
Atlas terbaring, memuntahkan darah ketika Draco melompat ke belakang. Tidak mau tetap diam, ia segera bangkit sembari mengusap darah dari bibirnya. Timbangan manual milik pemuda itu pun terjatuh, sedangkan tangan kanannya masih memegang erat pedang.
“Pemenangnya sudah terlihat,” kata Draco dengan nada datar.
“Benarkah?” Atlas lantas menancapkan pedangnya ke pasir, mengambil timbangan manual yang terjatuh. “Aku rasa tidak begitu.” Pemuda ini tersenyum lebar.
Angin berembus, Draco seketika melesat ke depan, sedikit panik. “Takkan kubiarkan!”
“Timbangan Rusak ….” Angin seketika berembus kencang, memadamkan jubah api yang dikenakan Atlas. “Diktator!”
Pukulan tangan kiri Atlas beradu dengan pukulan tangan kanan Draco. Gelombang angin kencang seketika terjadi, membuat keduanya terlempar ke belakang. Tidak hanya itu, pasir seketika terangkat ke udara, parit tanpa air pun langsung terbentuk akibat benturan serangan itu.
Atlas berdiri tegak, membentuk kuda-kuda dan melesat ke depan kala matanya berubah menjadi merah. “Ha!!!”
Draco tidak mau kalah, melesat kencang, menyerang dengan pukulan beruntun seolah taka da habisnya. “Atlas!!!”
Masih tenang, Atlas menahan serangan tersebut dengan tangan kiri. Namun, ia sekali lagi terhuyung ke belakang, hingga tiba di medan perang. Beberapa seth serta nomos yang dihantam oleh tubu Atlas, semuanya mengalami luka fatal, patah tulang sampai tubuh hancur.
Tidak memedulikan semua itu, sekali lagi Atlas menggigit timbangan manualnya agar tangan kanannya bebas. Kemudian, Draco pun muncul dengan pukulan beruntun lainnya. Akan tetapi, berbeda dari sebelumnya, kali ini Atlas sanggup menangkis semua serangan itu menggunakan kedua tangan.
Lantai dansa telah dihancurkan, karpet merah semakin banyak terhampar. Ratusan manusia seketika hancur menjadi pernak-pernik tempat pesta, kala dua orang menari menggunakan tangan kosong. Namun, semua itu seketika musnah oleh api yang berkobar.
Atlas bergerak ke kanan kala Draco meluncurkan pukulan cepat ke wajahnya. Ia berhasil menghindar, tetapi serangan Draco membuat lubang yang begitu besar di atas padang gurun ini. Dan sekali lagi, efek serangan tersebut membuat orang-orang bubar, menjauh dari tempat pertarungan.
Di samping itu, dalam waktu singkat Atlas meluncurkan pukulan balasan. Pukulan dengan tangan kanan itu berhasil menghantam tulang rusuk Draco, membuat lawannya itu terbanting jauh ke samping.
Draco mencoba untuk segera bangkit, tetapi Atlas telah melompat tinggi, meluncurkan terjangan keras seperti yang dilakukan Draco sebelumnya. Dalam waktu singkat dan mendesak itu, Draco masih sempat menyilangkan kedua tangan untuk menahan serangan.
“Ugh!” Draco masuk jauh ke dalam pasir, sedangkan Atlas melompat ke belakang.
“Haah … haah ….” Napas Atlas terengah, warna merah pada matanya perlahan memudar ketika tubuhnya menjadi kian berat untuk digerakkan.
Tak berselang lama, Draco keluar dari dalam pasir, melayang dalam bentuk apinya. Sama seperti Atlas, warna merah pada mata pemuda itu juga perlahan memudar, menandakan bahwa sekarang kondisi mereka berdua seimbang secara tenaga dan kekuatan.
“Ha!!!” Atlas menghentakkan kaki kanannya sekuat tenaga.
Pasir seketika terangkat, menyerang Draco dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi, bagi Draco yang sekarang, semua itu tidak lebih dari serangan yang tidak berfungsi. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.
Atlas melesat cepat ke atas, menyerang Draco dengan pukulan keras. Akan tetapi, Draco bereaksi dengan cepat, menahan serangan tersebut dengan tangan kiri. Dia pun menyerang balik menggunakan tangan kanan. Sekali lagi pukulan mereka beradu, hingga keduanya terhempas ke pasir akibat gelombang dari benturan serangan mereka berdua.
Mendarat di pasir, Atlas lagi-lagi hendak melesat ke depan, tetapi kakinya terhenti. Ia tak bisa bergerak.
Aku takkan kalah! Atlas memaksa erabus menyelimuti sekujur tubuh. Ia lantas menghentakkan kaki, kembali menyerang Draco dengan sekuat tenaga. Sama seperti Atlas, Draco juga memaksa erabus menyelimuti dirinya dan kembali melesat ke depan.
...*** ...
Medan perang sudah rusak, keseimbangan kekuatan seperti tidak lagi terlihat. Baik seth mau pun nomos, telah banyak berjatuhan. Ada pun beberapa yang tersisa, kini hanya dapat diam sambil bersujud dan terpaku melihat pertarungan yang takkan pernah bisa mereka lakukan.
“Inikah … kekuatan Anak Bintang?” Kaysen tidak dapat melakukan apa pun lagi, hanya melihat bagaimana Atlas bertarung sekuat tenaga melawan Draco. Namun, benturan kekuatan dari dua Anak Bintang tersebut benar-benar telah mengubah keseimbangan medan perang … tidak, melainkan dunia ini.
Tepat di sebelah Kaysen, terlihat Felix berdiri mematung sembari mengepalkan kedua tangan. “Pertarungan ini … di luar akal sehatku. Hahahaha!”
“Terlalu gila …,” ucap Kaysen sembari memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Pertarungan antara Draco dan Atlas yang menggunakan tahap dua kekuatan mereka memang sangat merusak keseimbangan dunia. Namun, bagi mereka berdua, kekuatan tahap dua masing-masing lawan membuat kekuatan tahap mereka sendiri seolah tidak berfungsi. Ini seperti mereka bertarung dengan fisik, tetapi fisik istimewa yang memiliki limpahan kekuatan.
Sementara itu, di depan sebuah tenda besar, terlihat Menes duduk, terpaksa tertawa melihat yang terjadi. Sekujur tubuh pemuda itu dipenuhi oleh luka, tetapi belum ada orang yang bergerak untuk memperban luka-luka tersebut. Pandangan semua orang hanya terarah ke atas, tepat di mana Atlas dan Draco bertarung.
“Kekuatan mereka berada di tingkatan yang berbeda, Ayah,” gumam Menes. “Aku tidak dapat berada di sana!” Dia memukul pasir dengan sekuat tenaga. “Sial ….”
...*** ...
Atlas kembali terdorong ke belakang, hingga dirinya berdiri lagi tepat di sebelah pedang yang ditancapkannya beberapa saat lalu. Sekarang jaraknya dari Draco hanya beberapa meter saja, tidak sampai sepuluh meter. Namun, baik Atlas maupun Draco sudah tak sanggup lagi bergerak.
Warna merah di mata Atlas sudah sepenuhnya memudar, lalu napasnya seketika menjadi cepat kala kakinya menjadi lemah. Ia jatuh berlutut, tetapi tangan kirinya memegang gagang pedang agar membuatnya tak jatuh terbaring.
Tidak berbeda dari Atlas, warna merah di mata Draco juga sudah memudar. Tarikan napas pemuda itu langsung menjadi cepat, dan dia pun jatuh berlutut. Akan tetapi, dia tak memiliki apa pun untuk menopang dirinya, berbeda dari Atlas yang menggunakan pedang.
Atlas mengambil timbangan manual dari mulutnya menggunakan tangan kanan. Namun, timbangan manual itu perlahan memudar kala pandangan Atlas menjadi kabur.
“Sial …,” gumam Atlas ketika tubuhnya terasa begitu berat.
“Aku takkan pernah kalah!” Draco kembali berusaha untuk berdiri. Namun, bukannya berhasil, dia justru jatuh terbaring dan kehilangan kesadaran.
“Ini adalah satu-satunya kesempatanku.” Atlas mencabut pedang untuk menopang tubuhnya. Ia terjatuh, tetapi masih berusaha untuk menyeret pedang di tangannya ke sisi kiri timbangan manual. “Timbangan Libra ….”