Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
SEPARATION NIGHT



Chapter 6 Separation night Rev


Reruntuhan gua di bagian ujung tampak gemerutuk seolah olah akan ada sesuatu yang akan muncul di baliknya. Moren dan tim pemburu yang lainya mempersiapkan tombak mereka.


Benda kecil berwarna hitam terbang ke hadapan Kepala suku.


"Lily kenapa kamu menangis? " tanya kelelawar hitam itu.


"Tuan Vampir!"


Xaver menepuk perut buncitnya. "Ergh... aku kenyang sekali."


Lili memeluk kelelawar kecil itu. Ia benar benar takut Xaver mati.


"Hati-hati perutku...." ujar Xaver.


"Mari kita ke tempat persembunyian" ujar Lili pada semua orang. Meski bekas air mata begitu membekas di wajahnya, sifat tegas Lili tidak hilang.


"Maaf membuatmu khawatir Lily" ujar kelelawar berperut buncit itu. Lily hanya berdehem sebagai jawaban.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di gua. Kelelawar kecil itu berdiri di tangan kepala suku Lili dan menyalurkan energinya untuk membuka pintu kayu besar itu.


Ream dan para anggota suku yang berada di gua pun keluar. Ream meminta Lili memberikan Xaver kepadanya. Meski langit gelap membutakan pandangan, Shen dapat melihat kalau ada bekas air mata yang membekas di pipi anak angkatnya.


"Kepala suku, mengapa kau menangis?" tanya Shen. Tangan tua Shen terulur hendak mengusap pipi Lily.


"Aku tidak menangis kok bu " sangkal Lili.


Lily yang di kenal Shen tidak pernah menangis, bahkan saat suaminya mengurung Lily, lily tidak pernah menangis. Lily hanya akan menangis jika masalah itu sudah terlalu mustahil untuk di wujudkan. Seperti kematian kepala suku sebelumnya.


Mungkin sekarang Lily tidak ingin bercerita pada nya. Bisa jadi kapan-kapan Lily akan bercerita. Jadi Shen memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.


Fajar tiba. Ream berfikir matahari berbahaya bagi Tuannya, apalagi di kondisi saat ini. Tuannya tidak dapat berubah ke bentuk Vampir hingga tulang dan daging manusia di perutnya tercerna. Jadi Ream menggunakan daun besar yang ada di sisinya untuk menutupi dirinya dan Tuannya. Bagaimanapun tubuhnya terbentuk dengan DNA Xaver, jadi akan ada kemungkinan Ream juga terluka oleh sinar Matahari.


Tak perlu waktu lama merekapun sampai di area suku Kaurex. "Nona Kepala suku, Dapatkah aku meminta sebuah kamar tidur?" tanya Ream sambil menggendong kelelawar kecil di telapak tangannya.


Lily mengangguk ia membawa Ream ke kamar kosong tempat Ibu dan Ayahnya tidur.  Karna Ayah angkatnya telah tiada, takut Ibunya kesepian maka Lili mengajak Ibunya tidur di kamarnya bersamanya. Jadi belakangan ini kamar Ibu dan Ayahnya kosong, tidak ada yang menempati.


Ream meletakkan kelelawar kecil itu di tempat tidur. "Selamat tidur Master, Ream akan menunggu hingga Master terbangun." Ream berdiri untuk menutup jendela dan duduk di sisi kasur menggunakan kursi.


Sudah 2 hari berlangsung namun Xaver tidak keluar dari kamar inapnya. Lili jadi ingin tau mengapa begitu.


Lili mengetuk pintu. Sudah di tunggu olehnya pun, Ream tidak kunjung membukakan pintu. Karna rasa penasarannya yang begitu besar maka Lily membuka pintu secara paksa.


"Bisakah Nona Kepala suku menenangkan diri? Masterku masih tertidur." Ream masih duduk di posisi yang sama seperti kemarin. Ia berbicara dengan wajah yang masih menghadap Masternya.


Lily melirik Xaver yang tertidur. Perut kelelawar kecil itu kini tidak sebesar kemarin. Kelopak mata mungil itu bergetar dan terbuka.


"Ream berapa lama aku tidur? "


"Kurang lebih dua hari Master."


Xaver mendudukkan dirinya kemudian mengubah dirinya kembali ke bentuk Vampir.


"Master, keadaan seluruh sistem EAC-Drime 100% membaik. Ream juga mendeteksi keadaan tubuh Master sangat baik. Apakah akan memulai portal berikutnya?" Ream bertanya.


Xaver sedikit ragu kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Hm.. Tugas di sini juga sudah selesai kan. Dan jika aku tidak salah ingat, ¼ cetak biru mu masih tertinggal di ruang kerjaku. Dengan kepintaran Ayah dia pasti akan segera mengirim orang untuk menyusulku "


"Apakah Tuan vampir ingin pergi?" tanya Kepala suku Lili. Lili merasa agak berat untuk berpisah dengan Xaver. Jikapun Xaver ingin pergi, Lily ingin sesuatu yang dapat menjadi kenang kenangannya bersama Tuan Vampir.


Apakah lily jatuh cinta? Tidak, seperti yang kalian semua lihat di beberapa Chapter sebelumnya, Lily adalah pengidola mahluk berjenis Vampir seperti Xaver. Dulu dia jelas sudah meyakinkan dirinya bahwa vampir itu tidak ada. Tapi ketika bertemu dengan Xaver dia merasa begitu bahagia. Setidaknya ia membutuhkan sesuatu untuk mengenang Xaver di masa mendatang.


"Benar, aku harus pergi. " jawab Xaver.


Lily menunduk ia meremat ujung pakaiannya. "Bisakah Tuan Vampir tinggal sampai malam ini? Supaya kita merayakan hari terakhir Tuan bersama dengan yang lainnya." ujar Lily dengan wajah memohon. 


Lily bersorak gembira lalu segera berlarian keluar mengumumkan pada para warga. Hari ini adalah hari terakhir Sang Mahluk hebat yang menyelamatkan mereka semua tinggal di sini.


Karna Moren dan Kepala suku serta yang lainnya sedang sibuk, maka Ream dan Xaver juga menghabiskan waktu di kamar. Bagaimanapun di luar begitu panas, baik Xaver ataupun Ream tidak ada yang ingin keluar.


Untuk memperjelas imajinasi pembaca, sebenarnya Ream hanya perangkat portal, jadi tidak memiliki jenis kelamin. Tetapi karna saat pembentukan tubuh manusia Ream memakai DNA Xaver, maka Ream seperti Xaver. Berbentuk seperti anak laki-laki. Maaf kalau kalian berharap Ream adalah perempuan.


Saat senja mendekat, Kepala suku Lily membangunkan Xaver yang tidur tiduran di kamarnya. Xaver merenggangkan otot tubuhnya.


"Hoamm... "


"Tuan Vampir mari kita ke alun-alun suku. Kami semua mengadakan perayaan untuk kepergian Tuan Vampir." ajak kepala suku Lily. Xaver mengangguk.


"Mari Ream " ajak Xaver.


"Baik Master"  jawab Ream.


Di alun-alun suku. Mereka membuat api unggun besar, api merah itu bagai menari nari menggapai langit. Di sekeliling api itu mereka menancapkan ranting kayu yang di tusukkan ke daging-dagingan. Ada daging ikan, daging rusa, daging ayam hutan, juga ada beberapa tusuk jamur bakar.


"Upacaranya meriah Lily. " ujar Xaver.


Lily mengangguk antusias, "Mari Tuan Vampir kita menari bersama." Lily menarik Xaver ke arah penduduk suku yang sedang menari bersama.


Ream tidak suka menari, jadi dia merubah dirinya menjadi kelelawar dan duduk di salah satu gelondongan kayu yang di gunakan untuk duduk. Beberapa wanita yang sudah tua dan anak-anak perempuan yang tidak menari menyanyikan lagu tradisi suku Kaurex.


"La... La... La.. La la la la la La... La... Myapiii rapu... Shen du mi ra mi haru.... Rathuuuu ganthiii mariii ri para... "


Ini lirik awal lagunya. Di ciptakan dari bahasa leluhur suku. Lirik pertama suku memiliki arti. 'La... La.. La.. La la la la la La... Ini lagu kita... Mari nyanyikan bersama... Semoga Kepala suku bahagia... '


"hu... Hui... Iiremi do ouxi... Ma... Manu... Nigupagupi... Huyya huyya huyyi...


Lagu di lirik ke dua memiliki arti. 'semoga langit memberkahi. Suku... Suku... Kita.. Anak anak bahagia... Kita semua gembira... Mari mari mari kita bernyanyi...'


"Apa yang mereka nyanyikan Lily?" tanya Xaver.


"Itu adalah lagu tradisi yang di nyanyikan bersama ketika semua bergembira.. Biasanya di acara-acara besar " jawab Kepala suku Lily.


"Kepala suku, Tuan Vampir mari makan bersama." Moren datang memberikan nampan kayu berisi daging dan jamur yang sudah di bakar.


"Eh.. Moren, Tuan Vampir tidak memakan makanan kita." ujar kepala suku.


"jadi... Tuan Vampir makan apa?" tanya Moren.


"Itu... bukankah aku sudah menyiapkan darah kijang dan rusa di belakang? Bawa kemari." ujar Kepala suku.


Tak lama kemudian Moren datang. Agak ragu, Xaver mengambilnya.


'Um... Aku belum pernah mencoba darah rusa dan kijang. Kata Ayah sih rasanya seperti minuman coklat' batin Xaver.


Lalu dia meminumnya. Yah benar saja rasanya memang sedikit mirip dengan minuman coklat yang biasa di buat Celyne Adiknya.


"Mari kepala suku kita menari lagi." ujar Moren. Beberapa gadis suku juga menari bersama pasangan mereka.


Xaver meletakkan surat di bawah gelas bambu yang sudah kosong. Lalu menghampiri Ream.


"Ream, mari kita pergi." ajaknya.


Xaver berjalan sedikit jauh. Tak ada yang menyadarinya karna keramaian yang ada di pesta.


"Ream, buka portalnya."


"Baik, Master."


Kelelawar kecil bertelinga panjang itu memancarkan sinar kuning dari matanya dan portal terbuka. Xaver memasuki portalnya.