Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 2: Hidup Baru



Sebuah arena terlihat melayang di tengah gelapnya ruang angkasa. Di atas arena berbentuk bulat seperti piring tersebut, terdapat suatu konstelasi bintang yang berbentuk seperti timbangan. Arena melayang ini disebut dengan Arena Libra.



Di tengah Arena Libra, terlihat sosok bercahaya biru dengan wujud manusia tanpa rambut, berdiri tepat di depan seorang pria berambut pendek yang kini terbaring dengan pedang menembus dadanya. Sosok bercahaya itu pun segera menarik pedang tersebut dari jantung sang pria, kemudian pria tersebut secara ajaib sembuh.



Perlahan, pria dengan rambut pendek menggerakkan tangan kanan, lalu membuka mata. Pandangan pria tersebut sedikit kabur, tetapi ia akhirnya dapat melihat dengan jelas konstelasi berbentuk timbangan di tengah gelapnya langit.



“Selamat datang ke Arena, wahai yang terpilih,” kata sosok bercahaya biru. Dia lantas menghancurkan pedang di tangan kanan sembari menatap kosong ke depan.



*Apa yang terjadi* …, pikir pria berambut pendek sembari bangun. Reaksi pertamanya saat melihat sosok bercahaya biru tidak lebih dari sekedar menaikkan sebelah alis, lalu berdiri. Ia memerhatikan sekujur tubuh, tetapi tidak melihat satu pun luka. Bahkan, bekas luka di dadanya pun tidak terlihat.



“Hei, apakah ini alam setelah kematian?” Si pria menerawang sekitar sembari bergerak ke sana kemari. “Ternyata memang benar bahwa ada alam setelah kematian. Lalu, ke mana orang lain? Apakah tempatnya berbeda-beda?”



“Marcus Achilles—”



“Hei, itu namaku,” potong si pria sebelum sosok bercahaya biru menyelesaikan kalimatnya. Pria yang mengaku bernama Marcus ini pun memerhatikan sosok bercahaya biru yang sedari tadi ia abaikan. “Apakah dia Kharon? Tampangnya sangat aneh ….”



“Marcus Achilles, kau adalah orang terpilih yang ditugaskan untuk membawa perdamaian dunia!” Sosok bercahaya kini berkata dengan tegas.



Seketika Marcus mengembuskan napas panjang, lalu menengadah. Ia memerhatikan satu-satunya konstelasi bintang di atas sana dengan tatapan kosong, kemudian menunduk. “Tidak semua orang bisa menjadi pahlawan.”



“Selamat karena kau sudah terpilih!”



“Pilih orang lain saja!” Marcus segera duduk di lantai sembari menggelengkan kepala. “Kenapa juga harus aku yang dipilih? Kurasa banyak orang di luar sana selain diriku, bahkan nyawa mereka mungkin lebih berharga.”



Untuk pertama kalinya, sosok bercahaya menunduk, memerhatikan wajah Marcus. “Apa yang sudah ditakdirkan, tidak akan bisa diubah tanpa bayaran yang mahal.”



Masih belum begitu mengerti situasi, sejenak Marcus menatap sosok bercahaya sembari memincingkan mata. “Hm ….” Ia kemudian memalingkan pandangan. “Kurasa kau salah karena mengatakan hal tersebut pada atheis.”



“Dewa tidak pernah membeda-bedakan siapa pun.” Sosok bercahaya biru kembali menegakkan kepala, menatap kosong ke depan. “Dalam kehidupan kedua, kau akan dibangkitkan di medan perang. Setiap langkah kakimu akan menjadi pijakan bagi masa depan.”




“Marcus Achilles, apakah kau sudah siap untuk menerima takdirmu untuk menyelamatkan dunia dari para penguasa jahat dengan kedua tanganmu sendiri?”



“Ini masih sangat lucu,” gumam Marcus sembari melirik tangan kanannya. “Rasanya baru tadi aku membunuh dan dibunuh sebagai bagian dari pasukan revolusi untuk menggulingkan kekuasaan kaisar jahat, dan sekarang aku akan kembali melakukannya? Aku ingin tertawa sampai seisi semesta tahu!”



Sosok bercahaya pun meletakkan tangan kanannya ke atas kepala Marcus. “Marcus Achilles, dengan ini kau akan bereinkarnasi sebagai Sang Libra—Atlas Hiromasa!”



Seketika Marcus bisa merasakan berbagai informasi masuk ke dalam kepalanya. Ia tidak begitu memerhatikan, tetapi sosok bercahaya biru tadi perlahan lenyap, tersedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu hingga kedua bola matanya memancarkan cahaya berwarna biru.



Dalam informasi yang diberikan, Marcus tahu bahwa ia akan bangkit kembali sebagai Atlas Hiromasa di sebuah dunia yang hanya memiliki empat kerajaan. Kerjaan tersebut adalah Kerjaan Api di utara, Kerajaan Tanah di selatan, Kerajaan Udara di timur, dan Kerjaan Air di timur laut. Setiap negara itu mewakili elemen dasar yang ada di dunia.



Keempat kerajaan itu awalnya berdiri dengan mengelompokkan manusia berdasarkan elemen kekuatannya, yang mana direpresentasikan menggunakan nama kerajaan mereka. Setiap orang hanya bisa menggunakan salah satu dari empat elemen dasar yang ada, kecuali Anak Bintang.



Anak Bintang di sini merujuk pada mereka yang mengemban takdir untuk memperbaiki dunia karena pertikaian besar terjadi di antara empat kerajaan. Munculnya Anak Bintang hanya ketika konflik antar kerajaan semakin parah, hingga berlangsung selama ratusan tahun. Di sini Anak Bintang seperti Sang Libra bertugas untuk menyelesaikan konflik tersebut menggunakan kekuatan mereka.



“ARGH!” Kaki Marcus kehilangan tenaga, membuatnya jatuh bersujud. Pria itu menutup wajah menggunakan kedua tangan sembari mengatur tarikan napas yang tidak beraturan. Bagaimana mungkin tidak? Ia baru saja merasakan tubuhnya dicabik-cabik menggunakan ribuan cambuk.



“Haah … haah … haah ….” Keringat membasuh habis sekujur tubuh pemuda itu, sedangkan kepalanya terasa seperti sedang berputar-putar. “Ternyata, sebagai roh aku masih bisa merasakan hal-hal duniawi seperti ini? Ah, atau mungkin aku sebenarnya tidak berada dalam bentuk roh, melainkan tubuhku dibawa langsung dari dunia ke sini? Aku sangat tidak mengerti konsep setelah kematian itu seperti apa.”



Beberapa saat berlalu, akhirnya Marcus dapat berdiri kembali. Sejenak ia melirik kedua telapak tangan, lalu menatap ke depan sembari mengepal erat kedua tangan. Wajahnya memang datar, tetapi sebagai orang yang pernah masuk ke dalam pasukan revolusi, pria ini selalu memiliki prinsip untuk tidak membiarkan orang mati mengenaskan, baik di medan perang maupun karena kelaparan.



“Jika kedua tangan ini ada untuk orang lemah, maka akan kuberikan. Jika kedua kaki ini ada untuk orang tertindas, maka akan kujadikan penopang mereka. Jika tubuh ini ada untuk kedua kaum itu, maka tubuh ini akan menjadi benteng terbaik bagi mereka.”



Sekarang, cahaya berwarna biru perlahan menyelimuti sekujur tubuh Marcus Achilles yang sudah menerima takdirnya untuk bereinkarnasi sebagai Atlas Hiromasa. Cahaya tersebut kemudian memecah tubuh Marcus, mengakhiri seorang Marcus untuk menjadi Atlas. Tubuh pria itu pun pecah seperti bongkahan debu yang diterpa oleh angin.



Marcus menutup mata, bergumam pelan, “Selamat tinggal, Marcus.” Ia diam sejenak sembari membuka mata. “Aku adalah Atlas Hiromasa, dilahirkan ke dunia sebagai cahaya kedamaian bernama Sang Libra.”



Pria tersebut tersenyum, sudah menerima identitas barunya dengan lapang dada. Atlas pun menyaksikan sekujur tubuhnya menghilang perlahan, bergerak ke arah konstelasi libra. Meski begitu, apa yang ia rasakan adalah sebuah kehangatan seperti orang yang sedang dirangkul, membuat dirinya merasa nyaman, berbeda jauh dari sebelumnya.