untuk memanggil Pegasusnya. Tapi Pegasus itu tak menjawab panggilannya.


Carlina ingat kalau Pria di depannya adalah Naga. Tapi Pria ini terlalu aneh. Mengapa terpanggang di bawah Matahari? Karna masih membutuhkan tunggangan, Carlina mengangkat tubuh Xaver ke dalam gua sebelum ia menjadi Abu.


Xaver sudah tak sadarkan diri, sejak ia di lemparkan ke cahaya Matahari yang sangat terik. Ada asap hitam kecil yang bersembunyi di gua. Sepasang mata emas tak berpupil miliknya tampak khawatir saat melihat Vampir-nya di bakar di bawah cahaya Matahari. Rei memang mampu merasuki mahluk hidup. Namun itu takkan berhasil jika jiwa itu sangat kuat.


"Heh Iblis kecil, aku telah melukai peliharaanmu. Tidakkah kau marah? Aku tau kau masih di sini, lagi pula kau tak bisa mengalahkanku. Aku tidak tau Pria ini mahluk apa, tapi aku sangat yakin dia bukan seekor Naga. Tubuhku telah berkontrak Majikan dan Budak dengan kalung ini. Setelah berkontrak, setengah dari kekuatannya memasuki tubuhku, aku dapat merasakan kekuatannya yang sangat kuat. Hahaha... Iblis kecil, jika kau tidak segera datang merebutnya, Pria ini akan jadi milikku." Carlina berkata dengan senyuman dingin yang terkesan angkuh.


Author note : Karena nama asli si Jiwa itu Eren, maka sekarang penyebutan namanya akan berganti ya.


Eren menatap dirinya yang melemah. Ia tak mungkin mampu melawan Carlina sekarang. Energi jiwanya telah menipis dan ia akan menghilang. 'Ah, benar juga! Ream dapat membantu!'


Eren menggunakan energi terakhirnya untuk mengaktifkan Sistem utama EAC-Drime. Sebelum kehadirannya menghilang, ia menyampaikan sebuah Telepati kepada Ream. 'Ream, Xaver dalam bahaya. Pertama kau harus menganalisis sihir di kalung besi yang melingkar di lehernya. Lalu patahkan mantra sihirnya. Setelah kontrak berhasil di patahkan, segeralah pergi ke rumah Qweny. Serap energi dunia yang aku kumpulkan untuk Xaver.'


'Baik Madam, perintah di laksanakan.'


Dan Eren menghilang. Melihat kondisi tubuh Masternya yang sangat kritis, Ream memulai regenerasi tubuh Xaver dengan energi cadangan EAC-Drime. Ream juga mulai menganalisa sihir yang mengontrol Xaver dari kalung budak di lehernya.


Melihat Pria pucat dengan bau gosong itu masih belum sadar, Carlina memilih untuk menghabiskan waktu dengan sarapan. Saat selesai sarapan Carlina mendekati Xaver. "Dia benar-benar terbakar. Mahluk apa ini sebenarnya? Sekalipun Iblis, di dunia ini tidak ada Iblis yang akan terbakar saat terkena sinar Matahari."


Carlina mulai bosan, ia ingin pulang dan mengenalkan Mahluk aneh yang secara tak sengaja di kontrak dengannya, kepada Ibunya. Carlota penyihir terhebat di dunia. Memikirkan tunggangan kesayangannya, Pegasus putih yang langka entah bagaimana tak dapat di panggil. Carlina sepertinya harus menunggangi Xaver seperti Iblis Wanita itu menunggangi Xaver.


Mau tidak mau Carlina harus menyembuhkan luka Pria pucat ini. Carlina mendekat, lalu permata emasnya mengambang di tangannya, lantas ia merapalkan sihir penyembuhan. Dengan bantuan Carlina, Xaver dapat sembuh lebih cepat. Sebagian energi dari sihir penyembuhan juga di serap oleh Ream.


Tak butuh waktu lama untuk Xaver bangun. Seumur hidupnya, itu pertama kalinya ia terbakar di bawah sinar Matahari sangat lama. Dan jika saja Carlina tak memindahkan tubuhnya segera, ia mungkin akan tiada. Ada ketakutan yang seakan akan mengakar dalam diri Xaver saat melihat tatapan dingin milik di mata Carlina. Ia terlalu takut dan mengalami trauma akibat perlakuan Wanita berambut biru itu.


Melihat ada ketakutan bukan kepercayaan di sepasang mata Pria itu, Carlina sedikit menyesal. 'Bahkan jika wujudnya menyerupai manusia, fakta mengatakan ia bisa berubah menjadi Naga. Salah satu dari empat binatang suci. Jika aku tak mendapat kepercayaannya aku bisa kehilangan dia. Duh mengapa aku tadi memukulnya! Arrgh karna terlampau emosi sebab Wanita Iblis sih! Jika aku bertemu lagi dengan Wanita Iblis itu, akan ku murnikan dia!' Carlina membatin dengan ekspresi kesal di wajahnya.