Vampire And His Adventure

Vampire And His Adventure
GO HOME



Chapter 34 Go home


Xaver menguap karna mengantuk. Ini adalah hari ke tiga setelah kepulangannya. Dan ia masih tidak ingin pulang. Kini ia sedang bersantai di sebuah halaman belakang di kota Naga.


"Mau sampai kapan kau akan menetap di sini? Kau Taukan kau tidak bisa selamanya lari dari orang tuamu?" Seorang Naga humanoid berkata dengan semangkuk makanan di tangannya.


Naga Humanoid itu memberikan makanannya kepada Avir kecil. Lalu ia duduk di sisi Xaver yang sedang tidur malas. "Deron, biarkan aku tinggal beberapa saat lagi...." Xaver menghela nafas pasrah.


Deron adalah teman Xaver saat bersekolah dahulu. Deron kini telah menikah dan memiliki bayi naga yang usianya sedikit lebih tua dari Avir. "Ngomong-ngomong dari mana kau mendapatkan bayi Naga yang pintar itu?"


"Aku menemukan telurnya yang akan menetas saat aku berkelana di dunia lain." Xaver berkata santai.


"Eh, lihat ini, Leluhur Vampir membuat pengumuman! Kau harus melihatnya bukan?" Deron berkata sambil menyodorkan ponselnya.


Di ponselnya tersiar sebuah berita live yang di ambil langsung di Kastil besar Drakula. Xaver hanya memejamkan matanya dengan malas. "Paling-paling hanya berita bangunnya Adik Leluhur."


Deron menatap teman Vampirnya. Lalu menatap kembali ke layar ponselnya. "Eh, kau benar. Tunggu Xaver, Drakula wanita itu mengatakan sesuatu."


Deron membesarkan volume telponnya. Lalu memperlihatkan ponselnya ke Xaver. Xaver membuka matanya dengan malas. Kata yang di ucapkan Drakula wanita itu adalah. "Xaver! Aku akan menikahimu!"


"Eh! Dia melamarmu Xaver!" Deron berkata dengan suara keras.


Xaver membalikkan badannya membelakangi Deron. "Jangan mengada-ada, pemilik nama Xaver bukan hanya aku 'kan? Lagi pula kami tidak saling mengenal."


Deron akan mempercayai omong kosong Xaver jika saja telinga vampir itu tidak memerah. Deron hanya menatap curiga. Xaver segera terduduk setelah merasakan sesuatu mendekati wilayah Naga.


"Deron, sebenarnya aku kemari untuk menitip Putra angkatku kepadamu. Aku yakin ia lebih senang di besarkan di keluarga Naga." Xaver berkata serius dengan menggenggam bahu Deron.


Deron menatap Avir. Avir menyipit ke wajah panik Ayahnya. Avir melihat sedikit rona merah di ujung daun telinga Xaver. "Ayah!"


Deron dan Xaver berbalik bersama untuk melihat Avir. "Ayah tenang saja! Aku tidak akan mengganggu Ayah berbulan madu!" Avir berkata dengan seringai serta jempol yang di acungkan ke Xaver.


Deron menatap wajah Xaver yang kian berubah warnanya. "Pokoknya jaga Avir untukku, aku tau kau akan senang dengan kehadirannya! Avir jangan menyusahkan Deron ya! Ayah pergi dulu!"


Xaver segera menghilang setelah berkata kalimat perpisahan. Sebuah senyuman terbit di wajah Deron. Akhirnya teman lajangnya itu akan beristri. Segera Deron berbalik untuk berbicara dengan Bayi Naga pintar yang di tinggalkan Xaver. "Hei Avir, katakan padaku apakah kau mengenal siapa yang akan menjadi Ibu angkatmu?"


Avir kembali memakan makanannya, sesekali ia bercerita sedikit mengenai Eren dan Xaver. Xaver yang pergi masih berkeliaran di kota Naga. Kota Naga tak jauh dari kota perbatasan. Xaver segera bergerak diam-diam menuju kota perbatasan. Siapa yang tau kalau dia malah bertemu seseorang yang di kenalnya.


Xaver menabrak peri laut yang sedang berjalan jalan dalam bentuk manusia. Xaver saat itu sedang menyamar menjadi anak remaja. Zia si peri laut melirik adik kecil yang menabraknya. Sebenarnya itu sosok yang di kenali olehnya.


Xaver berpura-pura tidak mengenal wanita di depannya. Rasa nyeri di bahu juga memperingatkannya. "Maaf Kakak, maafkan aku karna menabrakmu. Tapi aku terburu-buru, aku pergi dulu."


Xaver yang menyamar menjadi Vampir remaja hendak kabur dari Zia. Zia tak membiarkan itu terjadi, ia menahan kerah belakang pakaian Xaver. Xaver punya firasat buruk yang menghantuinya. "Kenapa ya Kak?"


Xaver bertanya sambil memegang bahunya yang sakit. Zia tersenyum dengan mata menyipit. "Kenapa tidak mampir ke tokoku sebentar adik manis."


Xaver terpaksa mengikuti Zia. Bahkan jika bahunya semakin sakit, ia tak bisa melepas cengkraman tangan Zia. Lantaran sakit yang teramat sangat, Xaver tak lagi mampu mempertahankan kesadarannya. Zia melirik Xaver yang tak lagi sadarkan diri.


Zia menggendong Vampir remaja itu memasuki tokonya. Zia membawa Xaver ke ruang istirahat. Ia melantunkan beberapa nyanyian sederhana. Dengan begitu sebuah tali terbentuk mengikat tubuh Xaver. Zia melangkah keluar ruangan lalu menguncinya dari luar.


Di banyak Kota telah bertebaran banyak poster Xaver yang di cari oleh keluarganya. Bahkan di depan toko Zia. Setelah memerintah karyawannya untuk mengambil salah satu poster, Zia menelpon barisan angka yang tertera di poster.


Xaver telah hilang selama lebih dari sebulan. Keluarga besar Van Zeander telah menambahkan hadiah yang akan terus bertambah setiap minggunya, dalam brosur pencarian. Hadiahnya begitu besar dan menggiurkan bagi siapapun. Itu juga yang di inginkan oleh Zia.


Setelah selesai menelpon ada senyum serakah di wajah wanita itu. Ia duduk di salah satu meja. Menanti tamu dari keluarga Van Zeander. Tak butuh waktu lama untuk sebuah mobil hitam mendatangi tokonya. Di mobil itu ada lambang bulan sabit yang di kelilingi tiga kelelawar. Itu adalah lambang keluarga Van Zeander. Sebagai Mantan kekasih Xaver, tentu Zia mengenal tanda itu.


"Heh! Kau lagi!" Dreiva salah satu Kakak Xaver datang bersama Xirish, Kakak perempuan Xaver yang lainnya.


"Aku terkejut Kakak masih mengenalku." Zia tersenyum perlahan.


"Jangan banyak omong kau! Katakan saja dimana Adikku!" Xirish berteriak marah.


"Perhatikan kata-kata kalian Nyonya-nyonya. Kalian ada di tokoku. Ayo ikut aku." Zia memperingatkan, lalu berbalik untuk menunjukkan jalan.


Zia memutar kunci pintu, lalu pintu kayu itu terbuka. Seorang remaja laki-laki yang tertidur tampak kesakitan. Baik Dreiva atau Xirish, mereka sama-sama mengenal siapa remaja itu. Saat dua Vampir bersaudara itu mendekati Xaver. Zia menghalangi mereka.


"Aku ingin hadiahku!" Zia berkata dengan nada menuntut.


Dreiva menghela nafas kasar. Lalu menelpon seseorang. Setelah selesai ia berkata kepada Zia. "Pergilah ke depan dan kau akan bertemu dengan hadiahmu itu. "


Dreiva berkata dengan nada Dingin. Xirish hanya mampu mengepalkan tangan untuk menahan rasa kesalnya. Dengan segera dua saudara Vampir itu membawa Adik laki-laki mereka memasuki mobil hitam.


Sebenarnya jika saja Xaver tidak hilang di beberapa waktu lalu. Ibu Xaver akan mengadakan sebuah pesta besar. Di pesta itu seluruh wanita dalam ras Vampir akan di undang. Yah, kalian sendiri pasti tau untuk apa pesta itu.


Adik laki-laki mereka ini telah lama melajang. Ibunda Xaver telah memutuskan untuk mengakhiri masa lajang putranya. Tapi melihat kondisi Xaver yang tidak bisa di bilang baik, Sepertinya acara itu harus di tunda.


Xirish masih sibuk mengusap rambut Xaver yang masih dalam bentuk Vampir remaja. Sedangkan Dreiva sibuk dengan telponnya untuk mengabari sang Ibu. "Iya Ibu. Kami telah menemukan Xaver.... Kondisinya agak buruk.... Di kota perbatasan yang berdekatan dengan kota Naga.... Ya, aku yakin dia mengunjungi temannya.... Ya, kalau begitu kami akan segera kembali Bu. Sampai jumpa."


Xirish melihat Kakaknya telah selesai berbicara. Ia segera bertanya, dalam suaranya ada sedikit kekhawatiran. "Kak, apa Kakak melihat berita yang di siarkan di Kastil Leluhur?"


Dreiva menggelengkan kepalanya. "Tidak, kenapa?"


Xirish mendekati Dreiva, lantas menunjukkan siaran ulang yang di siarkan di kastil Darkseala. Xirish memfokuskan telponnya ke bagian saat Eren meneriakkan kata. 'Xaver! Aku akan menikahimu!'


"Kak, bagaimana jika yang di maksudkan Yang Mulia Putri adalah Xaver kita?" Tanya Xirish.


"Jangan bercanda, Bagaimana mungkin itu Xaver kita. Sekalipun Xaver kita mempesona, dia tak lebih dari seorang tukang makan besar. Aku sangat yakin yang di maksud Yang Mulia putri bukanlah Adik kita." Dreiva berkata sambil mengibaskan tangannya. Meski hatinya sedikit khawatir.