Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 15: Wakil Ketua



Seorang pria dengan rambut panjang yang acak-acakan terlihat mendekat ke altar. Tanpa mengatakan apa pun pria tersebut melepas tali yang mengikat gadis berambut panjang yang mengenakan gaun berwarna biru di atas altar. Setelah semua tali dilepas, dia lantas memalingkan pandangan pada Atlas yang kini meletakkan pria bertopeng hitam.


“Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Sang Libra,” kata pria berambut panjang sambil mengangkat kedua tangan. “Aku Anthony Blade, wakil ketua Eximo.”


Atlas pun melangkah mendekat ke altar, sedangkan Anthony masih mengangkat kedua tangan dan tak bergerak sedikit pun. Tentunya Atlas tak berniat untuk menyakiti pria tersebut, melainkan memeriksa keadaan gadis di atas altar.


“Aku dapat menjamin dengan nyawaku bahwa dia baik-baik saja,” ucap Anthony. “Dia hanya pingsan dan akan segera pulih.”


“Sepertinya memang begitu,” jawab Atlas, memalingkan pandangan pada Anthony. “Dari pria bertopeng tadi aku sudah tahu bahwa kalian melakukan ini bukan karena uang. Lalu, apa tujuan kalian sesungguhnya? Kudeta?”


“Melakukan kudeta hanya dengan lima puluh orang Nomos yang memberontak?” Anthony tersenyum tipis. “Itu hanya bisa dilakukan jika kami semua sekuat dirimu, Sang Libra.”


“Katakan saja keinginan kalian. Aku di sini tidak untuk membantu Felix membunuh orang saja.”


“Kau pasti akan tertawa jika aku mengatakannya.” Sejenak Anthony melirik mata dan ekspresi Atlas. “Tapi sepertinya kau bukan orang seperti itu.”


...***...


“Elemen Angin: Tarian Pedang!” Kaysen melompat tinggi ketika dua buah pedang angin muncul di kedua tangannya. Ia lantas melesat ke bawah, menebas tiga musuh dalam sekali serangan.


Kaysen berhasil menumbangkan musuh, tetapi musuh lain melesat ke arah pemuda itu. Mereka menyerang Kaysen dengan tebasan pedang yang membabi-buta. Dua orang pengguna pedang angin menyerang Kaysen dari dua sisi, membuat pemuda tersebut harus benar-benar fokus.


“Jangan ragu untuk menghancurkan mereka semua!” seru salah satu sosok yang menutup wajah dengan kain hitam. Ucapannya itu jelas membuat rekan-rekannya semakin semangat dan menyerang lawan tanpa ampun sedikit pun. “Kita akan menegakkan keadilan untuk orang lemah!”


Di sisi lain, Felix begitu kesulitan menghadapi lima musuh sekaligus. Pemuda itu lantas melompat ke belakang sembari menarik napas panjang. “Elemen Angin: Tembakan Bola Angin!”


Dari mulut Felix meluncur cepat beberapa bola angin, bergerak lurus pada salah satu musuh yang ada di tengah. Tidak hanya sampai di sana, Felix segera membentuk kuda-kuda kokoh sembari mengalirkan Fanes ke sekujur pedangnya.


Empat musuh dengan cepat melesat ke depan, mengayunkan pedang secara vertikal dari atas bersama-sama. Meski sudah didesak seperti itu, Felix tetap tenang, mengayunkan pedang secara horizontal dari kanan ke kiri.


Benturan pedang pun menggema di tengah dinginnya malam. Felix kehilangan keseimbangan, hampir jatuh terbaring. Sementara itu, empat musuh yang menyerangnya secara bersamaan kini terhempas ke belakang. Itu menunjukkan perbedaan besar di antara Felix dengan lawan-lawannya.


Walaupun empat musuh berhasil dihempaskan, sekarang Felix harus bersiap menghadapi serangan dari empat musuh lagi yang berhasil mengepungnya dari segala arah. Felix kembali berdiri tegak sembari mengamati gerakan lawan dengan cepat. Setelah mendapat waktu yang tepat, dia segera melompat setinggi mungkin, menghindari serangan.


Sementara itu, tak jauh dari Felix, Kaysen berdiri tegak masih menggenggam masing-masing satu pedang angin di kedua tangan. Di depan pemuda ini, terlihat enam rekannya sudah tumbang, dan sekarang lima belas musuh sudah siap untuk menyerangnya kapan saja.


Tidak tampak takut atau pun panik, Kaysen malah tersenyum tipis melihat hal ini. “Lima belas melawan satu orang? Ini sungguh sesuatu yang membuat jantungku tak bisa berhenti berdebar kencang!” Ia kembali membuat kuda-kuda kokoh sembari mengatur tarikan napas. “Elemen Angin: Tarian Pedang!”


“Elemen Angin: Pukulan Angin!” Salah satu musuh menyerang Kaysen dari belakang dengan bola angin besar berbentuk kepalan tangan. Bola angin tersebut bergerak dengan sangat cepat.


Kaysen sontak melompat tinggi, menghindari serangan lawan. Serangan itu pun bukan menghantam Kaysen, melainkan lawan-lawan Kaysen yang lain. Memanfaatkan hal tersebut, Kaysen mengalirkan Fanes ke sekujur pedang angin. “Elemen Angin: Tebasan Pedang Angin!”


Serangan angin berbentuk setengah lingkaran segera melesat cepat ke bawah kala Kaysen mengayunkan pedang. Akan tetapi, salah satu musuh berhasil menghalau serangan tersebut menggunakan pelindung bola angin. Gelombang udara pun terbentuk kala serangan Kaysen dan pertahanan musuh saling berbenturan.


“Serang!!!” Kembali seruan seorang musuh menggema.


Kali ini Kaysen terdesak. Ia lantas menyilangkan kedua pedang di depan wajah sembari mengalirkan Fanes ke sekujur tubuh.


“Elemen Angin: Tembakan Bola Angin!” Musuh dengan serentak menyerang Kaysen menggunakan tembakan bola angin.


Kendati demikian, Kaysen tidak mau kalah begitu saja. “Elemen Angin: Bola Angin Pelindung!” Ia melindungi diri dalam sebuah bola angin besar. Tak cukup dari sana, ia sekali lantas menyerang balik. “Elemen Angin: Panah Angin!” Tanpa ragu ia menghujani lawan menggunakan banyak anak panah yang menghujam ke bawah layaknya hujan.


...***...


Atlas mengangkat gadis yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas altar. “Sepertinya di luar sana sangat riuh.” Ia mengatakan itu setelah mendengar banyak ledakan serta merasakan gelombang udara yang membuat bangunan tua ini hampir roboh. “Karena kalian meletakkan gadis ini di atas altar bukan untuk persembahan atau apa pun, maka aku akan membawanya.”


“Ya,” balas Anthony, tidak menahan Atlas sedikit pun. “Aku sudah menduganya, tetapi kau sungguh tak menertawakan tujuan kami, ya?”


Sejenek Atlas melirik Anthony, kemudian berbalik, perlahan turun dari altar. “Aku bukan orang seperti itu.” Ia terus bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Daripada itu, lebih baik kau ikut aku menemui mereka.”


“Baik!”


Haah … bagaimana mungkin aku bisa menertawakan tujuan kalian? Pikir Atlas. Kalau aku melakukannya, itu sama saja menertawakan diriku yang dulu. Ini jauh lebih rumit dari yang terlihat.


Setelah berada di pintu keluar, Atlas membuka pintu dan menemukan Kaysen dan Felix sudah dikepung oleh musuh. Sementara itu, sepuluh Nomos yang dibawa oleh Felix, sekarang semuanya sudah terkapar, tak sanggup lagi bertarung.


“Kalian sungguh melakukannya,” kata Atlas, membuat semua perhatian terarah padanya. Atlas memerhatikan sekitar selama beberapa saat. “Kurasa kalian setidaknya sudah kehilangan setengah dari jumlah kalian, kan, Eximo?”


Seorang pria dengan tubuh kekar dan rambut pendek—sosok berjubah yang diserang Felix pertama kali, menatap tajam ke arah Atlas. “Sepertinya kau telah meremehkan kami!”


Di sisi lain, Felix sedikit tersentak melihat Atlas menggendong adiknya. Sejenak dia tersenyum tipis, tampak lega melihat Atlas berhasil membawa adiknya sekarang ini.


“Kita takkan menang,” kata Anthony yang mendadak keluar menyusul Atlas. Keberadaannya tentu langsung membuat anggota Eximo lain terkejut dan bertanya-tanya.