Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 1: Padang Gurun



Matahari bersinar terang menyinari gurun pasir yang luas. Debu berterbangan dibawa embusan angin, seperti hendak mencapai langit biru. Akan tetapi, ketenangan tersebut tidak bertahan lama kala deretan langkah kaki terdengar diiringi seruan lautan manusia.


“Serang!!!” Seorang penunggang kuda mengumandangkan perintah.


“Hidup Yang Mulia! Hidup Kerajaan Udara!” balas pasukan yang berlari di belakang penunggang kuda.


Di hadapan pasukan tersebut, terlihat pasukan lain sedang berlari ke arah mereka. Seorang penunggang harimau mengeluarkan pedang, lalu menghunuskan pedang tersebut ke atas.


“Maju!!!” seru penunggang harimau.


“Hidup Kerajaan Api!” sahut pasukan yang mengikuti sang penunggang kuda.


Kedua pasukan pun saling berhadapan, mengayunkan pedang mereka untuk menebas lawan. Bunyi hantaman pedang serta jeritan terdengar seperti alunan alat musik sumbang di tengah padang gurun. Percikan darah serta tubuh manusia penuh luka pun berjatuhan bagai penghias lantai pesta yang tidak diinginkan.


...***...


Cahaya berwarna oranye tampak terpancar dari ufuk barat dan perlahan meredup. Di sebuah padang gurun tandus, terlihat kumpulan mayat berserakan seperti sampah dengan tubuh penuh luka. Aroma amis darah tentu mencemari udara yang tadinya bersih.


Perlahan tapi pasti, salah satu dari mayat tersebut menggerakkan tangan. Tidak lama kemudian, seorang pemuda dengan rambut panjang yang diikat menjadi satu dan menjulur ke belakang, bangkit di antara mayat-mayat itu.


“Haah … haah … haah ….” Pemuda dengan rambut panjang itu berdiri, kemudian memerhatikan kedua telapak tangannya yang berlumuran darah segar. “Apa … ini ….?”


Meski terdapat keraguan di hati, ia mencoba menerawang sekitar. Akan tetapi, tidak ada beberapa detik, kedua kakinya menjadi lemas, membuatnya jatuh bersujud. Air mata pemuda itu menetes, sedangkan tarikan napasnya menjadi tak menentu.


“TIDAK!!!” Ia menjerit di tengah padang gurun yang dipenuhi oleh lautan mayat manusia. Kepala pemuda itu pun tertunduk kala otaknya mencerna apa yang dilihat oleh matanya.


Beberapa menit pun berlalu, si pemuda kini mengusap air mata yang mengalir membasuh kedua pipinya. Perlahan ia bangkit, lalu berjalan di antara lautan tubuh tanpa nyawa. Akan tetapi, sejauh langkah kakinya menapak, tak kunjung matanya melihat akhir dari hamparan mayat manusia itu.


Angin kemudian berembus, membuat debu berterbangan. Namun, semua itu tidak dihiraukan oleh si pemuda. Ia terus melangkah ke depan, seperti hendak menggapai matahari yang sebentar lagi terbenam.


“Ini adalah … neraka,” gumamnya.


Si pemuda terus berjalan, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh. Tarikan napasnya menjadi kian berat, tetapi ia masih menahan diri untuk berhenti, sampai akhirnya tubuh pemuda itu menyerah. Pandangan pemuda tersebut menjadi gelap, lalu ia pun jatuh tersungkur.


...***...


Langit tampak cerah, bulan bersinar terang menyingkirkan gelapnya malam. Di dalam sebuah gua di tengah gurun pasir, terlihat seorang gadis berambut panjang membaringkan tubuh seorang pemuda yang dipenuhi luka. Gadis tersebut membersihkan luka si pemuda menggunakan kain basah seadanya, lalu diperban.


Usai membersihkan luka si pemuda, gadis itu mengembuskan napas panjang sembari duduk bersandar pada dinding gua. Ia kemudian menengadah sembari mengambil sebotol air di sebelah kanannya.


“Tidak kusangka akan ada orang yang benar-benar selamat,” gumamnya sembari membuka tutup botol.


“Ugh!” Si pemuda yang baru saja diperban, mendadak bangun, membuat gadis yang merawatnya sedikit terkejut.


“Hei,” tegur si gadis sembari menopang si pemuda yang mencoba bangun, “jangan memaksakan diri. Kau masih perlu banyak istirahat.”


“Kau … siapa?” tanya pemuda itu. Suaranya terdengar pelan, seperti sedang berbisik.


Sang gadis tidak menghiraukan pertanyaan pemuda tersebut, melainkan memberikannya sebotol air. “Minumlah.”


“Sudah kubilang ….” Lagi-lagi si gadis menegur pemuda itu karena memaksakan diri untuk bangun. “Kau masih harus beristirahat.”


Akan tetapi, si pemuda menolak, “Tidak apa, aku baik-baik saja, terima kasih ….”


“Kau sungguh tidak apa?”


Pemuda itu pun mengangguk, membuat sang gadis terpaksa membiarkannya bangun. Gadis itu membantu si pemuda agar bisa duduk bersandar di dinding gua.


“Terima kasih …,” kata si pemuda.


“Tidak perlu!” Gadis berambut panjang duduk bersandar di dinding gua di hadapan si pemuda sambil meneguk air minumnya hingga habis. “Toh sebentar lagi kau juga akan mati karena terus memaksakan diri.”


“Haha ….” Jelas bahwa tawa itu tidak terdengar alami keluar dari si pemuda yang kemudian menundukkan kepala. “Sebenarnya aku sudah mati.”


Si gadis tidak langsung menjawab, melainkan menaruh botol air di tangannya terlebih dahulu, baru berkata dengan acuh tak acuh, “Ya, matamu memang terlihat seperti ikan mati.”


“Setidaknya kau bisa sedikit berbohong tentang itu. Haha.”


“Aku tidak pernah diajari untuk menjadi seorang pembohong!”


Percakapan mereka berakhir, sehingga waktu seperti berlalu dalam ruang hampa. Keheningan tersebut hanya berlalu sesaat, tetapi bagi si gadis, waktu seperti sedang membeku.


“Hei.” Tiba-tiba si gadis kembali memulai percakapan. “Boleh aku tahu siapa namamu?”


Si pemuda masih menundukkan kepala, tetapi tetap menjawab, “Bukankah katamu aku sebentar lagi mati? Untuk apa kau tahu namaku?”


“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin tahu.”


“Kau sangat menarik.” Akhirnya si pemuda menegakkan kembali kepalanya, lalu tersenyum pada si gadis. Senyumnya kali ini terlihat sangat alami, tidak dipaksakan sedikit pun. “Aku ingin tahu bagaimana reaksimu jika ternyata kau baru saja menyelamatkan musuhmu sendiri.”


“Hm ….” Kali ini si gadis berpikir sejenak, lalu menjawab dengan wajah datar, “Kurasa aku akan sedikit senang? Aku tidak tahu. Sejauh ini aku masih belum memiliki satu pun musuh di dunia ini.”


“Aku ternyata bertemu dengan orang yang sangat menarik,” kata si pemuda sembari melirik ke arah keluar gua. Dari sini dia bisa melihat padang gurun yang seperti tidak berujung dan tidak melihat satu pun mayat. “Hei, apa kau pernah merasa benar-benar bebas?”


“Tidak tahu. Mungkin iya, atau mungkin saja tidak.” Si gadis ikut menatap keluar gua.


“Kurasa aku ingin merasakannya walau hanya sekali.”


Kali ini si gadis mengalihkan pandangannya ke arah si pria. “Aku sungguh tidak paham denganmu.” Ia pun mengembuskan napas panjang, lalu menutup mata sambil menengadahkan kepala. “Kalau kau memang tidak ingin menyebutkan namamu, kau bisa langsung mengatakannya. Aku tidak pernah memaksamu, kan?” Perlahan gadis itu membuka mata kembali.


Si pemuda pun melirik gadis penolongnya sambil tersenyum tipis lagi. “Aku tidak bermaksud seperti itu.”


“Hm?”


Perlahan si pemuda menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. “Namaku Atlas Hiromasa. Terima kasih karena sudah menolongku, dan senang bisa bertemu denganmu.”


Pada saat itu, si gadis tidak tahu apakah pemuda yang ia tolong sungguh kembali bersemangat atau hanya terlihat bersemangat. Namun, satu hal pasti yang ia mengerti: angin perubahan mungkin berada di pundak pemuda bernama Atlas Horimasa ini.