Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 5: Kekuatan



“Aku mulai!” Kaysen mengayunkan tangan kanan ke depan, membuat bola angin berbentuk kepalan tangan tadi segera melesat cepat ke arah Atlas. “Terima ini!”


Atlas tetap tenang, mengalirkan Erebus pada pasir di tangan kirinya, lalu meletakkan pasir tersebut pada sisi kiri timbangan manual. Matanya tajam ke depan, berkata, “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”


Bunyi seperti dentingan bel pun terdengar dari timbangan manual di tangan Atlas yang bergoyang. Tidak lama berselang, butiran-butiran pasir tadi berpencar, melesat ke depan menghancurkan bola angin Kaysen. Masih belum selesai, Atlas kembali mengambil segenggam pasir dengan tangan kiri, lalu mengulangi serangan.


Butiran debu melesat kencang seperti peluru, menghancurkan semua penghalang di depannya. Kaysen tidak mau kalah, membentuk kuda-kuda kokoh dan segera meluncurkan pukulan keras ke depan menggunakan tangan kanan. Kali ini sebuah bola angin berbentuk kepalan tangan seukuran batu besar, melesat keluar dari tangan Kaysen.


Masih bisa bersikap tenang, Atlas mendadak terpikir akan sesuatu. “Kurasa aku harus mencoba itu,” ia bergumam pelan sembari menutup mata. “Ah, kurasa tidak perlu sekarang.” Atlas membuka mata kembali sembari menarik napas panjang.


Perlahan Atlas meniup sisi kiri timbangan dengan angin yang sudah dicampur dengan Erebus. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”


Sekali lagi terdengar bunyi dentingan bel ketika timbangan Atlas bergerak. Kali ini, timbangan manual tersebut menciptakan pedang raksasa yang segera membelah serangan Kaysen menjadi dua bagian.


Dentuman keras terdengar, debu bertebaran ke sana-sini membutakan penglihatan. Akan tetapi, seperti kelelawar di gelapnya malam, Kaysen melesat cepat ke depan, meluncurkan pukulan keras menggunakan tangan kanan. Sayangnya, sang lawan bergerak ke samping, lalu meniup pelan sisi kiri timbangan manual yang ia bawa.


“Timbangan Libra: Pertukaran Setara,” gumam sang lawan.


Bagaikan badai datang di tengah suara musik pesta yang megah, embusan angin kencang menghatam tubuh Kaysen hingga terbanting sampai ke pinggir arena. Debu pun masih beterbangan ke sana kemari, seperti kertas-kertas kecil yang dilontarkan di tengah keramaian.


Atlas menutup mata sejenak, berhenti melapisi diri menggunakan Erebus. Selain itu, ia juga segera mengembalikan timbangan manual di tangan kanannya ke bentuk semula, yakni Erebus yang masuk ke dalam tubuh.


Setelah membuka mata, Atlas melirik tangan kanannya sejenak, bergumam, “Ternyata aku memang memiliki kekuatan sebesar ini.” Ia segera mengepal erat tangan kanan, lalu menegakkan kepala. “Informasi dari sosok bercahaya biru yang masuk ke dalam diriku itu ternyata tidak salah.”


Tepat ketika debu mulai menghilang tertiup angin, bayangan Irene segera mendekat ke arah Atlas. Beberapa langkah di depan pemuda itu, bayangan tersebut berhenti, berkata, “Ternyata kau adalah Anak Bintang. Tidak heran kau bisa bertahan di pertempuran itu.”


Seperti tidak terlalu peduli dengan kalimat sang bayangan yang sebelumnya, Atlas bertanya, “Apakah itu adalah pertempuran terburuk sehingga merupakan sebuah keajaiban dapat bertahan di sana?”


“Ya.” Bayangan Irene diam sejenak. “Itu adalah pertempuran terburuk antara Kerajaan Api dan Kerajaan Angin.”


Ternyata memang keadaan di dunia ini sedang tidak baik. Atlas menengadah. “Di dunia mana pun manusia tidak luput dengan berbagai masalah.”


Di sisi lain, terlihat Kaysen bangkit ketika orang-orang mulai berdatangan untuk menolongnya. Salah satu dari mereka segera membantu Kaysen berdiri perlahan-lahan.


“Pelan-pelan saja,” kata orang yang membantu Kaysen.


“Ya ….” Kaysen berdiri perlahan.


“Tapi tadi itu sungguh pertarungan hebat,” tiba-tiba orang lain menyeletuk.


“Anak Bintang memang hebat seperti yang diramalkan,” balas orang yang lain.


Kaysen melepaskan tangan orang yang baru saja menolongnya berdiri. “Aku sudah tak apa.” Dia pun segera berjalan ke tengah lapangan, tepat di mana bayangan Irene dan Atlas berada.


“Maaf,” kata Atlas sembari menggaruk kepala sambil tersenyum canggung, “sepertinya aku melakukannya sedikit keterlaluan.”


Kaysen tetap diam sambil menundukkan kepala. Melihat hal itu, Atlas menjadi merasa bersalah sudah mengeluarkan sedikit kemampuannya dalam bertarung. Namun, ia juga sadar bahwa hal itu sudah terjadi dan tidak bisa diulang.


“Aku senang sekali bisa bertarung dengan Anak Bintang!!!” Kaysen memeluk erat Atlas. Pemuda itu tersenyum lebar, matanya mengeluarkan sedikit air mata, sedangkan suaranya sedikit tersendat. “Aku sangat senang.”


“Itu ….” Tentu Atlas tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tetapi perlahan senyum tipis terbentuk di bibirnya kala kedua tangan pemuda itu membalas pelukan Kaysen. “Aku sungguh tak tahu harus berkata apa.”


“Kaysen memang sedikit aneh,” kata bayangan Irene. “Dia bisa sangat senang ketika bertarung dengan orang yang lebih kuat darinya. Memang hal tersebut pantas dengan julukannya sebagai maniak bertarung.”


“Ah ….” Atlas segera melepaskan pelukannya ketika Kaysen perlahan menarik kembali tangannya. “Pada dasarnya dia hanya tipikal maniak petarung yang kebetulan memiliki bakat besar, ya?”


“Hehehe ….” Kaysen menggaruk kepala. Air mata masih membasuh kedua sisi pipi pemuda tersebut, tetapi itu bukan air mata yang keluar karena kesedihan, melainkan karena sangat senang. Meskipun Atlas tidak paham mengapa bisa ada orang senang karena sebuah pertarungan saja.


Tak lama kemudian, seorang wanita berambut pendek masuk ke Arena Sangkar Zelos, mendekat ke arah Atlas, Kaysen, dan bayangan Irene. Wanita itu berjalan perlahan sambil berkata, “Tidak kusangka akan terjadi kehebohan sebesar ini di sini.” Dia pun berhenti tepat di sebelah kanan bayangan Irene.


“Kali ini aku membawa berkah besar, kan?” tanya bayangan Irene.


Wanita berambut pendek—Antha, menjawab, “Hanya kebetulan.”


“Lalu,” kata Atlas mengabaikan percakapan antara Antha dan bayangan Irene, “apa kau menemukan sesuatu tentang identitasku?”


Antha memutar kedua bola matanya. “Kau adalah Atlas Hiromasa, seorang Anak Bintang ketujuh, Sang Libra!”


“Kau tahu bukan itu yang ingin kudengar, kan?”


“Baiklah, baiklah.” Antha mengembuskan napas panjang. “Atlas Hiromasa adalah seorang Nomos dari Erato Ixion. Dan hanya itu yang bisa kutemukan bersama rekan-rekan yang lain.”


“Tidak apa. Begitu pun sudah cukup, sehingga aku bisa kembali ke tempat di mana aku seharusnya berada.” Pastinya Atlas tahu bahwa informasi tadi tidak cukup, tetapi ia juga tak ingin terlalu membebani orang lain.


“Omong-omong,” bayangan Irene menyela, “apa yang akan kau lakukan setelah ini, Atlas?”


“Aku juga ingin tahu!” sambung Kaysen.


“Kurasa aku juga perlu mengetahuinya sebagai seorang Zelos,” sahut Antha.


Bukannya merasa ditanya, sekarang Atlas merasa seperti sedang berada di ruang interogasi. Akan tetapi, ia tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut. “Aku juga belum tahu. Mungkin aku akan mengenal lebih dalam tentang Kerajaan Udara terlebih dahulu.”


“Kau ingin mengembara?” Mata Kaysen terlihat berbinar-binar. “Aku ikut denganmu!”


“Aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu …,” kata Atlas dengan wajah datar.


“Tapi aku akan tetap ikut ke mana pun kau pergi!”


“Itu namanya penguntit!”