
Bulan bersinar terang di malam hari. Langit tampak cerah tanpa ada tanda-tanda akan turun hujan. Berhiaskan ribuan bintang di angkasa seperti pernak-pernik indah yang menghiasi ruang pesta.
Di puncak sebuah gunung, terlihat banyak orang berkumpul. Dalam kawah gunung tersebut terdapat genangan magma yang mendidih. Asap menyembur keluar, membuat malam hari terasa lebih panas dari biasanya.
Dari banyaknya orang, tampak Neo Khufu berdiri di tepian kawah sambil melirik ke bawah selama beberapa saat. Ia tidak mengatakan apa pun, lalu memalingkan pandangan kea rah lain.
Tak lama berselang, dua pria kekar membawa seorang pemuda yang mata, mulut, tangan, dan kakinya terikat ke hadapan Noe Khufu. Salah satu dari dua pria tadi pun berkata, “Dewaku, persembahan sudah disediakan.”
Neo Khufu masih memasang wajah datar, kembali melirik ke kawah gunung berapi. Menarik napas pendek, ia berkata, “Buktikan padaku pengabdianmu.”
“Sesuai perintahmu, Dewaku,” jawab dua pria kekar, mulai berjalan ke tepian kawah.
“Emmp emmp.” Pemuda yang mulutnya terikat mencoba untuk melepaskan diri.
Meski begitu, tidak memedulikan apa pun juga, kedua pria kekar melempar si pemuda ke dalam kawah. Bahkan masih belum cukup, mereka lantas melempari pemuda tersebut menggunakan bola-bola api.
Semua orang menutup mulut, satu pun tak ada yang berniat untuk protes terhadap ritual ini. Suasananya begitu sunyi sampai akhirnya dua pria kekar selesai melakukan tugas dan belutut kepada Neo Khufu diikuti oleh semua orang yang ada di sini sekarang. Mereka menanti dengan tenang, keajaiban yang akan diciptakan oleh Dewa dan Raja mereka—Neo Khufu.
“Langit dan bumi tunduk kepadaku,” ucap Neo Khufu. “Seisi dunia harus patuh dan menyembahku tanpa pengecualian.”
“Sesuai perintahmu, Dewaku,” sahut semua orang.
“Dengan otoritas mutlak tanpa toleransi. Bangkitlah di hadapanku, Domba Jantan Abadi dilingkupi api yang tak padam—Sang Aries!”
Api seketika menyembur keluar dari dalam kawah. Semua orang tak berani menengadah, melainkan hanya tertunduk sembari berdoa pada Dewa mereka—Neo Khufu, meminta keselamatan.
Suhu udara sekali lagi meningkat, tetapi Neo Khufu masih berdiri tenang dengan memasang wajah datar. Tatapannya kosong seperti menatap ke dalam kehampaan sebuah ruang yang gelap. Taka da emosi apa pun yang keluar dari dalam dirinya, meskipun semua orang sangat tunduk dan menanti keajaiban darinya.
Hanya perlu beberapa saat sampai akhirnya bayangan seseorang terpantul dari pupil mata Neo Khufu. Dari api yang menyala-nyala, terlihat bayangan seseorang berada tepat di dalam kobaran api tersebut. Sosok tersebut melayang seperti tubuhnya menyatu dengan api.
“Angkat kepala kalian,” kata Neo Khufu pada para pengikutnya.
Semua orang yang berada di puncak gunung pun mengangkat kepala mereka, menyaksikan secara langsung kemunculan seorang pemuda bertubuh kekar yang keluar dari api. Pemuda tersebut mengenakan jubah dari bulu domba jantan. Akan tetapi, hal paling menakjubkan adalah fakta bahwa pemuda itu merupakan pemuda yang baru saja dibuang ke kawah gunung berapi.
“Agunglah dirimu, Dewaku!” puja semua orang. “Agunglah dirimu dan keajaibanmu, Dewaku!”
Suasana yang tadinya sunyi, kini menjadi riuh oleh pujaan orang-orang. Mereka sekali lagi dibuat yakin dan percaya bahwasannya Neo Khufu merupakan Dewa paling sempurna dibandingkan dewa-dewa lainnya.
Ketika orang-orang sibuk memuja Neo Khufu, pemuda yang keluar dari dalam api tampak melirik ke sana-sini. Ia menggaruk kepala sejenak, kemudian bertanya, “Di mana ini?”
“Selamat datang, Sang Aries.” Neo Khufu tak berniat sedikit pun untuk mengubah nada suaranya yang datar. “Mulai sekarang kau akan mengabdi padaku untuk selamanya.”
“Huh?!” Si pemuda menyelimuti sekujur tubuhnya dengan api. “Kau pikir siapa dirimu?!”
Pemuda bertubuh kekar melirik sekitar selama beberapa waktu. Setelah melihat sekumpulan orang di sini, akhirnya dia menjawab, “Baiklah. Kali ini aku akan menerima usulanmu.”
“Itu bagus.”
“Tunjukkan jalannya!”
...*** ...
Malam sudah larut, bulan masih bersinar terang, dan angin bertiup dari daratan yang lebih tinggi. Hiruk-pikuk orang-orang terdengar di halaman istana. Sebuah pesta besar diadakan dalam rangka menyambut Neo Khufu setelah melakukan sebuah keajaiban di Gunung Tefnut di Wilayah Penghakiman Tefnut.
Alih-alih berada di dalam pesta dan bersenang-senang dengan semua orang, Neo Khufu justru pergi setelah mengatakan beberapa kata sambutan. Ia sengaja tak ingin berlama-lama dan langsung menuju sebuah ruangan di dalam istana karena sebuah urusan penting.
Seorang pemuda tampak duduk tenang di sebuah balkon. Kursi panjang dan sebuah meja persegi panjang ada di balkon tersebut, sehingga si pemuda tak perlu berdiri. Selain itu, pemandangan dari balkon ini terlihat lebih tenang di bandingkan dengan halaman istana di sisi lain.
Mendadak Neo Khufu masuk ke dalam ruangan, kemudian duduk di kursi di seberang meja pemuda bertubuh kekar. Pria itu hanya berwajah datar seperti biasanya, layaknya seorang mayat yang hidup.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya si pemuda yang baru saja bangkit dari kawah Gunung Tefnut beberapa saat lalu. “Sebagai penegasan, aku tak akan sudi untuk mengabdi padamu apalagi menjadi pengikut setiamu!”
“Aku tahu kau memiliki kekuatan besar,” jawab Neo Khufu. “Namun, aku adalah Dewa di dunia ini.”
“Dewa?” Tawa kecil terdengar dari mulut si pemuda. “Apakah kau lebih berkuasa dan lebih hebat dari Dewa yang aku kenal?”
“Aku memang bukan satu-satunya, tetapi aku adalah Dewa paling hebat.”
“Kau terlalu banyak membual.”
“Lupakan soal itu.” Neo Khufu langsung mengalihkan topik. “Sang Aries, semenjak kau bangkit di Kerajaan Api, maka kau akan menjadi bagian dari Kerajaan Api.”
“Jangan panggil aku Sang Aries atau apa pun itu,” sanggah si pemuda. “Namaku Draco Evrard, dan aku bukan bagian dari Kerajaan Api atau pun Kerajaan lainnya.”
“Sepertinya kau tahu banyak mengenai dunia ini.”
“Aku tidaklah bodoh. Si makhluk merah itu memberitahuku semuanya. Tapi, aku tidak mengira bahwa kau menjadikan kebangkitanku ke dunia ini sebagai pertunjukan dan validasi dirimu sendiri.”
*Makhluk merah, ya*? pikir Neo Khufu. *Orang ini sesuai dengan apa yang ada dalam mimpiku. Maka dari itu aku akan membuatnya tunduk padaku entah sekarang atau pun nanti*.
“Jika begitu,” kata Neo Khufu. “Kerajaan Api ini apa artinya bagimu, Draco Evrard?”
Draco tidak bisa memastikan apakah instingnya salah atau memang Neo Khufu lebih mengerikan dari yang terlihat. Kendati Neo Khufu tak membiarkan ekspresi apa pun keluar dari wajahnya, Draco dapat merasakan sebuah kegelapan dalam tersimpan jauh di balik topeng pria tersebut.
“Apakah pertanyaanku cukup sulit bagimu, Draco Evrard?” lanjut Neo Khufu.