
Chapter 19 The Squirrel Village
Xaver yang berlarian mulai merasakan begitu banyak orang diam-diam mengikutinya dalam kegelapan. Para Humanimal Tupai itu sepertinya tidak berniat berhenti. Mereka terus mengejar Xaver. Seorang Humanimal Tupai berkumis panjang mengetukkan tongkat kayunya. Lalu berteriak marah.
"Tim B! lantunkan sihir formasi penangkapan! Jangan biarkan Serigala itu terus berlarian di Daerah kekuasaan kita!"
Beberapa orang berteriak bersamaan, mungkin merekalah yang di panggil Tim B. "Ya!"
Tim B rata-rata adalah Humanimal Tupai betina. Mereka melompat ke dahan tertinggi di pohon. Lalu mengunci posisi Xaver dengan mata mereka. Lalu merapal mantra yang hanya mereka yang tau apa artinya.
Xaver yang terus berlarian sambil diam-diam menyerang orang yang membuntutinya. Ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa di depannya, ada sebuah lingkaran sihir yang bercahaya. "Master! Berhati-hati!"
Namun Ream terlambat memperingatkan. Saat Xaver menyadari peringatan Ream, ia sudah terjatuh ke jebakan formasi para Tupai. Saat ia mencoba untuk berlari, kakinya rekat dengan dahan tempatnya berpijak. Seolah ada lem super yang menempel di kakinya.
Tim B turun dari dahan tertinggi, lalu mengelilingi Xaver. Ujung jari mereka tampak bercahaya, lalu lingkaran sihir juga bercahaya semakin terang. Dari setiap titik lingkaran sihir, sebuah tali tambang keluar dan mengikat seluruh tubuh Xaver. Xaver tidak bisa bergerak, terasa sangat sesak. Humanimal tupai mulai mengelilingi Xaver.
Xaver tidak bisa melakukan apapun selain menggeram marah layaknya Serigala. Meski Xaver telah di ikat, pancaran amarah yang di keluarkan dari mata merahnya membuat orang-orang takut. Seorang Humanimal Tupai berkumis panjang menyibak kerumunan. Menggunakan tongkat kayunya, ia mengetuk kepala Xaver. "Apa yang kau lakukan di wilayah kami Serigala?"
Xaver memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab para Tupai. Melihat Humanimal Serigala di depannya tidak menjawab, Kakek Tupai mengetukkan tongkat kayunya lagi. "Aduh, berhenti mengetuk kepalaku!"
Saat Xaver terlihat kesal, beberapa Humanimal Tupai itu ketakutan. Humanimal Serigala pada dasarnya adalah binatang karnivora. Bahkan setelah evolusi mereka menjadi pemakan buah, itu tidak menghilangkan ketakutan binatang Herbivora. Taring taring tajam milik para Karnivora selalu membuat para Herbivora takut secara alami. Itu adalah bawaan dari binatang yang menyatu di tubuh Humanimal mereka.
"Aku bukan penduduk asli di tempat ini. Aku kemari melalui portal sihir. Aku tidak tau kalau tempat ini adalah desa kalian. " Melihat para Tupai begitu pandai melakukan sihir, Xaver yakin kalau para Humanimal di dunia ini percaya pada takhayul dan sihir. Maka Xaver memutuskan untuk menjawab demikian.
"Lalu mengapa tidak pergi? Malah berkeliaran di desa kami?" Tanya salah satu Humanimal tupai.
"Hanya tempat ini yang tidak terkena matahari, sedangkan aku tidak bisa terkena matahari. Aku adalah pengikut setia Dewi Bulan. Jika aku terkena cahaya matahari, aku akan terbakar." Belajar dari Alythrea, Xaver berakting dengan memainkan ekspresinya.
Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, Kakek Tupai meminta Tim B melepas Xaver. "Baiklah, ini hanya kesalahpahaman saja, maafkan kami Tuan Serigala."
"Ya tidak apa-apa aku juga.... Aaaarrgh apa yang kau lakukan! Huhhuhu ekorku"
Seorang Humanimal Tupai tidak percaya dengan Xaver, yang mengatakan bahwa dia akan terbakar jika terkena cahaya matahari. Maka dengan sengaja membuka satu daun, untuk membiarkan cahaya matahari menembus kanopi hutan. Secara akurat mengarah ke ujung ekor Humanimal Serigala.
Para Humanimal Tupai mencium bau terbakar yang jelas. Dan ada asap kecil di ekor Serigala. Mereka semua akhirnya percaya kalau Xaver itu anti Matahari. Melihat serigala malang di depannya, memeluk ekornya yang terbakar. Kakek Tupai merasa kasihan. "Domuri! Hentikan! Jangan lakukan itu!"
Humanimal Tupai yang membakar ekor Xaver hanya cengengesan lalu melompat turun. Ia meminta maaf secara langsung kepada Xaver. "Maafkan aku tuan Serigala."
Melihat si Domuri ternyata hanya anak nakal yang masih kecil. Xaver hanya menghela nafas. Bukan hobinya untuk menggertak anak-anak. Kakek Tupai kasihan dengan Xaver yang tidak bisa berpergian di bawah Matahari. Namun masih takut dengan taring tajam milik Xaver.
"Kalau begitu Tuan Serigala bisa menetap hingga malam tiba. Mari Tuan Serigala. " Kakek Tupai memutuskan. Para Tupai mulai membubarkan diri. Xaver kembali ke posisi awalnya saat tiba. Kakek Tupai memerintahkan seekor Humanimal Tupai untuk terus mengawasi Xaver. Sebagai bentuk kewaspadaan.
Xaver yang menatap desa Humanimal Herbivora yang ia lihat tadi, ia bertanya-tanya apakah akan ada desa Humanimal binatang nokturnal juga?
Mengerti apa yang di pikirkan Masternya, Ream menjawab. "Master bisa bertanya pada jantan yang mengintip Master."
Xaver berbalik, ada seorang Humanimal Tupai pria yang mengintipnya. "Sepertinya pria itu tidak tau kalau Master sudah mengetahui lokasinya" ujar Ream
"Eh, tidak bersembunyi kok, aku hanya lewat hehehe" Humanimal tupai mirip dengan Humanimal kelinci yang Xaver lihat. Tubuh mereka cenderung lebih kecil dari Xaver. Dan Humanimal di depan Xaver adalah Humanimal tupai jantan.
"Tidak perlu berbohong. Hei Tuan kecil, katakan padaku apakah desa Humanimal malam juga ada? Maksudnya yang berisi Humanimal Nokturnal?" Tanya Xaver.
"Aku bukan Tuan kecil! Usiaku sudah 38 tahun. Dan namaku Tokari. "
'Tiga puluh delapan, jika itu manusia seharusnya sudah dewasa kan?' batin Xaver.
"Ya... Lalu? Bagaimana dengan pertanyaanku? Tidak asikkan jika aku berkunjung ke desa Humanimal yang sedang tidur. Aku ingin pergi ke desa nokturnal jika ada." ujar Xaver.
"Ada kok. Aku pernah bertualang saat muda. Aku pernah bertemu satu atau dua desa Nokturnal. Tapi itu sedikit jauh dari sini. Di daerah sana" Tokari menunjuk arah Timur dari hutan.
"Bisakah Tuan Tokari membuatkan petanya untukku?" Tanya Xaver.
Melihat binar penuh rasa ingin tahu di mata Serigala besar, Tokari hanya bisa menghela nafas Pasrah. "Sayangnya tidak bisa. Aku tidak bisa menulis atau membaca. Yang aku tau hanyalah bermain sihir atau pedang."
Xaver ikut menghela nafas pasrah. "Kalau begitu coba ceritakan detailnya kepadaku"
Tokari mengangguk. "Tidak jauh dari barisan gunung itu. Tetapi berhati hati dengan gunung itu" Tokari menunjuk gunung paling tinggi di barisan gunung.
"Gunung itu di sebut gunung setan. Tidak ada yang tau gunung itu berisi Humanimal apa, tapi setiap Humanimal yang masuk kesana takkan pernah kembali. Ada yang bilang itu adalah jalan menuju dunia lain. Tapi kurasa bukan begitu. Di sana tercium bau Amis, tempatnya juga lembab. Selain itu, di tempat itu juga ada banyak formasi ilusi yang di tanamkan. Pergi ke tempat itu hanya akan membuatmu menghilang selamanya. "
Xaver menatap Tokari seperti melihat nenek tua yang bercerita takhayul. "Lalu jika tidak bisa pergi ke sana, kemana aku harus pergi?"
Tokari menunjuk gunung terendah di barisan gunung. Letaknya berjauhan dari gunung tertinggi. "Pergilah melalui gunung itu. Jalurnya yang lebih rendah relatif lebih aman."
Xaver hanya mengangguk-angguk saja. Meski ia tidak terlalu percaya dengan mitos gunung setan, Insting Xaver mengatakan kalau tempat itu bukanlah tempat yang baik. Melihat Matahari mulai rendah, Xaver turun dari pohon besar. Ia mencari tempat yang tidak terkena matahari. Tokari tidak ikut turun. Tugasnya adalah mengawasi Tuan Serigala. Jika Serigala besar itu membuat ulah, maka Tokari harus segera melapor ke Tetua desa. Si Kakek Tupai.
Saat senja tiba, Matahari tak lagi terlihat. Langit yang terang hanya menyisakan cahaya jingga yang khas. Xaver berniat untuk pergi. Namun seorang anak kecil memanggilnya. "Hei Tuan Serigala!"
Xaver berbalik. Itu adalah Domuri, si anak nakal yang membakar ujung ekornya. "Ibuku adalah seorang perawat. Jika ada yang terluka, maka dialah yang menyembuhkannya. Ibu memerintahkanku untuk memberikan ini kepadamu, Tuan Serigala."
Xaver melihat Domuri memberikan sebuah lingkaran kayu kecil. "Apa ini?"
Xaver tidak tau benda apa itu. "Cobalah putar kedua sisi ke arah yang berlawanan"
Xaver melakukan yang Domuri katakan. Ternyata kayu itu semacam tempat untuk menyimpan salep luka bakar. Ada aroma herbal yang kuat memasuki hidung Xaver, saat ia menciumnya. "Itu adalah salep luka bakar. Kelak Tuan Serigala bisa menggunakannya, jika salah satu bagian tubuh Tuan Serigala terbakar."
"Baik terimakasih Nak" ujar Xaver.
Domuri mengangguk-anggukan kepalanya, lalu pergi meninggalkan Xaver. Xaver mencoba mengolah sedikit salep pemberian Domuri, ke ujung ekornya. Sensasi dingin dan nyaman menyebar ke seluruh bagian ekor yang terbakar. "Wah Salepnya ampuh juga, lain kali akan ku coba untuk meneliti bahan-bahannya."
Xaver memutuskan pergi dengan berjalan perlahan. Malam Hari mulai tiba, memang tidak terlihat bulan di langit. Namun kilau bintang yang berwarna warni sama indahnya dengan bulan. Sayang rasanya jika Xaver meninggalkan keindahan ini.
Ternyata jarak desa Tupai dan gunung tidaklah terlalu jauh. Xaver yakin saat hari kembali Siang, dia sudah tiba di barisan gunung.