
Rembulan bersinar menerangi gelapnya malam. Di tengah rentetan rumah kosong yang terbuat dari bata, terlihat sebuah kereta kuda yang ditarik dua ekor kuda tengah berhenti untuk beristirahat.
Seorang pria dengan pedang pendek di punggung, keluar dari kereta kuda, diikuti oleh beberapa orang lainnya, salah satu dari mereka adalah Atlas. Tak lama kemudian, kereta kuda lainnya datang dan berhenti di tempat yang sama, menurunkan para penumpang untuk beristirahat sejenak.
Atlas dan Kaysen sedikit menjauh dari para penumpang lain, tak ingin terlalu berbaur dengan mereka. Ketika Atlas terlihat tenang sembari memerhatikan sekitar, Kaysen malah sebaliknya. Kaysen tampak beberapa kali menoleh ke belakang, tepat pada penumpang kereta kuda yang kini membuat api unggun kecil.
“Tuan Black,” kata seorang pria gemuk dengan pakaian berwarna merah, “malam ini kita benar-benar aman, kan?”
Pria dengan pakaian serba hitam dan pedang pendek di punggung menoleh. “Apa kau tidak tahu batapa hebat diriku, Gendut?!”
“Maafkan aku, Tuan Black.” Pria bertubuh gendut segera menjauh, masuk ke dalam kereta kuda.
Di sisi lain, Kaysen berhenti memerhatikan para penumpang kereta kuda itu, kemudian melirik ke arah Atlas. “Orang bernama Black itu sangat sombong!”
“Apa pedulimu?” Atlas tampak tidak tertarik. Akan tetapi, tiba-tiba matanya teralihkan ke atas sebuah rumah. Ia melihat sosok seorang wanita dengan rambut panjang sedang duduk memandangi rembulan.
“Kau benar,” kata Kaysen, tetapi Atlas tidak memerhatikan hal tersebut, melainkan mengusap mata sejenak.
“Ke mana perginya wanita tadi?” Atlas menerawang sekitar. Namun, setelah mengusap mata, ia malah tidak menemukan lagi wanita dengan rambut panjang tadi.
Kaysen kemudian melihat ke arah yang dilihat Atlas. “Apa kau melihat sesuatu, Atlas?”
Atlas menggelengkan kepala. “Kurasa aku hanya sedikit lelah.”
“Ah, begitukah?”
Keheningan terjadi selama beberapa detik. Sampai akhirnya, Kaysen mengingat sesuatu.
“Omong-omong, Atlas. Aku rasa aku memiliki sesuatu hal yang bisa kau pedulikan,” ucap Kaysen.
Seperti tidak mau tahu, segera Atlas duduk di sembarang tempat. “Aku mungkin tetap tidak akan peduli.”
Mengabaikan jawaban Atlas, tanpa berlama-lama Kaysen duduk di sebelah Atlas. “Ini pertama kalinya setelah tiga bulan terakhir, ada sebuah perjalanan dari Erato Satir ke Erato Stix dilakukan di malam hari. Biasanya hanya dilakukan pada siang hari. Terlebih melewati rute ini.”
“Apa ada sesuatu yang terjadi di sini?”
“Ini bisa dibilang rumor, tetapi bisa juga dikatakan sebagai kejadian nyata. Ketika masuk ke Erato Stix melewati pemukiman kosong ini, banyak kereta kuda yang hilang.”
“Bukankah itu hanya mitos?” Sejenak Atlas melirik ke belakang. “Selain itu, pria gendut yang memiliki banyak uang itu sepertinya sudah menyewa banyak pengawal untuk dia dan keluarganya. Kurasa semuanya sudah dalam perhitungan. Ditambah lagi, ada seorang maniak bertarung sepertimu yang mau ikut bersama mereka.”
“Mau bagaimana lagi?” Kaysen menatap kosong ke depan. “Hanya itu satu-satunya kereta kuda yang bisa membawa kita ke Erato Stix di malam hari seperti ini.”
“Aku tidak ingin berkomentar.” Atlas kembali melirik ke atas rumah kosong di mana wanita berambut panjang tadi duduk.
Tak lama kemudian, Atlas dan Kaysen seketika berdiri. Firasat mereka sama-sama merasakan hal buruk, tetapi tidak tahu apa itu. Sedangkan di sisi lain, pria kekar bernama Black dan pengawal lainnya tampak tenang, tidak merasakan apa pun.
Atlas dan Kaysen segera mendekat ke kereta kuda sambil menerawang sekitar. Mereka berdua tampak sangat waspada, berdiri tepat di sebelah kereta kuda yang di dalamnya terdapat pria gendut dengan istri serta dua anak perempuan mereka.
Tidak mengatakan apa-apa, Atlas mengamati para pengawal yang berjumlah delapan orang, terdiri atas dua wanita dan enam pria—tidak termasuk Atlas dan Kaysen. Atlas tidak tahu bagaimana kekuatan mereka, tetapi ia yakin mereka bisa melindungi pria gendut beserta keluarga.
Melirik Atlas sejenak, lalu kembali memerhatikan sekitar, Kaysen menjawab, “Ya, aku yakin akan hal itu. Apa kau mulai tertarik?”
“Apakah ada upaya untuk menyelidiki kasus ini?”
“Waktu itu Erato Satir dan Erato Stix telah melakukan penyelidikan, tetapi tidak menemukan apa pun. Namun, kasus hilangnya kereta kuda tetap berjalan.” Kaysen diam sesaat, berpikir. “Kurasa sampai saat ini masih ada upaya penyelidikan, tetapi terganggu dengan adanya perang melawan Kerajaan Api.”
Sesaat setelah Kaysen menyelesaikan kalimatnya, api unggun kecil yang dikelilingi Black dan yang lainnya segera padam. Para pengawal bayaran itu pun segera berdiri, memerhatikan sekitar dengan waspada.
“Apa yang terjadi?” Pria gemuk mengintip keluar.
“Hanya trik murahan,” jawab Black, mengeluarkan pedang pendek di punggungnya. “Diamlah di sana! Jangan bergerak!”
“A—” Tiba-tiba salah satu pengawal wanita menghilang.
Atlas melirik ke sekitar, kemudian berbisik pada Kaysen, “Jangan melakukan apa pun.”
Kaysen hendak menolak, tetapi kemudian mengiyakan, “Baiklah. Aku percaya padamu, Sang Libra.”
“Ya.”
Ini tidak lebih dari mainan anak-anak, pikir Atlas. Ia sangat paham pada situasi, sehingga bisa membuat rencana dengan tenang.
“Lindungi kereta kuda!” kata Black, memberikan arahan pada pengawal lain.
“Ba—” Satu lagi, seorang pengawal wanita menghilang begitu saja di tengah-tengah deretan rumah tanpa penduduk.
“Jangan panik!” seru Black, memerhatikan sekitar. “Mereka hanya berani pada wanita!”
Sayangnya, sesaat setelah Black berkata seperti itu, dua pengawal pria menghilang di saat bersamaan. Black yang sudah tidak tahan lagi, segera menebaskan pedang ke depan, membuat sebuah serangan angin berbentuk setengah lingkaran.
“Keluar kalian!” Black berseru, kian waspada.
Di sisi lain, Kaysen memastikan lagi, “Kau yakin akan membiarkannya?”
Atlas tidak mau melirik Kaysen sedikit pun, melainkan diam memerhatikan apa yang terjadi, tetapi bertingkah seperti tidak tahu apa-apa. “Lakukan saja yang kukatakan.”
“Baiklah ….”
Tiba-tiba Black melesat ke depan kala melihat jaring angin berbentuk jaring laba-laba hendak memerangkapnya. Tanpa ragu pemuda itu mengalirkan Fanes ke tangan kanan.
“Kali ini kau tidak akan kulepaskan!” Black melesat mengayunkan pedang pendeknya secara diagonal ke depan, ke arah orang berjubah hitam. Akan tetapi, orang berjubah hitam mendadak hilang, sehingga serangan Black tidak berhasil mengenai target.
Di saat bersamaan, kereta kuda yang di dalamnya terdapat pria gendut, menghilang begitu saja. Atlas dan Kaysen melirik ke sana kemari, tetapi kemudian mereka berdua seperti dililit oleh tali tak terlihat. Tali tersebut mengangkat mereka ke atas, lalu masuk ke salah satu rumah kosong.
Atlas membiarkan dirinya terikat, dibawa ke suatu tempat oleh sesuatu yang tidak diketahui. Ia memang tak bisa melihat apa pun, tetapi semua ini membuatnya tersenyum tipis, merasa rencananya sudah berhasil tanpa halangan.