
Hentakan kaki menapak di tengah jalan yang padat akan kerumunan masyarakat. Barisan manusia terlihat rapi seperti rombongan semut sedang membawa makanan untuk koloni. Langit tampak cerah bagaikan lautan yang mengambang di atas awan.
Seorang penunggang kuda membusungkan dada dengan bangga. Sebilah pedang tampak tersarung rapi dan terikat di pinggangnya. Di belakang pemuda berambut pendek tersebut terlihat dua ekor kuda lain sedang mengikuti, di mana salah satu kuda tersebut ditunggangi oleh dua orang pemuda, sedangkan kuda di sebelah kanan hanya ditunggangi satu orang.
Atlas mengembuskan napas panjang lalu mengeluh, “Seperti biasa, siang hari begitu panas sampai kulitku dibuat hampir terbakar. Aku merasa sedang berada di timur-tengah saja.”
“Lihatlah siapa yang mengeluh?” balas Felix yang sedang menunggangi kuda di barisan terdepan. “Kau itu hanya menumpang pada kuda yang ditunggangi oleh Kaysen. Jangan banyak mengeluh, Atlas.”
“Baik, baik.” Atlas jelas tidak ingin memperpanjang topik pembicaraan.
Melirik sekitar selama beberapa saat, akhirnya Atlas membawa topik pembicaraan baru. Ia melirik penunggang kuda di sebelah kanan Felix selama beberapa saat. “Tapi aku sungguh tidak menyangka kalau kau akan di sini, Anthony Blade.”
Pria penunggang kuda bernama Anthony pun tersenyum tipis. “Aku juga tak menyangka. Namun, kurasa aku harus melakukannya. Setidaknya sebagai perwakilan dari Eximo, kurasa ….”
“Kau sungguh orang yang bertanggungjawab.”
Percakapan pun berakhir. Pasukan dari Kerajaan Udara yang dipimpin oleh Felix, kini memasuki Gurun Thanatos. Sebagai pemimpin pasukan, tentunya ini membuat Felix menjadi kian gugup. Akan tetapi, dengan ketidakhadiran Raja sebagai pemimpin, dia harus dapat melampaui dirinya sendiri untuk bisa memenangkan pertempuran ini.
Di sisi lain, semakin dalam masuk ke Gurun Thanatos, Atlas kian kehilangan harapan. Ia merasa, bahkan setelah hidup kembali untuk kedua kalinya di dunia berbeda, ia masih harus merasakan perang lagi dan lagi.
“Berhenti!” seru Felix memberikan perintah.
Pasukan segera berhenti seperti yang diperintahkan. Felix menarik napas panjang, kemudian memutar agar dapat menghadap pada pasukannya. Melihat tatapan semua orang, jelas ini membuat Felix semakin berhati-hati pada apa yang hendak dikatakannya.
“Hari ini kita akan membuat tenda di sini!” Felix mengatakan itu setegas mungkin. “Dirikan tenda dan jangan lengah sedikit pun! Besok atau mungkin malam ini, pertarungan dapat terjadi! Bubar!”
“Baik, Komandan!”
Angin berembus kala Felix mengakhiri kalimatnya. Pasukan langsung bergerak menyiapkan semua persiapan yang harus dilakukan, hingga mendirikan tenda, termasuk tenda medis dan tenda komandan mereka.
Atlas turun dari kuda, memandang ke depan. Sedikit pun pemuda ini tak tertarik untuk melihat pasukan di belakangnya, hanya memandang kosong pada gurun yang tampak tiada ujung.
Pesta besar sebentar lagi dimulai, orang-orang yang diundang telah mempersiapkan diri mereka dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, lantai dansa masih belum disentuh sebelum para peserta menghamparkan karpet merah kala menari dengan pedang di tangan mereka.
“Atlas, kenapa kau diam saja di sana?” tanya Kaysen yang memerhatikan punggung pemuda di depannya.
“Tidak ada.” Atlas menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. “Hanya mencoba menghirup udara segar sebelum tercemar.”
“Begitu ya?” Kaysen memiringkan kepala. Terkadang dia merasa tak bisa memahami Atlas, tetapi sekarang dia dibuat semakin tidak paham.
Siang hari di tengah teriknya matahari di padang gurun membuat kulit seperti hendak dibakar. Namun, pasukan Kerajaan Udara bekerja keras mendirikan tenda untuk persiapan pesta.
Langit kini gelap, berhiaskan ribuan bintang yang bersinar dari tempat nan jauh. Atlas duduk di atas sebuah batu, memandang kosong ke depan sembari memikirkan sesuatu.
Tak lama berselang, matanya menangkap sesuatu masuk ke dalam pasir. Itu memang hanya selintas, tetapi Atlas tidak bisa dibohongi. Ia sangat percaya pada panca inderanya.
“Keluar dari sana!” Atlas berdiri, berjalan perlahan ke depan sembari mengalirkan Erabus ke tangan kanan. “Aku tidak sedang berbicara kepada hantu. Kau tahu?”
Tak perlu waktu lama, seseorang keluar dari dalam pasir. Seketika itu pula Atlas menghentikan langkah, bertepatan dengan munculnya Timbangan Libra di tangan kanannya. Ia sudah siap akan pertarungan.
Sosok yang keluar dari dalam pasir adalah seseorang yang mengenakan jubah yang terbuat dari kulit domba. Wajahnya tertutup oleh kain hitam, sehingga satu hal yang terlihat hanyalah kedua matanya.
“Aku tidak berekspektasi akan seperti ini sebenarnya,” kata sosok berjubah. Suaranya terdengar seperti suara seorang pria, tetapi Atlas tidak kenal siapa sebenarnya orang di depannya sekarang. Namun ….
“Sebenarnya aku tak ingin terlibat dalam hal ini,” kata Atlas. “Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dirimu.”
“Kebetulan sekali. Aku juga merasakan sesuatu yang berbeda darimu.”
Mencuri kesempatan selama beberapa saat, Atlas melirik ke sekitar. Tidak ada seorang pun di sini, sebab memang tempat ini berada cukup jauh dari keberadaan pasukan Kerajaan Udara. Akan tetapi, justru inilah keadaan terbaik. Atlas merasakan firasat buruk hanya dengan melihat sosok berjubah di hadapannya ini.
Tanpa sedikit pun rasa takut, Atlas menatap ke depan sembari mengangkat timbangan libar di depan dada. Pada malam cerah ini, suhu gurun memang rendah, tetapi tidak ada embusan angin. Suasana kian terasa menengangkan kala Atlas dan sosok berjubah membentuk kuda-kuda.
“Kau tampak sangat percaya diri pada kekuatanmu,” kata sosok berjubah. “Namun, yang terkuat adalah aku!”
“Tidak ada yang tahu!” Atlas meniup sisi kiri timbangan. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Angin seketika berembus kencang, menghantam sosok berjubah. Tak cukup sampai di sana, seketika Atlas mengambil pasir dengan tangan kiri.
Sebelum Atlas dapat menggunakan kekuatan, terpaksa ia melompat jauh ke belakang ketika pasir yang diinjaknya seketika berubah menjadi lava panas. Tarikan napas Atlas menjadi tidak karuan melihat hal ini, karena nyawanya hampir saja melayang jika lengah sedikit saja.
Di depan sana, terlihat sosok berjubah masih berdiri tegak sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana. Postur tegap yang digunakannya tampak sangat megintimidasi sekaligus memerlihatkan kepercayaan diri tinggi dalam dirinya.
“Itu tadi sangat menarik.” Sosok berjubah menatap tajam ke depan. “Namun, cukup sampai di sini untuk hari ini. Aku tak ingin ‘orang itu’ mengomel sepanjang malam jika aku terus menemanimu bermain.”
“Hah?” Tindakan sosok berjubah sangat tidak terduga oleh Atlas. Akan tetapi, satu hal pasti yang ia tahu adalah bahwa sosok berjubah tadi berasal dari Kerajaan Api.
“Seperti kataku.” Sosok berjubah pun berbalik, mulai berjalan santai sembari melambaikan tangan kanan. “Sampai jumpa di medan perang.”
“Cih!” Atlas merasa malu pada dirinya sendiri. Tidak dapat bergerak ketika lawannya tengah meremehkan.
Meski begitu, sekarang Atlas harus menerimanya. Hanya dalam pertemuan tadi, ia mengerti betapa besar perbedaan pengalaman antara dirinya dengan sosok berjubah. Orang yang menutup wajahnya dengan kain hitam itu, adalah seorang veteran perang.