Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 6: Sang Gemini



Atlas dan yang lainnya berjalan keluar dari Arena Sangkar Zelos setelah bayangan Irene mengumumkan bahwa pertaruangan sudah selesai. Mereka yang tadinya berhenti berlatih dan diam di pinggir arena, kini kembali berlatih seperti sebelumnya. Meskipun beberapa di antara mereka masih tetap membicarakan tentang pertarungan Atlas melawan Kaysen.


Kali ini Antha membawa Atlas bersama Kaysen dan bayangan Irene ke sebuah ruangan luas. Di dalam sini terlihat sebuah meja panjang dengan kursi berjejer pada setiap sisinya. Tak lama kemudian, terlihat beberapa wanita datang membawa nampan, menyusun cukup banyak makanan di meja.


“Karena kedatanganmu sedikit mengejutkan,” kata Antha, “kami tidak sempat untuk memberikan jamuan yang pantas.”


“Ha?” Atlas memiringkan kepala. “Apakah ada orang penting yang datang berkunjung? Bukankah itu artinya aku tidak boleh berada di sini?”


“Haah ….” Antha mengembuskan napas panjang, memalingkan pandangan pada Atlas. “Kalian para Anak Bintang memiliki pola pikir aneh. Keberadaan kalian sangat penting bagi Kerajaan Udara, jadi kami akan berusaha membuat kalian merasa nyaman.”


Atlas menggaruk kepala, berkata, “Kurasa kalian berlebihan.” Ia diam sejenak. “Lagipula, aku belum melakukan apa pun yang membuatku pantas.”


“Sudahlah!” Antha menyeret Atlas duduk di salah satu satu kursi. “Duduk, diam, makan! Aku ada keperluan sebentar.”


“He he hei!” Walaupun Atlas mau menolak, tetapi suara dari perut tidak bisa berbohong.


“Sudahlah,” kata Kaysen, duduk di kursi sebelah Atlas, “nikmati saja.”


“Aku titipkan dia padamu, Kaysen.” Sambil melambaikan tangan, Antha berjalan keluar dari ruangan.


Sebelum Kaysen mulai mengambil makanan, bayangan Irene tiba-tiba berkata, “Aku titipkan dia padamu, Kaysen.”


Kaysen melirik bayangan Irene sejenak. “Serahkan saja padaku!”


Bayangan Irene perlahan membuka topeng ungu yang dia kenakan. Tepat pada saat itu pula, bayangan tersebut berubah menjadi asap, lalu menghilang.


“Jangan dilihat saja!” Kaysen mengambil piring, mulai memasukkan makanan yang dia anggap lezat ke dalam piring tersebut. “Cepat makan selagi kau masih bisa melakukannya.”


Pada akhirnya, Atlas tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti saran Kaysen. Pemuda itu lantas mengambil piring dan makan makanan yang menarik perhatiannya. Namun, satu hal pasti dirasakan Atlas adalah bahwa makanan di dunia ini jauh lebih berempah dibandingkan dengan dunianya dulu.


Atlas dan Kaysen pun makan hingga benar-benar puas. Selama makan, tidak ada dari mereka yang mengatakan apa pun.


“Ah … aku kenyang,” kata Kaysen sembari menjauhkan piring dari dirinya, lalu bersandar ke kursi. “Makanannya sangat enak.”


“Aku juga kenyang,” sahut Atlas, mengikuti Kaysen menjauhkan piring.


“Kau sudah memutuskan mau ke mana setelah ini, Atlas?” Kaysen segera memalingkan pandangan ke arah Atlas. Matanya kembali berbinar-binar.


Tentu Atlas langsung memalingkan pandangan ke arah lain, tidak mau melihat Kaysen yang tampak penuh harap. Pemuda itu kemudian mengembuskan napas panjang, menjawab, “Aku tidak tahu apa pun tentang Kerajaan Udara ini. Kalau bisa, aku ingin seseorang memanduku tentang ke mana aku harus pergi.”


“Serahkan saja padaku!”


“Aku lupa, aku maksud selain maniak bertarung sepertimu.”


“Itu cukup kasar kalau harus kukatakan.”


“Memang aku sedang tidak bersikap sopan.”


“Anak Bintang sungguh keren!” Bukannya merasa tersinggung, Kaysen malah terlihat terkesima dengan sikap Atlas.


Tidak menjawab selama beberapa waktu, mendadak Atlas ingat akan sesuatu, “Omong-omong, ke mana perginya Irene?”


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Kaysen tiba-tiba berubah. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menatap kosong ke depan. “Aku juga tak tahu. Mungkin dia sedang melakukan tugasnya sebagai Anak Bintang?”


“Ha? Tugas sebagai Anak Bintang?” Atlas sedikit tersentak mendengar hal tersebut. “Bukankah seharusnya kami bisa melakukan apa yang kami mau?”


“Maksudmu, dia mungkin membuat Irene tunduk?”


“Entahlah. Aku juga tidak tahu pasti. Namun, hal tersebut cukup ramai dan menjadi perbincangan di antara beberapa Nomos.”


Atlas diam, memejamkan mata sembari memikirkan informasi yang baru saja ia dapatkan. Memang hal tersebut memungkinkan terjadi, tetapi sebagai Anak Bintang, seharusnya Irene menggunakan Erebus yang jauh lebih kuat dibandingkan Fanes yang digunakan oleh orang lain.


“Aku sulit untuk membayangkan itu,” kata Atlas sembari membuka mata.


“Sebenarnya aku juga. Namun, melihat tindakan Nona Irene yang cukup sulit dipahami, aku menjadi sedikit mempertimbangkan kemungkinan tersebut.”


Sebelum percakapan mereka berlanjut, mendadak Antha masuk ke dalam ruangan. “Sepertinya kalian sudah selesai.” Wanita berambut pendek itu berdiri di sebelah Atlas. “Aku sudah memberitahu raja tentang kemunculanmu. Selagi belum mendapat jawaban, kau bisa menunggu di sini.”


“Maaf,” kata Atlas, berdiri hingga menggeser kursinya ke belakang, “aku memiliki hal yang harus kulakukan.”


“Haah ….” Antha mengembuskan napas panjang. “Aku sudah tahu bagaimana pikiran kalian para Anak Bintang. Jadi, aku juga menyampaikan bahwa kalian akan segera pergi dari Erato Satir. Terserah kalian selanjutnya mau pergi ke mana, aku tidak memiliki tanggungjawab.”


“Kau sungguh Zelos yang sangat perhatian!” sahut Kaysen, ikut berdiri.


Antha memalingkan padangan ke arah Kaysen. “Sebagai gantinya, kau yang akan bertanggungjawab atas Atlas.”


“Itu trik kotor!”


“Tidak ada yang melarangku untuk melakukannya!”


“Sudahlah,” potong Atlas, “kau tidak akan bisa menang melawan seorang wanita, Kaysen.”


“Kau sangat paham ternyata.” Antha dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada Atlas, lalu menyentuh bibir pemuda tersebut menggunakan jari telunjuk. “Apa kau sangat ahli dalam memperlakukan wanita?”


“Sayangnya aku tidak menyukai wanita agresif.” Atlas segera mengambil langkah mundur. “Maaf ….”


“Itu sangat disayangkan.” Terlihat Antha sedikit kecewa.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Atlas berjalan menuju pintu keluar dengan diikuti oleh Kaysen. Pemuda itu melambaikan tangan kanan, berkata, “Semoga kita tidak bertemu lagi, Antha.”


Antha berbalik, tersenyum tipis melihat Atlas pergi. “Itu membuatku ingin kembali bertemu denganmu secepat mungkin.”


“Tidak, terima kasih.” Atlas membuka pintu, berjalan keluar menyusuri lorong.


Ketika sudah keluar dari Sangkar Zelos, tiba-tiba Atlas terpikir akan sesuatu. Ia berhenti sejenak, membuat Kaysen memerhatikan pemuda itu.


“Ada apa, Atlas?” Kaysen memerhatikan raut wajah Atlas.


“Aku jadi terpikir akan sesuatu.” Perlahan Atlas memalingkan pandangan pada Kaysen. “Jika aku adalah Sang Libra, Anak Bintang Ketujuh, lalu bagaimana dengan Irene? Apa julukan gadis itu?”


“Aku kira kau memikirkan apa.” Perlahan Kaysen memasukkan kedua tangan dalam saku celana, lalu menatap ke depan. “Irene Cyne, Anak Bintang Ketiga, Sang Gemini.”


“Anak Bintang Ketiga, ya? Lalu apa kekuatannya?”


“Sejauh yang kuketahui, Nona Irene bisa menggandakan diri saat menggunakan topeng ungu seperti yang telah kau lihat. Untuk kekuatannya yang lain, aku tidak tahu. Bahkan aku ragu jika dia bisa bertarung sepertimu.”