Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 33: Janji



Siang hari ketika pertumpahan darah terjadi di Gurun Thanatos, banyak orang terdiam melihat pertarungan sengit antara Atlas melawan Draco. Pertarungan kedua Anak Bintang tersebut memang tidak bisa diabaikan, karena sangat memukau dan membuat Seth dan Nomos sadar akan perbedaan kekuatan mereka dengan kedua orang itu.



Akan tetapi, pertarungan itu tidak berlangsung lama. Di saat itu pula, Felix bergerak menuju tempat di mana pertarungan tersebut berlangsung. Ia menyaksikan secara langsung, kedua Anak Bintang dengan kekuatan seimbang itu kini telah terbaring di pasir tak sadarkan diri. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung berlari dan memeriksa keadaan Atlas.



“Dia masih bernapas …,” gumam Felix. Sebelum mengangkat Atlas ke atas bahunya, ia melihat Menes datang, langsung membawa Draco pergi tanpa mengatakan apa pun.



Walau pun Menes tampak terluka cukup parah, Felix mengabaikannya begitu saja, tidak mau mengejar lawannya itu. Sekarang prioritasnya adalah membawa Atlas ke tim medis.



Felix pun menggendong Atlas di bahunya, lalu mengambil pedang yang digenggam pemuda tersebut. Ia berjalan perlahan menuju tenda medis sembari menahan luka-luka di sekujur tubuhnya. Kondisi seperti ini tidak terlalu membuatnya kesulitan, tetapi memang ia merasakan ketidaknyamanan menahan rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuh.


...*** ...


Ruangan luas dengan meja besar dan deretan kursi di setiap sisinya, telah dipenuhi oleh berbagai jenis makanan. Perayaan kali ini dilakukan sehari setelah Atlas keluar dari rumah sakit.



Pada salah satu kursi, Atlas duduk sembari menyantap makanan secukupnya. Di kursi-kursi lain terdapat Kaysen, Felix, Agatha, serta keluarga Vonturnus lainnya—termasuk orang tua Felix.



Setelah makan selesai, terjadi perbincangan antara Atlas dengan Moirai dari Aither Vonturnus yaitu Damon Vonturnus—ayah Felix. Perbincangan itu hanya tentang ucapan terima kasih dari Damon untuk Atlas karena sudah bersedia menemani Felix pada peperangan di Gurun Thanatos, kendati akhirnya tidak pulang sebagai pemenang.



Beberapa saat setelahnya, mendadak Felix berdiri dan berkata sembari merendahkan tubuhnya pada Damon, “Ayah, setelah memikirkan semuanya, aku akhirnya yakin dengan keputusanku.”



Damon melirik Felix sejenak, menjawab, “Jadi begitu. Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi apakah kau sungguh yakin akan menanggalkan jabatanmu sebagai Keto dari Musai Pusat Vonturnus?”



“Iya, Ayah.” Felix kemudian memalingkan pandangan pada pemuda yang duduk di sebelah Agatha. “Aku yakin kalau Istvan akan menjadi Keto yang hebat dan akan melampauiku.”



“Kakak terlalu berlebihan,” sahut Istvan. “Aku tidak cocok dengan jabatan ini. Kenapa kakak tiba-tiba memberikannya padaku?”



“Karena kakakmu—Agatha suatu saat nanti akan pergi meninggalkan keluarga Vonturnus. Sehingga kau yang akan bertanggungjawab atas Musai ini.”



“Haah ….” Istvan tampak tidak puas akan jawaban itu. “Kaulah yang ditunjuk ayah untuk tugas ini, Kak. Kami hanya bertugas untuk membantumu, bukan menggantikanmu. Kau tidak dapat melepaskan jabatan ini begitu saja.”



“Istvan benar, Felix,” sahut pria yang sedikit lebih muda dari ayah Felix. Dia adalah paman Felix yang bernama Thomas Vonturnus. “Aku mengerti akan keinginanmu untuk melayani Sang Libra, tetapi juga tak dapat melepaskan tanggungjawabmu.”



“Tunggu!” Atlas yang sedari tadi diam, kini angkat bicara. “Apa maksudnya dengan melayaniku?”



Thomas, Damon, dan yang lainnya melirik Atlas dengan heran. Melihat hal itu, Felix lantas menjelaskan, “Aku sudah memutuskan untuk mengikutimu, Atlas. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Ini kan janji yang telah kita buat.”



“Aku tidak pernah merasa pernah menyetujuinya ….”



“Kau hanya lupa.”



“Haah … lakukan sesukamu.” Sekali lagi Atlas menyerah dan tidak ingin memperpanjang masalah. Lagipula, ia tidak yakin kalau Felix akan dapat menanggalkan jabatannya sebagai Keto sekarang.



“Kau setuju, kan, Istvan?” tanya Felix sekali lagi.



“Tidak sama sekali,” jawab Istvan. Pemuda ini memang sangat berbeda dari kebanyakan anak bangsawan yang ingin mendapatkan jabatan. Dia sedikit pun tak tertarik akan hal tersebut.



“Ayolah …, Istvan. Aku yakin ini kau akan dapat menangani ini.”




Berhubung Felix dan Istvan belum kunjung mendapatkan keputusan, akhirnya ibu mereka—Brisia Vonturnus angkat bicara, “Bagaimana kalau begini saja?”



Seketika semua mata terarah pada satu titik yang sama, yaitu Brisia. Semua orang menutup mulut untuk menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya.



“Untuk sementara waktu, Felix dapat pergi bersama Tuan Atlas, lalu Istvan akan menjadi Keto sementara selama perjalanan tersebut berlangsung,” lanjut Brisia.



“Itu masih sangat merepotkan,” keluh Istvan.



“Tenang saja, Istvan,” balas Agatha. “Kakak akan membantumu.”



Atas semua bujukan itu, akhirnya keputusan pun didapatkan. Meski memang masih belum ikhlas, Istvan menyanggupi, “Baiklah. Namun, Kak Felix harus segera kembali atau aku akan meleburkan Musai Pusat Vonturnus dengan Musai Frike.”



“Kau sungguh seorang pemalas tingkat tinggi, ya, Istvan …,” kata Felix. “Tapi baiklah, aku akan sering berkunjung dan melaksanakan tugasku.”



“Jangan lupa untuk selalu membawa buah tangan.”



“Baik, baik, adik kecilku.”



Percakapan pun berakhir setelah mendapatkan kesimpulan. Mereka kemudian mulai keluar dari ruang makan, menuju ke arah yang berbeda-beda.



Atlas, Kaysen, dan Felix memutuskan untuk keluar dari mansion. Awalnya Atlas tidak tahu harus pergi ke mana, sampai akhirnya Felix berkata, “Omong-omong, Raja Alexander Caesar memanggilku ke istana. Apa kalian tertarik untuk ikut bersamaku?”



“Raja Alexander Caesar?” gumam Atlas. “Aku sedikit penasaran tentangnya, tetapi aku tidak mau jika akhirnya dia malah berlagak memerintahku sesuai keinginannya.”



“Dia sangat mungkin melakukan itu,” sahut Kaysen. “Maksudku, dia memang tipe seperti itu. Mungkin memang sudah bawaan sejak lahir.”



“Dan ambisi-ambisinya juga terasa konyol,” timpal Felix. “Haah ….”



“Entah mengapa ekspektasiku seketika hancur ketika kalian mengatakan hal-hal seperti itu tentangnya.” Atlas memasang wajah datar.



“Memang sebaiknya tidak perlu terlalu berharap,” Felix menegaskan.



Perjalanan baru kini sudah ditentukan, menuju Istana Kerajaan Udara untuk bertemu dengan Raja Alexander Caesar. Nama ini sedikit membuat Atlas penasaran, ia bahkan sampai membayangkan wajah dan tubuh raja tersebut seperti Nero Caesar—seorang kaisar yang ia bunuh di kehidupan pertamanya.



“Omong-omong ….” Atlas mendadak terpikir akan sesuatu. “Dia mengundang kita ke istana tidak untuk menghukum kita karena gagal dalam perang itu, kan?”



“Ah, aku juga baru terpikir akan hal itu,” sahut Felix, mulai membayangkan situasi terburuk yang mungkin akan terjadi. “Bagaimana kalau dia mendadak ingin mengeksekusi kita?”



“Tidak, tidak, tidak,” sangkal Atlas. “Bagaimana kalau dia malah menyiksa kita seumur hidup?!”



Melihat dua rekannya memikirkan hal konyol, Kaysen berkata, “Itu tidak mungkin. Paling dia hanya akan menanyakan satu atau dua hal pada kita. Meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang akan ditanyakannya.”



“Sepertinya sudah jelas bahwa dia akan menyiksa kita di penjara seumur hidup ….” Felix duduk dan menggaris-garis tanah dengan jarinya.