Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 10: Antihero



Atlas mengedipkan mata sejenak sembari mengembuskan napas pendek. “Aku tidak selemah yang kau pikirkan.” Satu langkah ke depan, begitu cepat Atlas meluncurkan sebuah tendangan telak ke perut gadis berambut panjang.


“Ugh!” Gadis tanpa busana itu melepas pedang di tangan, jatuh, kehilangan kesadaran.


Memalingkan pandangan segera ke arah lain, Atlas melihat Rinius menciptakan dua buah bola angin besar di kedua tangan. Pria tersebut tersenyum lebar, sedikit pun tidak peduli dengan para pengikutnya yang telah tewas.


“Aku akan membunuhmu dengan ini, Penipu!” seru Rinius. “Dewa Boreas, berikan kekuatanmu padaku! Aku akan menjadi perantara bagimu untuk memusnahkan penipu ini!”


Atlas tidak berekspresi apa pun, melainkan meraih tangan gadis tanpa busana tadi menggunakan tangan kiri. “Mungkin aku seorang penipu, atau mungkin kaulah penipu sesungguhnya. Aku tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Tapi, satu hal yang aku tahu pasti bahwa aku tidak bisa menjadi seorang pahlawan baik hati.”


“Itukah kata-kata terakhirmu?!” Rinius mengambil satu langkah ke belakang, bersiap melemparkan dua buah bola angin raksasa di kedua tangannya.


Mengabaikan ucapan Rinius, Atlas bergumam pelan, “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”


Setelah terdengar bunyi bel, ruangan menjadi sunyi. Semua obor telah padam, tetapi ruangan masih terlihat tenang dari cahaya yang terpancar keluar dari tangan kiri Atlas. Pemuda itu berdiri dengan tenang sembari menatap kosong ke depan, seiring cahaya dari tangan kirinya memudar.


“Nyawa untuk membeli nyawa. Itulah yang kumaksud dengan pertukaran setara, Rinius,” gumamnya, melihat Rinius tewas tanpa luka sedikit pun. Bola angin di kedua tangannya tadi sudah menghilang ketika nyawa pria tersebut direnggut oleh Atlas. Tidak hanya itu, gadis tanpa busana tadi pun menghilang tanpa sisa ditelan timbangan libra sebagai bayaran.


Seiring berjalannya waktu, cahaya biru di tangan kiri Atlas pun sepenuhnya menghilang. Bersamaan dengan itu, timbangan manual berwarna biru di tangan kanan pemuda itu pun hilang. Kini ruangan menjadi gelap dan sepi, seperti suasana tenang setelah pesta berakhir.


...***...


Kehancuran Sekte Dewa Boreas dilaporkan oleh Kaysen pada Antha. Berkat kejadian tersebut, Kaysen dan Atlas sekarang berada di ruangan bersama dengan Antha.


“Haah ….” Antha mengembuskan napas panjang di belakang meja. Sejenak, wanita tersebut melirik Atlas dan Kaysen yang kini duduk di kursi di seberang meja. “Aku sesungguhnya memiliki banyak pertanyaan pada kalian, tetapi pertama-tama aku harus mengapresiasi dan berterimakasih pada kalian karena sudah menghancurkan sekte itu.”


“Itu adalah tugas kami sebagai Nomos, kan?” jawab Atlas, singkat.


“Tugas Nomos adalah bertarung di medan perang, bukan mengatasi hal seperti ini. Meskipun itu juga tidak salah sih, karena pada dasarnya para Herakles yang bertanggungjawab.”


Atlas dan Kaysen tidak terlalu memikirkan ucapan Antha, melainkan hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Walau begitu, Antha tidak terlalu peduli akan hal tersebut. Sebaliknya, wanita itu sepertinya terkejut bahwa Atlas dan Kaysen mau menyelidiki dan bahkan bisa menangkap anggota Sekte Dewa Boreas.


“Aku memang berterimakasih pada kalian, tetapi ….” Antha sengaja mengarahkan pandangan hanya pada Atlas. “Aku ingin tahu bagaimana bisa pemimpin sekte itu tewas tanpa sedikit pun luka di tubuhnya.”


Ini dia, sebuah pertanyaan yang sedari tadi tidak ingin didengar oleh Atlas. Memang benar bahwa ia bisa saja bersikap acuh tak acuh dan mengatakan yang sebenarnya terjadi, tetapi mau bagaimana pun ia sadar bahwa tindakannya tidak seperti pahlawan yang menangkap musuh hidup-hidup.


Atlas melirik Kaysen sejenak, meminta pertolongan tanpa berkata apa pun. Sekarang ia sedang tak siap menjawab pertanyaan Antha, sehingga terpaksa harus mengandalkan Kaysen.


Kaysen berpikir sejenak, menjawab, “Mm … bukankah itu hal baik?”


“Hal baik?” Antha lantas memalingkan pandangan ke arah Kaysen.


Sebelum Antha mengucapkan kalimat selanjutnya, mendadak pintu masuk diketuk. Wanita itu pun segera memalingkan pandangan ke arah pintu, lalu berkata, “Masuklah.”


Atlas dan Kaysen ikut memalingkan pandangan ke pintu masuk. Di sana terlihat seorang pria pendek dengan rambut pendek. Pakaiannya terlihat rapi, sangat cocok dengan tubuh pendeknya.


“Maaf mengganggu,” kata pria tersebut, pelan.


“Ah, itu tak masalah,” jawab Antha, tenang. “Kami memang sedang menunggumu.”


“Perkenalkan, dia adalah Zelos dari Erato Stix.” Antha terlihat begitu tenang.


Pria bertubuh pendek tadi pun mendekat ke arah Atlas dan Kaysen sambil tersenyum. “Jadi kalian adalah Atlas Hiromasa dan Kaysen Lex?”


“Iya …, itu kami,” jawab Kaysen ketika Atlas sedang tak mau mengatakan apa pun.


“Senang bertemu dengan kalian. Namaku Nicon Orfeo, Zelos dari Erato Stix. Aku datang ke sini terkhusus untuk berterimakasih secara langsung pada kalian berdua karena sudah menangkap Sekte Dewa Boreas yang selama ini membuat warga tidak tenang.”


“Tidak masalah.” Kali ini Atlas mengambil inisiatif untuk menjawab. “Ini kewajiban kami juga sebagai warga negara yang baik untuk menjaga ketentraman.”


Nicon melirik Antha sejenak, lalu dia pun segera berkata lagi sebelum Antha mengatakan apa pun, “Aku dengar kalian sedang menuju ke Erato Stix kala itu. Apa kalian berkenan ke sana bersamaku?”


“Sungguh?” Kaysen tampak bersemangat hingga hampir melompat dari kursi. “Itu akan sangat membantu! Kami akan menerimanya dengan senang hati!”


“Aku senang dapat membantu.”


“Omong-omong, kapan kita akan berangkat?”


“Kurasa sore ini.”


“Baiklah! Kita sepakat!”


“Kau sangat bersemangat.”


...***...


Atlas dan Kaysen sudah meninggalkan ruangan, sehingga hanya ada Nicon dan Antha saja di dalam sini. Nicon pun tanpa sungkan duduk di kursi di mana Atlas duduk tadi sembari tersenyum tipis. Di depan pria ini terlihat Antha tengah mengembuskan napas panjang.


“Kau sengaja tidak memberiku ruang untuk berbicara, kan, tadi, Nicon?” tanya Antha tanpa basa-basi.


“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Meski tahu dirinya tidak bisa mengelak, Nicon tetap mengatakan kalimat itu tanpa ragu.


Antha pun tidak membiarkan Nicon pergi begitu saja. “Kau tidak perlu berpura-pura bodoh. Aku sudah tahu dari caramu berbicara.”


“Hahaha. Aku memang tidak bisa menang melawanmu.” Nicon tertawa pelan. “Aku memang melakukannya. Itu juga demi kebaikan hubungan kita dengan mereka, kan?”


“Sepertinya aku memang tidak bisa menyalahkanmu.”


“Lalu, apa kau memiliki harapan khusus pada mereka atau semacamnya, Antha? Kurasa kau lebih mengerti mereka.”


“Tidak ada,” Antha menyangkal sambil menggelengkan kepala. “Meskipun aku tidak menyangka bahwa mereka benar-benar berhasil menangkap Sekte Dewa Boreas hanya berdua saja. Maksudku, para Herakles yang pernah kita kerahkan tidak kembali seorang pun, walau ada seorang Nomos bersama mereka.”


“Itu artinya mereka memang memiliki potensi besar.” Nicon diam sejenak. “Mungkin mereka yang akan membawa angin besar ke Kerajaan Udara.”


“Realita mungkin tak seindah itu.”