Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 26: Intens



Jeritan terdengar dari segala arah, mengisi gendang telinga. Suara-suara itu tidak beraturan, tetapi dapat dipastikan bahwa suara tersebut berasal dari orang-orang yang menjerit kesakitan. Tidak hanya karena rasa sakit, ada beberapa orang yang menggaungkan kerajaan mereka, mati dengan bangga meski dada tertusuk benda fana.



Dari deretan manusia yang sedang bertarung satu sama lain menggunakan pedang di tangan mereka, terlihat Kaysen sudah dikelilingi oleh lima belas orang musuh. Ini sangat buruk, bahkan untuk Kaysen sekalipun, terlebih sekarang tenaganya sudah terkuras banyak, darah membasuh sekujur tubuh hingga ujung rambut.



“Haah … haah ….” Kaysen mengatur tarikan napas, tidak lengah sedikit pun memerhatikan musuh yang perlahan mendekat. Di sini ia merasa akan sangat gawat bila tubuhnya terkena tebasan pedang yang berapi-api itu. “Huuh … sepertinya ini berubah lebih dari bayanganku.”



Melihat Kaysen mengembuskan napas panjang, serentak para seth dari Kerajaan Api menyerang. Mereka merasa sudah mendapatkan kesempatan bagus untuk bisa melumpuhkan Kaysen. Akan tetapi, apakah itu benar?



Kaysen tersenyum tipis, mengalirkan fanes ke sekujur tubuh. “Kalian terlalu meremehkan nomos!” Ia mengambil kuda-kuda, merendahkan tubuh, lalu mengayunkan pedangnya secara horizontal memutar. “Elemen Angin: Gelombang Angin.”



Hanya dengan satu serangan, musuhnya seketika berjatuhan ke tanah dengan kondisi mengerikan. Lantai dansa kini kembali dihiasi oleh pernak-pernik tambahan setelah karpet merah dihamparkan. Namun, dalam jarak beberapa meter, hanya ada satu orang berdiri di sini, tidak menari meskipun pedang ada di tangan kanannya.


...*** ...


Anthony melesat cepat ke depan, mengayunkan pedang secara horizontal, sekali lagi berhasil menebas lawan. Ia tak ingat sudah berapa banyak lawan tumbang karena tebasan ganasnya. Meski demikian, sedikit pun ia tak memiliki keinginan untuk mundur atau berhenti bertarung, walau tenaganya semakin banyak terkuras dari waktu ke waktu. Ia sadar semuanya belum berakhir.



“Elemen Angin: Peluru Angin!” Anthony dengan cepat meluncurkan serangan ke depan, tetapi semua serangan itu berhasil dihindari oleh musuh. Musuhnya kali ini mulai terbiasa karena serangan peluru anginnya, sehingga memaksanya menggunakan cara lain.



Sekali lagi Anthony membentuk kuda-kuda kokoh, sudah siap menerjang ke depan. Para seth yang menjadi lawannya pun segera melapisi pedang mereka menggunakan kobaran api. Kedua belah pihak saling mengamati satu sama lain, tidak ingin pihak mereka masing-masing menjadi pihak yang kalah.



Akan tetapi, sebelum pertarungan dimulai, dari belakang para seth, mendadak muncul seorang penunggang harimau. Para seth segera menyingkir dan memberi jalan kala orang itu datang. Di sisi lain, Anthony menjadi lebih waspada lagi, tahu siapa orang yang ada di depannya saat ini. Dia adalah komandan pasukan Kerajaan Api di pertempuran kali ini.



“Kalian semua menyingkirlah dari sini,” kata si penunggang kuda.



Tanpa banyak bertanya, para seth segera menjawab, “Baik, Pangeran.” Mereka langsung pergi sesuai dengan perintah.



Anthony melirik sekitar, memastikan bahwa para seth tadi benar-benar pergi. Namun, satu hal yang sekarang harus lebih diperhatikan olehnya adalah sebuah fakta bahwa dirinya sedang berhadapan dengan komandan para seth dari Kerajaan Api.



“Kau benar-benar telah mengacaukan medan perang ….” Sang pangeran turun dari harimau yang dia tunggangi. “Sampai sanggup membuat aku—Menes Djer Ra-Mida turun tangan secara langsung.”



Nada suara Menes memang sangat tenang, bahkan tidak terkesan mengintimidasi sedikit pun. Namun, sikap acuh tak acuh itu justru membuat Anthony secara nalurian melompat ke belakang. Anthony benar-benar merasakan betapa hebat aura Menes.



“Tapi ….” Menes dalam sekejap sudah berada di hadapan Anthony, mengayunkan pedangnya secara vertikal. “Kau akan segera mati.”



Tidak tinggal diam begitu saja, Anthony segera menangkis tebasan pedang tersebut. Kedua pedang pun saling berbenturan, tetapi kekuatan tebasan pedang Menes sanggup membuat Anthony terdorong beberapa langkah. Dan masih belum cukup, Menes segera menghujani Anthony dengan tebasan pedang berkecepatan tinggi.




Mendadak Menes menghentikan langkah, mengangkat pedang, lalu mengayunkannya secara vertikal. Sementara itu, Anthony kehilangan keseimbangan, terjatuh, hendak menangkis tebasan pedang lawan. Malangnya, realita mungkin tak seindah harapan dalam imajinasi.



“Anthony!!!” Dari belakang Anthony, seorang pemuda berseru kencang dan berlari sekuat tenaga. Akan tetapi, itu semua sia-sia.



Pedang yang terayun berhasil mematahkan pedang Anthony, kemudian membelah tubuh pria tersebut menjadi dua bagian. Menes langsung melompat ke belakang, kala seorang pemuda datang dan langsung menyerangnya dengan tebasan pedang beruntun. Orang itu tak lain adalah Kaysen.



“Brengsek!!!” Kaysen bergerak cepat, mengayunkan pedang secara vertikal dan horizontal. Sayangnya, semua serangan itu percuma. Menes berhasil menangkisnya bahkan tanpa bergerak dari tempatnya berdiri.



“Elemen Api: Peluru Api!” Menes menembakkan sebuah peluru api dari dalam mulut, menyerang balik lawannya.



Menggunakan gerakan cepat serta refleks, Kaysen berhasil menghindar, lalu berdiri tepat di sebelah kiri mayat Anthony. Pemuda itu mengepal erat pedang di tangan kanan, sedangkan matanya menatap tajam ke depan. Ia paham kalau situasi ini buruk, tetapi jika ia pergi sekarang, semuanya hanya akan menjadi semakin buruk.



“Padahal aku sudah berniat untuk mengunjungimu juga, tetapi malah kau sendiri yang datang ke sini,” kata Menes, menjaga nada suaranya tetap datar. Dia kemudian menghunuskan pedang ke depan. “Kau juga akan bernasib sama seperti temanmu itu, nomos.”



Sekarang Kaysen merasa dua hal, pertama perbedaan kekuatan serta pengalaman di antara dirinya dengan lawan, kedua adalah kondisi tubuh. Lawannya sedang dalam kondisi tubuh yang baik, sedangkan dirinya telah kehilangan banyak kekuatan juga stamina. Kendati Kaysen tidak ingin mengakui, tetapi ia sedang bertarung dengan orang yang buruk untuk dilawan pada situasi sekarang ini.


...*** ...


Seorang pemuda dengan tubuh berlumuran darah mendadak masuk ke tenda komandan. Tentu beberapa pengawal pribadi sang komandan segera bertindak untuk menahan pemuda itu. Akan tetapi, si pemuda tidak mau menyerah dan berusaha untuk masuk.



“Diam!” bentak salah seorang pengawal.



“Komandan Felix! Gawat!” seru si pemuda, membuat mulutnya dibungkam oleh para pengawal yang mengira bahwa pemuda ini telah menjadi gila. Terlebih bukan hal aneh seseorang menjadi gila karena berada di medan perang, terlebih dengan tubuh yang dibasuh darah segar.



Tak lama berselang, Felix mendengar seruan si pemuda, segera keluar dari tenda. Ia melihat para pengawalnya sedang berusaha menarik seorang pemuda berlumuran darah menjauh dari tenda.



“Tunggu!” Felix langsung menghentikan mereka. Ia lantas mendekat pada si pemuda, memerintahkan pengawal pribadinya untuk melepaskan pemuda tersebut.



“Komandan gawat!” kata pemuda itu. “Tuan Anthony ….”



“Anthony?” Felix segera bereaksi mendengar nama orang itu.