Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 3: Nomos



Di tengah padang gurun, terlihat seorang pemuda berjalan di belakang seorang gadis. Pemuda itu melirik ke atas sejenak, tetapi kemudian mengembuskan napas panjang sembari memaksakan diri untuk melangkah.


“Kenapa suhu di gurun ini sangat tidak konsisten?!” keluh si pemuda. “Pada malam hari di sini sangat dingin, tetapi sekali matahari terbit, suhunya lebih panas dari api unggun!”


“Jangan banyak mengeluh, Atlas,” kata gadis di depan si pemuda, terus berjalan tanpa banyak berbicara.


“Ya ….” Pemuda bernama Atlas itu pun terpaksa mengiyakan ucapan si gadis.


Terus berjalan, sejenak Atlas teringat pada kejadian malam tadi, di mana ia berkenalan dengan gadis berambut panjang di depannya ini. Nama gadis itu adalah Irene Cyne—gadis dari Kerajaan Udara. Selain itu, Atlas juga ingat bahwa gurun ini bernama Gurun Thanatos—masih merupakan wilayah Kerajaan Udara.


Dari percakapannya dengan Irene, sekarang Atlas sedikit mengerti tentang keadaan dunia ini. Gurun Thanatos ternyata memang sering menjadi medan perang sehingga otoritas wilayah ini diatur langsung oleh pemerintah pusat Kerajaan Udara. Bahkan, tepat sebelum kebangkitan Atlas, perang antara Kerajaan Udara dan Kerajaan Api baru saja selesai tanpa pihak pemenang. Semua orang yang ikut berperang telah tewas di medan pertempuran.


“A ….” Atlas mencoba mengatakan sesuatu, tetapi kalimatnya seperti tertahan di tenggorokkan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menutup mulut, berjalan dalam diam di belakang Irene.


Beberapa saat kemudian, tarikan napas Atlas kian pendek kala sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Seperti menyadari kondisi Atlas, Irene melirik ke belakang sesaat, lalu berkata, “Kita sebentar lagi akan tiba di Erato Satir. Bertahanlah.”


“Sungguh?!” Segera Atlas mempercepat langkah kaki, berjalan tepat di sebelah kanan Irene. Ia sudah tak sabar untuk masuk ke wilayah pemukiman.


Irene mengembuskan napas panjang sembari menggelengkan kepala. “Kau sungguh lemah. Apa benar bahwa kau seorang Nomos Kerajaan Udara?”


Atlas tahu bahwa Nomos merupakan sebutan untuk prajurit perang di Kerajaan Udara, tetapi ia tidak terlalu menghiraukan sindiran Irene, melainkan menjawab asal-asalan, “Aku sendiri tidak tahu. Mungkin saja aku bukan Nomos Kerajaan Udara!”


“Kau mengatakan itu ketika mengenakan seragam Nomos Kerajaan Udara.” Sekali lagi Irene melirik Atlas, lalu memalingkan kepala secepatnya. “Apa kau adalah seorang mata-mata amatir?”


“AAAAA. GURUN INI MEMBUATKU GILA!” Atlas sengaja berteriak agar bisa mengalihkan topik pembicaraan.


“Jangan sia-siakan tenagamu!”


Mereka kemudian kembali berjalan tanpa membicarakan apa pun. Kemudian, harapan Atlas segera tercapai. Ia melihat deretan rumah di depan sana, berdiri di atas padang pasir.


“Itu yang aku cari!” Atlas hendak mempercepat langkah, tetapi Irene malah menarik baju pemuda itu hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Ia pun melirik Irene sambil memincingkan mata. “Apa yang kau lakukan?”


“Mulai dari sini aku akan membantumu bergerak.” Irene segera menarik paksa Atlas yang masih belum bisa berdiri.


“Hei!” Atlas mencoba melepaskan diri. “Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri.”


“Tidak boleh!”


“Haah ….” Pasrah akan keadaan, akhirnya Atlas membiarkan Irene menariknya untuk masuk ke Erato Satir.


Meski tidak seperti keinginan Atlas, mereka berdua akhirnya masuk ke Erato Satir. Tentunya beberapa penjaga segera menghentikan kedua orang ini tepat saat berada di gerbang masuk. Namun, Irene terlihat begitu tenang memerhatikan tiga pria berpedang yang berdiri di hadapan mereka.


“Tunjukkan identitas kalian!” kata pria berpedang yang berdiri di tengah, tegas.


Sudah tentu penjaga di sini ketat, dikarenakan Gurun Thanatos merupakan sebuah arena pertempuran, bukan hanya sebuah gurun biasa. Atlas ingin tahu bagaimana nasibnya bila masuk ke Erato Satir ini tanpa orang dalam seperti Irene.


Akan tetapi, tidak mau terlalu banyak memikirkan hal buruk, Atlas menggelengkan kepala. Ia kemudian memerhatikan Irene sejenak.


Irene mengeluarkan sebuah papan pengenal dari balik pakaian. “Aku Irene Cyne, seorang Nomos.” Ia memberikan papan pengenalnya pada pria di tengah. “Periksalah.”


“Itu memang tugas kalian para Herakles,” jawab Irene sembari berjalan masuk ke Erato Satir sambil menarik Atlas.


“Terima kasih, Nona,” sahut tiga pria penjaga yang disebut Herakles.


Selang beberapa saat, Atlas dan Irene pun tiba di sebuah jalanan padat. Dari sini Irene melepaskan Atlas tepat di tengah kerumunan orang, membuat mereka sangat diperhatikan.


“Hei …,” kata Atlas, memalingkan wajah, “seharusnya kau memilih tempat lain untuk melakukan ini.”


“Apa salahnya?” Irene menaikkan sebelah alis.


“Haah ….” Perlahan Atlas bangkit sembari mengembuskan napas panjang. “Kau sepertinya sangat tidak peduli dengan pandangan orang padamu.”


“Tidak usah dipikirkan.” Irene pun kembali berjalan, kali ini menebus deretan orang sembari menarik tangan Atlas. “Aku akan mengantarmu pada Zelos agar memeriksa identitasmu!”


“Pelan sedikit!”


“Jangan banyak mengeluh!”


Usai menembus jalanan padat, Atlas dan Irene tiba di depan sebuah bangunan besar dengan bata kokoh. Irene lantas menarik Atlas naik ke tangga, berjalan terus hingga tiba di depan pintu masuk bangunan besar tersebut. Di sini mereka lagi-lagi di hadang oleh tiga pria berpedang.


Sebelum ketiga pria tersebut mengatakan apa pun, tiba-tiba seorang pemuda berambut pendek memanggil Irene, “Nona Irene!” Pemuda itu segera keluar dari dalam gedung, mengabaikan tiga pria berpedang. “Syukurlah kau kembali dengan selamat.”


“Ah, Kaysen,” sahut Irene pada pemuda berambut pendek dengan kemeja berwarna coklat. “Aku kembali.” Gadis ini tersenyum tipis.


Sementara itu, Atlas melirik Irene sejenak, seperti bertanya, ‘Kau kenal bocah ini?’


Irene melirik Atlas sesaat, segera tahu isi pikiran pemuda itu. “ Dia adalah Kaysen Lex, seorang Nomos berbakat.”


Kali ini, pemuda bernama Kaysen melirik Atlas sejenak, kemudian menjulurkan tangan ke depan. “Aku Kaysen.” Dia tersenyum. “Senang bertemu denganmu.”


Atlas pun menerima jabat tangan Kaysen. “Aku Atlas, senang bertemu denganmu juga, Kaysen.”


Kaysen melepaskan jabat tangannya, lalu memerhatikan Atlas dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat.”


Mana aku tahu? pikir Atlas, tidak heran jika kau tahu juga, kan? Kau itu seorang Nomos! Dan Atlas Hiromasa juga seorang Nomos!


“Sepertinya karena kita berdua adalah Nomos,” jawab Atlas sembari tersenyum tipis.


“Itu ….” Salah satu dari tiga pria berpedang tadi menyela pembicaraan.


Belum sempat si pria melanjutkan ucapannya, Kaysen berkata, “Tidak apa. Biar aku yang mengurus mereka.”


“Baiklah ….” Pria tadi segera membawa dua pria lainnya untuk pergi tanpa banyak bertanya.


Di sisi lain, Irene mengeluarkan sebuah topeng berwarna ungu dari balik pakaiannya. “Kaysen, bawa dia ke Zelos.” Irene mengenakan topeng topeng ungu, seketika gadis tersebut berubah menjadi dua orang. “Bayanganku akan ikut denganmu juga.”


“Baik, Nona Irene!” jawab Kaysen.