Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Prolog



Ah … aku tidak tahu apakah sekarang merupakan saat yang tepat untuk memikirkan semua ini. Akan tetapi, gagasan itu berkecamuk, tidak bisa dibendung lagi. Aku ingin kita merenungkan ini, atau setidaknya biarkan aku dengan tenang merenungkannya tanpa mengganggu siapa pun. Kumohon, dengarlah sebentar.


Pertanyaan: Benarkah kesetaraan itu ada di dunia ini? Apa buktinya kalau hal tersebut bukan hanya sekedar sebuah imajinasi yang dipercaya semua orang, tetapi realitanya tidak lebih dari sekedar kata manis?


Kita lahir setara, meski sebagai wanita dan laki-laki, ketika kebanyakan budaya menganggap bahwa laki-laki lebih superior? Kita diciptakan serupa dengan pencipta, walau akhirnya kita terlahir sebagai anak orang kaya atau anak orang miskin, sebagai penyandang disabilitas atau sebagai orang normal, sebagai penguasa atau sebagai budak.


Pada akhirnya, mana bukti sebuah kesetaraan? Mungkinkah kesetaraan tidak akan pernah ada di dunia? Sebuah tempat di mana harta dan tahta dapat membeli nyawa dengan murah, saat orang di bawah berusaha mempertahankan hidup dengan sesuap makanan untuk mengisi perut.


Aku sudah menunjukkan sebagian bukti tak adanya kesetaraan. Bagaimana? Masih adakah yang mendengarkanku sampai sejauh ini? Mungkin tidak ada, aku juga tidak peduli. Waktuku terlalu singkat untuk memedulikan hal tersebut.


Entah mengapa, rasanya lucu dan membuat ingin tertawa ketika aku mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa dunia hanya mengandung ketidakadilan, kesenjangan, tanpa ada kesetaraan, tepat di detik-detik kematian. Kedudukan seseorang sudah berbeda sejak lahir, seperti lahir sebagai pangeran atau sebagai bayi yang tidak diinginkan dan dibuang!


Lalu, siapa yang bertanggungjawab akan hal tersebut? Aku tidak tahu, jangan tanyakan padaku. Tanyakan hal tersebut pada mereka yang menganggap kesetaraan itu ada, dan aku bukan lagi salah satu bagian dari mereka.


“Ugh ….” Darah segar keluar dari mulut, jatuh di kaki pria besar yang berdiri tepat di depanku. Pedang di tangan kananku menembus jantung pria tersebut dari belakang, sedangkan pedang di tangan kirinya berhasil menembus jantungku dari depan. Ini adalah detik-detik kematian kami, kematian konyol atau kematian bermartabat, aku tidak tahu dan tidak peduli akan hal tersebut.


Aku tersenyum tipis kala pandangan mulai kabur. Pria di depanku melepaskan pedangnya, lalu aku pun melepaskan pedang di tangan kananku. Pria ini benar-benar kaisar hebat. Di detik-detik terakhir, dia berhasil menyerang balik dengan menusuk jantungku menggunakan gerakan cepat ketika aku menyerangnya. Nero Caesar, aku sungguh kagum akan kehebatanmu.


Aku berhasil membunuh kaisar Nero Caesar sambil menggaungkan tiranisida bersama pasukan revolusi. Mungkin hari ini akan dikenang sebagai hari kemenangan pasukan revolusi dan awal kehancuran kesenjangan sosial di negeri ini? Atau dikenang sebagai kematian konyol seorang anggota pasukan revolusi yang pada akhirnya akan dimaki-maki serta ditolak masyarakat?


Semuanya masih terasa konyol. Aku membunuh kaisar diktator atas nama kesetaraan, tetapi pada akhirnya aku mempertanyakan kesetaraan itu sendiri. Tidak hanya itu, aku bahkan memiliki pertanyaan-pertanyaan aneh lain.


Kaisar telah mati di tanganku, aku telah mati di tangan kaisar. Apakah nyawa kami sama harganya? Apa dampak kematianku? Kemudian apa dampak kematian kaisar? Setarakah kedua kematian itu jika dilihat dari dampaknya?


Nyawa siapa yang lebih berharga di antara kami? Aku sang anggota kelompok revolusi—Marcus Achilles? Ataukah Sang kaisar—Nero Caesar? Aku tak tahu.


“Pada akhirnya aku tidak tahu …,” gumamku, pelan, sembari menutup mata. Saatnya untuk pergi menemui hukuman di dunia akhirat? Ini masih terasa sangat menggelikan.


...***...


...“Make every effort to live in peace with everyone and to be holy; without holiness no one will see the Lord.”...