Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 4: Arena Sangkar Zelos



Kaysen membawa Atlas masuk ke gedung besar diikuti oleh bayangan Irene yang mengenakan topeng berwarna ungu. Saat berada di dalam, Atlas segera dimasukkan ke sebuah ruangan kosong.


“Kalian tunggu di sini sebentar,” kata Kaysen sembari berjalan pergi, meninggalkan Atlas dan bayangan Irene.


Atlas tidak mengatakan apa pun, melainkan menerawang sekitar. Di ruangan ini tidak terdapat satu barang pun. Apa yang terlihat oleh mata hanya tembok putih.


Sejenak Atlas melirik bayangan Irene, berkata, “Dunia ini sangat aneh.” Ia mengamati bayangan Irene selama beberapa saat. “Padahal orang aslinya sudah pergi, tetapi bisa meninggalkan bayangan sesempurna ini.”


Bayangan Irene hanya diam, tidak menjawab. Dia terlihat seperti sebuah patung berjalan saja. Akan tetapi, Atlas tidak tahu apakah bayangan ini bisa berbicara atau tidak.


Kemudian, tidak berselang lama, Kaysen kembali masuk ke ruangan kosong dengan diikuti oleh seorang wanita dengan rambut pendek. Wanita tersebut tidak tampak tua, umurnya sekitar 27 tahun, tetapi Atlas bisa merasakan jelas kharisma wanita itu.


“Maaf membuatmu menunggu, Atlas,” kata Kaysen.


“Tidak masalah …,” jawab Atlas. “Omong-omong, siapa dia?”


Kaysen mengalihkan pandangan pada wanita berambut pendek yang kini berdiri di sebelah kanannya. “Dia adalah Zelos dari Erato Satir—Nona Antha.” Perlahan dia kembali melirik Atlas. “Nona Antha, dia adalah Atlas yang aku ceritakan. Menurut Nona Irene, mungkin dia satu-satunya orang yang selamat dari pertempuran itu.”


Atlas refleks mengambil satu langkah ke belakang ketika Antha mengamati sekujur tubuhnya. Saat ini ia memang merasa sedikit tidak nyaman, tetapi tidak bisa mengatakan hal itu secara langsung.


“Atlas Hiromasa …,” kata Antha, “Katakan, dari Erato mana kau berasal? Aku akan menyelidikimu terlebih dahulu sebelum membawamu ke sana.”


Sejujurnya aku tidak tahu, pikir Atlas. Lagipula, aku sedikit pun tidak mendapatkan informasi mengenai Atlas Hiromasa ini! Aku hanya tahu bahwa namanya Atlas Hiromasa dan dia seorang Nomos dari Kerajaan Udara!


“Haah ….” Atlas mengembuskan napas panjang. “Sejujurnya aku tidak terlalu ingat. Apa yang ada dalam kepalaku sekarang hanyalah teriakan teman-temanku dan aroma darah ….” Pemuda ini sengaja menundukkan kepala.


“Sepertinya kau adalah Nomos baru.” Antha melirik bayangan Irene sejenak. “Kau sungguh bertujuan untuk menyelamatkan semua orang, ya, Irene?”


Bayangan Irene untuk pertama kalinya menggelengkan kepala. “Aku hanya tidak ingin banyak orang tewas hanya karena perang tidak berguna.”


“Tapi aku tidak percaya ada Nomos biasa yang bisa hidup setelah pertempuran itu. Bahkan, Zelos dari Erato Semele saja tidak selamat.”


“Tidak ada yang tahu keberuntungan sedang berpihak pada siapa!” Bayangan Irene bersikeras. Dia sangat mirip dengan Irene yang asli.


“Baiklah.” Antha berbalik. “Karena aku menghormatimu sebagai Anak Bintang, aku akan membiarkannya di sini sembari mencari informasi tentangnya. Kau dan Kaysen harus mengawasinya, Irene.”


“Ya!”


“Jadi begitulah,” kata Kaysen pada Atlas ketika Antha pergi. “Apa kau ingin melakukan sedikit pemanasan denganku?”


“Pemanasan?” Atlas menaikkan sebelah alis.


“Ikutlah denganku.”


...***...


Bangunan besar ini bernama Sangkar Zelos. Seperti namanya, di sini adalah tempat di mana siapa pun bisa bertemu dengan Zelos. Lalu, tepat di tengah-tengah bangunan ini terdapat sebuah lapangan luas. Lapangan ini bernama Arena Sangkar Zelos, biasanya digunakan untuk tempat latihan.


Atlas berjalan tepat di belakang Kaysen sampai akhirnya mereka tiba di Arena Sangkar Zelos. Seperti dugaan, terdapat beberapa Nomos yang tengah berlatih di sini, bersiap untuk pertempuran di masa depan.


Seketika Atlas bisa merasakan ada aura berbeda keluar dari tubuh Kaysen. Atlas tidak tahu apa itu, tetapi samar-samar ia merasakan seperti ada angin yang menghantam keras wajahnya.


“Sepertinya kalian memerlukan tempat yang cukup,” kata bayangan Irene sembari berjalan ke tengah lapangan. “Perhatian untuk semua orang.”


Dalam sekejap orang-orang mengalihkan pandangan pada bayangan Irene. Mereka pun mulai berbisik-bisik satu sama lain.


“Bukankah itu Anak Bintang?” bisik mereka satu sama lain.


“Dia adalah Sang Gemini yang terkenal itu?”


Mengabaikan percakapan orang-orang, bayangan Irene melanjutkan, “Aku ingin menggunakan Arena Sangkar Zelos selama beberapa saat. Dimohon pengertiannya.”


“Sepertinya kita beruntung bisa melihatnya dalam pertarungan!” orang-orang kembali berbisik sembari berjalan ke pinggir arena.


“Katanya dia belum pernah menunjukkan kemampuannya, tetapi Yang Mulia Raja sangat menghormatinya.”


“Dan sekarang kita bisa melihatnya!”


“Kita beruntung hari ini!”


Di sisi lain, melihat semua orang sudah berada di pinggir arena, Kaysen kembali berkata pada Atlas, “Nona Irene sudah menyiapkan arena untuk kita.” Dia perlahan berjalan ke tengah arena. “Kau tidak akan menolaknya, kan, Atlas?”


Sebenarnya aku juga ingin mencoba kemampuan yang kumiliki, pikir Atlas sembari mengikuti Kaysen ke tengah arena. “Aku tidak akan menahan diri.”


Di depan Atlas, terlihat Kaysen berhenti beberapa saat di sebelah bayangan Irene, sampai akhirnya bayangan Irene itu ikut pergi ke pinggir arena. Orang-orang tentunya menjadi kecewa karena mereka ternyata tetap tidak bisa menyaksikan bagaimana kekuatan Irene yang mereka sebut Anak Bintang.


Tepat ketika Kaysen berbalik, Atlas segera menghentikan langkah. Ia menarik napas panjang sembari mengingat sesuatu.


Atlas menutup mata sejenak. Kalau aku tidak salah ingat, orang-orang di dunia ini bisa mengendalikan elemen seperti Angin, Api, Tanah, maupun Air menggunakan Fanes untuk orang biasa, dan Erebus untuk Anak Bintang. Ia membuka mata kembali sembari menatap tajam ke depan.


Tidak jauh di depan Atlas, terlihat Kaysen berdiri tegak sembari merentangkan kedua tangan sambil menutup mata. Dia pun perlahan membuka mata sambil menurunkan kedua tangan. “Apa kau sudah siap?”


Perlahan Atlas mengalirkan Erebus ke sekujur tubuh, merasakan dirinya menyatu dengan sekitar. Tak lama kemudian, muncul cahaya di telapak tangan kanan pemuda tersebut, membuat orang-orang di sekitar, termasuk Kaysen dan bayangan Irene, sedikit membelalakkan mata.


“Jangan bilang bahwa orang itu …,” orang-orang kembali berbisik satu sama lain.


“Jika benar, maka Kerajaan Udara akan menjadi sangat kuat!”


“Tapi, apakah dia akan berada di pihak kita?”


Berbeda dari orang-orang di pinggir arena yang hanya bergosip, Kaysen tanpa ragu langsung bertanya Atlas, “Apa kau seorang Anak Bintang?”


“Bagaimana kalau kita bertarung terlebih dahulu?” Cahaya berwarna biru yang muncul di telapak tangan kanannya berubah menjadi sebuah timbangan manual berwarna biru dengan corak emas. Atlas pun mengambil segenggam pasir menggunakan tangan kanan. “Apa kau sudah siap?”


Bukannya takut atau pun menyerah, Kaysen malah tersenyum lebar. “Aku tidak menyangka bisa berhadapan langsung dengan Anak Bintang!” Dia menjentikkan jari, membuat beberapa bola angin berbentuk seperti kepalan tangan, melayang di sekitarnya. “Padahal aku hanya ingin mengetahui kau menggunakan elemen apa saat bertarung untuk membongkar identitasmu. Tapi kau melebihi ekspektasiku!”


“Aku mengerti,” jawab Atlas yang segera mengerti mengapa Kaysen mendadak menantangnya bertarung.