
Atlas merasakan dirinya ditarik ke suatu tempat. Mata pemuda itu ditutup, membuatnya tak bisa melihat sekitar. Akan tetapi, sedikit pun pemuda tersebut tidak takut. Sebaliknya, ia justru penasaran ke mana musuh akan membawanya.
Beberapa saat berlalu, Atlas bisa merasakan dirinya berhenti ditarik. Seketika itu penutup matanya dibuka, dan ia langsung disuguhkan dengan pemandangan dari sebuah ruangan luas yang diterangi oleh beberapa lentera pada dinding. Namun, hal paling mencolok di sini ialah patung yang menyerupai pria bersayap sedang menunggangi seekor kuda, terletak tepat di belakang altar.
“Selamat datang, Nomos,” kata seorang pria dengan jubah putih, mendekati Atlas dari belakang.
Atlas merasakan kedua tangannya diikat, tetapi kedua kakinya tidak. “Apa yang kalian inginkan?”
“Aku tidak sedang berbicara denganmu!” Pria berjubah putih membentak Atlas, lalu mendekatkan wajahnya pada Kaysen yang kini berada di sebelah kiri Atlas. “Bukankah ini Kaysen Lex? Seorang Nomos berbakat. Tapi, kau tetap tidak berkutik di hadapan kami Sekte Dewa Boreas!”
“Aku kasian pada kalian yang menjadi buronan Kerajaan Udara!” balas Kaysen.
Pria berjubah kemudian pergi ke altar, berbalik, menatap Atlas dan Kaysen yang matanya dibuka, serta anggota sekte lainnya. Dia menerawang sekitar selama beberapa saat, memerhatikan orang-orang yang mereka culik.
“Karena kalian adalah Nomos,” kata pria berjubah putih, “aku akan menerima kalian sebagai anggota baru Sekte Dewa Boreas. Bagaimana?”
“Dari mana datangnya kepercayaan diri itu?” Kaysen memasang wajah datar.
“Kalian dapat memikirkannya selama beberapa saat.” Pria tadi pun segera duduk pada kursi di belakang Altar. “Kau, datang ke sini.”
“Baik, Tuan.” Seorang gadis dengan rambut panjang segera mendekat pada pria berjubah.
Atlas tahu gadis itu, dia adalah gadis berambut panjang yang ia lihat di atas bangunan beberapa saat lalu! Tentunya Atlas tidak menyangka kalau gadis secantik itu ternyata bagian dari sekte ini.
“Apa yang dia lakukan …?” Atlas tidak habis pikir ketika melihat gadis berambut panjang tadi segera menanggalkan pakaiannya dan duduk di pangkuan pria berjubah putih.
“Brengsek …,” gumam Kaysen, melirik Atlas sejenak. “Apa kita akan diam saja?”
“Belum ….” Atlas tahu bagaimana perasaan Kaysen sekarang, tetapi itu tidak boleh memengaruhi rencananya. Ia kemudian mengembuskan napas panjang. “Aku sepertinya tidak begitu paham dengan sekte ini. Jadi, perlu sedikit waktu lagi untuk memikirkannya.”
Kaysen tentu segera menoleh ke arah Atlas, tetapi dia segera memalingkan pandangan ke depan. Sekarang Kaysen berusaha untuk mengikuti rencana Atlas yang tidak bisa dia pahami.
Pria berjubah melirik Kaysen dan Atlas selama beberapa saat, kemudian melambaikan tangannya seperti mengusir. “Masukkan mereka semua ke penjara. Kita tak memerlukannya lagi!”
“Baik, Tuan!” Para penculik yang mengenakan jubah hitam pun kembali menutup mata Atlas dan Kaysen, membawa mereka ke ruangan lain.
Atlas bisa mendengar suara pintu besi dibuka, lalu ia didorong hingga tersungkur ke tanah, baru selanjutnya pintu besi ditutup. Ini sudah mendakan bahwa strategi mengorek informasi ke sumber utama sudah hilang dari pilihan, tetapi Atlas masih memiliki strategi lainnya.
“Atlas,” kata Kaysen, membuka penutup mata Atlas, “apa kau baik-baik saja?”
Segera Atlas bisa melihat dirinya berada di balik jeruji besi bersama dengan Kaysen. “Sepertinya kita ditempatkan di tempat lain. Mungkin ini sebuah penjara khusus?” Ia berdiri sembari melirik ke luar penjara.
Perlahan Atlas berdiri di sebelah kanan Kaysen. Tangan pemuda ini masih terikat, tetapi ia mengabaikan hal tersebut. Matanya melirik ke luar, melihat beberapa penjara lain.
“Pantas saja tempat ini sangat sepi,” kata Atlas.
Sejenak Kaysen melirik kedua tangan Atlas yang masih terlilit oleh rantai yang terbuat dari angin. “Apa kau tidak berniat untuk melepaskan rantai itu?”
Atlas kemudian melirik kedua tangannya yang terikat, lalu melirik tangan Kaysen yang sudah lepas dari ikatan. “Hah? Bagaimana caramu melakukannya?”
“Haah ….” Kaysen mengembuskan napas panjang, lalu menciptakan sebuah pisau kecil dari angin. Hanya dengan sekali tebasan pisau melayang tersebut, rantai di tangan Atlas segera hancur. “Hanya seperti ini.”
“Hehe. Terima kasih.”
“Tidak masalah.”
Mereka kemudian melirik keluar penjara lagi, tidak menemukan keberadaan penjaga sejauh ini. Tak lama kemudian, mereka saling menatap dan menganggukkan kepala, memberi kode. Tanpa banyak basa-basi, Kaysen membuat pisau angin kecil lagi, menghancurkan pagar besi, lalu keluar dari sana.
“TOLONG!”
Sontak Atlas dan Kaysen melirik ke sumber suara. Tidak perlu menunggu lama, mereka berdua segera menyusuri lorong di deretan kamar penjara. Lorong ini membawa mereka masuk lebih jauh, tetapi semakin ke ujung, semakin tak ada orang dalam penjara.
Mengabaikan semua itu, Atlas dan Kaysen terus berlari, sampai akhirnya mereka menemukan banyak orang berjubah hitam berkumpul sambil membawa obor di tangan. Tentu kedua pemuda ini tidak langsung menerobos masuk, melainkan bersembunyi terlebih dahulu.
Sayangnya, tidak berselang lama pandangan Atlas segera menjadi gelap. Ia tidak begitu mengerti apa yang terjadi, tetapi mendadak dirinya sudah terbaring di atas altar dengan tubuh terikat. Tidak hanya dia, tetapi juga terlihat Atlas dan pria bernama Black diikat bersamanya di atas altar tersebut.
Pria berjubah putih kemudian datang, berdiri di depan mereka yang tengah terbaring. Senyum lebar terlihat dari bibir pria tersebut, sedangkan beberapa orang dengan jubah hitam datang sambil membawa obor di belakangnya. Atlas merasa ada yang janggal, tetapi tidak mengetahui apa itu.
“Luar biasa!” kata pria berjubah putih. “Kalian memiliki kekuatan besar! Dewa Boreas pasti akan senang dengan persembahan malam ini!”
Para pria berjubah hitam segera membentuk lingkaran mengelilingi altar. Sampai detik ini, Atlas masih belum bergerak, hingga akhirnya terlihat beberapa orang berjubah hitam lain, membawa sangkar besar yang berisikan gadis-gadis tanpa busana.
Gadis-gadis itu menjerit ketakutan, meminta tolong, tetapi seperti tidak ada yang peduli. Sangkar besar itu kemudian diletakkan di sebelah altar, membuat Atlas bisa mendengar jeritan mereka.
“Dengar dan lihatlah persembahan ini, Dewa Agung Boreas!” seru pria berjubah putih kala angin berembus kencang, tetapi tidak memadamkan api di obor yang dibawa oleh beberapa orang berjubah. “Terimalah persembahan ini!”
Atlas menutup mata sejenak sembari mengalirkan Erebus ke sekujur tubuh. Perlahan ia bangkit ketika rantai-rantai angin yang mengikat sekujur tubuhnya hancur.
“Ini sudah cukup.” Sejauh ini Atlas sudah mengetahui betapa buruknya Sekte Dewa Boreas ini. Namun, karena keterbatasan waktu dan tak sempat untuk menganalisis kekuatan lawan, ia berniat melawan menggunakan rencana terbatas.
Kaysen menyadari Atlas bangkit. Dia pun segera mengalirkan Fanes ke sekujur tubuh, menciptakan banyak pisau kecil untuk menghancurkan rantai yang mengikat tubuhnya.